Jumat, 01 Agustus 2025

Alur Yang Sama

 


                  Sunyi.

        Kata yang selalu disenangi Janet. Janet tidak suka keramaian. Janet lebih memilih diam di kamar sambil melihat-lihat video di youtube dibandingkan berada di keramaian. Waktu liburnya dia manfaatkan untuk tidur dan rebahan. Energinya sudah terkuras habis dari Senin hingga Jumat.

        Apakah dia kesepian? Jawabnya tidak. Dia masih punya ibu yang sangat asyik untuk diajak bicara. Setiap pulang ke rumah ibu pasti mengajaknya mengobrol. Janet sangat bersyukur karenanya. Dia masih belum bisa membayangkan seandainya ibunya dipanggil Sang Pencipta. Dia masih belum rela. Dia masih sangat membutuhkannya.

       Ibu adalah rumah tempatnya pulang dari semua kelelahan. Janet berusaha berdiri tegak di tengah gempuran pertanyaan “Kapan menikah?atau “Di tunggu undangannya”.  Dia berusaha tetap tersenyum dan tak ambil pusing. Dia percaya Sang Pencipta sudah menyiapkan seseorang untuknya. Hanya saja orang itu belum datang.

         Janet bahagia dengan hidupnya. Dia bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan Sang Pencipta. Namun kini semua ketenangan dan kedamaian itu terusik oleh kedatangannya.

         “Syehrazad kenapa?” Yuri bertanya pada Rosa yang sedang asyik menonton drama china di ponsel canggihnya.

          Rosa mengalihkan pandang dari ponselnya lalu berbisik, “Enggak tahu, anak itu dari tadi diam terus. Lagi pindah ke Turki kali?” Rosa tertawa.

           “Apa mungkin dia sudah ketemu si Onur?” Yuri tergelak.

        Ketika Yuri dan Rosa sedang tergelak, tiba-tiba Janet bangkit dari kursinya lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Dia melihat ponselnya sebentar lalu berjalan tergesa menuju gerbang. Di belakangnya Yuri dan Rosa melongo heran.

***

         “Sudah terima makanannya?” Tanya seseorang di seberang sana saat Janet baru selesai mengambil makanan dari kurir.

“Kamu lagi banyak duit ya?” Tegur Janet berusaha terkesan galak padahal hatinya senang tak terkira.

Enggak juga. Tadi kebetulan lewat ke toko dimsum. Sudah dulu ya! Aku ada janji sama teman-teman mau basket.”

“Masih suka basket ternyata.” Janet tersenyum mengingat masa SMA.

“Bukan hanya basket yang masih aku suka. Orang yang sekarang bicara denganku juga masih aku suka.”

Mendengar kata-kata itu Janet langsung mengalihkan pembicaraan. “Sudah dulu ya! Aku lapar. Mau makan dimsum.”

“Baiklah! Sampai jumpa hari Sabtu nanti. Awas jangan pura-pura lupa!” Ancamnya.

Janet menutup pembicaraan lalu kembali ke UKS. Di UKS kedua sobatnya sudah siap dengan naskah interogasi mereka.

“Dimsum nih?” Yuri melirik dimsum di tangan Janet yang sudah kembali ke UKS.

“Pesen makanan kok enggak ngajak-ngajak.” Tegur Rosa sambil mengedip-ngedipkan mata  pada dimsum di tangan Janet.

“Oh ini tadi dikirim orang.” Janet bicara sambil tertunduk malu lalu duduk di karpet tempat mereka biasa makan-makan.

Mendengar hal itu baik Yuri maupun Rosa langsung saling pandang dan tergelak.

“Jadi siapakah dia?” Mode detektif Yuri langsung aktif. Dia menatap Janet dengan tatapan maut.

“Teman.” Sahut Janet dengan wajah bersemu merah.

“Baik amat temennya sampai ngasih dimsum.” Rosa menatap tak percaya.

“Teman SMA. Dia baru saja ditugaskan di Puskesmas.”

Mendengar nama puskesmas disebut, Rosa dan Yuri langsung berpikir keras. Dua bulan yang lalu Janet mengantar Rosa ke acara pertemuan para pembina UKS dengan pihak Puskesmas.

“Coba ceritakan si teman ini!” Yuri kembali beraksi.

“Ya waktu itu ketemu pas nganter kak Ocha. Aku juga enggak nyangka bisa ketemu lagi sama dia.”

Singel kan?” Yuri menatap tajam dan Janet langsung mengangguk. “Kalau begitu, gas.” Yuri menyemangati.

“Apanya yang gas?” Janet pura-pura tak mengerti.

“Mau gue datengin ke Puskes?” Gertak Rosa gemas melihat tingkah Janet.

“Ayo!” Yuri bersemangat. Bakat terpendamnya sebagai mak comblang kembali mencuat.

“Ih jangan. Kalian malu-maluin aja.” Janet langsung menolak dengan tegas. Lalu membuka bungkus dimsum dan mulai memakannya.

“Okelah kalau begitu.” Seru Yuri dan Rosa sambil ikut menikmati dimsum.

***

            “Hai!” Sapa Janet dengan senyum yang tiba-tiba jadi makin serinng menghiasai wajahnya.

“Halo. Yuk, pergi!” Yang disapa menyerahkan helm lalu meminta Janet segera naik ke jok motor di belakangnya.

“Jadi kita mau pergi ke mana?” Tanyanya setelah memakai helm dan duduk dengan nyaman.

“Lihat saja nanti!” Sahutnya sambil menutup kaca helm lalu mulai menjalankan motornya.

Awalnya Janet bingung antara harus pegangan ke bajunya ataukah ke bagian belakang jok. Dia terbiasa mengendarai motor sendiri sehingga merasa kurang nyaman saat harus dibonceng orang.  Setelah lama berpikir akhirnya Janet berpegangan pada jaketnya.

“Curug?” Janet tertegun saat mereka sampai di tujuan.

“Ya. Kamu pasti belum pernah ke sini.” Dia tersenyum senang melihat Janet yang memandangi keadaan sekeliling dengan takjub. “Ayo!”

Janet membiarkan dirinya ditarik untuk berjalan menuruni anak tangga menuju Curug Orok yang ada di bawah mereka. Dia tidak sedikit pun protes meski kakinya merasa pegal dan lelah. Dia membiarkan dirinya mengikuti keinginan laki-laki di hadapannya yang tengah tersenyum riang.

“Kau baik-baik saja?” Dia menatap Janet yang sedang mengatur napasnya. “Kau tidak mengomel?” Lagi-lagi dia tersenyum riang. “Betapa jarak dan waktu mampu mengubah keadaan seseorang.” Dia berdecak kagum lalu duduk di samping Janet. “Kau tahu Met, betapa bahagianya diriku saat melihatmu hari itu. Akhirnya semesta berpihak padaku.” Dia tersenyum sambil memandangi air terjun di hadapan mereka.

“Sejak kapan kamu jadi puitis begini?” Janet yang mulai mendapatkan ketenangannya akhirnya berkomentar. Laki-laki di hadapannya ini telah tumbuh jadi orang yang berbeda. Dia yang selalu memanggilnya “Jamet” hanya sekedar untuk membuatnya kesal, tiba-tiba jadi puitis.

“Sejak dulu. Kau saja yang tak pernah memberiku kesempatan untuk menunjukkannya.” Dia kembali tersenyum dan senyumnya menular. Senyum yang kini tak lagi dirasa Janet sebagai gangguan. Dulu dia benci sekali melihat senyuman itu. Senyuman yang selalu muncul di wajahnya setelah berhasil membuatnya kesal. “Kau tahu mengapa sampai saat ini aku masih sendiri?” Tanyanya tiba-tiba.

“Mungkin karena semua perempuan yang kau pelet sudah kembali normal.” Jawab Janet asal.

“Enak saja.” Dia manyun lalu menjitak kening Janet. “Susah sekali sih bicara serius denganmu.” Dia menyerah lalu meninggalkan Janet untuk pergi bermain air.

Sementara laki-laki itu asyik bermain air, Janet memandanginya dalam diam. Janet senang bisa dipertemukan kembali dengannya. Namun Janet tak yakin apakah kali ini kisah mereka bisa berakhir dalam satu alur yang sama ataukah hanya sekedar berpapasan sebelum kembali ke alur masing-masing.

YN, 01-07-2025

 

 

             

Tertinggal di Hati

  If only you could see the tears In the world you left behind If only you could heal my heart Just one more time Even when I close my eyes ...