Sunyi.
Kata yang selalu disenangi Janet. Janet tidak suka
keramaian. Janet lebih memilih diam di kamar sambil melihat-lihat video di
youtube dibandingkan berada di keramaian. Waktu liburnya dia manfaatkan untuk
tidur dan rebahan. Energinya sudah terkuras habis dari Senin hingga Jumat.
Apakah dia kesepian? Jawabnya tidak. Dia masih punya
ibu yang sangat asyik untuk diajak bicara. Setiap pulang ke rumah ibu pasti
mengajaknya mengobrol. Janet sangat bersyukur karenanya. Dia masih belum bisa
membayangkan seandainya ibunya dipanggil Sang Pencipta. Dia masih belum rela.
Dia masih sangat membutuhkannya.
Ibu adalah rumah tempatnya pulang dari semua kelelahan.
Janet berusaha berdiri tegak di tengah gempuran pertanyaan “Kapan menikah?”atau “Di tunggu undangannya”. Dia
berusaha tetap tersenyum dan tak ambil pusing. Dia percaya Sang Pencipta sudah
menyiapkan seseorang untuknya. Hanya saja orang itu belum datang.
Janet bahagia dengan hidupnya. Dia bersyukur atas apa
yang telah dianugerahkan Sang Pencipta. Namun kini semua ketenangan dan
kedamaian itu terusik oleh kedatangannya.
“Syehrazad kenapa?” Yuri bertanya pada Rosa yang sedang
asyik menonton drama china di ponsel canggihnya.
Rosa mengalihkan pandang dari ponselnya lalu berbisik,
“Enggak tahu, anak itu dari tadi diam terus. Lagi pindah ke Turki kali?” Rosa
tertawa.
“Apa mungkin dia sudah ketemu si Onur?” Yuri tergelak.
Ketika Yuri dan Rosa sedang tergelak, tiba-tiba Janet
bangkit dari kursinya lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Dia melihat
ponselnya sebentar lalu berjalan tergesa menuju gerbang. Di belakangnya Yuri
dan Rosa melongo heran.
***
“Sudah terima makanannya?” Tanya seseorang di seberang
sana saat Janet baru selesai mengambil makanan dari kurir.
“Kamu lagi
banyak duit ya?” Tegur Janet berusaha terkesan galak padahal hatinya senang tak
terkira.
“Enggak
juga. Tadi kebetulan lewat ke toko dimsum. Sudah dulu ya! Aku ada janji sama
teman-teman mau basket.”
“Masih suka
basket ternyata.” Janet tersenyum mengingat masa SMA.
“Bukan hanya
basket yang masih aku suka. Orang yang sekarang bicara denganku juga masih aku
suka.”
Mendengar kata-kata
itu Janet langsung mengalihkan pembicaraan. “Sudah dulu ya! Aku lapar. Mau makan
dimsum.”
“Baiklah!
Sampai jumpa hari Sabtu nanti. Awas jangan pura-pura lupa!” Ancamnya.
Janet menutup
pembicaraan lalu kembali ke UKS. Di UKS kedua sobatnya sudah siap dengan naskah
interogasi mereka.
“Dimsum
nih?” Yuri melirik dimsum di tangan Janet yang sudah kembali ke UKS.
“Pesen
makanan kok enggak ngajak-ngajak.” Tegur Rosa sambil mengedip-ngedipkan
mata pada dimsum di tangan Janet.
“Oh ini tadi
dikirim orang.” Janet bicara sambil tertunduk malu lalu duduk di karpet tempat
mereka biasa makan-makan.
Mendengar
hal itu baik Yuri maupun Rosa langsung saling pandang dan tergelak.
“Jadi
siapakah dia?” Mode detektif Yuri langsung aktif. Dia menatap Janet dengan
tatapan maut.
“Teman.”
Sahut Janet dengan wajah bersemu merah.
“Baik amat
temennya sampai ngasih dimsum.” Rosa menatap tak percaya.
“Teman SMA.
Dia baru saja ditugaskan di Puskesmas.”
Mendengar
nama puskesmas disebut, Rosa dan Yuri langsung berpikir keras. Dua bulan yang
lalu Janet mengantar Rosa ke acara pertemuan para pembina UKS dengan pihak
Puskesmas.
“Coba
ceritakan si teman ini!” Yuri kembali beraksi.
“Ya waktu
itu ketemu pas nganter kak Ocha. Aku juga enggak nyangka
bisa ketemu lagi sama dia.”
“Singel
kan?” Yuri menatap tajam dan Janet langsung mengangguk. “Kalau begitu,
gas.” Yuri menyemangati.
“Apanya yang
gas?” Janet pura-pura tak mengerti.
“Mau gue
datengin ke Puskes?” Gertak Rosa gemas melihat tingkah Janet.
“Ayo!” Yuri
bersemangat. Bakat terpendamnya sebagai mak comblang kembali mencuat.
“Ih jangan.
Kalian malu-maluin aja.” Janet langsung menolak dengan tegas. Lalu membuka
bungkus dimsum dan mulai memakannya.
“Okelah
kalau begitu.” Seru Yuri dan Rosa sambil ikut menikmati dimsum.
***
“Hai!” Sapa Janet dengan senyum yang tiba-tiba jadi
makin serinng menghiasai wajahnya.
“Halo. Yuk,
pergi!” Yang disapa menyerahkan helm lalu meminta Janet segera naik ke jok
motor di belakangnya.
“Jadi kita
mau pergi ke mana?” Tanyanya setelah memakai helm dan duduk dengan nyaman.
“Lihat saja
nanti!” Sahutnya sambil menutup kaca helm lalu mulai menjalankan motornya.
Awalnya
Janet bingung antara harus pegangan ke bajunya ataukah ke bagian belakang jok.
Dia terbiasa mengendarai motor sendiri sehingga merasa kurang nyaman saat harus
dibonceng orang. Setelah lama berpikir
akhirnya Janet berpegangan pada jaketnya.
“Curug?” Janet
tertegun saat mereka sampai di tujuan.
“Ya. Kamu
pasti belum pernah ke sini.” Dia tersenyum senang melihat Janet yang memandangi
keadaan sekeliling dengan takjub. “Ayo!”
Janet membiarkan
dirinya ditarik untuk berjalan menuruni anak tangga menuju Curug Orok yang ada
di bawah mereka. Dia tidak sedikit pun protes meski kakinya merasa pegal dan
lelah. Dia membiarkan dirinya mengikuti keinginan laki-laki di hadapannya yang
tengah tersenyum riang.
“Kau baik-baik
saja?” Dia menatap Janet yang sedang mengatur napasnya. “Kau tidak mengomel?” Lagi-lagi
dia tersenyum riang. “Betapa jarak dan waktu mampu mengubah keadaan seseorang.”
Dia berdecak kagum lalu duduk di samping Janet. “Kau tahu Met, betapa bahagianya
diriku saat melihatmu hari itu. Akhirnya semesta berpihak padaku.” Dia
tersenyum sambil memandangi air terjun di hadapan mereka.
“Sejak kapan
kamu jadi puitis begini?” Janet yang mulai mendapatkan ketenangannya akhirnya
berkomentar. Laki-laki di hadapannya ini telah tumbuh jadi orang yang berbeda. Dia
yang selalu memanggilnya “Jamet” hanya sekedar untuk membuatnya kesal,
tiba-tiba jadi puitis.
“Sejak dulu.
Kau saja yang tak pernah memberiku kesempatan untuk menunjukkannya.” Dia kembali
tersenyum dan senyumnya menular. Senyum yang kini tak lagi dirasa Janet sebagai
gangguan. Dulu dia benci sekali melihat senyuman itu. Senyuman yang selalu
muncul di wajahnya setelah berhasil membuatnya kesal. “Kau tahu mengapa sampai
saat ini aku masih sendiri?” Tanyanya tiba-tiba.
“Mungkin
karena semua perempuan yang kau pelet sudah kembali normal.” Jawab Janet asal.
“Enak saja.”
Dia manyun lalu menjitak kening Janet. “Susah sekali sih bicara serius denganmu.”
Dia menyerah lalu meninggalkan Janet untuk pergi bermain air.
Sementara laki-laki
itu asyik bermain air, Janet memandanginya dalam diam. Janet senang bisa dipertemukan
kembali dengannya. Namun Janet tak yakin apakah kali ini kisah mereka bisa
berakhir dalam satu alur yang sama ataukah hanya sekedar berpapasan sebelum kembali ke alur masing-masing.
YN, 01-07-2025
.jpeg)