Lima tahun sudah berlalu tapi kenangan tentang Azzura tetap tinggal di benak Elzar. Elzar masih sering mencari tahu tentang keberadaanya. Meski Elzar tahu Azzura tak ingin mengenalnya lagi, dia tetap berharap. Baginya hanya Azzura satu-satunya yang mampu membuat hatinya berdebar kencang selain kopi.
“Zar, kemarin aku bertemu mantan istrimu.” Zami yang baru datang menghampiri meja Elzar. Melihat Elzar tidak menunjukkan reaksi apa-apa, Zami pun kembali melanjutkan. “Kami mengobrol sebentar. Katanya dia baru kembali setelah bertugas selama 5 tahun di Kuningan.”
“Jadi selama ini dia bersembunyi di sana.” Elzar akhirnya memberikan tanggapan.
“Kamu masih mencarinya?” Zami menatap Elzar dengan penasaran. Elzar tidak menjawab. Dia hanya menanggapi rasa penasaran Zami dengan senyuman. “Sudah lima tahun berlalu.” Zami mengingatkan.
“Aku tahu. Tapi sehari pun aku tak pernah bisa melupakannya.” Elzar tersenyum tipis.
“Waktu itu kenapa sih kalian memilih berpisah.” Zami menarik kursi dan menyimpannya di dekat meja kerja Elzar. Selama ini dia benar-benar penasaran.
“Kapan-kapan aja deh ceritanya. Aku lagi sibuk?” Elzar menunjuk layar komputernya yang sedang memuat barisan kode program yang sedang dijalankan.
“Baiklah!” Zami menyerah karena dia juga harus mulai bekerja.
Setelah Zami pergi, Elzar membuka akun Instagramnya di ponsel dan mencari akun Azzura. Unggahan terakhir perempuan itu menunjukkan dia sedang duduk di kedai kopi sambil menulis. Saat tahu dia tidak mengunci akunnya, Elzar pun mulai melihat-lihat unggahannya.
Uang jajan Mak Lampir sepertinya habis, Elzar bergumam. Dia tertawa lalu kembali menggulir unggahan di akun Azzura. Dia berusaha mencari-cari foto terbarunya tapi tak satu pun dia menemukannya.
Seperti apa dia sekarang? Elzar bertanya-tanya.
Setelah mereka selesai mengurus perceraian, Azzura menghilang. Azzura tak mau bertemu dengan Elzar. Azzura benar-benar memutuskan komunikasi dengannya.
“Kata Zami, Zu sudah kembali ke Bandung.” Elzar menelepon kakaknya, yang juga sahabat baik Azzura.
“Iya. Sudah hampir satu tahun malah.” Sahut Elvira dengan santai.
“Kok enggak ngasih tahu?” Elzar sedikit kesal.
“Dia yang melarangku. Kami baru dekat lagi setelah empat tahun, aku tak mungkin mengkhianatinya.” Elvira membela diri.
“Dan kau tidak merasa bersalah pada adikmu ini?” Elzar mengeluh.
“Kau sendiri yang buat masalah.” Elvira mengingatkan.
“Iya aku tahu. Aku terlalu asyik dengan duniaku. Aku menganggap semua baik-baik saja hingga akhirnya dia pergi.”
“Kau baru tahu betapa berartinya dia setelah kau ditinggalkan.”
“Sudahi ceramahnya bu guru!” Protes Elzar. “Apa dia sudah menikah lagi?”
“Setahuku belum.” Elvira memberi jeda pada jawabannya. “Jangan bilang kau mau mengejarnya lagi?” Elvira menebak-nebak.
“Kalau sampai saat ini dia masih sendiri, berarti dia masih cinta padaku.” Jawab Elzar dengan percaya diri.
“Kau kepedean!” Elvira menaikkan suaranya.
“Memang begitu adanya. Mak lampir itu cinta mati padaku.”
“Terserah kamu lah. Kalau kali ini dia sakit hati lagi, kucoret kau dari kartu keluarga!’ Ancam Elvira sambil menutup pembicaraan.
Hari itu saat pulang ke apartemennya Elzar terduduk di sofa. Dia kembali teringat pada Azzura. Pikirannya membawa Elzar ke pertemuan pertama mereka. Saat itu Elzar baru duduk di kelas 7. Dia masuk ke kamar kakaknya untuk meminjam komik. Seperti biasa dia masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Begitu masuk dia langsung menimpuk perempuan yang sedang duduk di kursi belajar kakaknya dengan bantal.
“Siapa sih!” Perempuan itu menoleh ke belakang dan melotot pada Elzar yang tengah asyik cengengesan.
“Eh maaf, saya kira Vira.” Elzar menggaruk kepalanya yang tiba-tiba jadi gatal.
“Ngapain?” Elvira masuk kamar lalu mengalungkan lengan di leher Elzar dan memeluknya erat seolah hendak mencekiknya.
“Adikmu tuh. Tiba-tiba nimpuk pakai bantal!” Perempuan itu melotot pada Elzar lalu menunjuk bantal yang ada di bawah kakinya.
“Maaf!” Elzar tertunduk.
Elvira tertawa melihat adiknya yang tertunduk karena ditatap dengan galak oleh Azzura. “Ayo pergi!” Elvira menarik Elzar menjauh dari kamarnya. “Makanya kalau masuk kamar orang tuh ketuk dulu!” Elvira menjitak kepala adiknya.
“Jadi itu yang namanya Azzura?” Elzar menoleh ke kamar Elvira.
“Cantik dan imut, kan?” Elvira mengedip-ngedipkan mata pada adiknya.
“Apanya yang imut. Yang jelas dia galak.” Elzar merinding ketakutan. “Apa kau yakin kalau dia seumuran denganmu?” Elzar menatap kakaknya dengan penasaran.
“Ya. Kami bahkan lahir di bulan yang sama, hanya beda lima hari.”
Sejak hari itu Azzura jadi pengunjung setia rumah mereka. Lama kelamaan Elzar mulai akrab dengannya. Elzar mulai terbiasa dengan tatapan galak dan kejutekannya.
“Yakin mau traktir nonton?” Tanya Azzura saat Elzar menjemputnya di tempat dia magang. Elzar tidak menjawab. Dia menunjukkan tiket yang sudah dipesannya melalui aplikasi. “Didi kita sudah bisa cari uang!” Azzura mengalungkan lengan di pinggang Elzar lalu mengajaknya pergi.
“Laki-laki yang tadi bicara denganmu tadi siapa?” Elzar menanyakan laki-laki yang tadi mengobrol dengan Azzura saat Elzar tiba.
“Rekan kerjaku.” Sahutnya dengan cuek.
“Apa dia masih lajang?” Lanjut ELzar ingin menuntaskan rasa penasaran.
“Memang kenapa kalau dia lajang? Kau takut dia naksir padaku?” Azzura menatap Elzar dengan tajam.
“Tentu saja tak boleh. Kau milikku ingat!” Elzar menunjuk gelang di tangan kanan Azzura.
“Harusnya saat itu aku tidak menerima gelang ini!”
“Hei, apa yang sudah diterima tak bisa dikembalikan atau ditukar!” Elzar memakaikan helm di kepala Azzura lalu mengajaknya naik ke boncengan motornya.
Mereka resmi pacaran saat Elzar menyelesaikan ujian sidangnya. Elzar memang menyelesaikan kuliah lebih cepat dibanding teman-teman seangkatannya. Saat menyadari perasaannya pada Azzura lebih dari sekedar teman, Elzar mulai menyusun masa depannya dengan lebih rapi. Dia ingin menjadi laki-laki yang pantas untuknya.
Meski usia mereka terpaut tiga tahun, Elzar tidak merasa hal itu menjadi masalah. Elzar justru merasa dialah yang lebih dewasa. Dibalik sikap juteknya terkadang Azzura lebih manja darinya dan juga lebih kekanak-kanakkan. Dengan postur tubuhnya yang mungil, Azzura terlihat lebih muda darinya.
“Uang jajanmu habis?” Elzar menelepon Azzura setelah melihat unggahan status galau di akun media sosialnya. Azzura tidak menjawab. Dia hanya tertawa. “Aku sudah transfer coba dicek.”
“Terima kasih bos. Besok kau pulang?”
“Sepertinya tidak bisa. Aku harus menyelesaikan aplikasi untuk sebuah lembaga.” Elzar terdengar sedih. “Kau menginap di rumah Vira saja.”
“Kita lihat besok saja!”
Elzar melamar Azzura satu tahun setelah dia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT. Dia segera melamarnya karena takut Azzura akan berubah pikiran. Selama ini Elzarlah yang selalu berusaha meyakinkan Azzura bahwa niatnya serius.
Setelah menikah pekerjaan Elzar semakin sibuk. Meski begitu Azzura tidak mengeluh. Dia begitu sabar menghadapinya. Dia jarang mengomel meski terkadang Elzar meninggalkannya untuk bermain basket atau nongkrong dengan teman di sela-sela waktu senggangnya.
Semua baik-baik saja sampai pada suatu hari. Untuk kesekian kalinya Elzar tidak menepati janjinya untuk mengantar Azzura. Saat Elzar pulang setelah bermain dengan temannya, dia mendapati Azzura sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
“Mau ke mana?” Tanyanya dengan polos.
“Kembali ke rumah mama?” Azzura menjawab tanpa menoleh padanya.
“Kenapa sih Zu. Bukankah kita baik-baik saja?” Elzar menarik tangan Azzura dan memalingkan wajahnya agar menatap Elzar. Saat melihatnya, Elzar tertegun. Telaga bening itu berkabut dan sembab. Sepertinya dia sudah menangis cukup lama.
“Kau mungkin baik-baik saja tapi aku tidak. Aku tak suka lelakiku masih bertemu dengan mantannya. Aku ingin lelakiku juga memiliki waktu untukku bukan hanya memberiku uang.” Azzura menantang Elzar dengan tatapannya.
“Apa Tania menemuimu?” Elzar menanyakan mantan pacar yang dimaksud oleh Azzura.
“Kemarin dia datang mengantarkan jaketmu yang dipinjamnya.”
“Hubungan kami benar-benar sudah berakhir, Zu. Lagipula kami tidak pernah benar-benar pacaran. Tania saja yang berpikir terlalu jauh. Sejak dulu aku hanya menganggapnya sebagai teman.” Elzar berusaha menjelaskan.
“Cukup!” Azzura berteriak dengan kencang. Dia mendorong Elzar agar menjauh.
Elzar tidak terpana melihat kemarahan yang terpancar di wajah Azzura. Dia tak pernah melihatnya semarah itu.
Melihat Elzar seperti itu, Azzura menurunkan suaranya lalu bicara, "Sejak awal aku memang bukan ibu peri, Zar. Kau sendiri yang bilang kalau aku mirip Mak Lampir." Azzura menatap Elzar dengan tangis yang tertahan. "Meski begitu, aku tetaplah seorang perempuan. Kuharap kau tidak lupa tentang itu." Azzura menenteng kopernya dan pergi meninggalkan Elzar dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
Elzar berusaha menahan kepergiannya tapi kata-kata Azzura menahan langkahnya.
“Stop. Kalau kau memang pernah mencintaiku kau tak menahan kepergianku.”
Setelah Azzura pergi, Elzar langsung menemui kakaknya. Kakaknya langsung memasang wajah jutek saat dia datang.
Pasti Elvira sudah tahu tentang kepergian Azzura. Dia tak mungkin bersikap seperti itu kalau tidak tahu.
“Sebenarnya kamu cinta apa enggak sih sama dia?” Tanya Elvira dengan ketus.
“Kalau tidak cinta tak mungkin kunikahi.” Elzar menyugar rambutnya dnegan putus asa.
“Apa kau tahu kalau Azzura keguguran?” Tanya Elvira kemudian.
“Apa? Kapan?” Elzar benar-benar kaget. “Setahuku haidnya memang sering tidak teratur?” Elzar mulai merasa panik. Dia mencoba mengingat.
“Ya. Dia stres karena selalu memendam semuanya sendirian. Bulan lalu dia mengalami pendarahan, aku mengantarnya ke dokter. Dokter bilang dia keguguran, janinnya baru beberapa minggu.”
Kata-kata Elvira membuat Elzar seperti disambar petir. Saat itu dia pergi ke Surabaya untuk seminar tentang program IT terbaru. Sebelum pergi Azzura mengeluh sakit tapi dia tidak terlalu menanggapinya. Dia menganggap Azzura hanya sedang bermanja padanya.
“Kurasa kali ini aku benar-benar tamat.” Elzar menarik napas dengan berat. Dia menatap kakaknya dengan penuh penyesalan.
Elzar pulang ke rumah dan merenungkan semua sikapnya selama ini. Dia menganggap semua baik-baik saja. Dia menganggap Azzura benar-benar merasa bahagia dengan pernikahan mereka. Ternyata selama ini dia terlalu cuek. Dia terlalu nyaman karena Azzura tak pernah banyak menuntut.
Setelah pikirannya cukup tenang dia mencari Azzura ke rumah ibunya. Sudah beberapa kali dia datang tapi Azzura tidak mau menemuinya. Dia malah memberikannya surat gugatan perceraian. Dengan berat hati Elzar pun mengabulkan keinginannya.
Elzar berusaha untuk melupakannya. Elzar memfokuskan pada pekerjaan. Elzar berharap dengan berlalunya waktu dia dapat melupakannya. Namun sampai lima tahun berlalu perasaan Elzar padanya tak juga hilang. Setiap hari dia malah semakin merindukannya.
Elzar berusaha mencari tahu tentang Azzura. Namun orang-orang terdekatnya seolah menutupi keberadaannya. Azzura benar-benar tak ingin bertemu dengannya lagi. Meski begitu Elzar tak ingin menyerah.
Selama ini Elzar selalu membayangkan kata apa yang akan diucapkannya jika mereka bertemu lagi. Dia juga sudah menyusun berbagai skenario di kepalanya. Namun Tuhan masih belum memberinya jalan.
Suatu sore di hari Jumat Elzar mampir ke kedai kopi yang disebutkan oleh Zami. Kedai kopi tempat Zami bertemu dengan Azzura. Dia memesan americano lalu mencari tempat duduk di dekat jendela. Dan di sanalah dia. Azzura sedang duduk dengan tab di hadapannya. Dia tampak asyik mengetik hingga tak memedulikan keadaan di sekitarnya.
“Bolehkah saya duduk di sini?” Elzar bicara dengan hati-hati.
“Elzar….” Azzura memalingkan wajah dari tab-nya dan menatap Elzar.
“Jadi bolehkah aku duduk di sini?” Elzar kembali bertanya.
Sebelum menjawab Azzura menatap ke sekeliling kedai kopi. Hari itu pengunjungnya sangat ramai. Dengan berat hati dia pun mengizinkan Elzar untuk duduk.
YN, 17-04-2026




.jpeg)


.jpeg)