cerita nurhati
Jumat, 08 Mei 2026
Mak Lampir Juga Perempuan 2#
Jumat, 17 April 2026
Mak Lampir Juga Perempuan 1#
Lima tahun sudah berlalu tapi kenangan tentang Azzura tetap tinggal di benak Elzar. Elzar masih sering mencari tahu tentang keberadaanya. Meski Elzar tahu Azzura tak ingin mengenalnya lagi, dia tetap berharap. Baginya hanya Azzura satu-satunya yang mampu membuat hatinya berdebar kencang selain kopi.
“Zar, kemarin aku bertemu mantan istrimu.” Zami yang baru datang menghampiri meja Elzar. Melihat Elzar tidak menunjukkan reaksi apa-apa, Zami pun kembali melanjutkan. “Kami mengobrol sebentar. Katanya dia baru kembali setelah bertugas selama 5 tahun di Kuningan.”
“Jadi selama ini dia bersembunyi di sana.” Elzar akhirnya memberikan tanggapan.
“Kamu masih mencarinya?” Zami menatap Elzar dengan penasaran. Elzar tidak menjawab. Dia hanya menanggapi rasa penasaran Zami dengan senyuman. “Sudah lima tahun berlalu.” Zami mengingatkan.
“Aku tahu. Tapi sehari pun aku tak pernah bisa melupakannya.” Elzar tersenyum tipis.
“Waktu itu kenapa sih kalian memilih berpisah?” Zami menarik kursi dan menyimpannya di dekat meja kerja Elzar. Selama ini dia benar-benar penasaran.
“Kapan-kapan aja deh ceritanya. Aku lagi sibuk?” Elzar menunjuk layar komputernya yang sedang memuat barisan kode program yang sedang dijalankan.
“Baiklah!” Zami menyerah karena dia juga harus mulai bekerja.
Setelah Zami pergi, Elzar membuka akun Instagramnya di ponsel dan mencari akun Azzura. Unggahan terakhir perempuan itu menunjukkan dia sedang duduk di kedai kopi sambil menulis. Saat tahu dia tidak mengunci akunnya, Elzar pun mulai melihat-lihat unggahannya.
Uang jajan Mak Lampir sepertinya habis, Elzar bergumam. Dia tertawa lalu kembali menggulir unggahan di akun Azzura. Dia berusaha mencari-cari foto terbarunya tapi tak satu pun dia menemukannya.
Seperti apa dia sekarang? Elzar bertanya-tanya.
Setelah mereka selesai mengurus perceraian, Azzura menghilang. Azzura tak mau bertemu dengan Elzar. Azzura benar-benar memutuskan komunikasi dengannya.
“Kata Zami, Zu sudah kembali ke Bandung.” Elzar menelepon kakaknya, yang juga sahabat baik Azzura.
“Iya. Sudah hampir satu tahun malah.” Sahut Elvira dengan santai.
“Kok enggak ngasih tahu?” Elzar sedikit kesal.
“Dia yang melarangku. Kami baru dekat lagi setelah empat tahun, aku tak mungkin mengkhianatinya.” Elvira membela diri.
“Dan kau tidak merasa bersalah pada adikmu ini?” Elzar mengeluh.
“Kau sendiri yang buat masalah.” Elvira mengingatkan.
“Iya aku tahu. Aku terlalu asyik dengan duniaku. Aku menganggap semua baik-baik saja hingga akhirnya dia pergi.”
“Kau baru tahu betapa berartinya dia setelah kau ditinggalkan.”
“Sudahi ceramahnya bu guru!” Protes Elzar. “Apa dia sudah menikah lagi?”
“Setahuku belum.” Elvira memberi jeda pada jawabannya. “Jangan bilang kau mau mengejarnya lagi?” Elvira menebak-nebak.
“Kalau sampai saat ini dia masih sendiri, berarti dia masih cinta padaku.” Jawab Elzar dengan percaya diri.
“Kau kepedean!” Elvira menaikkan suaranya.
“Memang begitu adanya. Mak lampir itu cinta mati padaku.”
“Terserah kamu lah. Kalau kali ini dia sakit hati lagi, kucoret kau dari kartu keluarga!’ Ancam Elvira sambil menutup pembicaraan.
Hari itu saat pulang ke apartemennya Elzar terduduk di sofa. Dia kembali teringat pada Azzura. Pikirannya membawa Elzar ke pertemuan pertama mereka. Saat itu Elzar baru duduk di kelas 7. Dia masuk ke kamar kakaknya untuk meminjam komik. Seperti biasa dia masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Begitu masuk dia langsung menimpuk perempuan yang sedang duduk di kursi belajar kakaknya dengan bantal.
“Siapa sih!” Perempuan itu menoleh ke belakang dan melotot pada Elzar yang tengah asyik cengengesan.
“Eh maaf, saya kira Vira.” Elzar menggaruk kepalanya yang tiba-tiba jadi gatal.
“Ngapain?” Elvira masuk kamar lalu mengalungkan lengan di leher Elzar dan memeluknya erat seolah hendak mencekiknya.
“Adikmu tuh. Tiba-tiba nimpuk pakai bantal!” Perempuan itu melotot pada Elzar lalu menunjuk bantal yang ada di bawah kakinya.
“Maaf!” Elzar tertunduk.
Elvira tertawa melihat adiknya yang tertunduk karena ditatap dengan galak oleh Azzura. “Ayo pergi!” Elvira menarik Elzar menjauh dari kamarnya. “Makanya kalau masuk kamar orang tuh ketuk dulu!” Elvira menjitak kepala adiknya.
“Jadi itu yang namanya Azzura?” Elzar menoleh ke kamar Elvira.
“Cantik dan imut, kan?” Elvira mengedip-ngedipkan mata pada adiknya.
“Apanya yang imut. Yang jelas dia galak.” Elzar merinding ketakutan. “Apa kau yakin kalau dia seumuran denganmu?” Elzar menatap kakaknya dengan penasaran.
“Ya. Kami bahkan lahir di bulan yang sama, hanya beda lima hari.”
Sejak hari itu Azzura jadi pengunjung setia rumah mereka. Lama kelamaan Elzar mulai akrab dengannya. Elzar mulai terbiasa dengan tatapan galak dan kejutekannya.
“Yakin mau traktir nonton?” Tanya Azzura saat Elzar menjemputnya di tempat dia magang. Elzar tidak menjawab. Dia menunjukkan tiket yang sudah dipesannya melalui aplikasi. “Didi kita sudah bisa cari uang!” Azzura mengalungkan lengan di pinggang Elzar lalu mengajaknya pergi.
“Laki-laki yang tadi bicara denganmu siapa?” Elzar menanyakan laki-laki yang tadi mengobrol dengan Azzura saat Elzar tiba.
“Rekan kerjaku.” Sahutnya dengan cuek.
“Apa dia masih lajang?” Lanjut ELzar ingin menuntaskan rasa penasaran.
“Memang kenapa kalau dia lajang? Kau takut dia naksir padaku?” Azzura menatap Elzar dengan tajam.
“Tentu saja tak boleh. Kau milikku ingat!” Elzar menunjuk gelang di tangan kanan Azzura.
“Harusnya saat itu aku tidak menerima gelang ini!”
“Hei, apa yang sudah diterima tak bisa dikembalikan atau ditukar!” Elzar memakaikan helm di kepala Azzura lalu mengajaknya naik ke boncengan motornya.
Mereka resmi pacaran saat Elzar menyelesaikan ujian sidangnya. Elzar memang menyelesaikan kuliah lebih cepat dibanding teman-teman seangkatannya. Saat menyadari perasaannya pada Azzura lebih dari sekedar teman, Elzar mulai menyusun masa depannya dengan lebih rapi. Dia ingin menjadi laki-laki yang pantas untuknya.
Meski usia mereka terpaut tiga tahun, Elzar tidak merasa hal itu menjadi masalah. Elzar justru merasa dialah yang lebih dewasa. Dibalik sikap juteknya terkadang Azzura lebih manja darinya dan juga lebih kekanak-kanakkan. Dengan postur tubuhnya yang mungil, Azzura terlihat lebih muda darinya.
“Uang jajanmu habis?” Elzar menelepon Azzura setelah melihat unggahan status galau di akun media sosialnya. Azzura tidak menjawab. Dia hanya tertawa. “Aku sudah transfer coba dicek.”
“Terima kasih bos. Besok kau pulang?”
“Sepertinya tidak bisa. Aku harus menyelesaikan aplikasi untuk sebuah lembaga.” Elzar terdengar sedih. “Kau menginap di rumah Vira saja.”
“Kita lihat besok saja!”
Elzar melamar Azzura satu tahun setelah dia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT. Dia segera melamarnya karena takut Azzura akan berubah pikiran. Selama ini Elzarlah yang selalu berusaha meyakinkan Azzura bahwa niatnya serius.
Setelah menikah pekerjaan Elzar semakin sibuk. Meski begitu Azzura tidak mengeluh. Dia begitu sabar menghadapinya. Dia jarang mengomel meski terkadang Elzar meninggalkannya untuk bermain basket atau nongkrong dengan teman di sela-sela waktu senggangnya.
Semua baik-baik saja sampai pada suatu hari. Untuk kesekian kalinya Elzar tidak menepati janjinya untuk mengantar Azzura. Saat Elzar pulang setelah bermain dengan temannya, dia mendapati Azzura sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
“Mau ke mana?” Tanyanya dengan polos.
“Kembali ke rumah mama?” Azzura menjawab tanpa menoleh padanya.
“Kenapa sih Zu. Bukankah kita baik-baik saja?” Elzar menarik tangan Azzura dan memalingkan wajahnya agar menatap Elzar. Saat melihatnya, Elzar tertegun. Telaga bening itu berkabut dan sembab. Sepertinya dia sudah menangis cukup lama.
“Kau mungkin baik-baik saja tapi aku tidak. Aku tak suka lelakiku masih bertemu dengan mantannya. Aku ingin lelakiku juga memiliki waktu untukku bukan hanya memberiku uang.” Azzura menantang Elzar dengan tatapannya.
“Apa Tania menemuimu?” Elzar menanyakan mantan pacar yang dimaksud oleh Azzura.
“Kemarin dia datang mengantarkan jaketmu yang dipinjamnya.”
“Hubungan kami benar-benar sudah berakhir, Zu. Lagipula kami tidak pernah benar-benar pacaran. Tania saja yang berpikir terlalu jauh. Sejak dulu aku hanya menganggapnya sebagai teman.” Elzar berusaha menjelaskan.
“Cukup!” Azzura berteriak dengan kencang. Dia mendorong Elzar agar menjauh.
Elzar tidak terpana melihat kemarahan yang terpancar di wajah Azzura. Dia tak pernah melihatnya semarah itu.
Melihat Elzar seperti itu, Azzura menurunkan suaranya lalu bicara, "Sejak awal aku memang bukan ibu peri, Zar. Kau sendiri yang bilang kalau aku mirip Mak Lampir." Azzura menatap Elzar dengan tangis yang tertahan. "Meski begitu, aku tetaplah seorang perempuan. Kuharap kau tidak lupa tentang itu." Azzura menenteng kopernya dan pergi meninggalkan Elzar dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
Elzar berusaha menahan kepergiannya tapi kata-kata Azzura menahan langkahnya.
“Stop. Kalau kau memang pernah mencintaiku kau tak akan menahan kepergianku.”
Setelah Azzura pergi, Elzar langsung menemui kakaknya. Kakaknya langsung memasang wajah jutek saat dia datang.
Pasti Elvira sudah tahu tentang kepergian Azzura. Dia tak mungkin bersikap seperti itu kalau tidak tahu.
“Sebenarnya kamu cinta apa enggak sih sama dia?” Tanya Elvira dengan ketus.
“Kalau tidak cinta tak mungkin kunikahi.” Elzar menyugar rambutnya dnegan putus asa.
“Apa kau tahu kalau Azzura keguguran?” Tanya Elvira kemudian.
“Apa? Kapan?” Elzar benar-benar kaget. “Setahuku haidnya memang sering tidak teratur?” Elzar mulai merasa panik. Dia mencoba mengingat.
“Ya. Dia stres karena selalu memendam semuanya sendirian. Bulan lalu dia mengalami pendarahan, aku mengantarnya ke dokter. Dokter bilang dia keguguran, janinnya baru beberapa minggu.”
Kata-kata Elvira membuat Elzar seperti disambar petir. Saat itu dia pergi ke Surabaya untuk seminar tentang program IT terbaru. Sebelum pergi Azzura mengeluh sakit tapi dia tidak terlalu menanggapinya. Dia menganggap Azzura hanya sedang bermanja padanya.
“Kurasa kali ini aku benar-benar tamat.” Elzar menarik napas dengan berat. Dia menatap kakaknya dengan penuh penyesalan.
Elzar pulang ke rumah dan merenungkan semua sikapnya selama ini. Dia menganggap semua baik-baik saja. Dia menganggap Azzura benar-benar merasa bahagia dengan pernikahan mereka. Ternyata selama ini dia terlalu cuek. Dia terlalu nyaman karena Azzura tak pernah banyak menuntut.
Setelah pikirannya cukup tenang dia mencari Azzura ke rumah ibunya. Sudah beberapa kali dia datang tapi Azzura tidak mau menemuinya. Dia malah memberikannya surat gugatan perceraian. Dengan berat hati Elzar pun mengabulkan keinginannya.
Elzar berusaha untuk melupakannya. Elzar memfokuskan pada pekerjaan. Elzar berharap dengan berlalunya waktu dia dapat melupakannya. Namun sampai lima tahun berlalu perasaan Elzar padanya tak juga hilang. Setiap hari dia malah semakin merindukannya.
Elzar berusaha mencari tahu tentang Azzura. Namun orang-orang terdekatnya seolah menutupi keberadaannya. Azzura benar-benar tak ingin bertemu dengannya lagi. Meski begitu Elzar tak ingin menyerah.
Selama ini Elzar selalu membayangkan kata apa yang akan diucapkannya jika mereka bertemu lagi. Dia juga sudah menyusun berbagai skenario di kepalanya. Namun Tuhan masih belum memberinya jalan.
Suatu sore di hari Jumat Elzar mampir ke kedai kopi yang disebutkan oleh Zami. Kedai kopi tempat Zami bertemu dengan Azzura. Dia memesan americano lalu mencari tempat duduk di dekat jendela. Dan di sanalah dia. Azzura sedang duduk dengan tab di hadapannya. Dia tampak asyik mengetik hingga tak memedulikan keadaan di sekitarnya.
“Bolehkah saya duduk di sini?” Elzar bicara dengan hati-hati.
“Elzar….” Azzura memalingkan wajah dari tab-nya dan menatap Elzar.
“Jadi bolehkah aku duduk di sini?” Elzar kembali bertanya.
Sebelum menjawab Azzura menatap ke sekeliling kedai kopi. Hari itu pengunjungnya sangat ramai. Dengan berat hati dia pun mengizinkan Elzar untuk duduk.
YN, 17-04-2026
Minggu, 12 April 2026
Pencuri Hati Itu Bernama Kanaya
Rabu, 11 Februari 2026
Puisi Februari 2026
Menjelang malam
Ada rasa tak berdaya
Kala malam tiba mengakhiri cerita
Ada luka tak kasat mata
Saat bulan menyapa di jendela
Sayup-sayup suara memenuhi telinga
Peluk dan tawa yang kini kosong belaka
Panggilan nyaring penuh cinta tak lagi bersuara
Semua lenyap di telan masa
Tak ada lagi tempat bermanja
Bersenda gurau berbagi cerita
Andai bapak masih bersama
Semua cerita mungkin lebih bermakna
YN, 12-02-2026
Sesal Karena Malu
Ada rasa tak bersuara
Kala sang surya hilang di telan mega
Ada sedih yang tiba-tiba
Kala jangkrik memainkan nada
Tawa yang berakhir air mata
Senyuman yang berganti cela
Senda gurau yang menjadi kaku
Kelincahan lidah yang menjadi kelu
Semua hanya karena malu
Bibir bawel tak mampu mengurai rindu
Mulut manis yang tak pandai merayu
Membuat ia melenggang tanpa ragu
YN, 12-02-2026
Selasa, 10 Februari 2026
Surat Dari Azi (Untuk Mona)
Surat dari Azi
Sejak kecil Azi
terbiasa untuk jadi anak manis kebanggaan papa. Jika Rian adalah pembuat onar
maka Azi adalah orang yang akan membenahi keadaan. Hal itu terus tertanam
sampai dia tumbuh dewasa. Azi tahu dalam hati Rian selalu merasa diabaikan oleh
papa. Rian merasa papa memperlakukannya sedikit berbeda. Papa seolah-olah takut
padanya. Takut membuatnya terluka hingga tak menyimpan banyak harapan untuknya.
Lain halnya dengan sikap papa pada Azi.
Suatu hari papa
berkata, “Kamu harus jadi laki-laki yang tangguh. Kelak siapa yang akan menjaga
mama dan Kaori kalau papa tidak ada.”
Saat itu Azi tak
mengerti maksud perkataan papa. Seiring berlalunya waktu barulah dia paham apa
yang papa inginkan. Azi ingin jadi laki-laki tangguh seperti harapan papa.
Sementara Rian asyik pacaran, Azi malah sibuk belajar dan dan membentuk badan. Azi
ingin jadi anak yang dapat dibanggakan oleh papa. Azi akan mewujudkan semua itu
meski tidak mudah.
Azi tidak berniat
jatuh hati. Baginya urusan hati hanya akan membuat repot. Apalagi saat ia
sedang mempersiapkan masa depannya. Namun kehadiran gadis berparas cantik itu
menggoyahkan niatnya. Kehadiran Mona membuat dia berpikir ulang tentang
semuanya.
Mona yang dengan terang-terangan menunjukkan kalau dia menyukai Azi.
Mona yang selalu berusaha untuk dekat dengannya. Mona yang selalu berusaha
menarik perhatiannya. Mona yang tetap di sisinya meski Azi tak pernah
memberinya kepastian. Mona yang memiliki banyak pacar hanya untuk membuatnya
marah. Mona yang selalu memenuhi hati dan hari-harinya.
Azi pernah berpikir untuk membalas perasaannya seandainya saja dia
tidak tahu kalau kakaknya, Adrian, juga menyukainya. Kakaknya yang playboy itu
benar-benar jatuh cinta padanya. Baru kali ini Azi melihat Rian benar-benar
tertarik pada perempuan. Sering dia melihat Rian memandangi Mona dari kejauhan.
Kalau sudah begitu Azi kembali menahan perasaannya. Azi pun kembali pada niat
awalnya untuk menjadi anak kebanggaan papa. Dia berjuang keras agar bisa diterima
jadi bagian keluarga besar marinir. Dia berusaha sangat keras agar bisa
mewujudkan mimpinya.
Saat sudah berhasil mencapai impiannya, Azi pun kembali mencari Mona.
Gadis itu masih seperti dulu. Masih berusaha membuatnya marah dengan memiliki
banyak pacar. Mona dan Rian tidak kunjung bersama meski Azi sudah memberinya
kesempatan. Akhirnya Azi mengambil keputusan untuk mengambil langkah. Mungkin
dengan begitu hati Rian tergerak.
“Kau akan melamarnya?” Tanya Rian saat Azi menunjukkan gelang yang
akan diberikannya pada Mona.
“Aku sudah memberimu kesempatan, Rian. Mengapa kau tidak
mengambilnya?”
“Di hatinya hanya ada kau seorang.” Adrian tersenyum pedih.
“Setahuku, Adrian bukan orang yang pantang menyerah.”
“Kalau yang menjadi sainganku orang lain mungkin aku bisa menang.”
“Jadi bolehkah aku melamarnya?”
Adrian mengangguk dan tersenyum pedih. “Bahagiakan dia!” Pesannya
sambil keluar dari kamar Azi.
Setelah memastikan kalau Rian tidak keberatan dengan niatnya untuk
melamar Mona, Azi pun menemui gadisnya itu.
“Setelah selesai menjalankan tugas aku akan
menikahimu!” Kata Azi tiba-tiba. Saat itu Azi akan berangkat ke Papua. Mona
hanya bisa terpana. Dia tak menyangka Azi akan mengatakan hal itu. Selama ini
Mona memang sangat berharap Azi bisa menerimanya tetapi kata-kata Azi
benar-benar di luar dugaan. Melihat Mona diam saja Azi tersenyum lalu
memakaikan gelang di lengan Mona.
“Apa ini?” Mona
menatap gelang emas putih yang dipakaikan Azi. Di gelang itu ada ukiran dalam
bahasa Jepang “Kisu mai haato” (hatiku
milikmu).
“Kau tidak suka
cincin bukan?” Azi menatap Mona yang terkesima. “Ini adalah janjiku padamu.”
Azi mengecup punggung tangan Mona yang memakai gelang. “Aku tahu selama ini kau
sengaja memiliki banyak pacar untuk membuatku cemburu. Mulai sekarang hanya aku
yang boleh ada dalam satu frame denganmu.” Azi menatap Mona lekat-lekat
dan menunggu jawaban.
“Honto ni daisuki
(aku sangat mencintaimu).” Mona memeluk Azi dan mulai menangis.
“Kelak hanya aku
yang boleh melihatmu serapuh ini!” Azi mengelus rambut Mona. “Monaku yang
cantik adalah perempuan tangguh.” Azi mengecup puncak kepala Mona.
Sebenarnya Azi ingin
menghabiskan waktu yang lebih banyak dengan Mona. Namun tugas negara sudah
memanggilnya. Dia harus segera pergi. Dengan berat hati dia pun meninggalkan kembali
meninggalkan Mona. Meski harus meninggalkannya kini hati Azi jauh lebih tenang.
Dia sudah menyatakan perasaannya kepada Mona. Azi pun bisa kembali bekerja
dengan tenang.
Kalau dulu dia tidak
merasa begitu rindu untuk pulang, kini sebaliknya. Dia selalu menanti waktu
agar bisa kembali bertemu dengan Mona. Kembali melihat senyum manis di
wajahnya. Kembali melihat ekspresi di wajahnya saat memanggil namanya.
Maka dari itu saat mendapatkan
izin untuk pulang, dia segera pergi menemui Mona. Hari itu adalah ulang tahun Mona.
Sudah lima tahun Azi tidak bersama dengannya saat Mona berulang tahun. Ketika SMA
dulu Azi selalu jadi orang pertama yang memberikannya ucapan selamat. Azi
selalu bersamanya saat Mona merayakan ulang tahun.
Hari itu dengan
membawa buket bunga dan kado dia mengunjungi Mona di rumahnya. Dia sengaja
tidak memberitahu kedatangannya karena ingin memberinya kejutan. Ternyata setibanya
di sana justru dialah yang mendapat kejutan.
“Kalian sudah lama
bersama?” Tanya Azi saat memergoki Mona yang sedang bermesraan dengan Adrian.
Azi menatap Mona dan Adrian yang sedang langsung memisahkan diri. Melihat
kecanggungan keduanya Azi pun memutuskan untuk duduk.
“Azi ....” Mona tak
bisa menjawab. Wajahnya merah padam. Dia tak menyangka Azi akan memergokinya
dalam keadaan seperti itu.
“Aku hanya mampir
sebentar. Tadinya aku ingin merayakan ulang tahunmu! Tapi sepertinya kakakku
sudah menemanimu merayakannya.” Azi
menatap kue ulang tahun yang ada di meja. “Tugasku diperpanjang. Aku tak akan
bisa segera memenuhi janjiku padamu.” Azi menatap Mona yang tertunduk malu.
“Aku bisa
menjelaskan semuanya.” Adrian yang sudah menemukan suaranya akhirnya bicara.
“Rian tak perlu
menjelaskan apa-apa. Azi tahu kalau selama ini Rian menyukai Mona.” Azi tersenyum.
“Azi pernah melihat buku sketsa Rian. Di sana banyak gambar Mona dan ungkapan
perasaan Rian untuknya.” Azi menghela napas. “Sekarang Azi merasa lega karena
ada yang menjaga Mona. Azi pergi. Azi mau menemui mama dan Kaori lalu kembali
ke tempat tugas.” Azi beranjak dari duduknya.
“Azi....” Mona
dengan malu-malu menghampirinya.
“Semoga kau
bahagia!” Azi mengecup puncak kepala Mona lalu pergi.
Azi memaksa kakinya
segera bergerak menjauhi rumah Mona. Dia tidak ingin menangis di depan Mona.
Dia tidak ingin membebaninya. Dia pergi menemui Kaori, adiknya, di tempatnya
bekerja lalu menemui mama. Setelah itu dia memutuskan untuk kembali ke tempat
tugasnya. Sebelum pergi dia menulis surat untuk Mona.
Mona
tersayang, jangan menangis.
Azi
memang terkejut saat melihat kalian bersama. Namun sejak awal Azi sudah
menduganya. Azi sudah lama tahu kalau Rian sangat mencintai Mona. Meski sakit
tapi Azi juga merasa senang karena akhirnya Rian mampu mengalahkan semua
ketakutannya dan memilih untuk bersama Mona.
Terima
kasih untuk semua kasih sayang yang pernah Mona berikan untuk Azi. Terima kasih
untuk menunggu Azi. Terima kasih untuk semua waktu yang Mona habiskan untuk Azi.
Azi minta
maaf karena tidak bisa memenuhi janji. Azi minta maaf karena begitu lama
mengabaikan perasaan Mona. Meski bukan Azi yang akhirnya Mona pilih tapi di
hati Azi hanya akan ada Mona seorang. Tak ada yang pernah dan akan mengambil posisi
itu di hati Azi.
Sekarang
Azi dapat benar-benar merasa tenang karena ada Rian yang akan selalu menjaga
dan menemani Mona. Selamat tinggal Mona. Semoga kebahagiaan selalu menyertai
hidupmu dan Rian.
Kisu
mai haato.
Honto
ni daisuki.
AZI
Azi
melipat kertas surat itu lalu menyisipkannya pada kado yang hendak diberikannya
pada Mona.
“Tolong
berikan ini pada Mona!” Pesan Azi pada Kaorinya yang mengantarnya pergi.
“Kau
yakin tidak ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali?”
“Tidak
perlu, Key. Azi harus segera kembali.” Azi memeluk Kaori. “Semoga kau bahagia,
Key. Dengan begitu Azi bisa pergi dengan tenang.” Azi menjembel pipi adiknya
dengan gemas lalu kembali memeluknya.
“Kaori
sayang Azi.”
“Selamat
tinggal.” Azi melepas pelukannya lalu pergi menuju pintu keberangkatan.
Sambil
menunggu pesawat lepas landas, Azi mengeluarkan dompetnya dan memandangi foto Mona
yang ada di sana. “Selamat Tinggal Mona. Semoga kau bahagia, sayangku.” Azi
mengelus wajah Mona yang ada foto dengan mata berkaca-kaca.
YN, 10
Februari 2026
Rabu, 21 Januari 2026
Tertinggal di Hati
In the world you left behind
If only you could heal my heart
Just one more time
Even when I close my eyes
There's an image of your face
And once again I come to realize
You're a loss I can't replace
Mak Lampir Juga Perempuan 2#
Tak terasa lima tahun sudah dia meninggalkan Bandung. Bukan benar-benar meninggalkan sebenarnya. Azzura terkadang pulang di akhir bulan a...
-
Saat menerima SK penempatan aku tertegun. Garut. Tempat yang sudah lama ingin kukunjungi. Tempat yang ditinggali sese...
-
“Sebenarnya siapa yang kau nikahi?” Bagas menatap Rania dengan wajah yang penuh rasa kecewa. Dia menghembuskan napas dengan kasar lal...




.jpeg)