Minggu, 12 April 2026

Pencuri Hati Itu Bernama Kanaya

        

        Ezar Khalif belum pernah merasa seputus asa sekarang. Di usianya yang sudah memasuki akhir 30-an, dia baru merasakan jatuh cinta. Dia sudah berusaha untuk menyangkal perasaannya. Dia berpikir mungkin karena terlalu dekat sehingga muncul perasaan lebih. Dia tak tahu harus bagaimana. Gadis itu terlalu muda untuknya.
        “Siang pak, Ezar?” Muridnya menyapa Ezar saat dia melewati ruang kelas XII. Dia baru saja menyelesaikan kelasnya. Dia tidak ingin pergi ke ruang pembina, ruangannya. Dia tahu gadis kecil itu pasti ada di sana. Dia ingin menghindari pertemuan dengannya. Dia pun memutar tubuhnya dan berjalan menuju parkiran.
        “Lif, mau kemana?” Tanya Latief, sahabat Ezar yang juga baru keluar dari kelas.
        “Mau beli kopi.” Jawabnya asal.
        “Sekalianlah ajak Kanaya.” Saran Latief sambil menunjuk gadis yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
        “Memangnya dia mau kemana?” Ezar menghembuskan napas dengan sedikit kesal. Sia-sia saja usahanya untuk menghindari gadis itu.
        “Tadinya aku akan mengantar dia beli memesan makanan untuk rapat tapi Kepala Sekolah memanggil karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Jadi tolong ya, Zar.” Latief menatap Ezar dengan tatapan yang membuat Ezar tak bisa menolak permintaannya.
        “Baiklah!” Ezar pun berjalan menuju Kanaya yang sedang berdiri canggung di dekat parkiran. “Kata Latief kamu mau membeli kue untuk rapat?” Dengan sedikit enggan Ezar akhirnya mengajak bicara gadis itu.
    “Iya. Tapi Pak Latief malah pergi ke ruang kepala.” Gadis itu tersenyum sambil menunjuk Latief yang sedang berjalan menuju ruang Kepala Sekolah.
        “Latief memintaku mengantarmu. Mari!” Ezar memberikan helm Latief pada Kanaya dan mengajaknya naik ke boncengan motornya.
        “Abang yakin Aya boleh ikut?” Gadis itu tampak masih ragu. Sepertinya dia merasa kalau akhir-akhir ini Ezar memnag berusaha menghindarinya.
        “Kalau tak mau ya sudah.” Ezar segera menyalakan motornya.
        “Eh tunggu!” Kanaya langsung naik ke boncengan Ezar dan memeluk pinggangnya dengan erat. Ezar menghembuskan napas dengan berat. Dia berharap degup jantungnya yang kencang tidak terdengar oleh Kanaya.
        Seolah mengerti isi hatinya, sepanjang perjalanan, Kanaya hanya diam. Ezar merasa bersyukur karenanya. Perjalanan yang biasanya terasa begitu cepat kini terasa lama. Ezar sampai menghembuskan napas dengan lega begitu mereka sampai di tempat tujuan.
        “Terima kasih, bang.” Kanaya turun lalu memberikan helm pada Ezar.
        Setelah gadis itu masuk Ezar pergi meninggalkannya dan berjalan menuju kedai kopi yang tak jauh dari sana. Dia memesan satu americano dan buterscotch latte. Setelah pesanan selesai dia kembali ke toko kue untuk menemui Kanaya. Setelah larak-lirik mencari dia tak juga menemukan Kanaya. Dia pun pergi ke toko tas yang ada di sebelah toko kue. Ternyata gadis kecil itu sedang mengagumi sebuah tas warna pink yang ada di etalase.
    Sadar dirinya sedang dicari, Kanaya menoleh lalu melambaikan tangan pada Ezar. Dengan enggan Ezar menemui gadis itu lalu menyerahkan buterscotch latte yang dibelinya.
    "Terima kasih." Sahut Kanaya dengan wajah yang berseri. “Aya kira abang sudah pulang.” Kanaya menatap Ezar dengan malu-malu. “Terima kasih sudah menunggu.” Kanaya tersenyum. “Sebentar aya bayar dulu tas ini.” Gadis itu mengambil tas yang sedari tadi dilihatnya dan membawanya ke kasir. Ezar mengikutinya di belakang.
        “Langsung pulang?” Tanya Ezar setelah Kanaya selesai membayar.
        Kanaya mengangguk lalu berjalan keluar dari toko. “Bang Alif belakangan ini kenapa?” Akhirnya Kanaya mulai memberanikan diri untuk bertanya saat mereka sedang bersiap untuk kembali ke sekolah.
        “Aku baik-baik saja.” Sahut Ezar sambil membantu Kanaya memasangkan helm di kepalanya.
        “Tapi Aya merasa satu bulan ini sikap Bang Alif aneh. Aya sampai berpikir ‘salahku apa’ sampai abang seperti itu.”
        “Oh ya bagaimana rencana mutasimu?” Ezar mengalihkan pembicaraan
      “Entahlah. Dua tahun lalu Aya ingin sekali bisa mengajar di Soreang. Namun sekarang setelah Bapak meninggal Aya bingung. Menurut abang bagaimana?” Kanaya menatap Ezar dengan sedih.
    “Terserah kamu.” Sahutnya ketus. Padahal dalam hati dia sedang bingung dengan dirinya.
    “Memang abang rela kita enggak ketemu lagi?” Kanaya menatap Ezar dengan penasaran.
        “Mengapa harus tidak rela.” Ezar memakai helm lalu mulai menyalakan motornya.
        “Baiklah kalau begitu.” Kanaya menghentikan pembicaraan lalu naik ke boncengan motor Ezar. Sepertinya dia kesal karena sampai mereka tiba di sekolah, Kanaya tetap diam.
        Dalam hati Ezar menyesali kata-katanya. Mengapa dia harus menjawab seperti itu. Padahal sudah jelas-jelas gadis itu memberi jalan baginya untuk memulai percakapan.
***
        “Kamu kenapa sih, lif? Belakangan ini terlihat aneh? Kamu sudah jarang masuk ke ruang pembina?” Latief menatap Ezar yang sedang duduk menonton pertandingan basket di tab-nya.
         “Enggak kenapa-napa?” Ezar tetap asyik dengan tontonannya.
         “Apa kamu bertengkar dengan Aya?” Latief menebak-nebak.
         “Tidak.”
    “Apa kamu benar akan melepasnya begitu saja?” Latief menatap Ezar dengan penasaran. “Aku tahu kau suka pada gadis itu.”
         “Dia terlalu muda untukku. Apalagi statusku duda sedangkan dia masih gadis.”
         “Kalau dia juga suka padamu bagaimana?”
     “Mana mungkin. Dia hanya bersikap baik karena kami sama-sama pembina pramuka.”
         “Baiklah!” Latief pun pergi meninggalkan Ezar karena ada jadwal mengajar.
 Setelah Latief pergi Ezar merenung. Dia merenungkan perjalanan hidupnya selama ini. Ezar memikirkan kembali tentang pernikahannya yang pertama.
    Saat itu dia baru saja lulus menjadi PNS. Ibunya meminta dia segera menikahi perempuan yang sudah sejak lama dijodohkan dengannya. Meski Ezar tidak yakin dengan perasaannya pada perempuan itu tapi Ezar menikahinya.
        Perempuan yang dinikahi Ezar itu sudah dikenalnya sejak kecil. Perempuan itu adalah anak dari sahabat Ayahnya. Perempuan itu cukup cantik dan penurut. Perempuan itu selalu bersikap hangat meski Ezar tidak bisa memperhatikannya dengan baik. Meski sudah berusaha, Ezar merasa belum bisa membalas perasaannya.
        Ezar selalu sibuk dengan pekerjaannya di sekolah dan di toko keluarga. Dia jarang menghabiskan waktu bersama istrinya. Meski begitu istrinya tak pernah mengeluh. Istrinya masih tetap menyambutnya dengan senyuman saat Ezar pulang telat atau bahkan pulang menginap dari sekolah.
    Suatu hari istrinya jatuh sakit. Ezar merasa bersalah karena selama ini sering mengabaikannya. Semakin hari penyakit istrinya semakin parah hingga akhirnya dia meninggal.
        “Emi berdo’a semoga bang Alif bisa bertemu dengan perempuan yang bang Alif cintai.” Kata istrinya saat itu. Mendengar hal itu Ezar tertunduk malu. Dia pun menggenggam tangan istrinya dengan erat. “Emi tahu abang sayang sama Emi. Emi berterima kasih karena abang tetap menjadi suami yang setia meski Emi bukan orang yang abang inginkan.” Kata-kata Emi membuat mata Ezar berkaca-kaca.
         “Maafkan abang, mi!” Suara Ezar terdengar serak dan berat.
         “Jangan minta maaf karena abang tidak salah.”
***
        “Besok kita jadi survei tempat?” Latief menghampiri Ezar yang sedang merapikan bola voli ke lemari.
         “Iya. Salma ikut?” Ezar menanyakan istri Latief yang juga keponakan Ezar.
         “Tentu dia ikut biar Kanaya ada temannya.” Latief tersenyum. “Pakai mobilmu?”
         “Ok. Berangkat jam berapa?”
         “Jam 8.”
        Keesokan harinya selesai sarapan Ezar langsung menuju rumah Latief. Saat tiba di sana Kanaya juga sudah siap. Gadis itu memang tinggal di rumah kontrakan milik keluarga Latief.
        “Mari kita pergi!” Ajak Ezar pada Latief, Salma dan Kanaya.
    “Aya duduk di depan.” Salma mendorong Kanaya agar masuk dan duduk di kursi depan. Ezar hanya menghela napas melihat tingkah keponakannya. Salma adalah orang yang selalu berusaha mendekatkan dia dengan Kanaya.
         “Abang mau?” Kanaya menawarkan keripik talas dari tas kertas yang dibawanya.
         “Nanti saja aku sedang menyetir.” Tolaknya dengan halus.
        Kanaya tidak mengindahkan penolakan Ezar. Dia malah menyuapkan keripik talas itu ke mulut Ezar. Mau tak mau Ezar pun menelannya. Melihat itu Latief dan Salma langsung cekikikan.
            “Abang haus?” Tanya Kanaya setelah satu jam berlalu.
        Ezar tidak menjawab karena Kanaya sudah menyodorkan air mineral yang diberi sedotan. Dengan pasrah dia pun meminum air itu.
        Gadis ini kalau sudah ada maunya susah sekali untuk kudebat. Batin Ezar dengan sedikit kesal.
        “Akhirnya kita sampai juga.” Ezar menghela napas lega begitu mereka sampai disitu Cibeureum.
        Hari itu mereka berjalan-jalan di sekitar situ. Mereka bermaksud mengadakan kemah di sana.
         “Sini aku bawakan tasmu!” Ezar mengambil tas dari bahu Kanaya yang sedang asyik berpose bersama Salma. Gadis itu tersenyum ceria. Bibir mungilnya mengucap terima kasih dengan lirih dan pelan.
        Sementara mereka asyik berpose, Ezar hanya duduk memandangi mereka. Semakin dilihat gadis itu semakin cantik dan menggemaskan. Hati Ezar berdebar kencang saat tanpa sengaja tatapan mereka beradu.
***
        “Kanaya kemana?” Ezar menghampiri Salma yang sedang duduk membaca novel di halaman rumahnya.
        “Tadi ada teman kuliahnya datang. Dia mengajaknya pergi.”
        “Teman kuliah?” Ezar menatap Salma dan menanti penjelasan.
     “Laki-laki. Ganteng. Seumuran.” Jelas Salma sambil tertawa melihat Ezar tidak senang.     “Kurasa laki-laki itu bukan sekedar teman. Terlihat dari tatapannya.” Salma mengompori Ezar.
        “Memang kenapa kalau orang itu menyukainya.” Ezar duduk di samping Salma.
    “Kalau laki-laki itu berhasil meyakinkannya, kemungkinan besar Kanaya akan kembali ke Soreang. Aku akan kehilangan bestiku dan Om akan kehilangan perempuan yang om sukai.” Salma mendengus kesal.
        “Siapa bilang aku menyukainya.” Ezar menyugar rambutnya dengan kasar.
        “Sikap dan tatapan om yang bicara.” Salma tak mau mundur. Dia berniat membuat Omnya segera mengakui perasaannya pada Kanaya.
        Hari itu Ezar tetap tinggal di rumah Salma sampai Kanaya pulang. Dia penasaran dengan teman kuliah yang diceritakan Salma. Sepertinya Salma memang benar, laki-laki itu menyukai Kanaya.
    “Aku tunggu keputusanmu.” Laki-laki itu menatap Kanaya dengan penuh harap sebelum memakai helm dan menaiki motornya. Ezar yang melihat hal itu dari jendela rumah Salma merasa gelisah.
    Setelah laki-laki itu pergi, Ezar buru-buru pamit pulang pada Salma. Dia berjalan menghampiri Kanaya yang sedang berjalan menuju rumah kontrakannya.
      “Eh ada abang.” Kanaya tersenyum pada Ezar yang sedang menatapnya dengan kesal.         “Abang ada perlu?” Kananya menatapnya dengan bingung.
   “Aku ingin tahu tentang kabar mutasimu.” Akhirnya mulut Ezar berhasil mengeluarkan kata-kata. “Supaya aku bisa segera mencari pengganti untuk pembina pramuka putri.” Lanjutnya sambil duduk di kursi yang ada di teras rumah Kanaya.
        “Abang benar-benar berharap Aya pindah?” Raut wajah Kanaya langsung berubah jadi mendung.
    “Sudah kubilang semua terserah padamu. Kau yang punya keputusan untuk hidupmu.”
    “Ya, Aya tahu itu. Namun Aya ingin mendengar pendapat abang. Aya ingin tahu bagaimana perasaan abang tentang itu.” Suara Kanaya tiba-tiba serak dan matanya mulai berkaca-kaca. “Selama ini Aya berpikir, abang peduli pada Aya. Aya berpikir abang pasti merasa sedih kalau Aya pindah. Namun sepertinya Aya berpikir terlalu jauh.” Air mata gadis itu mulai mengaliri pipi mulusnya. “Sekarang Aya sudah tak punya siapa-siapa di Soreang. Aya pernah berpikir untuk tetap tinggal di Garut karena ada Salma dan abang.” Gadis itu terisak. Ezar yang merasa bersalah mengajaknya duduk dan berjongkok di hadapannya. “Kalau tidak suka bilang saja. Mengapa selama ini abang bersikap seolah Aya adalah orang yang paling penting dalam hidup abang. Mengapa abang membuat Aya merasa memiliki tempat istimewa di hati abang.” Gadis itu terus nyerocos dan tak memberi Ezar kesempatan untuk bicara.
        “Maaf kalau abang menyakiti hati Aya.” Ezar menatap Kanaya yang sudah hampir berhenti menangis. “Sebenarnya, abang tak ingin Aya pergi. Namun, abang tak yakin apa Aya mau jadi istri abang. Umur kita terpaut hampir lima belas tahun. Apalagi abang pernah menikah.”
    “Belum tanya tapi sudah mengambil kesimpulan.” Kanaya menyeka air mata di pipinya lalu menghela napas beberapa kali. Kanaya menempelkan kedua lengan di pipi Ezar dan menatapnya dengan serius. “Kanaya sayang sama abang. Bukan sebagai adik tapi sebagai perempuan.” Ezar tertegun mendengar kata-kata Kanaya. “Memang apa salahnya kalau umur kita terpaut jauh? Apa salahnya kalau abang pernah menikah?” Tanyanya kemudian. “Yang terpenting adalah apakah abang menganggap Aya sebagai seorang perempuan atau hanya sebagai adik dan rekan kerja.”
     “Aku tak mungkin memiliki pikiran untuk menikahi perempuan yang hanya kuanggap sebagai adik. Aku tak akan dibuat gelisah oleh perempuan yang hanya kuanggap sebagai rekan kerja.”
    “Jadi apakah Aya harus kembali ke Soreang?” Kanaya menatap Ezar dan menanti jawab.
        “Aku tak mau berjauhan dengan istriku jadi sebaiknya kau tetap tinggal di sini.” Ezar meraih tangan Kanaya yang masih menempel di pipinya lalu menggenggamnya dengan erat. “Bagaimana kalau besok kita temui kakakmu yang ada di Tasikmalaya. Aku ingin melamarmu.” Ezar mengatakan kata-kata itu dengan mantap. Kanaya yang mendengarnya langsung mengangguk dan tersenyum bahagia.

YN, 12-04-2026


Rabu, 11 Februari 2026

Puisi Februari 2026

                   



        Menjelang malam

Ada rasa tak berdaya 

Kala malam tiba mengakhiri cerita

Ada luka tak kasat mata 

Saat bulan menyapa di jendela


Sayup-sayup suara memenuhi telinga

Peluk dan tawa yang kini kosong belaka

Panggilan nyaring penuh cinta tak lagi bersuara

Semua lenyap di telan masa


Tak ada lagi tempat bermanja

Bersenda gurau berbagi cerita

Andai bapak masih bersama

Semua cerita mungkin lebih bermakna


YN, 12-02-2026




    Sesal Karena Malu


Ada rasa tak bersuara

Kala sang surya hilang di telan mega

Ada sedih yang tiba-tiba

Kala jangkrik memainkan nada


    Tawa yang berakhir air mata

    Senyuman yang berganti cela

    Senda gurau yang menjadi kaku

    Kelincahan lidah yang menjadi kelu


Semua hanya karena malu

Bibir bawel tak mampu mengurai rindu

Mulut manis yang tak pandai merayu

Membuat ia melenggang tanpa ragu


YN, 12-02-2026

Selasa, 10 Februari 2026

Surat Dari Azi (Untuk Mona)

 


Surat dari Azi

          Sejak kecil Azi terbiasa untuk jadi anak manis kebanggaan papa. Jika Rian adalah pembuat onar maka Azi adalah orang yang akan membenahi keadaan. Hal itu terus tertanam sampai dia tumbuh dewasa. Azi tahu dalam hati Rian selalu merasa diabaikan oleh papa. Rian merasa papa memperlakukannya sedikit berbeda. Papa seolah-olah takut padanya. Takut membuatnya terluka hingga tak menyimpan banyak harapan untuknya. Lain halnya dengan sikap papa pada Azi.

          Suatu hari papa berkata, “Kamu harus jadi laki-laki yang tangguh. Kelak siapa yang akan menjaga mama dan Kaori kalau papa tidak ada.”

          Saat itu Azi tak mengerti maksud perkataan papa. Seiring berlalunya waktu barulah dia paham apa yang papa inginkan. Azi ingin jadi laki-laki tangguh seperti harapan papa. Sementara Rian asyik pacaran, Azi malah sibuk belajar dan dan membentuk badan. Azi ingin jadi anak yang dapat dibanggakan oleh papa. Azi akan mewujudkan semua itu meski tidak mudah.

          Azi tidak berniat jatuh hati. Baginya urusan hati hanya akan membuat repot. Apalagi saat ia sedang mempersiapkan masa depannya. Namun kehadiran gadis berparas cantik itu menggoyahkan niatnya. Kehadiran Mona membuat dia berpikir ulang tentang semuanya.

Mona yang dengan terang-terangan menunjukkan kalau dia menyukai Azi. Mona yang selalu berusaha untuk dekat dengannya. Mona yang selalu berusaha menarik perhatiannya. Mona yang tetap di sisinya meski Azi tak pernah memberinya kepastian. Mona yang memiliki banyak pacar hanya untuk membuatnya marah. Mona yang selalu memenuhi hati dan hari-harinya.

Azi pernah berpikir untuk membalas perasaannya seandainya saja dia tidak tahu kalau kakaknya, Adrian, juga menyukainya. Kakaknya yang playboy itu benar-benar jatuh cinta padanya. Baru kali ini Azi melihat Rian benar-benar tertarik pada perempuan. Sering dia melihat Rian memandangi Mona dari kejauhan. Kalau sudah begitu Azi kembali menahan perasaannya. Azi pun kembali pada niat awalnya untuk menjadi anak kebanggaan papa. Dia berjuang keras agar bisa diterima jadi bagian keluarga besar marinir. Dia berusaha sangat keras agar bisa mewujudkan mimpinya.

Saat sudah berhasil mencapai impiannya, Azi pun kembali mencari Mona. Gadis itu masih seperti dulu. Masih berusaha membuatnya marah dengan memiliki banyak pacar. Mona dan Rian tidak kunjung bersama meski Azi sudah memberinya kesempatan. Akhirnya Azi mengambil keputusan untuk mengambil langkah. Mungkin dengan begitu hati Rian tergerak.

“Kau akan melamarnya?” Tanya Rian saat Azi menunjukkan gelang yang akan diberikannya pada Mona.

“Aku sudah memberimu kesempatan, Rian. Mengapa kau tidak mengambilnya?”

“Di hatinya hanya ada kau seorang.” Adrian tersenyum pedih.

“Setahuku, Adrian bukan orang yang pantang menyerah.”

“Kalau yang menjadi sainganku orang lain mungkin aku bisa menang.”

“Jadi bolehkah aku melamarnya?”

Adrian mengangguk dan tersenyum pedih. “Bahagiakan dia!” Pesannya sambil keluar dari kamar Azi.

Setelah memastikan kalau Rian tidak keberatan dengan niatnya untuk melamar Mona, Azi pun menemui gadisnya itu.

 “Setelah selesai menjalankan tugas aku akan menikahimu!” Kata Azi tiba-tiba. Saat itu Azi akan berangkat ke Papua. Mona hanya bisa terpana. Dia tak menyangka Azi akan mengatakan hal itu. Selama ini Mona memang sangat berharap Azi bisa menerimanya tetapi kata-kata Azi benar-benar di luar dugaan. Melihat Mona diam saja Azi tersenyum lalu memakaikan  gelang di lengan Mona.

          “Apa ini?” Mona menatap gelang emas putih yang dipakaikan Azi. Di gelang itu ada ukiran dalam bahasa Jepang  Kisu mai haato” (hatiku milikmu).

          “Kau tidak suka cincin bukan?” Azi menatap Mona yang terkesima. “Ini adalah janjiku padamu.” Azi mengecup punggung tangan Mona yang memakai gelang. “Aku tahu selama ini kau sengaja memiliki banyak pacar untuk membuatku cemburu. Mulai sekarang hanya aku yang boleh ada dalam satu frame denganmu.” Azi menatap Mona lekat-lekat dan menunggu jawaban.

             Honto ni daisuki (aku sangat mencintaimu).” Mona memeluk Azi dan mulai menangis.

       “Kelak hanya aku yang boleh melihatmu serapuh ini!” Azi mengelus rambut Mona. “Monaku yang cantik adalah perempuan tangguh.” Azi mengecup puncak kepala Mona.

          Sebenarnya Azi ingin menghabiskan waktu yang lebih banyak dengan Mona. Namun tugas negara sudah memanggilnya. Dia harus segera pergi. Dengan berat hati dia pun meninggalkan kembali meninggalkan Mona. Meski harus meninggalkannya kini hati Azi jauh lebih tenang. Dia sudah menyatakan perasaannya kepada Mona. Azi pun bisa kembali bekerja dengan tenang.

          Kalau dulu dia tidak merasa begitu rindu untuk pulang, kini sebaliknya. Dia selalu menanti waktu agar bisa kembali bertemu dengan Mona. Kembali melihat senyum manis di wajahnya. Kembali melihat ekspresi di wajahnya saat memanggil namanya.

          Maka dari itu saat mendapatkan izin untuk pulang, dia segera pergi menemui Mona. Hari itu adalah ulang tahun Mona. Sudah lima tahun Azi tidak bersama dengannya saat Mona berulang tahun. Ketika SMA dulu Azi selalu jadi orang pertama yang memberikannya ucapan selamat. Azi selalu bersamanya saat Mona merayakan ulang tahun.

          Hari itu dengan membawa buket bunga dan kado dia mengunjungi Mona di rumahnya. Dia sengaja tidak memberitahu kedatangannya karena ingin memberinya kejutan. Ternyata setibanya di sana justru dialah yang mendapat kejutan.

       “Kalian sudah lama bersama?” Tanya Azi saat memergoki Mona yang sedang bermesraan dengan Adrian. Azi menatap Mona dan Adrian yang sedang langsung memisahkan diri. Melihat kecanggungan keduanya Azi pun memutuskan untuk duduk.

          “Azi ....” Mona tak bisa menjawab. Wajahnya merah padam. Dia tak menyangka Azi akan memergokinya dalam keadaan seperti itu.

          “Aku hanya mampir sebentar. Tadinya aku ingin merayakan ulang tahunmu! Tapi sepertinya kakakku sudah menemanimu merayakannya.”  Azi menatap kue ulang tahun yang ada di meja. “Tugasku diperpanjang. Aku tak akan bisa segera memenuhi janjiku padamu.” Azi menatap Mona yang tertunduk malu.

          “Aku bisa menjelaskan semuanya.” Adrian yang sudah menemukan suaranya akhirnya bicara.

          “Rian tak perlu menjelaskan apa-apa. Azi tahu kalau selama ini Rian menyukai Mona.” Azi tersenyum. “Azi pernah melihat buku sketsa Rian. Di sana banyak gambar Mona dan ungkapan perasaan Rian untuknya.” Azi menghela napas. “Sekarang Azi merasa lega karena ada yang menjaga Mona. Azi pergi. Azi mau menemui mama dan Kaori lalu kembali ke tempat tugas.” Azi beranjak dari duduknya.

          “Azi....” Mona dengan malu-malu menghampirinya.

          “Semoga kau bahagia!” Azi mengecup puncak kepala Mona lalu pergi.

          Azi memaksa kakinya segera bergerak menjauhi rumah Mona. Dia tidak ingin menangis di depan Mona. Dia tidak ingin membebaninya. Dia pergi menemui Kaori, adiknya, di tempatnya bekerja lalu menemui mama. Setelah itu dia memutuskan untuk kembali ke tempat tugasnya. Sebelum pergi dia menulis surat untuk Mona.

          Mona tersayang, jangan menangis.

          Azi memang terkejut saat melihat kalian bersama. Namun sejak awal Azi sudah menduganya. Azi sudah lama tahu kalau Rian sangat mencintai Mona. Meski sakit tapi Azi juga merasa senang karena akhirnya Rian mampu mengalahkan semua ketakutannya dan memilih untuk bersama Mona.

          Terima kasih untuk semua kasih sayang yang pernah Mona berikan untuk Azi. Terima kasih untuk menunggu Azi. Terima kasih untuk semua waktu yang Mona habiskan untuk Azi.

Azi minta maaf karena tidak bisa memenuhi janji. Azi minta maaf karena begitu lama mengabaikan perasaan Mona. Meski bukan Azi yang akhirnya Mona pilih tapi di hati Azi hanya akan ada Mona seorang. Tak ada yang pernah dan akan mengambil posisi itu di hati Azi.

Sekarang Azi dapat benar-benar merasa tenang karena ada Rian yang akan selalu menjaga dan menemani Mona. Selamat tinggal Mona. Semoga kebahagiaan selalu menyertai hidupmu dan Rian.

                                                                                  Kisu mai haato.

                                                                                  Honto ni daisuki.

 

                                                                                  AZI

          Azi melipat kertas surat itu lalu menyisipkannya pada kado yang hendak diberikannya pada Mona.

          “Tolong berikan ini pada Mona!” Pesan Azi pada Kaorinya yang mengantarnya pergi.

“Kau yakin tidak ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali?”

“Tidak perlu, Key. Azi harus segera kembali.” Azi memeluk Kaori. “Semoga kau bahagia, Key. Dengan begitu Azi bisa pergi dengan tenang.” Azi menjembel pipi adiknya dengan gemas lalu kembali memeluknya.

          “Kaori sayang Azi.”

          “Selamat tinggal.” Azi melepas pelukannya lalu pergi menuju pintu keberangkatan.

Sambil menunggu pesawat lepas landas, Azi mengeluarkan dompetnya dan memandangi foto Mona yang ada di sana. “Selamat Tinggal Mona. Semoga kau bahagia, sayangku.” Azi mengelus wajah Mona yang ada foto dengan mata berkaca-kaca.

 

 

YN, 10 Februari 2026

Rabu, 21 Januari 2026

Tertinggal di Hati

 



If only you could see the tears
In the world you left behind
If only you could heal my heart
Just one more time
Even when I close my eyes
There's an image of your face
And once again I come to realize
You're a loss I can't replace

Setiap mendengar lagu Westlife yang berjudul Soledad, benak Tian selalu dipenuhi kenangan tentang hari itu. Hari saat Azril mengabarkan kalau Izam, pacar Tian kembali pada mantannya. Selesai bicara dengan Izam, Tian menyalakan radio dan sebuah stasiun memutar lagu itu. Benar-benar momen yang pas untuk hati yang patah.
Tian dan Izam memang baru putus. Izam yang memutuskan hubungan mereka. Saat itu Tian merasa sangat bersalah karena berkata pada Izam ingin rehat sejenak dari hubungan mereka. Tian tidak ingin putus. Dia hanya ingin memberi sedikit ruang pada diri masing-masing. 
Tian sedang merasa sedikit jengah atas ocehan keluarga ibunya yang sering kali membahas kedekatan mereka. Keluarga ibunya selalu mengomentari Izam yang selalu membersamai Tian saat berangkat dan pulang sekolah. Namun tanggapan Izam ternyata di luar dugaan. Dia mengatakan lebih baik mereka berpisah. Saat itu Tian merasa bersalah karena Izam tiba-tiba minta putus.
Delapan bulan bukan waktu yang singkat bagi Tian. Izam adalah laki-laki pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Tian yang selalu perhatian dan lebih cepat berteman dengan laki-laki, tidak pernah merasa jatuh cinta. Meski ada beberapa laki-laki yang mencoba mendekatinya, hati Tian tidak tergerak. Namun semua sifat dan perhatian yang diberikan Izam membuat hatinya tergerak. 
Izam penuh perhatian dan membuat sisi manja Tian terpenuhi. Izam tidak pernah marah meski Tian sering menggodanya. Hal itulah yang membuat Tian iseng mengerjainya. Tia pernah berpura-pura menyukai Azril, sahabat Izam, hanya untuk mengetahui bagaimana Izam saat marah.
Saat itu Izam memang marah. Namun dia marah karena tak bisa selalu menemani Tian. Izam harus pulang ke kampung halaman untuk menengok ayahnya. Selama ini Izam tinggal bersama neneknya, yang merupakan tetangga Tian.
Saat itu Izam berkata, "Kau tahu Tian, aku merasa tidak enak hati saat pulang ke rumah ayah. Ternyata di sini kau menduakan hati." 
"Aku hanya bercanda. Aku tidak benar-benar menyukai Azril. Aku hanya ingin membuatmu marah."
"Selamat kau sukses membuatku marah." Tatapnya dengan mata yang terluka.
"Maafkan. Aku tak akan pernah lagi bercanda seperti itu."
"Baik. Tapi mulai sekarang kau tidak boleh berdekatan dengan Azril."
"Ok bos!"
Tian menepati janjinya. Dia tidak lagi bercanda tentang perasaannya. Dia tidak mau lagi melihat tatapan penuh luka yang tertinggal di mata Izam. Sebelum berpacaran dengannya, Izam pernah diselingkuhi oleh pacarnya. Saat Tian menggodanya tentang balikan dengan mantannya, Izam sering mengatakan, "Aku tak akan pernah menjilat ludah yang sudah kubuang." 
Namun kenyataannya Izam kembali pada mantannya. Padahal saat itu mereka masih bersama. Beberapa hari sebelum kedatangan Azril, ada teman yang tiba-tiba menghubungi Tian. Temannya itu mengatakan kalau dia melihat Izam sedang main ke rumah Zara, mantannya. Dengan penuh keyakinan Tian mengatakan kalau temannya itu mungkin salah lihat. Ternyata kenyataannya memang benar Izam ada di sana.
"Apa kau temanku?" Tian menatap Azril dengan tatapan penuh luka. "Mengapa kau tidak menceritakannya sebelum kami putus?" Tian setengah berteriak pada Azril.
"Aku tak ingin menghancurkan hubungan kalian."
Terkadang Tian merasa lebih baik dia tidak tahu kalau Izam berselingkuh di belakangnya. Baginya tidak masalah kalau Izam ingin kembali pada mantannya. Namun waktu yang Izam pilih untuk kembali pada mantannyalah yang tak bisa dia terima. Dia merasa dikhianati. Kepercayaannya hancur berkeping-keping. Izam yang begitu baik bisa berbuat setega itu padanya. Izam yang berkata bahwa balikan pada mantan itu seperti halnya menelan kembali ludah yang sudah dikeluarkan. Izam yang mati-matian mengatakan kalau tak mungkin kembali pada perempuan itu. 
Sesakit apapun hatinya, rasa di hati Tian tidak ikut mati. Cinta itu masih ada. Harap itu masih menyala.
Dia hanya tidak bertemu dengannya selama dua minggu. Mereka kembali bermain bersama. Saat itu Izam sudah putus karena perempuan itu kembali menduakannya. 
Tian yang masih cinta, diam-diam menyimpan harap. Dia masih berharap mereka bisa kembali bersama. Dia tahu hatinya sakit dan tak akan mungkin bisa sembuh begitu saja. Namun dia tak ingin benar-benar kehilangan Izam. Dia berharap Izam berubah. Dia berharap Izam bisa menyembuhkan luka yang ditorehkannya.
Ternyata harapannya kosong. Izam hanya fokus dengan dirinya sendiri. Fokus dengan lukanya sendiri. Dia tidak pernah berpikir kalau Tian juga terluka. Izam hanya merasa dirinyalah yang paling terluka. Sejak saat itu Tian menjauh. Dia mencoba dekat dengan orang lain. Usahanya selalu gagal. Setiap laki-laki yang dekat dengannya tiba-tiba mundur. Awalnya Tian tidak mengerti mengapa seperti itu.
Suatu hari dia melihat tulisan Izam. Tulisan itu berisi kalau Izam masih sangat mencintai Tian. Dalam tulisan itu Izam mengatakan dia belum mampu merelakan Tian bersama orang lain. Namun Izam masih bertarung dengan lukanya sendiri.
Sekali lagi Tian terluka. Luka yang ini meninggalkan bekas yang sangat lama. Luka yang masih Tian rasakan sampai sekarang. Hingga Tian pun berpikir, dia tidak perlu kata maaf dari bibir Izam. Tian hanya ingin Izam menunjukkan niat dan tindakannya untuk benar-benar memperbaiki kesalahan. Namun hal itu tak pernah Izam wujudkan.
Waktu berlalu tapi luka itu masih terasa baru. 
"Mungkin aku bodoh. Aku berharap dia mengobati lukaku. Padahal seharusnya, akulah yang menyembuhkan diriku sendiri." 
"Kau masih belum benar-benar melupakannya?" Azril menatap Tian dengan sedih.
"Kau tahu Azril kepercayaan itu seperti halnya gelas. Sekali retak maka tak akan pernah sama lagi."
"Apa kau masih berharap bisa kembali bersamanya?"
Dengan tegas Tian menggeleng. 
"Aku tak yakin diriku bisa mencintainya lagi seperti dulu. Aku tak ingin terus dihantui ketakutan bahwa suatu hari dia akan kembali mengulangnya. Aku tak tahu sehancur apa jika itu sampai terjadi."
"Aku tak menyangka dua orang yang begitu saling mencintai dapat berakhir seperti ini."
"Mungkin akulah yang memberinya ruang untuk melakukan pengkhianatan. Atau cinta kami mungkin tak sebesar yang kami kira. Yang jelas hubungan kami tak akan pernah bisa kembali seperti semula."
"Semoga kau bisa kembali bahagia, Tian."
"Semoga." Tian tersenyum pada Azril lalu pamit pulang.


Hari berganti tapi beberapa kenangan masih tertinggal di hati
Kenangan itu seolah tak akan pernah pergi
Diam bersembunyi mengisi ruang emosi

YN, 21-01-2026






Selasa, 20 Januari 2026

Surat Ke-48

   


"Leksha, tunggu!" Arul menarik tas Aleksha lalu mengajaknya duduk di teras mesjid. Arul tampak kelelahan, ia mengatur nafasnya kemudian kembali bicara. "Dari tadi aku menunggumu."

       "Benarkah?" Aleksha meragukan kata-kata Arul. Saat ia lewat tadi, Arul tengah asyik bicara dengan pacarnya.

       "Dia ingin bicara makanya tadi kami duduk bersama." Arul tersenyum. Ia tahu pasti Aleksha marah karena melihat Arul bicara dengan pacarnya. "Yuk kita kerjakan PR matematikanya." Arul membantuk Aleksha berdiri lalu mengajaknya ke ruang PMR.

       Sesampainya di sana Arul mengajak Aleksha duduk. Dia mengeluarkan buku matematikanya lalu mulai mengerjakan soal. Arul mengajari Aleksha dengan telaten. Dia terlihat bersemangat setiap kali Aleksha bertanya padanya. Selesai mengerjakan PR, Arul mengantar Aleksha pulang.

       "Rul, kalau ada yang lihat bagaimana?" Tanya Aleksha saat Arul memberikan helm padanya.

       "Aku bilang saja aku mengantar sahabatku." Jawab Arul santai lalu mulai menstarter motornya. Aleksha tersenyum, memakai helmlalu naik ke motor Arul.

       "Pegangan yang kuat ya!" Seru Arul sambil menjalankan motornya.

       Arul dan Aleksha terlibat hubungan yang susah dijelaskan dengan kata. Keduanya merasa nyaman dan saling membutuhkan. Meski begitu mereka tak bisa memutuskan pacar masing-masing. Arul selalu berkata, "kita jalani seperti air mengalir saja".

       "Seandainya sejak awal kau mengatakannya pasti semuaya lebih mudah." Ujar Arul saat mereka mengerjakan PR bahasa Inggris.

       "If only..." sahut Aleksha sambil memasang ekspresi lucu. Ekspresi yang membuat Arul selalu rindu padanya.

       "Leksha..."

       "Ya, kangkung."

       "Aku takut."

       "Apa yang membuat ketua PMR kita takut?" Tanya Aleksha sambil menutup buku bahasa Inggrisnya dan menatap Arul.

       "Setelah lulus aku akan lansung masuk militer."

       "Bukankah itu cita-citamu, kenapa sekarang kau malah takut?"

       "Aku takut kehilanganmu."

       "Gemel, aku kira apa." Aleksha tersenyum. Dia hendak memukul Arul tapi Arul malah menggenggam tangan Aleksha lalu menatapnya lekat-lekat. "Kau ingin aku menunggumu?"

       "Kalau kau bisa percaya padaku."

       Aleksha terdiam lalu berkata, "masih ingat film 'Dear John' yang kita tonton bersama anak-anak PMR?"

       "Yang tokohnya prianya seorang prajurit?"

       "Iya. Tulislah surat untukku. Tak perlu setiap waktu, satu bulan satu surat saja cukup."

       "Kenapa harus surat?"

       "Kalau sms kan tergantung sinyal. Kalau surat di mana pun kau berada pasti bisa menulis."

       "Baiklah."

        Aleksha menangis sedih saat melepas kepergian Arul. Dia merasa sebagian dari hidupnya ikut pergi bersama Arul. Surat pertama yang ditulis Arul dibacanya sampai puluhan kali. Dia bahkan selalu membawanya kemanapun dia pergi.

Teman-teman kuliahnya menyebut dia Miss Letters. Mereka sering menggodanya tapi Aleksha tak peduli.

       Surat kedua, ketiga, keempat dan seterusnya selalu datang tepat waktu. Namun surat ke-48 tidak datang. Aleksha jadi khawatir. Tak biasanya Arul terlambat mengirim surat. Dia tak tahu harus bertanya pada siapa.

       Akhirnya Aleksha tak ambil pusing. Dia memfokuskan diri pada ujian sidang skripsinya. Dia sudah berjanji akan menunggu Arul. Dia tak peduli berapapun lamanya waktu yang dia perlukan untuk menunggunya. Aleksha yakin Arul akan datang.

       Sampai acara wisuda tiba pun, surat ke-48 belum tiba. Aleksha mulai goyah. Dia menangis lagi. Dia mengikuti prosesi wisuda tanpa semangat. Dia hampir saja jatuh saat menerima ijazah. Untungnya temannya segera menangkap tubuhnya.

       Saat keluar dari gedung, Aleksha dikejutkan dengan suara helikopter. Heli itu terbang sambil membawa tulisan "Selamat Wisuda Miss Kangkung". Tak lama setelah helikopter pergi seorang pria berseragam muncul sambil membawa sebuah miniatur bola voly.

       "Percaya padaku?"

       "Arul..." Aleksha benar-benar tak percaya melihat pria gagah yang berdiri di hadapannya.

       "Bukalah!" Pinta Arul sambil memberikan miniatur bola voly pada Aleksha.

       Aleksha mengambil miniatur bola voly dari angan Arul lalu mebukanya. Di dalamnya berisi sebuah kotak dan surat ke-48. Isi surat itu sangat singkat, "Leksha maukah kau menikah denganku?"

      "Jawabanmu?" tanya Arul penuh harap.

       "Aku mau." Sahut Aleksha sambil menghapus air mata yang mulai membasahi pipinya. Arul mengambil kotak dari bola voly membukanya lalu mengeluarkan cincin dan memakaikannya di jari manis Aleksha.

       "Percaya padaku?" tanya Arul sambil merentangkan tangan untuk memeluk Aleksha.

       " Aku percaya," sahutnya sambil menghambur ke pelukan Arul.

 

  

                                                                                                                     YN, 30 Oktober 2011

 

Senin, 19 Januari 2026

Lagu dan Ayah

 

Pernah galau karena dengar lagu?

Atau pernah termewek-mewek karena mendengar lagu?

Selamat kalian senasib sama saya? 

Tahu lagu Ada Band yang judulnya “Terbaik Bagimu”?

Ini lagu sukses bikin termewek-mewek. Lagu yang bercerita tentang ayah ini bikin mengharu biru bagi aku yang sudah kehilangan ayah. Apalagi di lirik yang ini:

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya

Ku terus berjanji takkan khianati pintanya

Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu

Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Sudah hampir empat tahun bapak pergi tapi rasanya masih seperti kemarin. Masih ingat hari itu adalah hari Rabu. Aku sedang menggelar rapat persiapan studi tur ke Borobudur. Tiba-tiba di telepon sama suami. Ayank (et dah, suami) mengabarkan kalau Bapak sudah beberapa kali kejang. Dengan segala kekuatan yang masih tersisa hari itu, aku nekad pulang ke Garut. Padahal sebelumnya aku tak pernah pulang sendirian dari Maniis (Majalengka) ke Garut. 

Hari itu segala upaya dilakukan agar bisa pulang ke Garut. Mulai dari minta antar ke rekan sampai Pamoyanan, lanjut naek Elf ke Bandrek dan berakhir naik ojol sampai ke RSUD Dokter Slamet, tempat bapak selama hampir 3 bulan terakhir menghabiskan hari-harinya. Perjalanan itu bagaikan mimpi. Seolah-olah sedang masuk ke dalam sebuah alur novel pada bagian komplikasi.

Meski terkadang kami berselisih paham tapi aku sangat menyayangi bapak. Banyak pelajaran hidup yang masih kujalankan sampai detik ini. Banyak harapan yang bapak tujukan padaku. Sampai hari ini pun aku masih berjuang untuk mewujudkannya. 

YN, 19-01-2026



Senin, 12 Januari 2026

Nostalgia Bersama Rangga dan Cinta

        


        "Salah gue?"

        "Salah temen-temen gue?"

      Dialog yang ikonik. Perempuan seumur saya pasti hapal benar dengan dialog tersebut. Dialog yang diucapkan Cinta pada Rangga di tengah pertandingan bola basket yang sedang ditontonnya.

        Kisah Rangga dan Cinta tak akan lekang ditelan waktu. Kisah cinta dua remaja dengan segala permasalahan dan pertentangan batin mereka. Meski kali ini film yang saya tonton adalah remake, rasanya sangat berkesan. Apalagi bagi saya yang jarang nonton film dalam negeri. Bukan karena saya tidak cinta tanah air, sebenarnya, lebih karena film yang beredar lebih sering bergenre horor. 

       Saat melihat Rangga, saya teringat pada siswa saya di sekolah. Lebih tepatnya pada seseorang yang belakangan ini cukup menarik perhatian saya. Rangga yang ditinggalkan ibunya, tak punya teman dan memiliki ayah yang dianggap bermasalah. Bukan masalah tentang orang tuanya, tapi lebih ke bagaimana bila jadi Rangga. Mengapa dia terkesan cuek dan ketus? Mengapa dia cenderung tidak suka berteman dan sendirian?

        Hal-hal itulah yang sampai saat ini masih berusaha saya pahami dari siswa-siswa saya. Mengapa mereka bertingkah? Mengapa mereka tidak betah di kelas? Apa yang sebenarnya terjadi di rumah mereka? Meski saya tidak bisa membantu menyelesaikan masalah mereka, setidaknya saya tak ingin menjadi seseorang yang menambah luka. Saya selalu berharap siswa-siswa yang bermasalah itu segera menemukan jalan keluar dari masalah mereka. 

        Saya harap mereka lebih tangguh dan masih berpikiran logis. Saya berharap mereka mampu melewati masa remaja dengan penuh kenangan manis yang kelak akan membentuk kepribadian mereka menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan dedikasi. Bukan untuk  orang lain tetapi untuk mereka sendiri. 

       Setiap hari setiap orang bertempur di medan perangnya masing-masing. Hal itulah yang ingin saya tekankan pada para siswa. Saya ingin mereka tumbuh jadi lebih tangguh meski cerca dan hina tak akan lepas membersamai pertumbuhan mereka. Tidak selamanya hal yang menyakitkn hanya menyisakan air mata tapi mari kita ubah hal menyakitkan itu sebagai perisai untuk memperkuat batin kita dalam menghadapi masa depan.


YN, 13012026

Rabu, 29 Oktober 2025

Benang Sari

      


       Namaku Sari, tepatnya Benang Sari. Aku seorang siswa di sebuah sekolah. Ayahku guru biologi dan ibuku pecinta bunga, karena itulah mereka menamaiku Benang Sari. Sedari kecil badanku memang tumbuh subur. Karena itulah orang-orang di sekelilingku sering mengataiku "gendut", "demplon", "kasur", dan kata-kata lainnya yang seirama.

        Hampir setiap kegiatan, setiap tindakan, bahkan sampai bersin pun disangkut pautkan dengan berat badan. Seolah-olah menjadi orang gendut adalah dosa tak termaafkan. Meski bukan lagi hal baru terkadang aku merasa jengah dan sedih. Tuhan mengapa aku tidak bisa seperti orang lain? Mengapa aku seperti ini? 

        Kata-kata dan ejekan mereka semakin lama, semakin membuatku malas melakukan apapun. Mereka selalu menjadikan aku sebagai guyonan. Seolah-olah aku adalah badut yang memalukan. Pernah suatu ketika aku baru saja akan menyantap makan siang, lalu muncul orang dan langsung berkata, "Pantas gendut makan terus." Saat itu aku hanya bisa tersenyum. Dalam hati aku menangis. Dia tidak tahu kalau itu adalah makanan pertama yang masuk ke perutku.

        Ketika ada acara foto bersama sering kali orang membuatku merasa malu dengan komentar mereka. 

        "Sadar diri kenapa? Sudah tahu gendut malah menghalangi orang." Ujar seseorang saat aku sedang mencari posisi yang nyaman untuk berfoto. Padahal aku sama sekali tidak berniat menghalangi. Aku hanya sedang berusaha menempatkan diri agar tidak mengganggu orang.

      Di lain kesempatan aku sedang ikut upacara dan tiba-tiba saja bersin. Suara bersinku cukup kencang. Dan lagi ada orang yang menyangkutpautkannya dengan berat badanku. 

       "Bersinnya sesuai dengan berat badan, ya!" Komentar orang itu sambil tersenyum. 

        Kali ini aku tidak diam. Kujawab dia, "Kan menyesuaikan. Tidak lucu kalau badan besar tapi suara bersinnya kaya orang keselek." Sahutku sambil tersenyum hingga membuat orang itu terdiam.

         Kalau ayahku tahu, pasti beliau marah. Ayah selalu mengajariku untuk tidak membalas perlakuan buruk dengan hal yang serupa. Ayah selalu mengajarkanku untuk berbuat baik pada sesama. Namun kali ini mulutku tak bisa lagi terkunci. Dia kehilangan kekakuannya dan mampu bersuara.

        Aku pernah mencoba untuk diet dengan tidak makan nasi. Dietku berhasil tapi aku terlihat pucat dan seperti orang yang mau pingsan. Ayah memarahi dan memintaku untuk berhenti melakukan hal itu. Aku pun kembali makan seperti biasa. Alhasil berat badanku kembali ke semula. 

      Semakin hari rasa tidak nyaman semakin mengangguku. Aku sampai merasa tidak ingin lagi menjadi diriku. Aku merasa menjadi manusia paling berdosa sedunia karena tubuh gendutku. Aku ingin seperti orang lain yang bisa membeli baju yang tersedia di toko dengan ukuran normal. Ukuran yang cukup normal sehingga orang tak lagi memandangku dengan rasa kasihan. Aku juga ingin bisa melakukan kegiatan olahraga tanpa rakut orang akan mengataiku "gempa" saat aku bergerak dan melakukan kegiatan olahraga.

         Hingga suatu hari aku sakit dan diantar teman ke UKS. Di sana aku bertemu dengan guru yang bertugas. Beliau menanyaiku. Awalnya aku malu untuk bicara. Namun sepertinya dia memahami masalahku. Dia bercerita kalau dulu dia sepertiku, sering mendapatkan perlakuan body shaming karena berat badan. Beliau berkata, "Sampai usia berapa pun body shaming itu akan selalu ada, terlepas dari kamu gendut atau tidak. Aku kasih tahu ya, gendut itu semacam tato yang melekat di tubuh. Sekuat apapun kamu mencoba yang diingat orang hanyalah kamu pernah gendut." Beliau tertawa dan tawanya menular. "Kau tahu, Sari. Kalau orang gendut itu baru bismillah saja sudah gendut. Minum saja bisa jadi daging." Beliau bicara sambil sesekali tertawa. 

        "Ibu mudah sekali menertawakannya karena ibu sudah dewasa. Ibu juga tidak segendut aku." Aku memotong pembicaraannya. Beliau tidak marah tapi malah menggenggam tanganku dan kembali bicara.

        "Kau tahu Sari, berat badanku pernah hampir mencapai angka 90. Aku panik dan mulai berpikir keras. Sejak itu aku pun berusaha untuk menguranginya. Bukan dengan cara tidak makan tapi dengan cara mengaturnya. Selain itu kita juga harus pandai mengelola emosi." Beliau tertawa. "Kau tahu Sari. Dulu kalau marah, nasi padang bisa habis semua. Kau tahu kan kalau nasi padang dibungkus itu nasinya pasti segunung." Mau tak mau aku mengangguk. Kata-kata beliau ada benarnya.

         Hari itu sepulang sekolah aku bicara dengan ayah dan ibu. Aku menumpahkan semua isi hati. Mata coklat ayahku berkaca-kaca. Beliau sedih sekaligus bangga karena akhirnya aku mau berbicara tentang hal yang menjadi luka batinku. Ibuku juga mendukung keinginanku untuk hidup sehat. 

          Keesokan harinya Ayah dan Ibu mulai menyusun jadwal dan rencana untuk program hidup sehat kami. Kami mencoba melakukan intermintent fasting dengan pola 16:8. Awalnya terasa sangat berat, hanya makan dua kali sehari, tidak makan es krim kesukaanku, permen favoritku dan snack yang banyak bertebaran di minimarket. Namun aku ingat kembali pada semua kata-kata tidak menyenangkan yang kuterima. Aku pun menguatkan diri. Selain itu ayah dan ibu juga menemaniku dalam proses ini. Mereka mengajakku jalan-jalan pagi di hari libur dan terus menyemangatiku.

        Setelah enam bulan berlalu hidupku berubah. Kata ayah tidurku tidak lagi mendengkur. Aku juga mulai bisa membeli baju-baju yang kuinginkan. Aku lebih percaya diri saat berfoto. Aku berusaha untuk mengontrol emosi. Aku mencoba untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Meski berat badanku masih belum mencapai ukuran ideal, tapi aku bangga dengan diriku.

         Kata-kata guruku itu benar tentang "gendut itu semacam tato". Berapapun berat badanku sekarang orang tetap mengatai. Sebanyak apapun lemakku hilang mereka tetap mengomentari hidupku. Aku pun memilih berdamai dengan diri sendiri. Tidak lagi terlalu memikirkan pendapat orang meski terkadang telinga dan hatiku tidak benar-benar mampu memfilternya.

       Aku masih sering kesal saat ada orang yang dengan seenak mulut mereka mengomentari makanan ataupun baju yang kupakai. Namun aku ingat, bahwa aku hanya memiliki dua tangan. Kedua tanganku ini tidak dapat digunakan untuk menutup mulut mereka. Jadi kugunakan saja untuk menutup kupingku. Aku tahu tak mungkin menyaring omongan mereka, jadi kupasang saja filter di telingaku agar hanya meneruskan hal-hal positif ke otak.

         Luka karena body shaming ini mungkin tidak benar-benar sembuh dan akan meninggalkan jejak. Namun aku memilih untuk tetap melanjutkan hidup. Menggapai mimpi dan harap. Tak ada yang akan membantu dan menguatkanmu kalau kau kalah dalam pertarungan dengan dirimu sendiri.


YN, 29102025

Jumat, 12 September 2025

Rona Merah di Pipi Tatia

        


     Rona merah itu kembali mengiringi senyuman manis yang dulu sering muncul di wajahnya. Semuanya karena Artemis. Teman SMA yang kembali ditemui Tatia secara tak sengaja. Hari itu mama meminta Tatia untuk mengantarkan jaket ke tempat kemah. Setelah memberikan jaket pada mama, Tatia pamit untuk menengok anak-anak dari sekolahnya yang juga sedang kemah. 

       Langkah Tatia terhenti di depan tenda yang tak jauh dari tenda sekolah mama. Di sana ada sosok yang dulu sering mengganggunya. Si Misdaceum, begitu Tatia memanggilnya. Tatia memanggilnya seperti itu karena sifatnya memang begitu. Artemis terkadang bisa sangat manis dan di lain waktu dia bisa sangat menyebalkan. Karakternya sekomplit rasa ramen yang disukai Tatia “Amis, Lada, Haseum” alias misdaceum.

      Tatia tidak jadi pergi ke tenda temannya karena Artemis mengajaknya mengobrol. Obrolan mereka tak berlangsung lama karena mama memanggilnya. Mama meminta Tatia segera pulang karena tak ada yang menemani papa makan malam. Dengan berat hati Tatia pun pulang. 

       Sesampainya di rumah Tatia langsung menyiapkan makan malam. Setelah siap dia memanggil papa dan mereka makan bersama. Selesai makan Tatia mencuci piring lalu pergi ke kamarnya untuk kembali melanjutkan sepak terjang Mathias dalam Novel Cry or Better Yet Beg. 

     Tatia baru saja membuka aplikasi untuk membaca online saat notifikasi pesan muncul. Ternyata Artemis yang mengirim pesan. Tatia tidak menyangka kalau Artemis akan secepat itu menghubunginya. Tatia pun segera membalas. Hari itu mereka berbalas pesan sampai malam.

       Sejak saat itu mereka mulai rajin berkirim pesan. Mereka bercerita banyak hal. Mulai dari masa SMA, murid-murid yang membuat gegana sampai akhirnya pada pertanyaan “punya pacar enggak?” . Entahlah Tatia juga tak tahu mengapa dia bisa merasa senyaman itu bersamanya. Padahal dulu Tatia seringkali dibuat kesal oleh kejailannya. 

      Awalnya Tatia ragu saat Artemis mengajaknya untuk jalan. Namun dengan pandainya Artemis membujuk dia agar pergi dengannya. Ternyata rasanya cukup menyenangkan. Lama kelamaan bertemu Artemis adalah satu kegiatan yang selalu dirindukannya. Artemis membuatnya merasa siap untuk kembali memulai. Artemis menyemangatinya agar berhenti terus larut dalam kenangan. Artemis juga yang menariknya dari genangan air mata karena kisah cinta yang berakhir. 

***

“Tia, aku mau ketemu papa dan mamamu.” 

“Mau apa?” Tanya Tatia sedikit kaget. 

“Aku ingin berkenalan dengan mereka. Aku ingin mereka tahu siapa sebenarnya laki-laki yang sering membuat anaknya cekikikan padahal tidak sedang nonton drakor.” 

“Kamu yakin? Jangan-jangan setelah bertemu mereka kamu malah tak mau kenal lagi denganku.”

“Mulai lagi.” Artemis menatap tajam pada Tatia. Dia kurang suka kalau Tatia berpikiran negatif. Artemis pun menjitak dahinya dengan gemas.

“Sakit tahu!” Tatia meringis. 

“Kalau sakit berarti pikiran negatifnya sudah pergi.” Artemis tertawa.

Malam Minggu berikutnya setelah magrib, Artemis datang ke rumah. Tatia langsung panas dingin saat melihatnya bersalaman dengan papa. Dia takut mereka tidak cocok. Namun, dugaannya salah. Artemis dan papa langsung akrab. Mereka mengobrol tentang Persib dengan nyamannya.

Kini giliran mama yang sedang mencoba berakrab ria dengan Artemis. Dan lagi Artemis mampu meraih hatinya. Mama ikut larut dalam obrolan Artemis tentang mengajar di SD. Mama makin asyik mengobrol dengannya saat tahu kalau mama Artemis adalah temannya.

Tatia tahu ini baru awal. Namun dia berharap ini adalah awal yang akan berakhir bahagia. Meski hidupnya tak seindah drama korea, Tatia tetap memiliki harapan. Harapan untuk bisa menemukan seseorang yang bisa menerima dia karena dirinya sendiri bukan karena embel-embel lain yang melekat pada dirinya.

Tatia ingin menemukan laki-laki yang bisa diajak tumbuh bersama. Laki-laki yang tetap membersamainya dalam tangis dan bahagia. Laki-laki yang tetap menggenggam tangannya meski huru-hara menerpa rumah tangga. Laki-laki yang tetap jadi anak kesayangan ibunya tanpa harus melepas genggaman tangannya.

“Tia, seandainya kita harus LDR apa kamu masih mau bersamaku?”

“Memangnya kamu mau ke mana?” Tatia menatap Artemis dengan bingung.

“Aku ikut tes P3K dan lolos. Tapi penempatannya di luar Jawa Barat.” Artemis langsung tertunduk sedih.

“Wah, asyik dong nanti aku bisa sering-sering naik kereta.” Tatia berdecak kagum.

“Dasar Duta K-A-I.” Artemis menjembel pipinya. Sepertinya dia ingat kalau sepanjang masa kuliah Tatia selalu menggunakan kereta.

“Kita sudah memulai trek ini bersama. Bukankah lebih menyenangkan kalau kita juga mengakhirinya di garis finish yang sama?” Tatia menggenggam tangan Artemis dan menatapnya lekat-lekat.”

“Terima kasih, Tia. Semoga rona merah di pipimu tetap ada meski nanti jarak akan memisahkan kita.” Artemis balik menggenggam tangan Tatia dan tersenyum bahagia.

YN, 13-09-2025


Pencuri Hati Itu Bernama Kanaya

                    Ezar Khalif belum pernah merasa seputus asa sekarang. Di usianya yang sudah memasuki akhir 30-an, dia baru merasakan jat...