cerita nurhati
Minggu, 12 April 2026
Pencuri Hati Itu Bernama Kanaya
Rabu, 11 Februari 2026
Puisi Februari 2026
Menjelang malam
Ada rasa tak berdaya
Kala malam tiba mengakhiri cerita
Ada luka tak kasat mata
Saat bulan menyapa di jendela
Sayup-sayup suara memenuhi telinga
Peluk dan tawa yang kini kosong belaka
Panggilan nyaring penuh cinta tak lagi bersuara
Semua lenyap di telan masa
Tak ada lagi tempat bermanja
Bersenda gurau berbagi cerita
Andai bapak masih bersama
Semua cerita mungkin lebih bermakna
YN, 12-02-2026
Sesal Karena Malu
Ada rasa tak bersuara
Kala sang surya hilang di telan mega
Ada sedih yang tiba-tiba
Kala jangkrik memainkan nada
Tawa yang berakhir air mata
Senyuman yang berganti cela
Senda gurau yang menjadi kaku
Kelincahan lidah yang menjadi kelu
Semua hanya karena malu
Bibir bawel tak mampu mengurai rindu
Mulut manis yang tak pandai merayu
Membuat ia melenggang tanpa ragu
YN, 12-02-2026
Selasa, 10 Februari 2026
Surat Dari Azi (Untuk Mona)
Surat dari Azi
Sejak kecil Azi
terbiasa untuk jadi anak manis kebanggaan papa. Jika Rian adalah pembuat onar
maka Azi adalah orang yang akan membenahi keadaan. Hal itu terus tertanam
sampai dia tumbuh dewasa. Azi tahu dalam hati Rian selalu merasa diabaikan oleh
papa. Rian merasa papa memperlakukannya sedikit berbeda. Papa seolah-olah takut
padanya. Takut membuatnya terluka hingga tak menyimpan banyak harapan untuknya.
Lain halnya dengan sikap papa pada Azi.
Suatu hari papa
berkata, “Kamu harus jadi laki-laki yang tangguh. Kelak siapa yang akan menjaga
mama dan Kaori kalau papa tidak ada.”
Saat itu Azi tak
mengerti maksud perkataan papa. Seiring berlalunya waktu barulah dia paham apa
yang papa inginkan. Azi ingin jadi laki-laki tangguh seperti harapan papa.
Sementara Rian asyik pacaran, Azi malah sibuk belajar dan dan membentuk badan. Azi
ingin jadi anak yang dapat dibanggakan oleh papa. Azi akan mewujudkan semua itu
meski tidak mudah.
Azi tidak berniat
jatuh hati. Baginya urusan hati hanya akan membuat repot. Apalagi saat ia
sedang mempersiapkan masa depannya. Namun kehadiran gadis berparas cantik itu
menggoyahkan niatnya. Kehadiran Mona membuat dia berpikir ulang tentang
semuanya.
Mona yang dengan terang-terangan menunjukkan kalau dia menyukai Azi.
Mona yang selalu berusaha untuk dekat dengannya. Mona yang selalu berusaha
menarik perhatiannya. Mona yang tetap di sisinya meski Azi tak pernah
memberinya kepastian. Mona yang memiliki banyak pacar hanya untuk membuatnya
marah. Mona yang selalu memenuhi hati dan hari-harinya.
Azi pernah berpikir untuk membalas perasaannya seandainya saja dia
tidak tahu kalau kakaknya, Adrian, juga menyukainya. Kakaknya yang playboy itu
benar-benar jatuh cinta padanya. Baru kali ini Azi melihat Rian benar-benar
tertarik pada perempuan. Sering dia melihat Rian memandangi Mona dari kejauhan.
Kalau sudah begitu Azi kembali menahan perasaannya. Azi pun kembali pada niat
awalnya untuk menjadi anak kebanggaan papa. Dia berjuang keras agar bisa diterima
jadi bagian keluarga besar marinir. Dia berusaha sangat keras agar bisa
mewujudkan mimpinya.
Saat sudah berhasil mencapai impiannya, Azi pun kembali mencari Mona.
Gadis itu masih seperti dulu. Masih berusaha membuatnya marah dengan memiliki
banyak pacar. Mona dan Rian tidak kunjung bersama meski Azi sudah memberinya
kesempatan. Akhirnya Azi mengambil keputusan untuk mengambil langkah. Mungkin
dengan begitu hati Rian tergerak.
“Kau akan melamarnya?” Tanya Rian saat Azi menunjukkan gelang yang
akan diberikannya pada Mona.
“Aku sudah memberimu kesempatan, Rian. Mengapa kau tidak
mengambilnya?”
“Di hatinya hanya ada kau seorang.” Adrian tersenyum pedih.
“Setahuku, Adrian bukan orang yang pantang menyerah.”
“Kalau yang menjadi sainganku orang lain mungkin aku bisa menang.”
“Jadi bolehkah aku melamarnya?”
Adrian mengangguk dan tersenyum pedih. “Bahagiakan dia!” Pesannya
sambil keluar dari kamar Azi.
Setelah memastikan kalau Rian tidak keberatan dengan niatnya untuk
melamar Mona, Azi pun menemui gadisnya itu.
“Setelah selesai menjalankan tugas aku akan
menikahimu!” Kata Azi tiba-tiba. Saat itu Azi akan berangkat ke Papua. Mona
hanya bisa terpana. Dia tak menyangka Azi akan mengatakan hal itu. Selama ini
Mona memang sangat berharap Azi bisa menerimanya tetapi kata-kata Azi
benar-benar di luar dugaan. Melihat Mona diam saja Azi tersenyum lalu
memakaikan gelang di lengan Mona.
“Apa ini?” Mona
menatap gelang emas putih yang dipakaikan Azi. Di gelang itu ada ukiran dalam
bahasa Jepang “Kisu mai haato” (hatiku
milikmu).
“Kau tidak suka
cincin bukan?” Azi menatap Mona yang terkesima. “Ini adalah janjiku padamu.”
Azi mengecup punggung tangan Mona yang memakai gelang. “Aku tahu selama ini kau
sengaja memiliki banyak pacar untuk membuatku cemburu. Mulai sekarang hanya aku
yang boleh ada dalam satu frame denganmu.” Azi menatap Mona lekat-lekat
dan menunggu jawaban.
“Honto ni daisuki
(aku sangat mencintaimu).” Mona memeluk Azi dan mulai menangis.
“Kelak hanya aku
yang boleh melihatmu serapuh ini!” Azi mengelus rambut Mona. “Monaku yang
cantik adalah perempuan tangguh.” Azi mengecup puncak kepala Mona.
Sebenarnya Azi ingin
menghabiskan waktu yang lebih banyak dengan Mona. Namun tugas negara sudah
memanggilnya. Dia harus segera pergi. Dengan berat hati dia pun meninggalkan kembali
meninggalkan Mona. Meski harus meninggalkannya kini hati Azi jauh lebih tenang.
Dia sudah menyatakan perasaannya kepada Mona. Azi pun bisa kembali bekerja
dengan tenang.
Kalau dulu dia tidak
merasa begitu rindu untuk pulang, kini sebaliknya. Dia selalu menanti waktu
agar bisa kembali bertemu dengan Mona. Kembali melihat senyum manis di
wajahnya. Kembali melihat ekspresi di wajahnya saat memanggil namanya.
Maka dari itu saat mendapatkan
izin untuk pulang, dia segera pergi menemui Mona. Hari itu adalah ulang tahun Mona.
Sudah lima tahun Azi tidak bersama dengannya saat Mona berulang tahun. Ketika SMA
dulu Azi selalu jadi orang pertama yang memberikannya ucapan selamat. Azi
selalu bersamanya saat Mona merayakan ulang tahun.
Hari itu dengan
membawa buket bunga dan kado dia mengunjungi Mona di rumahnya. Dia sengaja
tidak memberitahu kedatangannya karena ingin memberinya kejutan. Ternyata setibanya
di sana justru dialah yang mendapat kejutan.
“Kalian sudah lama
bersama?” Tanya Azi saat memergoki Mona yang sedang bermesraan dengan Adrian.
Azi menatap Mona dan Adrian yang sedang langsung memisahkan diri. Melihat
kecanggungan keduanya Azi pun memutuskan untuk duduk.
“Azi ....” Mona tak
bisa menjawab. Wajahnya merah padam. Dia tak menyangka Azi akan memergokinya
dalam keadaan seperti itu.
“Aku hanya mampir
sebentar. Tadinya aku ingin merayakan ulang tahunmu! Tapi sepertinya kakakku
sudah menemanimu merayakannya.” Azi
menatap kue ulang tahun yang ada di meja. “Tugasku diperpanjang. Aku tak akan
bisa segera memenuhi janjiku padamu.” Azi menatap Mona yang tertunduk malu.
“Aku bisa
menjelaskan semuanya.” Adrian yang sudah menemukan suaranya akhirnya bicara.
“Rian tak perlu
menjelaskan apa-apa. Azi tahu kalau selama ini Rian menyukai Mona.” Azi tersenyum.
“Azi pernah melihat buku sketsa Rian. Di sana banyak gambar Mona dan ungkapan
perasaan Rian untuknya.” Azi menghela napas. “Sekarang Azi merasa lega karena
ada yang menjaga Mona. Azi pergi. Azi mau menemui mama dan Kaori lalu kembali
ke tempat tugas.” Azi beranjak dari duduknya.
“Azi....” Mona
dengan malu-malu menghampirinya.
“Semoga kau
bahagia!” Azi mengecup puncak kepala Mona lalu pergi.
Azi memaksa kakinya
segera bergerak menjauhi rumah Mona. Dia tidak ingin menangis di depan Mona.
Dia tidak ingin membebaninya. Dia pergi menemui Kaori, adiknya, di tempatnya
bekerja lalu menemui mama. Setelah itu dia memutuskan untuk kembali ke tempat
tugasnya. Sebelum pergi dia menulis surat untuk Mona.
Mona
tersayang, jangan menangis.
Azi
memang terkejut saat melihat kalian bersama. Namun sejak awal Azi sudah
menduganya. Azi sudah lama tahu kalau Rian sangat mencintai Mona. Meski sakit
tapi Azi juga merasa senang karena akhirnya Rian mampu mengalahkan semua
ketakutannya dan memilih untuk bersama Mona.
Terima
kasih untuk semua kasih sayang yang pernah Mona berikan untuk Azi. Terima kasih
untuk menunggu Azi. Terima kasih untuk semua waktu yang Mona habiskan untuk Azi.
Azi minta
maaf karena tidak bisa memenuhi janji. Azi minta maaf karena begitu lama
mengabaikan perasaan Mona. Meski bukan Azi yang akhirnya Mona pilih tapi di
hati Azi hanya akan ada Mona seorang. Tak ada yang pernah dan akan mengambil posisi
itu di hati Azi.
Sekarang
Azi dapat benar-benar merasa tenang karena ada Rian yang akan selalu menjaga
dan menemani Mona. Selamat tinggal Mona. Semoga kebahagiaan selalu menyertai
hidupmu dan Rian.
Kisu
mai haato.
Honto
ni daisuki.
AZI
Azi
melipat kertas surat itu lalu menyisipkannya pada kado yang hendak diberikannya
pada Mona.
“Tolong
berikan ini pada Mona!” Pesan Azi pada Kaorinya yang mengantarnya pergi.
“Kau
yakin tidak ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali?”
“Tidak
perlu, Key. Azi harus segera kembali.” Azi memeluk Kaori. “Semoga kau bahagia,
Key. Dengan begitu Azi bisa pergi dengan tenang.” Azi menjembel pipi adiknya
dengan gemas lalu kembali memeluknya.
“Kaori
sayang Azi.”
“Selamat
tinggal.” Azi melepas pelukannya lalu pergi menuju pintu keberangkatan.
Sambil
menunggu pesawat lepas landas, Azi mengeluarkan dompetnya dan memandangi foto Mona
yang ada di sana. “Selamat Tinggal Mona. Semoga kau bahagia, sayangku.” Azi
mengelus wajah Mona yang ada foto dengan mata berkaca-kaca.
YN, 10
Februari 2026
Rabu, 21 Januari 2026
Tertinggal di Hati
In the world you left behind
If only you could heal my heart
Just one more time
Even when I close my eyes
There's an image of your face
And once again I come to realize
You're a loss I can't replace
Selasa, 20 Januari 2026
Surat Ke-48
"Leksha, tunggu!" Arul menarik tas Aleksha lalu mengajaknya duduk di teras mesjid. Arul tampak kelelahan, ia mengatur nafasnya kemudian kembali bicara. "Dari tadi aku menunggumu."
"Benarkah?" Aleksha meragukan kata-kata Arul. Saat ia lewat tadi,
Arul tengah asyik bicara dengan pacarnya.
"Dia
ingin bicara makanya tadi kami duduk bersama." Arul tersenyum. Ia tahu
pasti Aleksha marah karena melihat Arul bicara dengan pacarnya. "Yuk kita
kerjakan PR matematikanya." Arul membantuk Aleksha berdiri lalu
mengajaknya ke ruang PMR.
Sesampainya
di sana Arul mengajak Aleksha duduk. Dia mengeluarkan buku matematikanya lalu
mulai mengerjakan soal. Arul mengajari Aleksha dengan telaten. Dia terlihat
bersemangat setiap kali Aleksha bertanya padanya. Selesai mengerjakan PR, Arul
mengantar Aleksha pulang.
"Rul,
kalau ada yang lihat bagaimana?" Tanya Aleksha saat Arul memberikan helm
padanya.
"Aku
bilang saja aku mengantar sahabatku." Jawab Arul santai lalu mulai
menstarter motornya. Aleksha tersenyum, memakai helmlalu naik ke motor Arul.
"Pegangan yang kuat ya!" Seru Arul sambil menjalankan motornya.
Arul dan
Aleksha terlibat hubungan yang susah dijelaskan dengan kata. Keduanya merasa
nyaman dan saling membutuhkan. Meski begitu mereka tak bisa memutuskan pacar
masing-masing. Arul selalu berkata, "kita jalani seperti air mengalir
saja".
"Seandainya sejak awal kau mengatakannya pasti semuaya lebih mudah."
Ujar Arul saat mereka mengerjakan PR bahasa Inggris.
"If
only..." sahut Aleksha sambil memasang ekspresi lucu. Ekspresi yang
membuat Arul selalu rindu padanya.
"Leksha..."
"Ya,
kangkung."
"Aku
takut."
"Apa
yang membuat ketua PMR kita takut?" Tanya Aleksha sambil menutup buku
bahasa Inggrisnya dan menatap Arul.
"Setelah lulus aku akan lansung masuk militer."
"Bukankah itu cita-citamu, kenapa sekarang kau malah takut?"
"Aku
takut kehilanganmu."
"Gemel,
aku kira apa." Aleksha tersenyum. Dia hendak memukul Arul tapi Arul malah
menggenggam tangan Aleksha lalu menatapnya lekat-lekat. "Kau ingin aku
menunggumu?"
"Kalau
kau bisa percaya padaku."
Aleksha
terdiam lalu berkata, "masih ingat film 'Dear John' yang kita tonton
bersama anak-anak PMR?"
"Yang
tokohnya prianya seorang prajurit?"
"Iya.
Tulislah surat untukku. Tak perlu setiap waktu, satu bulan satu surat saja
cukup."
"Kenapa
harus surat?"
"Kalau
sms kan tergantung sinyal. Kalau surat di mana pun kau berada pasti bisa
menulis."
"Baiklah."
Aleksha menangis sedih saat melepas kepergian Arul. Dia merasa sebagian dari
hidupnya ikut pergi bersama Arul. Surat pertama yang ditulis Arul dibacanya
sampai puluhan kali. Dia bahkan selalu membawanya kemanapun dia pergi.
Teman-teman kuliahnya menyebut dia Miss Letters.
Mereka sering menggodanya tapi Aleksha tak peduli.
Surat kedua,
ketiga, keempat dan seterusnya selalu datang tepat waktu. Namun surat ke-48
tidak datang. Aleksha jadi khawatir. Tak biasanya Arul terlambat mengirim
surat. Dia tak tahu harus bertanya pada siapa.
Akhirnya
Aleksha tak ambil pusing. Dia memfokuskan diri pada ujian sidang skripsinya.
Dia sudah berjanji akan menunggu Arul. Dia tak peduli berapapun lamanya waktu
yang dia perlukan untuk menunggunya. Aleksha yakin Arul akan datang.
Sampai acara
wisuda tiba pun, surat ke-48 belum tiba. Aleksha mulai goyah. Dia menangis
lagi. Dia mengikuti prosesi wisuda tanpa semangat. Dia hampir saja jatuh saat
menerima ijazah. Untungnya temannya segera menangkap tubuhnya.
Saat keluar
dari gedung, Aleksha dikejutkan dengan suara helikopter. Heli itu terbang
sambil membawa tulisan "Selamat Wisuda Miss Kangkung". Tak lama
setelah helikopter pergi seorang pria berseragam muncul sambil membawa sebuah
miniatur bola voly.
"Percaya padaku?"
"Arul..." Aleksha benar-benar tak percaya melihat pria gagah yang
berdiri di hadapannya.
"Bukalah!" Pinta Arul sambil memberikan miniatur bola voly pada
Aleksha.
Aleksha
mengambil miniatur bola voly dari angan Arul lalu mebukanya. Di dalamnya berisi
sebuah kotak dan surat ke-48. Isi surat itu sangat singkat, "Leksha maukah
kau menikah denganku?"
"Jawabanmu?" tanya Arul penuh harap.
"Aku
mau." Sahut Aleksha sambil menghapus air mata yang mulai membasahi
pipinya. Arul mengambil kotak dari bola voly membukanya lalu mengeluarkan
cincin dan memakaikannya di jari manis Aleksha.
"Percaya padaku?" tanya Arul sambil merentangkan tangan untuk memeluk
Aleksha.
" Aku
percaya," sahutnya sambil menghambur ke pelukan Arul.
YN, 30 Oktober 2011
Senin, 19 Januari 2026
Lagu dan Ayah
Pernah galau karena dengar lagu?
Atau pernah termewek-mewek karena mendengar lagu?
Selamat kalian senasib sama saya?
Tahu lagu Ada Band yang judulnya “Terbaik Bagimu”?

Ini lagu sukses bikin termewek-mewek. Lagu yang bercerita tentang ayah ini bikin mengharu biru bagi aku yang sudah kehilangan ayah. Apalagi di lirik yang ini:
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji takkan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu
Sudah hampir empat tahun bapak pergi tapi rasanya masih seperti kemarin. Masih ingat hari itu adalah hari Rabu. Aku sedang menggelar rapat persiapan studi tur ke Borobudur. Tiba-tiba di telepon sama suami. Ayank (et dah, suami) mengabarkan kalau Bapak sudah beberapa kali kejang. Dengan segala kekuatan yang masih tersisa hari itu, aku nekad pulang ke Garut. Padahal sebelumnya aku tak pernah pulang sendirian dari Maniis (Majalengka) ke Garut.
Hari itu segala upaya dilakukan agar bisa pulang ke Garut. Mulai dari minta antar ke rekan sampai Pamoyanan, lanjut naek Elf ke Bandrek dan berakhir naik ojol sampai ke RSUD Dokter Slamet, tempat bapak selama hampir 3 bulan terakhir menghabiskan hari-harinya. Perjalanan itu bagaikan mimpi. Seolah-olah sedang masuk ke dalam sebuah alur novel pada bagian komplikasi.
Meski terkadang kami berselisih paham tapi aku sangat menyayangi bapak. Banyak pelajaran hidup yang masih kujalankan sampai detik ini. Banyak harapan yang bapak tujukan padaku. Sampai hari ini pun aku masih berjuang untuk mewujudkannya.
YN, 19-01-2026
Senin, 12 Januari 2026
Nostalgia Bersama Rangga dan Cinta
"Salah gue?"
"Salah temen-temen gue?"
Dialog yang ikonik. Perempuan seumur saya pasti hapal benar dengan dialog tersebut. Dialog yang diucapkan Cinta pada Rangga di tengah pertandingan bola basket yang sedang ditontonnya.
Kisah Rangga dan Cinta tak akan lekang ditelan waktu. Kisah cinta dua remaja dengan segala permasalahan dan pertentangan batin mereka. Meski kali ini film yang saya tonton adalah remake, rasanya sangat berkesan. Apalagi bagi saya yang jarang nonton film dalam negeri. Bukan karena saya tidak cinta tanah air, sebenarnya, lebih karena film yang beredar lebih sering bergenre horor.
Saat melihat Rangga, saya teringat pada siswa saya di sekolah. Lebih tepatnya pada seseorang yang belakangan ini cukup menarik perhatian saya. Rangga yang ditinggalkan ibunya, tak punya teman dan memiliki ayah yang dianggap bermasalah. Bukan masalah tentang orang tuanya, tapi lebih ke bagaimana bila jadi Rangga. Mengapa dia terkesan cuek dan ketus? Mengapa dia cenderung tidak suka berteman dan sendirian?
Hal-hal itulah yang sampai saat ini masih berusaha saya pahami dari siswa-siswa saya. Mengapa mereka bertingkah? Mengapa mereka tidak betah di kelas? Apa yang sebenarnya terjadi di rumah mereka? Meski saya tidak bisa membantu menyelesaikan masalah mereka, setidaknya saya tak ingin menjadi seseorang yang menambah luka. Saya selalu berharap siswa-siswa yang bermasalah itu segera menemukan jalan keluar dari masalah mereka.
Saya harap mereka lebih tangguh dan masih berpikiran logis. Saya berharap mereka mampu melewati masa remaja dengan penuh kenangan manis yang kelak akan membentuk kepribadian mereka menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan dedikasi. Bukan untuk orang lain tetapi untuk mereka sendiri.
Setiap hari setiap orang bertempur di medan perangnya masing-masing. Hal itulah yang ingin saya tekankan pada para siswa. Saya ingin mereka tumbuh jadi lebih tangguh meski cerca dan hina tak akan lepas membersamai pertumbuhan mereka. Tidak selamanya hal yang menyakitkn hanya menyisakan air mata tapi mari kita ubah hal menyakitkan itu sebagai perisai untuk memperkuat batin kita dalam menghadapi masa depan.
YN, 13012026
Rabu, 29 Oktober 2025
Benang Sari
Namaku Sari, tepatnya Benang Sari. Aku seorang siswa di sebuah sekolah. Ayahku guru biologi dan ibuku pecinta bunga, karena itulah mereka menamaiku Benang Sari. Sedari kecil badanku memang tumbuh subur. Karena itulah orang-orang di sekelilingku sering mengataiku "gendut", "demplon", "kasur", dan kata-kata lainnya yang seirama.
Hampir setiap kegiatan, setiap tindakan, bahkan sampai bersin pun disangkut pautkan dengan berat badan. Seolah-olah menjadi orang gendut adalah dosa tak termaafkan. Meski bukan lagi hal baru terkadang aku merasa jengah dan sedih. Tuhan mengapa aku tidak bisa seperti orang lain? Mengapa aku seperti ini?
Kata-kata dan ejekan mereka semakin lama, semakin membuatku malas melakukan apapun. Mereka selalu menjadikan aku sebagai guyonan. Seolah-olah aku adalah badut yang memalukan. Pernah suatu ketika aku baru saja akan menyantap makan siang, lalu muncul orang dan langsung berkata, "Pantas gendut makan terus." Saat itu aku hanya bisa tersenyum. Dalam hati aku menangis. Dia tidak tahu kalau itu adalah makanan pertama yang masuk ke perutku.
Ketika ada acara foto bersama sering kali orang membuatku merasa malu dengan komentar mereka.
"Sadar diri kenapa? Sudah tahu gendut malah menghalangi orang." Ujar seseorang saat aku sedang mencari posisi yang nyaman untuk berfoto. Padahal aku sama sekali tidak berniat menghalangi. Aku hanya sedang berusaha menempatkan diri agar tidak mengganggu orang.
Di lain kesempatan aku sedang ikut upacara dan tiba-tiba saja bersin. Suara bersinku cukup kencang. Dan lagi ada orang yang menyangkutpautkannya dengan berat badanku.
"Bersinnya sesuai dengan berat badan, ya!" Komentar orang itu sambil tersenyum.
Kali ini aku tidak diam. Kujawab dia, "Kan menyesuaikan. Tidak lucu kalau badan besar tapi suara bersinnya kaya orang keselek." Sahutku sambil tersenyum hingga membuat orang itu terdiam.
Kalau ayahku tahu, pasti beliau marah. Ayah selalu mengajariku untuk tidak membalas perlakuan buruk dengan hal yang serupa. Ayah selalu mengajarkanku untuk berbuat baik pada sesama. Namun kali ini mulutku tak bisa lagi terkunci. Dia kehilangan kekakuannya dan mampu bersuara.
Aku pernah mencoba untuk diet dengan tidak makan nasi. Dietku berhasil tapi aku terlihat pucat dan seperti orang yang mau pingsan. Ayah memarahi dan memintaku untuk berhenti melakukan hal itu. Aku pun kembali makan seperti biasa. Alhasil berat badanku kembali ke semula.
Semakin hari rasa tidak nyaman semakin mengangguku. Aku sampai merasa tidak ingin lagi menjadi diriku. Aku merasa menjadi manusia paling berdosa sedunia karena tubuh gendutku. Aku ingin seperti orang lain yang bisa membeli baju yang tersedia di toko dengan ukuran normal. Ukuran yang cukup normal sehingga orang tak lagi memandangku dengan rasa kasihan. Aku juga ingin bisa melakukan kegiatan olahraga tanpa rakut orang akan mengataiku "gempa" saat aku bergerak dan melakukan kegiatan olahraga.
Hingga suatu hari aku sakit dan diantar teman ke UKS. Di sana aku bertemu dengan guru yang bertugas. Beliau menanyaiku. Awalnya aku malu untuk bicara. Namun sepertinya dia memahami masalahku. Dia bercerita kalau dulu dia sepertiku, sering mendapatkan perlakuan body shaming karena berat badan. Beliau berkata, "Sampai usia berapa pun body shaming itu akan selalu ada, terlepas dari kamu gendut atau tidak. Aku kasih tahu ya, gendut itu semacam tato yang melekat di tubuh. Sekuat apapun kamu mencoba yang diingat orang hanyalah kamu pernah gendut." Beliau tertawa dan tawanya menular. "Kau tahu, Sari. Kalau orang gendut itu baru bismillah saja sudah gendut. Minum saja bisa jadi daging." Beliau bicara sambil sesekali tertawa.
"Ibu mudah sekali menertawakannya karena ibu sudah dewasa. Ibu juga tidak segendut aku." Aku memotong pembicaraannya. Beliau tidak marah tapi malah menggenggam tanganku dan kembali bicara.
"Kau tahu Sari, berat badanku pernah hampir mencapai angka 90. Aku panik dan mulai berpikir keras. Sejak itu aku pun berusaha untuk menguranginya. Bukan dengan cara tidak makan tapi dengan cara mengaturnya. Selain itu kita juga harus pandai mengelola emosi." Beliau tertawa. "Kau tahu Sari. Dulu kalau marah, nasi padang bisa habis semua. Kau tahu kan kalau nasi padang dibungkus itu nasinya pasti segunung." Mau tak mau aku mengangguk. Kata-kata beliau ada benarnya.
Hari itu sepulang sekolah aku bicara dengan ayah dan ibu. Aku menumpahkan semua isi hati. Mata coklat ayahku berkaca-kaca. Beliau sedih sekaligus bangga karena akhirnya aku mau berbicara tentang hal yang menjadi luka batinku. Ibuku juga mendukung keinginanku untuk hidup sehat.
Keesokan harinya Ayah dan Ibu mulai menyusun jadwal dan rencana untuk program hidup sehat kami. Kami mencoba melakukan intermintent fasting dengan pola 16:8. Awalnya terasa sangat berat, hanya makan dua kali sehari, tidak makan es krim kesukaanku, permen favoritku dan snack yang banyak bertebaran di minimarket. Namun aku ingat kembali pada semua kata-kata tidak menyenangkan yang kuterima. Aku pun menguatkan diri. Selain itu ayah dan ibu juga menemaniku dalam proses ini. Mereka mengajakku jalan-jalan pagi di hari libur dan terus menyemangatiku.
Setelah enam bulan berlalu hidupku berubah. Kata ayah tidurku tidak lagi mendengkur. Aku juga mulai bisa membeli baju-baju yang kuinginkan. Aku lebih percaya diri saat berfoto. Aku berusaha untuk mengontrol emosi. Aku mencoba untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Meski berat badanku masih belum mencapai ukuran ideal, tapi aku bangga dengan diriku.
Kata-kata guruku itu benar tentang "gendut itu semacam tato". Berapapun berat badanku sekarang orang tetap mengatai. Sebanyak apapun lemakku hilang mereka tetap mengomentari hidupku. Aku pun memilih berdamai dengan diri sendiri. Tidak lagi terlalu memikirkan pendapat orang meski terkadang telinga dan hatiku tidak benar-benar mampu memfilternya.
Aku masih sering kesal saat ada orang yang dengan seenak mulut mereka mengomentari makanan ataupun baju yang kupakai. Namun aku ingat, bahwa aku hanya memiliki dua tangan. Kedua tanganku ini tidak dapat digunakan untuk menutup mulut mereka. Jadi kugunakan saja untuk menutup kupingku. Aku tahu tak mungkin menyaring omongan mereka, jadi kupasang saja filter di telingaku agar hanya meneruskan hal-hal positif ke otak.
Luka karena body shaming ini mungkin tidak benar-benar sembuh dan akan meninggalkan jejak. Namun aku memilih untuk tetap melanjutkan hidup. Menggapai mimpi dan harap. Tak ada yang akan membantu dan menguatkanmu kalau kau kalah dalam pertarungan dengan dirimu sendiri.
YN, 29102025
Jumat, 12 September 2025
Rona Merah di Pipi Tatia
Rona merah itu kembali mengiringi senyuman manis yang dulu sering muncul di wajahnya. Semuanya karena Artemis. Teman SMA yang kembali ditemui Tatia secara tak sengaja. Hari itu mama meminta Tatia untuk mengantarkan jaket ke tempat kemah. Setelah memberikan jaket pada mama, Tatia pamit untuk menengok anak-anak dari sekolahnya yang juga sedang kemah.
Langkah Tatia terhenti di depan tenda yang tak jauh dari tenda sekolah mama. Di sana ada sosok yang dulu sering mengganggunya. Si Misdaceum, begitu Tatia memanggilnya. Tatia memanggilnya seperti itu karena sifatnya memang begitu. Artemis terkadang bisa sangat manis dan di lain waktu dia bisa sangat menyebalkan. Karakternya sekomplit rasa ramen yang disukai Tatia “Amis, Lada, Haseum” alias misdaceum.
Tatia tidak jadi pergi ke tenda temannya karena Artemis mengajaknya mengobrol. Obrolan mereka tak berlangsung lama karena mama memanggilnya. Mama meminta Tatia segera pulang karena tak ada yang menemani papa makan malam. Dengan berat hati Tatia pun pulang.
Sesampainya di rumah Tatia langsung menyiapkan makan malam. Setelah siap dia memanggil papa dan mereka makan bersama. Selesai makan Tatia mencuci piring lalu pergi ke kamarnya untuk kembali melanjutkan sepak terjang Mathias dalam Novel Cry or Better Yet Beg.
Tatia baru saja membuka aplikasi untuk membaca online saat notifikasi pesan muncul. Ternyata Artemis yang mengirim pesan. Tatia tidak menyangka kalau Artemis akan secepat itu menghubunginya. Tatia pun segera membalas. Hari itu mereka berbalas pesan sampai malam.
Sejak saat itu mereka mulai rajin berkirim pesan. Mereka bercerita banyak hal. Mulai dari masa SMA, murid-murid yang membuat gegana sampai akhirnya pada pertanyaan “punya pacar enggak?” . Entahlah Tatia juga tak tahu mengapa dia bisa merasa senyaman itu bersamanya. Padahal dulu Tatia seringkali dibuat kesal oleh kejailannya.
Awalnya Tatia ragu saat Artemis mengajaknya untuk jalan. Namun dengan pandainya Artemis membujuk dia agar pergi dengannya. Ternyata rasanya cukup menyenangkan. Lama kelamaan bertemu Artemis adalah satu kegiatan yang selalu dirindukannya. Artemis membuatnya merasa siap untuk kembali memulai. Artemis menyemangatinya agar berhenti terus larut dalam kenangan. Artemis juga yang menariknya dari genangan air mata karena kisah cinta yang berakhir.
***
“Tia, aku mau ketemu papa dan mamamu.”
“Mau apa?” Tanya Tatia sedikit kaget.
“Aku ingin berkenalan dengan mereka. Aku ingin mereka tahu siapa sebenarnya laki-laki yang sering membuat anaknya cekikikan padahal tidak sedang nonton drakor.”
“Kamu yakin? Jangan-jangan setelah bertemu mereka kamu malah tak mau kenal lagi denganku.”
“Mulai lagi.” Artemis menatap tajam pada Tatia. Dia kurang suka kalau Tatia berpikiran negatif. Artemis pun menjitak dahinya dengan gemas.
“Sakit tahu!” Tatia meringis.
“Kalau sakit berarti pikiran negatifnya sudah pergi.” Artemis tertawa.
Malam Minggu berikutnya setelah magrib, Artemis datang ke rumah. Tatia langsung panas dingin saat melihatnya bersalaman dengan papa. Dia takut mereka tidak cocok. Namun, dugaannya salah. Artemis dan papa langsung akrab. Mereka mengobrol tentang Persib dengan nyamannya.
Kini giliran mama yang sedang mencoba berakrab ria dengan Artemis. Dan lagi Artemis mampu meraih hatinya. Mama ikut larut dalam obrolan Artemis tentang mengajar di SD. Mama makin asyik mengobrol dengannya saat tahu kalau mama Artemis adalah temannya.
Tatia tahu ini baru awal. Namun dia berharap ini adalah awal yang akan berakhir bahagia. Meski hidupnya tak seindah drama korea, Tatia tetap memiliki harapan. Harapan untuk bisa menemukan seseorang yang bisa menerima dia karena dirinya sendiri bukan karena embel-embel lain yang melekat pada dirinya.
Tatia ingin menemukan laki-laki yang bisa diajak tumbuh bersama. Laki-laki yang tetap membersamainya dalam tangis dan bahagia. Laki-laki yang tetap menggenggam tangannya meski huru-hara menerpa rumah tangga. Laki-laki yang tetap jadi anak kesayangan ibunya tanpa harus melepas genggaman tangannya.
“Tia, seandainya kita harus LDR apa kamu masih mau bersamaku?”
“Memangnya kamu mau ke mana?” Tatia menatap Artemis dengan bingung.
“Aku ikut tes P3K dan lolos. Tapi penempatannya di luar Jawa Barat.” Artemis langsung tertunduk sedih.
“Wah, asyik dong nanti aku bisa sering-sering naik kereta.” Tatia berdecak kagum.
“Dasar Duta K-A-I.” Artemis menjembel pipinya. Sepertinya dia ingat kalau sepanjang masa kuliah Tatia selalu menggunakan kereta.
“Kita sudah memulai trek ini bersama. Bukankah lebih menyenangkan kalau kita juga mengakhirinya di garis finish yang sama?” Tatia menggenggam tangan Artemis dan menatapnya lekat-lekat.”
“Terima kasih, Tia. Semoga rona merah di pipimu tetap ada meski nanti jarak akan memisahkan kita.” Artemis balik menggenggam tangan Tatia dan tersenyum bahagia.
YN, 13-09-2025
Pencuri Hati Itu Bernama Kanaya
Ezar Khalif belum pernah merasa seputus asa sekarang. Di usianya yang sudah memasuki akhir 30-an, dia baru merasakan jat...
-
Saat menerima SK penempatan aku tertegun. Garut. Tempat yang sudah lama ingin kukunjungi. Tempat yang ditinggali sese...
-
“Sebenarnya siapa yang kau nikahi?” Bagas menatap Rania dengan wajah yang penuh rasa kecewa. Dia menghembuskan napas dengan kasar lal...


.jpeg)

.jpeg)

