Surat dari Azi
Sejak kecil Azi
terbiasa untuk jadi anak manis kebanggaan papa. Jika Rian adalah pembuat onar
maka Azi adalah orang yang akan membenahi keadaan. Hal itu terus tertanam
sampai dia tumbuh dewasa. Azi tahu dalam hati Rian selalu merasa diabaikan oleh
papa. Rian merasa papa memperlakukannya sedikit berbeda. Papa seolah-olah takut
padanya. Takut membuatnya terluka hingga tak menyimpan banyak harapan untuknya.
Lain halnya dengan sikap papa pada Azi.
Suatu hari papa
berkata, “Kamu harus jadi laki-laki yang tangguh. Kelak siapa yang akan menjaga
mama dan Kaori kalau papa tidak ada.”
Saat itu Azi tak
mengerti maksud perkataan papa. Seiring berlalunya waktu barulah dia paham apa
yang papa inginkan. Azi ingin jadi laki-laki tangguh seperti harapan papa.
Sementara Rian asyik pacaran, Azi malah sibuk belajar dan dan membentuk badan. Azi
ingin jadi anak yang dapat dibanggakan oleh papa. Azi akan mewujudkan semua itu
meski tidak mudah.
Azi tidak berniat
jatuh hati. Baginya urusan hati hanya akan membuat repot. Apalagi saat ia
sedang mempersiapkan masa depannya. Namun kehadiran gadis berparas cantik itu
menggoyahkan niatnya. Kehadiran Mona membuat dia berpikir ulang tentang
semuanya.
Mona yang dengan terang-terangan menunjukkan kalau dia menyukai Azi.
Mona yang selalu berusaha untuk dekat dengannya. Mona yang selalu berusaha
menarik perhatiannya. Mona yang tetap di sisinya meski Azi tak pernah
memberinya kepastian. Mona yang memiliki banyak pacar hanya untuk membuatnya
marah. Mona yang selalu memenuhi hati dan hari-harinya.
Azi pernah berpikir untuk membalas perasaannya seandainya saja dia
tidak tahu kalau kakaknya, Adrian, juga menyukainya. Kakaknya yang playboy itu
benar-benar jatuh cinta padanya. Baru kali ini Azi melihat Rian benar-benar
tertarik pada perempuan. Sering dia melihat Rian memandangi Mona dari kejauhan.
Kalau sudah begitu Azi kembali menahan perasaannya. Azi pun kembali pada niat
awalnya untuk menjadi anak kebanggaan papa. Dia berjuang keras agar bisa diterima
jadi bagian keluarga besar marinir. Dia berusaha sangat keras agar bisa
mewujudkan mimpinya.
Saat sudah berhasil mencapai impiannya, Azi pun kembali mencari Mona.
Gadis itu masih seperti dulu. Masih berusaha membuatnya marah dengan memiliki
banyak pacar. Mona dan Rian tidak kunjung bersama meski Azi sudah memberinya
kesempatan. Akhirnya Azi mengambil keputusan untuk mengambil langkah. Mungkin
dengan begitu hati Rian tergerak.
“Kau akan melamarnya?” Tanya Rian saat Azi menunjukkan gelang yang
akan diberikannya pada Mona.
“Aku sudah memberimu kesempatan, Rian. Mengapa kau tidak
mengambilnya?”
“Di hatinya hanya ada kau seorang.” Adrian tersenyum pedih.
“Setahuku, Adrian bukan orang yang pantang menyerah.”
“Kalau yang menjadi sainganku orang lain mungkin aku bisa menang.”
“Jadi bolehkah aku melamarnya?”
Adrian mengangguk dan tersenyum pedih. “Bahagiakan dia!” Pesannya
sambil keluar dari kamar Azi.
Setelah memastikan kalau Rian tidak keberatan dengan niatnya untuk
melamar Mona, Azi pun menemui gadisnya itu.
“Setelah selesai menjalankan tugas aku akan
menikahimu!” Kata Azi tiba-tiba. Saat itu Azi akan berangkat ke Papua. Mona
hanya bisa terpana. Dia tak menyangka Azi akan mengatakan hal itu. Selama ini
Mona memang sangat berharap Azi bisa menerimanya tetapi kata-kata Azi
benar-benar di luar dugaan. Melihat Mona diam saja Azi tersenyum lalu
memakaikan gelang di lengan Mona.
“Apa ini?” Mona
menatap gelang emas putih yang dipakaikan Azi. Di gelang itu ada ukiran dalam
bahasa Jepang “Kisu mai haato” (hatiku
milikmu).
“Kau tidak suka
cincin bukan?” Azi menatap Mona yang terkesima. “Ini adalah janjiku padamu.”
Azi mengecup punggung tangan Mona yang memakai gelang. “Aku tahu selama ini kau
sengaja memiliki banyak pacar untuk membuatku cemburu. Mulai sekarang hanya aku
yang boleh ada dalam satu frame denganmu.” Azi menatap Mona lekat-lekat
dan menunggu jawaban.
“Honto ni daisuki
(aku sangat mencintaimu).” Mona memeluk Azi dan mulai menangis.
“Kelak hanya aku
yang boleh melihatmu serapuh ini!” Azi mengelus rambut Mona. “Monaku yang
cantik adalah perempuan tangguh.” Azi mengecup puncak kepala Mona.
Sebenarnya Azi ingin
menghabiskan waktu yang lebih banyak dengan Mona. Namun tugas negara sudah
memanggilnya. Dia harus segera pergi. Dengan berat hati dia pun meninggalkan kembali
meninggalkan Mona. Meski harus meninggalkannya kini hati Azi jauh lebih tenang.
Dia sudah menyatakan perasaannya kepada Mona. Azi pun bisa kembali bekerja
dengan tenang.
Kalau dulu dia tidak
merasa begitu rindu untuk pulang, kini sebaliknya. Dia selalu menanti waktu
agar bisa kembali bertemu dengan Mona. Kembali melihat senyum manis di
wajahnya. Kembali melihat ekspresi di wajahnya saat memanggil namanya.
Maka dari itu saat mendapatkan
izin untuk pulang, dia segera pergi menemui Mona. Hari itu adalah ulang tahun Mona.
Sudah lima tahun Azi tidak bersama dengannya saat Mona berulang tahun. Ketika SMA
dulu Azi selalu jadi orang pertama yang memberikannya ucapan selamat. Azi
selalu bersamanya saat Mona merayakan ulang tahun.
Hari itu dengan
membawa buket bunga dan kado dia mengunjungi Mona di rumahnya. Dia sengaja
tidak memberitahu kedatangannya karena ingin memberinya kejutan. Ternyata setibanya
di sana justru dialah yang mendapat kejutan.
“Kalian sudah lama
bersama?” Tanya Azi saat memergoki Mona yang sedang bermesraan dengan Adrian.
Azi menatap Mona dan Adrian yang sedang langsung memisahkan diri. Melihat
kecanggungan keduanya Azi pun memutuskan untuk duduk.
“Azi ....” Mona tak
bisa menjawab. Wajahnya merah padam. Dia tak menyangka Azi akan memergokinya
dalam keadaan seperti itu.
“Aku hanya mampir
sebentar. Tadinya aku ingin merayakan ulang tahunmu! Tapi sepertinya kakakku
sudah menemanimu merayakannya.” Azi
menatap kue ulang tahun yang ada di meja. “Tugasku diperpanjang. Aku tak akan
bisa segera memenuhi janjiku padamu.” Azi menatap Mona yang tertunduk malu.
“Aku bisa
menjelaskan semuanya.” Adrian yang sudah menemukan suaranya akhirnya bicara.
“Rian tak perlu
menjelaskan apa-apa. Azi tahu kalau selama ini Rian menyukai Mona.” Azi tersenyum.
“Azi pernah melihat buku sketsa Rian. Di sana banyak gambar Mona dan ungkapan
perasaan Rian untuknya.” Azi menghela napas. “Sekarang Azi merasa lega karena
ada yang menjaga Mona. Azi pergi. Azi mau menemui mama dan Kaori lalu kembali
ke tempat tugas.” Azi beranjak dari duduknya.
“Azi....” Mona
dengan malu-malu menghampirinya.
“Semoga kau
bahagia!” Azi mengecup puncak kepala Mona lalu pergi.
Azi memaksa kakinya
segera bergerak menjauhi rumah Mona. Dia tidak ingin menangis di depan Mona.
Dia tidak ingin membebaninya. Dia pergi menemui Kaori, adiknya, di tempatnya
bekerja lalu menemui mama. Setelah itu dia memutuskan untuk kembali ke tempat
tugasnya. Sebelum pergi dia menulis surat untuk Mona.
Mona
tersayang, jangan menangis.
Azi
memang terkejut saat melihat kalian bersama. Namun sejak awal Azi sudah
menduganya. Azi sudah lama tahu kalau Rian sangat mencintai Mona. Meski sakit
tapi Azi juga merasa senang karena akhirnya Rian mampu mengalahkan semua
ketakutannya dan memilih untuk bersama Mona.
Terima
kasih untuk semua kasih sayang yang pernah Mona berikan untuk Azi. Terima kasih
untuk menunggu Azi. Terima kasih untuk semua waktu yang Mona habiskan untuk Azi.
Azi minta
maaf karena tidak bisa memenuhi janji. Azi minta maaf karena begitu lama
mengabaikan perasaan Mona. Meski bukan Azi yang akhirnya Mona pilih tapi di
hati Azi hanya akan ada Mona seorang. Tak ada yang pernah dan akan mengambil posisi
itu di hati Azi.
Sekarang
Azi dapat benar-benar merasa tenang karena ada Rian yang akan selalu menjaga
dan menemani Mona. Selamat tinggal Mona. Semoga kebahagiaan selalu menyertai
hidupmu dan Rian.
Kisu
mai haato.
Honto
ni daisuki.
AZI
Azi
melipat kertas surat itu lalu menyisipkannya pada kado yang hendak diberikannya
pada Mona.
“Tolong
berikan ini pada Mona!” Pesan Azi pada Kaorinya yang mengantarnya pergi.
“Kau
yakin tidak ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali?”
“Tidak
perlu, Key. Azi harus segera kembali.” Azi memeluk Kaori. “Semoga kau bahagia,
Key. Dengan begitu Azi bisa pergi dengan tenang.” Azi menjembel pipi adiknya
dengan gemas lalu kembali memeluknya.
“Kaori
sayang Azi.”
“Selamat
tinggal.” Azi melepas pelukannya lalu pergi menuju pintu keberangkatan.
Sambil
menunggu pesawat lepas landas, Azi mengeluarkan dompetnya dan memandangi foto Mona
yang ada di sana. “Selamat Tinggal Mona. Semoga kau bahagia, sayangku.” Azi
mengelus wajah Mona yang ada foto dengan mata berkaca-kaca.
YN, 10
Februari 2026
.jpeg)


.jpeg)


.jpeg)

.jpeg)