Rabu, 21 Januari 2026

Tertinggal di Hati

 



If only you could see the tears
In the world you left behind
If only you could heal my heart
Just one more time
Even when I close my eyes
There's an image of your face
And once again I come to realize
You're a loss I can't replace

Setiap mendengar lagu Westlife yang berjudul Soledad, benak Tian selalu dipenuhi kenangan tentang hari itu. Hari saat Azril mengabarkan kalau Izam, pacar Tian kembali pada mantannya. Selesai bicara dengan Izam, Tian menyalakan radio dan sebuah stasiun memutar lagu itu. Benar-benar momen yang pas untuk hati yang patah.
Tian dan Izam memang baru putus. Izam yang memutuskan hubungan mereka. Saat itu Tian merasa sangat bersalah karena berkata pada Izam ingin rehat sejenak dari hubungan mereka. Tian tidak ingin putus. Dia hanya ingin memberi sedikit ruang pada diri masing-masing. 
Tian sedang merasa sedikit jengah atas ocehan keluarga ibunya yang sering kali membahas kedekatan mereka. Keluarga ibunya selalu mengomentari Izam yang selalu membersamai Tian saat berangkat dan pulang sekolah. Namun tanggapan Izam ternyata di luar dugaan. Dia mengatakan lebih baik mereka berpisah. Saat itu Tian merasa bersalah karena Izam tiba-tiba minta putus.
Delapan bulan bukan waktu yang singkat bagi Tian. Izam adalah laki-laki pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Tian yang selalu perhatian dan lebih cepat berteman dengan laki-laki, tidak pernah merasa jatuh cinta. Meski ada beberapa laki-laki yang mencoba mendekatinya, hati Tian tidak tergerak. Namun semua sifat dan perhatian yang diberikan Izam membuat hatinya tergerak. 
Izam penuh perhatian dan membuat sisi manja Tian terpenuhi. Izam tidak pernah marah meski Tian sering menggodanya. Hal itulah yang membuat Tian iseng mengerjainya. Tia pernah berpura-pura menyukai Azril, sahabat Izam, hanya untuk mengetahui bagaimana Izam saat marah.
Saat itu Izam memang marah. Namun dia marah karena tak bisa selalu menemani Tian. Izam harus pulang ke kampung halaman untuk menengok ayahnya. Selama ini Izam tinggal bersama neneknya, yang merupakan tetangga Tian.
Saat itu Izam berkata, "Kau tahu Tian, aku merasa tidak enak hati saat pulang ke rumah ayah. Ternyata di sini kau menduakan hati." 
"Aku hanya bercanda. Aku tidak benar-benar menyukai Azril. Aku hanya ingin membuatmu marah."
"Selamat kau sukses membuatku marah." Tatapnya dengan mata yang terluka.
"Maafkan. Aku tak akan pernah lagi bercanda seperti itu."
"Baik. Tapi mulai sekarang kau tidak boleh berdekatan dengan Azril."
"Ok bos!"
Tian menepati janjinya. Dia tidak lagi bercanda tentang perasaannya. Dia tidak mau lagi melihat tatapan penuh luka yang tertinggal di mata Izam. Sebelum berpacaran dengannya, Izam pernah diselingkuhi oleh pacarnya. Saat Tian menggodanya tentang balikan dengan mantannya, Izam sering mengatakan, "Aku tak akan pernah menjilat ludah yang sudah kubuang." 
Namun kenyataannya Izam kembali pada mantannya. Padahal saat itu mereka masih bersama. Beberapa hari sebelum kedatangan Azril, ada teman yang tiba-tiba menghubungi Tian. Temannya itu mengatakan kalau dia melihat Izam sedang main ke rumah Zara, mantannya. Dengan penuh keyakinan Tian mengatakan kalau temannya itu mungkin salah lihat. Ternyata kenyataannya memang benar Izam ada di sana.
"Apa kau temanku?" Tian menatap Azril dengan tatapan penuh luka. "Mengapa kau tidak menceritakannya sebelum kami putus?" Tian setengah berteriak pada Azril.
"Aku tak ingin menghancurkan hubungan kalian."
Terkadang Tian merasa lebih baik dia tidak tahu kalau Izam berselingkuh di belakangnya. Baginya tidak masalah kalau Izam ingin kembali pada mantannya. Namun waktu yang Izam pilih untuk kembali pada mantannyalah yang tak bisa dia terima. Dia merasa dikhianati. Kepercayaannya hancur berkeping-keping. Izam yang begitu baik bisa berbuat setega itu padanya. Izam yang berkata bahwa balikan pada mantan itu seperti halnya menelan kembali ludah yang sudah dikeluarkan. Izam yang mati-matian mengatakan kalau tak mungkin kembali pada perempuan itu. 
Sesakit apapun hatinya, rasa di hati Tian tidak ikut mati. Cinta itu masih ada. Harap itu masih menyala.
Dia hanya tidak bertemu dengannya selama dua minggu. Mereka kembali bermain bersama. Saat itu Izam sudah putus karena perempuan itu kembali menduakannya. 
Tian yang masih cinta, diam-diam menyimpan harap. Dia masih berharap mereka bisa kembali bersama. Dia tahu hatinya sakit dan tak akan mungkin bisa sembuh begitu saja. Namun dia tak ingin benar-benar kehilangan Izam. Dia berharap Izam berubah. Dia berharap Izam bisa menyembuhkan luka yang ditorehkannya.
Ternyata harapannya kosong. Izam hanya fokus dengan dirinya sendiri. Fokus dengan lukanya sendiri. Dia tidak pernah berpikir kalau Tian juga terluka. Izam hanya merasa dirinyalah yang paling terluka. Sejak saat itu Tian menjauh. Dia mencoba dekat dengan orang lain. Usahanya selalu gagal. Setiap laki-laki yang dekat dengannya tiba-tiba mundur. Awalnya Tian tidak mengerti mengapa seperti itu.
Suatu hari dia melihat tulisan Izam. Tulisan itu berisi kalau Izam masih sangat mencintai Tian. Dalam tulisan itu Izam mengatakan dia belum mampu merelakan Tian bersama orang lain. Namun Izam masih bertarung dengan lukanya sendiri.
Sekali lagi Tian terluka. Luka yang ini meninggalkan bekas yang sangat lama. Luka yang masih Tian rasakan sampai sekarang. Hingga Tian pun berpikir, dia tidak perlu kata maaf dari bibir Izam. Tian hanya ingin Izam menunjukkan niat dan tindakannya untuk benar-benar memperbaiki kesalahan. Namun hal itu tak pernah Izam wujudkan.
Waktu berlalu tapi luka itu masih terasa baru. 
"Mungkin aku bodoh. Aku berharap dia mengobati lukaku. Padahal seharusnya, akulah yang menyembuhkan diriku sendiri." 
"Kau masih belum benar-benar melupakannya?" Azril menatap Tian dengan sedih.
"Kau tahu Azril kepercayaan itu seperti halnya gelas. Sekali retak maka tak akan pernah sama lagi."
"Apa kau masih berharap bisa kembali bersamanya?"
Dengan tegas Tian menggeleng. 
"Aku tak yakin diriku bisa mencintainya lagi seperti dulu. Aku tak ingin terus dihantui ketakutan bahwa suatu hari dia akan kembali mengulangnya. Aku tak tahu sehancur apa jika itu sampai terjadi."
"Aku tak menyangka dua orang yang begitu saling mencintai dapat berakhir seperti ini."
"Mungkin akulah yang memberinya ruang untuk melakukan pengkhianatan. Atau cinta kami mungkin tak sebesar yang kami kira. Yang jelas hubungan kami tak akan pernah bisa kembali seperti semula."
"Semoga kau bisa kembali bahagia, Tian."
"Semoga." Tian tersenyum pada Azril lalu pamit pulang.


Hari berganti tapi beberapa kenangan masih tertinggal di hati
Kenangan itu seolah tak akan pernah pergi
Diam bersembunyi mengisi ruang emosi

YN, 21-01-2026






Selasa, 20 Januari 2026

Surat Ke-48

   


"Leksha, tunggu!" Arul menarik tas Aleksha lalu mengajaknya duduk di teras mesjid. Arul tampak kelelahan, ia mengatur nafasnya kemudian kembali bicara. "Dari tadi aku menunggumu."

       "Benarkah?" Aleksha meragukan kata-kata Arul. Saat ia lewat tadi, Arul tengah asyik bicara dengan pacarnya.

       "Dia ingin bicara makanya tadi kami duduk bersama." Arul tersenyum. Ia tahu pasti Aleksha marah karena melihat Arul bicara dengan pacarnya. "Yuk kita kerjakan PR matematikanya." Arul membantuk Aleksha berdiri lalu mengajaknya ke ruang PMR.

       Sesampainya di sana Arul mengajak Aleksha duduk. Dia mengeluarkan buku matematikanya lalu mulai mengerjakan soal. Arul mengajari Aleksha dengan telaten. Dia terlihat bersemangat setiap kali Aleksha bertanya padanya. Selesai mengerjakan PR, Arul mengantar Aleksha pulang.

       "Rul, kalau ada yang lihat bagaimana?" Tanya Aleksha saat Arul memberikan helm padanya.

       "Aku bilang saja aku mengantar sahabatku." Jawab Arul santai lalu mulai menstarter motornya. Aleksha tersenyum, memakai helmlalu naik ke motor Arul.

       "Pegangan yang kuat ya!" Seru Arul sambil menjalankan motornya.

       Arul dan Aleksha terlibat hubungan yang susah dijelaskan dengan kata. Keduanya merasa nyaman dan saling membutuhkan. Meski begitu mereka tak bisa memutuskan pacar masing-masing. Arul selalu berkata, "kita jalani seperti air mengalir saja".

       "Seandainya sejak awal kau mengatakannya pasti semuaya lebih mudah." Ujar Arul saat mereka mengerjakan PR bahasa Inggris.

       "If only..." sahut Aleksha sambil memasang ekspresi lucu. Ekspresi yang membuat Arul selalu rindu padanya.

       "Leksha..."

       "Ya, kangkung."

       "Aku takut."

       "Apa yang membuat ketua PMR kita takut?" Tanya Aleksha sambil menutup buku bahasa Inggrisnya dan menatap Arul.

       "Setelah lulus aku akan lansung masuk militer."

       "Bukankah itu cita-citamu, kenapa sekarang kau malah takut?"

       "Aku takut kehilanganmu."

       "Gemel, aku kira apa." Aleksha tersenyum. Dia hendak memukul Arul tapi Arul malah menggenggam tangan Aleksha lalu menatapnya lekat-lekat. "Kau ingin aku menunggumu?"

       "Kalau kau bisa percaya padaku."

       Aleksha terdiam lalu berkata, "masih ingat film 'Dear John' yang kita tonton bersama anak-anak PMR?"

       "Yang tokohnya prianya seorang prajurit?"

       "Iya. Tulislah surat untukku. Tak perlu setiap waktu, satu bulan satu surat saja cukup."

       "Kenapa harus surat?"

       "Kalau sms kan tergantung sinyal. Kalau surat di mana pun kau berada pasti bisa menulis."

       "Baiklah."

        Aleksha menangis sedih saat melepas kepergian Arul. Dia merasa sebagian dari hidupnya ikut pergi bersama Arul. Surat pertama yang ditulis Arul dibacanya sampai puluhan kali. Dia bahkan selalu membawanya kemanapun dia pergi.

Teman-teman kuliahnya menyebut dia Miss Letters. Mereka sering menggodanya tapi Aleksha tak peduli.

       Surat kedua, ketiga, keempat dan seterusnya selalu datang tepat waktu. Namun surat ke-48 tidak datang. Aleksha jadi khawatir. Tak biasanya Arul terlambat mengirim surat. Dia tak tahu harus bertanya pada siapa.

       Akhirnya Aleksha tak ambil pusing. Dia memfokuskan diri pada ujian sidang skripsinya. Dia sudah berjanji akan menunggu Arul. Dia tak peduli berapapun lamanya waktu yang dia perlukan untuk menunggunya. Aleksha yakin Arul akan datang.

       Sampai acara wisuda tiba pun, surat ke-48 belum tiba. Aleksha mulai goyah. Dia menangis lagi. Dia mengikuti prosesi wisuda tanpa semangat. Dia hampir saja jatuh saat menerima ijazah. Untungnya temannya segera menangkap tubuhnya.

       Saat keluar dari gedung, Aleksha dikejutkan dengan suara helikopter. Heli itu terbang sambil membawa tulisan "Selamat Wisuda Miss Kangkung". Tak lama setelah helikopter pergi seorang pria berseragam muncul sambil membawa sebuah miniatur bola voly.

       "Percaya padaku?"

       "Arul..." Aleksha benar-benar tak percaya melihat pria gagah yang berdiri di hadapannya.

       "Bukalah!" Pinta Arul sambil memberikan miniatur bola voly pada Aleksha.

       Aleksha mengambil miniatur bola voly dari angan Arul lalu mebukanya. Di dalamnya berisi sebuah kotak dan surat ke-48. Isi surat itu sangat singkat, "Leksha maukah kau menikah denganku?"

      "Jawabanmu?" tanya Arul penuh harap.

       "Aku mau." Sahut Aleksha sambil menghapus air mata yang mulai membasahi pipinya. Arul mengambil kotak dari bola voly membukanya lalu mengeluarkan cincin dan memakaikannya di jari manis Aleksha.

       "Percaya padaku?" tanya Arul sambil merentangkan tangan untuk memeluk Aleksha.

       " Aku percaya," sahutnya sambil menghambur ke pelukan Arul.

 

  

                                                                                                                     YN, 30 Oktober 2011

 

Senin, 19 Januari 2026

Lagu dan Ayah

 

Pernah galau karena dengar lagu?

Atau pernah termewek-mewek karena mendengar lagu?

Selamat kalian senasib sama saya? 

Tahu lagu Ada Band yang judulnya “Terbaik Bagimu”?

Ini lagu sukses bikin termewek-mewek. Lagu yang bercerita tentang ayah ini bikin mengharu biru bagi aku yang sudah kehilangan ayah. Apalagi di lirik yang ini:

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya

Ku terus berjanji takkan khianati pintanya

Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu

Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Sudah hampir empat tahun bapak pergi tapi rasanya masih seperti kemarin. Masih ingat hari itu adalah hari Rabu. Aku sedang menggelar rapat persiapan studi tur ke Borobudur. Tiba-tiba di telepon sama suami. Ayank (et dah, suami) mengabarkan kalau Bapak sudah beberapa kali kejang. Dengan segala kekuatan yang masih tersisa hari itu, aku nekad pulang ke Garut. Padahal sebelumnya aku tak pernah pulang sendirian dari Maniis (Majalengka) ke Garut. 

Hari itu segala upaya dilakukan agar bisa pulang ke Garut. Mulai dari minta antar ke rekan sampai Pamoyanan, lanjut naek Elf ke Bandrek dan berakhir naik ojol sampai ke RSUD Dokter Slamet, tempat bapak selama hampir 3 bulan terakhir menghabiskan hari-harinya. Perjalanan itu bagaikan mimpi. Seolah-olah sedang masuk ke dalam sebuah alur novel pada bagian komplikasi.

Meski terkadang kami berselisih paham tapi aku sangat menyayangi bapak. Banyak pelajaran hidup yang masih kujalankan sampai detik ini. Banyak harapan yang bapak tujukan padaku. Sampai hari ini pun aku masih berjuang untuk mewujudkannya. 

YN, 19-01-2026



Senin, 12 Januari 2026

Nostalgia Bersama Rangga dan Cinta

        


        "Salah gue?"

        "Salah temen-temen gue?"

      Dialog yang ikonik. Perempuan seumur saya pasti hapal benar dengan dialog tersebut. Dialog yang diucapkan Cinta pada Rangga di tengah pertandingan bola basket yang sedang ditontonnya.

        Kisah Rangga dan Cinta tak akan lekang ditelan waktu. Kisah cinta dua remaja dengan segala permasalahan dan pertentangan batin mereka. Meski kali ini film yang saya tonton adalah remake, rasanya sangat berkesan. Apalagi bagi saya yang jarang nonton film dalam negeri. Bukan karena saya tidak cinta tanah air, sebenarnya, lebih karena film yang beredar lebih sering bergenre horor. 

       Saat melihat Rangga, saya teringat pada siswa saya di sekolah. Lebih tepatnya pada seseorang yang belakangan ini cukup menarik perhatian saya. Rangga yang ditinggalkan ibunya, tak punya teman dan memiliki ayah yang dianggap bermasalah. Bukan masalah tentang orang tuanya, tapi lebih ke bagaimana bila jadi Rangga. Mengapa dia terkesan cuek dan ketus? Mengapa dia cenderung tidak suka berteman dan sendirian?

        Hal-hal itulah yang sampai saat ini masih berusaha saya pahami dari siswa-siswa saya. Mengapa mereka bertingkah? Mengapa mereka tidak betah di kelas? Apa yang sebenarnya terjadi di rumah mereka? Meski saya tidak bisa membantu menyelesaikan masalah mereka, setidaknya saya tak ingin menjadi seseorang yang menambah luka. Saya selalu berharap siswa-siswa yang bermasalah itu segera menemukan jalan keluar dari masalah mereka. 

        Saya harap mereka lebih tangguh dan masih berpikiran logis. Saya berharap mereka mampu melewati masa remaja dengan penuh kenangan manis yang kelak akan membentuk kepribadian mereka menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan dedikasi. Bukan untuk  orang lain tetapi untuk mereka sendiri. 

       Setiap hari setiap orang bertempur di medan perangnya masing-masing. Hal itulah yang ingin saya tekankan pada para siswa. Saya ingin mereka tumbuh jadi lebih tangguh meski cerca dan hina tak akan lepas membersamai pertumbuhan mereka. Tidak selamanya hal yang menyakitkn hanya menyisakan air mata tapi mari kita ubah hal menyakitkan itu sebagai perisai untuk memperkuat batin kita dalam menghadapi masa depan.


YN, 13012026

Rabu, 29 Oktober 2025

Benang Sari

      


       Namaku Sari, tepatnya Benang Sari. Aku seorang siswa di sebuah sekolah. Ayahku guru biologi dan ibuku pecinta bunga, karena itulah mereka menamaiku Benang Sari. Sedari kecil badanku memang tumbuh subur. Karena itulah orang-orang di sekelilingku sering mengataiku "gendut", "demplon", "kasur", dan kata-kata lainnya yang seirama.

        Hampir setiap kegiatan, setiap tindakan, bahkan sampai bersin pun disangkut pautkan dengan berat badan. Seolah-olah menjadi orang gendut adalah dosa tak termaafkan. Meski bukan lagi hal baru terkadang aku merasa jengah dan sedih. Tuhan mengapa aku tidak bisa seperti orang lain? Mengapa aku seperti ini? 

        Kata-kata dan ejekan mereka semakin lama, semakin membuatku malas melakukan apapun. Mereka selalu menjadikan aku sebagai guyonan. Seolah-olah aku adalah badut yang memalukan. Pernah suatu ketika aku baru saja akan menyantap makan siang, lalu muncul orang dan langsung berkata, "Pantas gendut makan terus." Saat itu aku hanya bisa tersenyum. Dalam hati aku menangis. Dia tidak tahu kalau itu adalah makanan pertama yang masuk ke perutku.

        Ketika ada acara foto bersama sering kali orang membuatku merasa malu dengan komentar mereka. 

        "Sadar diri kenapa? Sudah tahu gendut malah menghalangi orang." Ujar seseorang saat aku sedang mencari posisi yang nyaman untuk berfoto. Padahal aku sama sekali tidak berniat menghalangi. Aku hanya sedang berusaha menempatkan diri agar tidak mengganggu orang.

      Di lain kesempatan aku sedang ikut upacara dan tiba-tiba saja bersin. Suara bersinku cukup kencang. Dan lagi ada orang yang menyangkutpautkannya dengan berat badanku. 

       "Bersinnya sesuai dengan berat badan, ya!" Komentar orang itu sambil tersenyum. 

        Kali ini aku tidak diam. Kujawab dia, "Kan menyesuaikan. Tidak lucu kalau badan besar tapi suara bersinnya kaya orang keselek." Sahutku sambil tersenyum hingga membuat orang itu terdiam.

         Kalau ayahku tahu, pasti beliau marah. Ayah selalu mengajariku untuk tidak membalas perlakuan buruk dengan hal yang serupa. Ayah selalu mengajarkanku untuk berbuat baik pada sesama. Namun kali ini mulutku tak bisa lagi terkunci. Dia kehilangan kekakuannya dan mampu bersuara.

        Aku pernah mencoba untuk diet dengan tidak makan nasi. Dietku berhasil tapi aku terlihat pucat dan seperti orang yang mau pingsan. Ayah memarahi dan memintaku untuk berhenti melakukan hal itu. Aku pun kembali makan seperti biasa. Alhasil berat badanku kembali ke semula. 

      Semakin hari rasa tidak nyaman semakin mengangguku. Aku sampai merasa tidak ingin lagi menjadi diriku. Aku merasa menjadi manusia paling berdosa sedunia karena tubuh gendutku. Aku ingin seperti orang lain yang bisa membeli baju yang tersedia di toko dengan ukuran normal. Ukuran yang cukup normal sehingga orang tak lagi memandangku dengan rasa kasihan. Aku juga ingin bisa melakukan kegiatan olahraga tanpa rakut orang akan mengataiku "gempa" saat aku bergerak dan melakukan kegiatan olahraga.

         Hingga suatu hari aku sakit dan diantar teman ke UKS. Di sana aku bertemu dengan guru yang bertugas. Beliau menanyaiku. Awalnya aku malu untuk bicara. Namun sepertinya dia memahami masalahku. Dia bercerita kalau dulu dia sepertiku, sering mendapatkan perlakuan body shaming karena berat badan. Beliau berkata, "Sampai usia berapa pun body shaming itu akan selalu ada, terlepas dari kamu gendut atau tidak. Aku kasih tahu ya, gendut itu semacam tato yang melekat di tubuh. Sekuat apapun kamu mencoba yang diingat orang hanyalah kamu pernah gendut." Beliau tertawa dan tawanya menular. "Kau tahu, Sari. Kalau orang gendut itu baru bismillah saja sudah gendut. Minum saja bisa jadi daging." Beliau bicara sambil sesekali tertawa. 

        "Ibu mudah sekali menertawakannya karena ibu sudah dewasa. Ibu juga tidak segendut aku." Aku memotong pembicaraannya. Beliau tidak marah tapi malah menggenggam tanganku dan kembali bicara.

        "Kau tahu Sari, berat badanku pernah hampir mencapai angka 90. Aku panik dan mulai berpikir keras. Sejak itu aku pun berusaha untuk menguranginya. Bukan dengan cara tidak makan tapi dengan cara mengaturnya. Selain itu kita juga harus pandai mengelola emosi." Beliau tertawa. "Kau tahu Sari. Dulu kalau marah, nasi padang bisa habis semua. Kau tahu kan kalau nasi padang dibungkus itu nasinya pasti segunung." Mau tak mau aku mengangguk. Kata-kata beliau ada benarnya.

         Hari itu sepulang sekolah aku bicara dengan ayah dan ibu. Aku menumpahkan semua isi hati. Mata coklat ayahku berkaca-kaca. Beliau sedih sekaligus bangga karena akhirnya aku mau berbicara tentang hal yang menjadi luka batinku. Ibuku juga mendukung keinginanku untuk hidup sehat. 

          Keesokan harinya Ayah dan Ibu mulai menyusun jadwal dan rencana untuk program hidup sehat kami. Kami mencoba melakukan intermintent fasting dengan pola 16:8. Awalnya terasa sangat berat, hanya makan dua kali sehari, tidak makan es krim kesukaanku, permen favoritku dan snack yang banyak bertebaran di minimarket. Namun aku ingat kembali pada semua kata-kata tidak menyenangkan yang kuterima. Aku pun menguatkan diri. Selain itu ayah dan ibu juga menemaniku dalam proses ini. Mereka mengajakku jalan-jalan pagi di hari libur dan terus menyemangatiku.

        Setelah enam bulan berlalu hidupku berubah. Kata ayah tidurku tidak lagi mendengkur. Aku juga mulai bisa membeli baju-baju yang kuinginkan. Aku lebih percaya diri saat berfoto. Aku berusaha untuk mengontrol emosi. Aku mencoba untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Meski berat badanku masih belum mencapai ukuran ideal, tapi aku bangga dengan diriku.

         Kata-kata guruku itu benar tentang "gendut itu semacam tato". Berapapun berat badanku sekarang orang tetap mengatai. Sebanyak apapun lemakku hilang mereka tetap mengomentari hidupku. Aku pun memilih berdamai dengan diri sendiri. Tidak lagi terlalu memikirkan pendapat orang meski terkadang telinga dan hatiku tidak benar-benar mampu memfilternya.

       Aku masih sering kesal saat ada orang yang dengan seenak mulut mereka mengomentari makanan ataupun baju yang kupakai. Namun aku ingat, bahwa aku hanya memiliki dua tangan. Kedua tanganku ini tidak dapat digunakan untuk menutup mulut mereka. Jadi kugunakan saja untuk menutup kupingku. Aku tahu tak mungkin menyaring omongan mereka, jadi kupasang saja filter di telingaku agar hanya meneruskan hal-hal positif ke otak.

         Luka karena body shaming ini mungkin tidak benar-benar sembuh dan akan meninggalkan jejak. Namun aku memilih untuk tetap melanjutkan hidup. Menggapai mimpi dan harap. Tak ada yang akan membantu dan menguatkanmu kalau kau kalah dalam pertarungan dengan dirimu sendiri.


YN, 29102025

Jumat, 12 September 2025

Rona Merah di Pipi Tatia

        


     Rona merah itu kembali mengiringi senyuman manis yang dulu sering muncul di wajahnya. Semuanya karena Artemis. Teman SMA yang kembali ditemui Tatia secara tak sengaja. Hari itu mama meminta Tatia untuk mengantarkan jaket ke tempat kemah. Setelah memberikan jaket pada mama, Tatia pamit untuk menengok anak-anak dari sekolahnya yang juga sedang kemah. 

       Langkah Tatia terhenti di depan tenda yang tak jauh dari tenda sekolah mama. Di sana ada sosok yang dulu sering mengganggunya. Si Misdaceum, begitu Tatia memanggilnya. Tatia memanggilnya seperti itu karena sifatnya memang begitu. Artemis terkadang bisa sangat manis dan di lain waktu dia bisa sangat menyebalkan. Karakternya sekomplit rasa ramen yang disukai Tatia “Amis, Lada, Haseum” alias misdaceum.

      Tatia tidak jadi pergi ke tenda temannya karena Artemis mengajaknya mengobrol. Obrolan mereka tak berlangsung lama karena mama memanggilnya. Mama meminta Tatia segera pulang karena tak ada yang menemani papa makan malam. Dengan berat hati Tatia pun pulang. 

       Sesampainya di rumah Tatia langsung menyiapkan makan malam. Setelah siap dia memanggil papa dan mereka makan bersama. Selesai makan Tatia mencuci piring lalu pergi ke kamarnya untuk kembali melanjutkan sepak terjang Mathias dalam Novel Cry or Better Yet Beg. 

     Tatia baru saja membuka aplikasi untuk membaca online saat notifikasi pesan muncul. Ternyata Artemis yang mengirim pesan. Tatia tidak menyangka kalau Artemis akan secepat itu menghubunginya. Tatia pun segera membalas. Hari itu mereka berbalas pesan sampai malam.

       Sejak saat itu mereka mulai rajin berkirim pesan. Mereka bercerita banyak hal. Mulai dari masa SMA, murid-murid yang membuat gegana sampai akhirnya pada pertanyaan “punya pacar enggak?” . Entahlah Tatia juga tak tahu mengapa dia bisa merasa senyaman itu bersamanya. Padahal dulu Tatia seringkali dibuat kesal oleh kejailannya. 

      Awalnya Tatia ragu saat Artemis mengajaknya untuk jalan. Namun dengan pandainya Artemis membujuk dia agar pergi dengannya. Ternyata rasanya cukup menyenangkan. Lama kelamaan bertemu Artemis adalah satu kegiatan yang selalu dirindukannya. Artemis membuatnya merasa siap untuk kembali memulai. Artemis menyemangatinya agar berhenti terus larut dalam kenangan. Artemis juga yang menariknya dari genangan air mata karena kisah cinta yang berakhir. 

***

“Tia, aku mau ketemu papa dan mamamu.” 

“Mau apa?” Tanya Tatia sedikit kaget. 

“Aku ingin berkenalan dengan mereka. Aku ingin mereka tahu siapa sebenarnya laki-laki yang sering membuat anaknya cekikikan padahal tidak sedang nonton drakor.” 

“Kamu yakin? Jangan-jangan setelah bertemu mereka kamu malah tak mau kenal lagi denganku.”

“Mulai lagi.” Artemis menatap tajam pada Tatia. Dia kurang suka kalau Tatia berpikiran negatif. Artemis pun menjitak dahinya dengan gemas.

“Sakit tahu!” Tatia meringis. 

“Kalau sakit berarti pikiran negatifnya sudah pergi.” Artemis tertawa.

Malam Minggu berikutnya setelah magrib, Artemis datang ke rumah. Tatia langsung panas dingin saat melihatnya bersalaman dengan papa. Dia takut mereka tidak cocok. Namun, dugaannya salah. Artemis dan papa langsung akrab. Mereka mengobrol tentang Persib dengan nyamannya.

Kini giliran mama yang sedang mencoba berakrab ria dengan Artemis. Dan lagi Artemis mampu meraih hatinya. Mama ikut larut dalam obrolan Artemis tentang mengajar di SD. Mama makin asyik mengobrol dengannya saat tahu kalau mama Artemis adalah temannya.

Tatia tahu ini baru awal. Namun dia berharap ini adalah awal yang akan berakhir bahagia. Meski hidupnya tak seindah drama korea, Tatia tetap memiliki harapan. Harapan untuk bisa menemukan seseorang yang bisa menerima dia karena dirinya sendiri bukan karena embel-embel lain yang melekat pada dirinya.

Tatia ingin menemukan laki-laki yang bisa diajak tumbuh bersama. Laki-laki yang tetap membersamainya dalam tangis dan bahagia. Laki-laki yang tetap menggenggam tangannya meski huru-hara menerpa rumah tangga. Laki-laki yang tetap jadi anak kesayangan ibunya tanpa harus melepas genggaman tangannya.

“Tia, seandainya kita harus LDR apa kamu masih mau bersamaku?”

“Memangnya kamu mau ke mana?” Tatia menatap Artemis dengan bingung.

“Aku ikut tes P3K dan lolos. Tapi penempatannya di luar Jawa Barat.” Artemis langsung tertunduk sedih.

“Wah, asyik dong nanti aku bisa sering-sering naik kereta.” Tatia berdecak kagum.

“Dasar Duta K-A-I.” Artemis menjembel pipinya. Sepertinya dia ingat kalau sepanjang masa kuliah Tatia selalu menggunakan kereta.

“Kita sudah memulai trek ini bersama. Bukankah lebih menyenangkan kalau kita juga mengakhirinya di garis finish yang sama?” Tatia menggenggam tangan Artemis dan menatapnya lekat-lekat.”

“Terima kasih, Tia. Semoga rona merah di pipimu tetap ada meski nanti jarak akan memisahkan kita.” Artemis balik menggenggam tangan Tatia dan tersenyum bahagia.

YN, 13-09-2025


Kamis, 04 September 2025

Perburuan Terakhir Artemis

         


       Penggemar mitologi Yunani pasti bertanya mengapa namaku Artemis bukan Apollo. Mereka pasti tahu kalau dalam mitologi Yunani Artemis adalah saudari perempuan Apollo. Saat kutanya pada Ibu, sambil tersenyum beliau menjawab, “saat itu aku memang menginginkan anak kembar laki-laki dan perempuan, makanya namamu Artemis.” Aku pun akan menjawab seperti itu pada orang yang bertanya.

Misdaceum!” Teriak suara yang sangat kukenal. Aku langsung menoleh ke arah suara itu. Dan dugaanku benar. Itu Dia. Gadis yang sangat ingin kutemui. “Kemah?” Dia menunjuk seragam Pramuka yang kupakai.

“Eh iya, nih. Kamu?” Aku menggaruk kepalaku yang tiba-tiba menggatal. Padahal tadi pagi sudah keramas pakai sampo antiketombe. 

“Aku sedang mengunjungi ibu!” Dia menunjuk tenda yang letaknya tak jauh dari tenda sekolahku. “Tunggu. Nama Ibumu Soraya?” Aku menenbak-nebak. Kebetulan tadi pagi aku bertemu dengan teman ibuku saat melintasi tenda itu.

“Ya. Kok bisa tahu?” Dia tampak kaget.

“Ibuku bilang temannya juga sedang kemah. Aku diminta untuk menyapa temannya itu.” Aku menjelaskan dan dia mengangguk dengan jenaka. “Yuk duduk!” Aku mengajaknya untuk duduk-duduk di depan tenda sekolahku. 

“Aku enggak nyangka kamu jadi guru.” Dia menahan tawa dengan menutupi bibir dengan jemarinya yang lentik itu.

“Aku saja masih merasa mimpi. Aku yang tengil dan tukang bikin rusuh harus mengasuh anak-anak mungil nan bikin hati gundah gulana.” Aku tertawa, menertawakan diri sendiri. Teringat dulu sering bikin ulah di masa sekolah. “Kamu bagaimana kabarmu. Setelah lulus lanjut ke mana?”

“Aku guru bahasa sekarang.” 

“Oh ya! Bahasa korea?” Tebakku asal. Setahuku dia salah satu penggemar K-Pop. 

“Bahasa Sunda.” Dia tersenyum dan senyumnya membuat debar di dadaku menggila. “Aneh ya?” Tanyanya.

“Ah tidak.” Sahutku setelah kembali menguasai diri. “Kuliah di mana?” Aku kembali bertanya. Aku senang mendengar suaranya. Apalagi melihat binar ceria di telaga bening itu.

“UPI.” 

“Bandung?” Aku terbelalak tak percaya. Jadi selama ini kami kembali berada di almamater yang sama tapi baru bertemu lagi sekarang.

“Memang kamu kuliah di sana juga?” Kini gilirannya yang terbelalak.

“Iya. PJOK. Gini-gini juga aku atlet loh.” Aku menyombongkan diri. 

Kami tidak mengobrol lama. Ibunya datang dan mengajaknya pergi. Meski begitu, kami sudah bertukar nomor ponsel. Senang sekali rasanya kembali bertemu dengan dia. 

      Kemah ini membawa berkah. Padahal tadinya aku malas-malasan. Aku yang sering diomeli ibu karena sering mengganggu keponakan-keponakanku malah harus menjaga anak-anak seusia mereka.

      “Sudah kamu sampaikan salam ibu pada Bu Soraya?” Tanya ibu begitu aku pulang ke rumah.

      “Sudah. Bu, anaknya Bu Soraya ternyata teman SMA-ku.” Aku tersenyum senang.

    “Perempuan?” Tanya ibu sambil tersenyum penuh arti. Dia tahu aku jarang sekali membicarakan teman-temanku. Apalagi teman perempuan. 

     Aku hanya mengangguk lalu segera berpamitan ke kamar. Aku tahu ibu akan bertanya lebih jauh. Namun, saat ini aku belum sanggup untuk membaginya dengan ibu.

      Malam harinya aku mencoba menghubungi nomor yang dia berikan. Ternyata dia memberiku nomor yang benar. Tadinya aku kira dia akan dengan sengaja memberiku nomor yang salah. Kalau itu terjadi aku akan meminta ibu untuk meminta nomornya.

       Obrolan pun bermula. Malam itu kami saling berkirim pesan sampai pukul 10 malam. Keesokan harinya kami juga kembali berkirim pesan. Sejak hari itu aku lebih sering melirik ponselku dibandingkan sebelumnya. Aku menanti pesannya. Ini adalah kegiatan baruku. 

      Setelah beberapa lama hanya saling berkirim pesan, akhirnya aku mencoba untuk mengajaknya jalan. Saat dia menerimanya, aku langsung berteriak kegirangan. 

    Meski bukan penyuka makanan berkuah, aku manggut-manggut saja saat dia mengajakku makan ramen. Awalnya aku menahan diri untuk tak bertanya. Setelah cukup lama mengobrol akhirnya aku bertanya tentang pacar. Ternyata dia sudah putus dengan pacarnya. Hubungan mereka berakhir beberapa bulan sebelum kami bertemu. Dia sepertinya cukup terluka dengan perpisahannya itu.

    Ini kesempatanku untuk menjadi obat bagi lukanya. Aku sudah bertekad untuk kembali membuat rona merah di kedua pipinya kembali. Aku tahu hubungan kami mungkin tidak akan berjalan mudah. Apalagi statusku yang masih sebagai guru honor. Namun, aku akan meyakinkan dia bahwa aku serius. Aku ingin kami berakhir di garis finish yang sama. 

       Aku adalah artemis. Seperti halnya namaku yang diambil dari dewi perburuan, maka aku pun akan membidiknya sebagai target utamaku. Target perburuanku yang terakhir. 

YN, 05-09-2025

 

Jumat, 08 Agustus 2025

Frekuensi Yang Sama

 


          Saat menerima SK penempatan aku tertegun. 

        Garut. Tempat yang sudah lama ingin kukunjungi. Tempat yang ditinggali seseorang yang sangat ingin kutemui. Tempat yang akan menjadi saksi pengabdianku pada negeri. Tempat yang mungkin akan membuat ibuku menangis sedih karena harus berjauhan dengan satu-satunya anak laki-laki yang dimiliki.

       Apapun yang terjadi aku akan tetap pergi. Aku ingin menyusuri kembali jejak-jejak yang telah lama kuhindari. Aku ingin kembali menapaki getaran-getaran yang dulu menguji diri. Meski aku tak tahu harus mulai dari mana. Namun aku yakin pasti akan kutemukan juga.

***

“Met! Jamet!” Aku meneriaki gadis jangkung yang sedang memarkirkan motornya. Gadis itu larak-lirik mencari hingga akhirnya tatapannya tertuju padaku. Dia menatapku bak menatap hantu. Wajah cantiknya terlihat bingung. “Akhirnya ketemu.” Ujarku seraya berjalan menghampirinya. “Makin kurus aja, met.” Aku memandangnya dari ujung kaki ke ujung kepala.

“Kamu ngapain di sini?” Janet memandangi seragam warna kaki yang kupakai. Raut wajahnya seakan berkata “enggak salah lo pake baju?”.

“Aku ada acara di sini!” Aku menunjuk ke dalam ruang pertemuan yang sudah mulai dihadiri para pembina PMR dari berbagai sekolah yang ada di kecamatan tempat puskesmasku bekerja berada.

“Kamu pembina PMR juga?” Tanyanya menebak-nebak. Aku langsung tertawa mendengar tebakannya. “Kukira kamu tidak suka jadi guru?” Janet kembali bertanya.

“Aku yang jadi pembicara di kegiatan hari ini!” Ujarku yang langsung mendapat tatapan tajam darinya. “Ini nomor ponselku.” Aku menuliskan nomorku di kertas lalu memberikannya. “Tolong hubungi aku. Aku tunggu.”

“Oh ok.” Sahutnya dengan kebingungan yang belum berakhir.

“Kalau kau tidak juga menghubungi sampai nanti sore. Aku akan mencarimu di seluruh sekolah yang ada di kecamatan ini.” Aku tersenyum lalu segera masuk ke ruangan.

Sebenarnya aku masih sangat ingin bicara dengannya. Aku kangen sekali. Seandainya saja aku tak harus segera masuk dan menyampaikan materi tentang pemeriksaan kesehatan gratis untuk sekolah, aku pasti mengajaknya ke kafe terdekat.

Aku bersyukur acaranya berjalan dengan lancar. Padahal awalnya konsentrasiku sedikit buyar karena bertemu dengannya. Untunglah itu hanya berlangsung sebentar. Aku bisa kembali menguasai diri dan melaksanakan tugasku dengan baik. Aku berterima kasih pada semua undangan yang hadir. Mereka berpartisipasi cukup aktif tentang permasalahan yang aku bahas. 

Setelah kegiatan selesai aku kembali ke tempat kerja untuk menyelesaikan laporan kegiatan hari ini. Di sela-sela menyusun laporan sesekali aku melihat ke ponsel. Janet masih belum juga menghubungi. Sepertinya anak itu memang sengaja. Dia tak mau menghubungiku lebih dulu.

Malam harinya sambil menyeruput es kopi favoritku, iseng-iseng aku mencari tahu tentang sekolah tempat Janet bekerja. Ternyata selama ini dia mengajar di sekolah yang cukup dekat dengan tempatku bekerja. Tunggu saja nanti. Kalau dia tak kunjung menghubungi, akan kudatangi sekolahnya.

***

“Minggat?” Tanyaku sambil menatap gadis di hadapanku yang baru saja berhasil meloncati dinding sekolah. Aku membantu dia mengambilkan tas dari tanah lalu memberikannya. Gadis itu masih diam membisu. Raut wajahnya tampak kesal dan malu. Gadis itu mengambil tasnya dengan paksa lalu melesat pergi meninggalkan aku tanpa kata.

Keesokan harinya aku mencari gadis itu di sekitar sekolah. Sayang usahaku tidak berjalan mulus. Azura, kakak kelas, yang kecentilan itu selalu mendatangiku di jam istirahat. Kadang aku ingin menyuruh dia untuk berhenti datang. Namun dengan lincahnya dia akan menghubungi ayah dan melaporkan semua kenakalanku. Akhirnya kubiarkan saja dia membuat rumor bahwa aku sangat cinta mati padanya.

Sebenarnya aku lebih memilih untuk masuk SMK tapi ayah memaksaku masuk ke SMA. Dia takut aku makin nakal kalau satu sekolah dengan teman-teman yang pernah satu SMP. Ini semua juga demi ibu. Ibu memohon agar aku mengakhiri perang dingin dengan ayah dan menjadi anak manis. Sayangnya tidak semudah itu untuk jadi anak manis. Godaan selalu datang menerjang.

        “Minggat lagi?” Aku kembali bertemu dengan gadis itu saat sedang menikmati permen loli yang kuminta dari teman kelasku yang perempuan.

    “Apa lihat-lihat!” Tatapnya dengan galak. Aku hanya tersenyum menanggapi kejutekannya.

         “Idih galak amat.” Aku melemparinya senyuman tapi gadis itu membuang muka.

        “Bodo!” Gadis itu mengambil tasnya lalu pergi.

       Kali ini aku tak membiarkannya pergi begitu saja. Aku berniat mengikutinya. Aku tak ingin kehilangan jejaknya lagi. Aku tahu gadis itu tak ingin diganggu, sayangnya aku tak peduli. Hari ini aku tak ingin kehilangan lagi.

         “Apa maumu?” Gadis itu tiba-tiba berbalik dan menatapku nyalang.

         “Namamu? Siapa namamu?” Aku membalas tatapannya tanpa gentar.

         “Janet.” Sahutnya sambil kembali berjalan.

    “Oh Jamet?” Aku tertawa lalu kembali mengekorinya. “Apa alasanmu minggat?” Tanyaku penasaran. 

        “Pelajaran sejarah.” Ujarnya dengan ketus. 

       “Kalau aku sih pelajaran Bahasa Arab.” Aku menjelaskan tanpa ditanya. Dia langsung memberiku tatapan “emangnya gue nanya?”. 

      Itulah awal kedekatan kami. Sejak hari itu kami sering kabur bersama. Kami biasanya duduk-duduk di lapangan olahraga atau minimarket sambil menikmati kopi. Saat itu yang ada dipikiran kami hanyalah melarikan diri dari hal yang tak disuka. Kalau dipikir lagi sekarang, kelakuan kami saat itu benar-benar konyol. 

     Saat ketahuan sering kabur, kami pernah dihukum bersama. Kami harus menyapu halaman sekolah yang luas itu. Namun saat itu kami melakukannya tanpa mengeluh. Kami malah bercanda dan tertawa. Kami berjanji untuk berusaha lebih betah tinggal di kelas, apapun pelajarannya. Ya, karena ketika naik kelas 11 ternyata kami satu kelas. Itu merupakan kebahagiaan tak terkira untukku.

      “Met, kamu pacaran sama si Aldo?” Aku menanyainya saat kami merapikan peralatan praktikum di lab. Kali ini bukan karena dihukum, kami melakukannya untuk membantu guru IPA kesayangan kami.

       “Kalau iya kenapa.” Dia menjawab sambil lalu. Wajahnya tampak biasa. Dia tak sadar kalau laki-laki di hadapannya sedang menahan marah. “Pekerjaanku selesai. Aku mau ketemu Aldo di kantin.” Dia meninggalkanku sendirian.

        Sejak saat itu kami mulai jarang bicara. Janet sibuk dengan pacarnya sedangkan aku sibuk dengan kemarahanku padanya. Kadang aku tak mengerti mengapa dia lebih memilih Aldo. Aku yang selalu disisinya. Aku yang tahu semua tentangnya. Namun Aldo yang menerima cintanya.

***

“Kara, kenapa ketemu di sini?” Janet melirik ke kanan dan ke kiri saat tiba di lapangan olahraga Kerkhof. Aku tahu gadisku ini lebih memilih rebahan di kamar sambil melihat video di youtube atau tiktok.

“Ini adalah kegiatan yang selalu kuimpikan. Berolahraga bersama.” Sahutku sambil mengajaknya masuk ke lintasan untuk jalan kaki.

“Kalau nanti kita ketemu muridku bagaimana?” Janet terlihat khawatir.

“Kita berada 20 Km dari sekolah tempatmu bekerja. Kemungkinan bertemu dengan mereka sangat kecil. Lagipula apa masalahnya kalau bertemu dengan mereka. Aku kan bisa sekalian kenalan. Aku ingin tahu bagaimana kau di sekolah.”

“Rendra Bagaskara!” Janet memanggil nama lengkapku. Dia biasa melakukannya kalau aku membuatnya kesal.

“Ya sayang.” Aku makin menggodanya. Dia menatapku dengan berapi-api. “Ayo kejar aku Zara Janetra Bagaskara.” Aku sengaja memanggil nama lengkapnya dan menambahkan namaku di belakangnya. Aku segera berlari karena dia mulai mengejarku. Aku sengaja melakukannya agar dia mau bergerak. Kalau sedang marah dia akan sanggup mengejarku bahkan dengan tertatih. 

   “Aku lelah!” Janet berhenti berlari dan memegangi pinggangnya dengan napas tersengal.

       “Ayo beli minum dulu!” Aku melambatkan langkahku, berbalik menghampirinya lalu menuntunnya ke pinggir lapang. “Jadi kenapa saat itu kau pacaran dengan Aldo?” Tanyaku sambil menggenggam tangannya dan mengajaknya duduk di pinggir lapang setelah kami membeli minum.

      “Karena Aldo yang memohon. Lagipula saat itu aku malas didatangi terus oleh Kak Azura. Dia selalu mengancamku agar menjauhimu.” 

        “Lalu kenapa kau putus dengannya?”

     “Karena dia juga yang meminta.” Jawabannya membuatku gemas. Ingin sekali aku menjembel pipinya. Namun dia pasti mengamuk.

      “Met, Met. Kau ini tak punya keinginan apa? Mau aja diperlakukan seperti itu sama Aldo.”

       “Kau sendiri. Mau-maunya dirumorkan bucin pada Kak Azura.” Janet mencibir.

       “Aku melakukannya karena dua alasan.”

       “Apa alasannya.”

      “Pertama agar dia tidak melaporkan kenakalanku pada ayah. Dan yang kedua ....” Aku sengaja menggantungkan kata-kataku agar dia penasaran.

       “Apa yang kedua?” Tanyanya dengan mata yang penasaran.

      “Supaya kamu cemburu.” 

      “Kenapa aku harus cemburu?” Janet mengernyit.

     “Karena aku tahu sejak awal hatimu berada di frekuensi yang sama dengan hatiku.” Aku bicara sambil menatapnya tajam dan menggenggam tangannya. “Kali ini aku tak akan melepasnya lagi.” Aku mengacungkan genggaman tangan kami ke udara. Dia mengangguk lalu tersenyum. 

YN, 09-08-2025


Jumat, 01 Agustus 2025

Alur Yang Sama

 


                  Sunyi.

        Kata yang selalu disenangi Janet. Janet tidak suka keramaian. Janet lebih memilih diam di kamar sambil melihat-lihat video di youtube dibandingkan berada di keramaian. Waktu liburnya dia manfaatkan untuk tidur dan rebahan. Energinya sudah terkuras habis dari Senin hingga Jumat.

        Apakah dia kesepian? Jawabnya tidak. Dia masih punya ibu yang sangat asyik untuk diajak bicara. Setiap pulang ke rumah ibu pasti mengajaknya mengobrol. Janet sangat bersyukur karenanya. Dia masih belum bisa membayangkan seandainya ibunya dipanggil Sang Pencipta. Dia masih belum rela. Dia masih sangat membutuhkannya.

       Ibu adalah rumah tempatnya pulang dari semua kelelahan. Janet berusaha berdiri tegak di tengah gempuran pertanyaan “Kapan menikah?atau “Di tunggu undangannya”.  Dia berusaha tetap tersenyum dan tak ambil pusing. Dia percaya Sang Pencipta sudah menyiapkan seseorang untuknya. Hanya saja orang itu belum datang.

         Janet bahagia dengan hidupnya. Dia bersyukur atas apa yang telah dianugerahkan Sang Pencipta. Namun kini semua ketenangan dan kedamaian itu terusik oleh kedatangannya.

         “Syehrazad kenapa?” Yuri bertanya pada Rosa yang sedang asyik menonton drama china di ponsel canggihnya.

          Rosa mengalihkan pandang dari ponselnya lalu berbisik, “Enggak tahu, anak itu dari tadi diam terus. Lagi pindah ke Turki kali?” Rosa tertawa.

           “Apa mungkin dia sudah ketemu si Onur?” Yuri tergelak.

        Ketika Yuri dan Rosa sedang tergelak, tiba-tiba Janet bangkit dari kursinya lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Dia melihat ponselnya sebentar lalu berjalan tergesa menuju gerbang. Di belakangnya Yuri dan Rosa melongo heran.

***

         “Sudah terima makanannya?” Tanya seseorang di seberang sana saat Janet baru selesai mengambil makanan dari kurir.

“Kamu lagi banyak duit ya?” Tegur Janet berusaha terkesan galak padahal hatinya senang tak terkira.

Enggak juga. Tadi kebetulan lewat ke toko dimsum. Sudah dulu ya! Aku ada janji sama teman-teman mau basket.”

“Masih suka basket ternyata.” Janet tersenyum mengingat masa SMA.

“Bukan hanya basket yang masih aku suka. Orang yang sekarang bicara denganku juga masih aku suka.”

Mendengar kata-kata itu Janet langsung mengalihkan pembicaraan. “Sudah dulu ya! Aku lapar. Mau makan dimsum.”

“Baiklah! Sampai jumpa hari Sabtu nanti. Awas jangan pura-pura lupa!” Ancamnya.

Janet menutup pembicaraan lalu kembali ke UKS. Di UKS kedua sobatnya sudah siap dengan naskah interogasi mereka.

“Dimsum nih?” Yuri melirik dimsum di tangan Janet yang sudah kembali ke UKS.

“Pesen makanan kok enggak ngajak-ngajak.” Tegur Rosa sambil mengedip-ngedipkan mata  pada dimsum di tangan Janet.

“Oh ini tadi dikirim orang.” Janet bicara sambil tertunduk malu lalu duduk di karpet tempat mereka biasa makan-makan.

Mendengar hal itu baik Yuri maupun Rosa langsung saling pandang dan tergelak.

“Jadi siapakah dia?” Mode detektif Yuri langsung aktif. Dia menatap Janet dengan tatapan maut.

“Teman.” Sahut Janet dengan wajah bersemu merah.

“Baik amat temennya sampai ngasih dimsum.” Rosa menatap tak percaya.

“Teman SMA. Dia baru saja ditugaskan di Puskesmas.”

Mendengar nama puskesmas disebut, Rosa dan Yuri langsung berpikir keras. Dua bulan yang lalu Janet mengantar Rosa ke acara pertemuan para pembina UKS dengan pihak Puskesmas.

“Coba ceritakan si teman ini!” Yuri kembali beraksi.

“Ya waktu itu ketemu pas nganter kak Ocha. Aku juga enggak nyangka bisa ketemu lagi sama dia.”

Singel kan?” Yuri menatap tajam dan Janet langsung mengangguk. “Kalau begitu, gas.” Yuri menyemangati.

“Apanya yang gas?” Janet pura-pura tak mengerti.

“Mau gue datengin ke Puskes?” Gertak Rosa gemas melihat tingkah Janet.

“Ayo!” Yuri bersemangat. Bakat terpendamnya sebagai mak comblang kembali mencuat.

“Ih jangan. Kalian malu-maluin aja.” Janet langsung menolak dengan tegas. Lalu membuka bungkus dimsum dan mulai memakannya.

“Okelah kalau begitu.” Seru Yuri dan Rosa sambil ikut menikmati dimsum.

***

            “Hai!” Sapa Janet dengan senyum yang tiba-tiba jadi makin serinng menghiasai wajahnya.

“Halo. Yuk, pergi!” Yang disapa menyerahkan helm lalu meminta Janet segera naik ke jok motor di belakangnya.

“Jadi kita mau pergi ke mana?” Tanyanya setelah memakai helm dan duduk dengan nyaman.

“Lihat saja nanti!” Sahutnya sambil menutup kaca helm lalu mulai menjalankan motornya.

Awalnya Janet bingung antara harus pegangan ke bajunya ataukah ke bagian belakang jok. Dia terbiasa mengendarai motor sendiri sehingga merasa kurang nyaman saat harus dibonceng orang.  Setelah lama berpikir akhirnya Janet berpegangan pada jaketnya.

“Curug?” Janet tertegun saat mereka sampai di tujuan.

“Ya. Kamu pasti belum pernah ke sini.” Dia tersenyum senang melihat Janet yang memandangi keadaan sekeliling dengan takjub. “Ayo!”

Janet membiarkan dirinya ditarik untuk berjalan menuruni anak tangga menuju Curug Orok yang ada di bawah mereka. Dia tidak sedikit pun protes meski kakinya merasa pegal dan lelah. Dia membiarkan dirinya mengikuti keinginan laki-laki di hadapannya yang tengah tersenyum riang.

“Kau baik-baik saja?” Dia menatap Janet yang sedang mengatur napasnya. “Kau tidak mengomel?” Lagi-lagi dia tersenyum riang. “Betapa jarak dan waktu mampu mengubah keadaan seseorang.” Dia berdecak kagum lalu duduk di samping Janet. “Kau tahu Met, betapa bahagianya diriku saat melihatmu hari itu. Akhirnya semesta berpihak padaku.” Dia tersenyum sambil memandangi air terjun di hadapan mereka.

“Sejak kapan kamu jadi puitis begini?” Janet yang mulai mendapatkan ketenangannya akhirnya berkomentar. Laki-laki di hadapannya ini telah tumbuh jadi orang yang berbeda. Dia yang selalu memanggilnya “Jamet” hanya sekedar untuk membuatnya kesal, tiba-tiba jadi puitis.

“Sejak dulu. Kau saja yang tak pernah memberiku kesempatan untuk menunjukkannya.” Dia kembali tersenyum dan senyumnya menular. Senyum yang kini tak lagi dirasa Janet sebagai gangguan. Dulu dia benci sekali melihat senyuman itu. Senyuman yang selalu muncul di wajahnya setelah berhasil membuatnya kesal. “Kau tahu mengapa sampai saat ini aku masih sendiri?” Tanyanya tiba-tiba.

“Mungkin karena semua perempuan yang kau pelet sudah kembali normal.” Jawab Janet asal.

“Enak saja.” Dia manyun lalu menjitak kening Janet. “Susah sekali sih bicara serius denganmu.” Dia menyerah lalu meninggalkan Janet untuk pergi bermain air.

Sementara laki-laki itu asyik bermain air, Janet memandanginya dalam diam. Janet senang bisa dipertemukan kembali dengannya. Namun Janet tak yakin apakah kali ini kisah mereka bisa berakhir dalam satu alur yang sama ataukah hanya sekedar berpapasan sebelum kembali ke alur masing-masing.

YN, 01-07-2025

 

 

             

Jumat, 18 Juli 2025

Ada Akhtar dalam Tawa Safia


 "Meski usiaku lebih muda tak berarti cintaku lebih labil. Kau hanya tak ingin mengakui saja kalau sebenarnya hatimu mulai tergerak." Akhtar tersenyum getir. Dia mengambil ranselnya dari kursi lalu pergi. Meninggalkan Safia tertegun dalam kedalaman makna di balik kata-kata Akhtar.

Bukan baru kali ini Akhtar pergi dengan hati yang kesal. Dia sudah seperti ini sejak sembilan tahun yang lalu. Meski begitu dia tetap menemui Safia. Dia yakin suatu hari nanti Safia akan merasakan ketulusan hatinya. 

***

Safia bukannya tak paham dengan apa yang dirasakan Akhtar. Namun hingga saat ini Safia masih tak ingin mengakuinya. Baginya Akhtar adalah sosok yang terlarang. Sebisa mungkin Safia harus menghindarinya. 

Akhtar adalah sahabat baik adiknya. Usia Akhtar empat tahun lebih muda darinya. Akhtar adalah keponakan Zaki, mantan pacar yang meninggalkannya untuk menikahi perempuan lain. Dan ibu tidak menginginkannya sebagai menantu.

Safia ingin seseorang yang dapat diterima ibu dengan baik. Ibu sudah terlalu sering mengutarakan kekecewaannya terhadap Safia. Ibu selalu berharap Safia menjadi Bidan seperti dirinya. Saat Safia memutuskan untuk masuk ke fakultas keguruan ibu pernah tidak bicara padanya. Ibunya juga pernah kembali mendiamkannya saat dia putus dengan Zaki.

Zaki adalah menantu yang ibu dambakan. Ibu sangat berharap Safia menikah dengannya. Saat Safia mengatakan alasan dibalik putusnya hubungan mereka, ibu menyalahkan Safia. Ibu mengatakan Safia terlalu dingin padanya.

 Mungkin pendapat ibu ada benarnya. Bersama Zaki Safia tidak merasa menjadi dirinya sendiri. Dia selalu menjadi Safia putri yang diharapkan ibu. Lain halnya saat dia bersama dnegan Akhtar. Akhtar membuat Safia merasa menjadi dirinya sendiri. Akhtar tak pernah mengomentari tingkahnya yang kadang masih kekanakan dan tidak terlalu bisa berdandan.

“Nunna, kau boleh melepasnya!” Saran Akhtar saat melihat Safia merasa kelelahan berjalan memakai highheels. Dia melepas sepatunya lalu memberikannya pada Safia untuk dipakai. Saat Safia hanya diam, dia pun berjongkok lalu menggantikan highheels dengan sepatu ketsnya lalu menjinjing highheels itu. “Pakailah dulu, nanti kita beli sandal jepit di depan.” Akhtar tersenyum lalu kembali mengajak Safia jalan. “Kenapa kau memaksakan diri untuk memakai ini!" Akhtar mengacungkan highheel yang dipegangnya.

“Zaki selalu mengejekku pendek dan tidak feminim.” Keluhnya sambil tertawa.

“Bersamaku kau tak perlu memakainya. Kau boleh memakai apapun sesukamu!” Akhtar berkata dengan sungguh-sungguh. 

“Terima kasih. Maaf gara-gara aku kamu harus nyeker.” Safia merasa bersalah melihat Akhtar harus berjalan tanpa alas kaki.

“Kalau kau merasa bersalah, seharusnya kau menerimaku.” Akhtar memancingnya.

“Jangan mulai!” Safia memelototinya. Akhtar tidak gentar. Dia malah tertawa lebar.

Safia merindukan hari-hari itu. Hari di mana dia dapat tertawa gembira bersama Akhtar.

***

“Minggu ini kau tidak pulang juga?” Tanya Prof. Andi pada Jumat Sore Ketika mereka baru selesai mengajar. Biasanya Safia langsung pulang ke Garut begitu jam mengajarnya selesai di hari Jumat. Namun sudah tiga kali Jumat Safia malah menemani Prof. Andi mengajar.

“Aku janji akan menemani Namia jalan-jalan.” Sahutnya sambil merapikan lapotop ke dalam tasnya. Mendengar nama anaknya membuat Prof. Andi tertawa.

“Kalian pasti akan menggosipkan aku?” Tuduhnya sambil tertawa. 

“Apa asyiknya membicarakan Anda.” Safia langsung mencibir, sebal.  

“Namia kesepian sejak ibunya meninggal. Makanya dia sangat bergantung padamu.” Prof. Andi tersenyum malu. Anak semata wayangnya sudah lengket dengan Safia sejak pertama mereka bertemu.

“Makanya segera carikan dia ibu baru.” Safia menyarankan.

“Dia maunya kamu.” Prof. Andi menggoda Safia.

“Anda mulai lagi.” Safia meninju bahu Prof. Andi yang berjalan di sampingnya.

“Aku serius. Dengan menjadikanmu istriku maka orang akan berhenti menjodoh-jodohkan kita.” Prof. Andi tersenyum mengingatkan.

“Tapi saya tidak tertarik menjadi istri Anda.” Kata Safia dengan yakin. 

“Kalau ada laki-laki semuda dan setampan Akhtar, tentu saja aku kalah telak.” Prof. Andi mengingatkan Safia. “Kau terima saja dia. Dan aku tak akan mengungkit lagi tentang hal ini.” Sarannya sambil meninggalkan Safia dan pergi menuju mobilnya.

***

Safia sengaja tidak pulang ke Garut karena dia malas ditanya-tanya oleh ibunya. Setiap pulang, ibu selalu bertanya kapan dia akan menikah. Safia bosan menjawabnya. Safia juga tak ingin pulang karena ibu selalu berusaha menjodohkan dia dengan anak teman-temannya.

Sauqi juga pernah bertanya mengapa dia tidak menerima Akhtar saja. Dengan begitu ibu akan berhenti bertanya. Namun Safia merasa itu bukan penyelesaian yang baik. 

“Dia teman adikmu, Fia.” Tegur Ibu saat melihat keakrabannya dengan Akhtar. Ibu memperlihatkan wajah yang tidak senang saat menegurnya.

“Memangnya kenapa?” Tanya Safia menatap ibu bingung. Dia tidak merasa ada yang salah dengan sikapnya.

“Carilah laki-laki yang lebih tua. Laki-laki yang matang secara umur dan finansial. Demi kebaikanmu sendiri.” 

Karena kata-kata ibulah sekarang Safia mencoba menjaga jarak dengan Akhtar. Safia tahu Akhtar pasti sakit hati. Mungkin sekarang dia akan menyerah dan melupakannya.

***

“Fia, kamu apain lagi si Akhtar?” Todong Sauqi saat mengunjunginya di rumah kontrakan. Dia terlihat kesal. Dan ini bukan pertama kalinya dia sekesal ini.

“Tidak ada. Memangnya kenapa?” Tanya Safia menoleh pada adiknya sejenak lalu kembali fokus pada novel yang sedang dibacanya.

“Sudah beberapa hari ini unggahan di media sosialnya selalu berisi ungkapan patah hati.” Sauqi menarik napas panjang. Dia merebahkan diri di sofa dan matanya memandangi langit-langit. Dia termenung selama beberapa saat. “Awalnya aku mengira cintanya padamu hanya sekedar guyonan. Ternyata dia serius. Cintanya padamu berhasil mengubahnya jadi laki-laki sejati.” Sauqi mengubah posisinya jadi duduk dan memandangi Safia yang sedang asyik membaca novel. “Baru kali ini aku melihatnya segalau itu. Memang tidak sampai menangis seperti waktu itu.” 

“Akhtar menangis? Kenapa? Kapan?” Safia jadi penasaran. Setahunya Akhtar adalah laki-laki tangguh. Dia menatap Sauqi dan menantikan jawaban.

Sauqi tidak segera menjawab. Dia mengulur-ulur waktu sambil mengetuk-ketuk pelipisnya. “Saat tahu kau memilih pamannya,” lanjutnya setelah merasa yakin. “Apa kali ini juga kau akan memilih professormu itu dibandingkan dia?” Sauqi menduga-duga. 

“Dia mentorku. Dia mengisi kekosongan yang ditinggalkan ayah.” Safia meninggikan suaranya. Dia sedikit terpancing emosi. Bukan hanya Sauqi yang beranggapan kalau Safia dan Prof. Andi memiliki hubungan romantis, teman-temannya juga pernah ada yang berkomentar tentang itu. “Aku mengizinkanmu menikah lebih dulu. Mengapa tidak kau lakukan?” Safia menatap tajam pada adiknya.

“Ibu tidak setuju tentang itu. Dia akan merestui pernikahanku kalau kau sudah memiliki calon.” Sauqi kembali menghembuskan napas panjang.

Hari itu setelah Sauqi pulang, Safia tertegun memandangi buku hariannya. Dia membaca kembali curahan hatinya tentang Akhtar. Kalau harus jujur, dia memang memiliki perasaan untuknya. Perasaan yang sampai kini selalu berusaha untuk ditolaknya. Perasaan yang selalu berusaha dia tutup-tutupi.

***

Safia baru saja mendaratkan pinggulnya di sofa setelah seharian menghabiskan waktu bersama Namia, ketika Sauqi datang dengan napas yang ngos-ngosan. 

“Kamu kenapa?” Safia mengajaknya duduk dan menuntunnya untuk menarik napas secara lebih santai. Setelah itu dia mengambilkan minum dan memberikannya pada Sauqi. “Apa yang terjadi?” Tanya Safia setelah adiknya lebih tenang.

“Akhtar kecelakaan, Fia. Kemarin mobilnya menabrak pembatas jalan. Hingga saat ini dia masih belum sadar. Dokter mengatakan keadaannya kritis. Mamanya memintaku membawamu.”

Mendengar hal itu tubuh Safia langsung merasa lemas. Air mata langsung merebak dan memenuhi pelupuk matanya. Rasa takut tiba-tiba saja menjalari tubuhnya. 

“Fia, kau baik-baik saja?” Sauqi mengguncang tubuh kakaknya yang tiba-tiba mematung.

“Bawa aku kesana!” Safia memohon pada adiknya setelah berhasil menguasai dirinya lagi.

“Mari kita pergi!” Sauqi menggandeng kakaknya.

Saat sampai di ruang perawatan intensif, Safia langsung disambut oleh mamanya Akhtar. Dia langsung menggandeng Safia dan membawanya menemui Akhtar.

“Dia menunggumu, nak!” Bisik mama Akhtar dengan mata yang sembab dan berkabut. Safia mengangguk lalu mendekat ke ranjang pasien.

“Tar, aku datang!” Bisik Safia di telinga Akhtar sambil menahan tangis. “Berjuanglah lagi. Kali ini aku menunggumu di garis finish.” Bisiknya.

***

Satu bulan berlalu, Safia belum mendengar kabar dari Akhtar. Dia sibuk menggantikan tugas Prof. Andi untuk memberikan kuliah di daerah Tasik. Prof. Andi harus pergi ke Sidney untuk seminar. Dia mendelegasikan semua tugasnya pada Safia. 

“Kamu?” Safia menatap tak percaya pada laki-laki yang sedang berdiri di depan fakultasnya. 

“Aku datang untuk menagih janji.” Akhtar menghampirinya lalu mengambil tas laptop yang dipegang Safia. “Kau bilang menungguku di garis finish.” Lanjutnya saat melihat Safia mematung. “Bukankah garis finish yang kau maksud adalah pelaminan?” Akhtar melepas cincin dari gantungan kunci mobilnya lalu memakaikannya di jari manis Safia.

“Aku belum bilang ya.” Safia menarik tangannya dan memandangi cincin indah itu.

Akhtar tersenyum lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menelepon seseorang. Setelah itu dia memberikan telepon pada Safia. Ternyata Akhtar menghubungi ibu.

“Sauqi sudah cerita semua Fia. Maafkan ibu. Pulanglah bersama Akhtar. Mari kita bicarakan pernikahanmu dengannya.” Nada suara ibu terdengar senang. 

“Terima kasih, ibu.” Bisik Safia dengan mata berkaca-kaca.

“Sama-sama sayang.”


                                                                                                                YN, 18 Juli 2025

Tertinggal di Hati

  If only you could see the tears In the world you left behind If only you could heal my heart Just one more time Even when I close my eyes ...