If only you could see the tears
In the world you left behind
If only you could heal my heart
Just one more time
Even when I close my eyes
There's an image of your face
And once again I come to realize
You're a loss I can't replace
In the world you left behind
If only you could heal my heart
Just one more time
Even when I close my eyes
There's an image of your face
And once again I come to realize
You're a loss I can't replace
Setiap mendengar lagu Westlife yang berjudul Soledad, benak Tian selalu dipenuhi kenangan tentang hari itu. Hari saat Azril mengabarkan kalau Izam, pacar Tian kembali pada mantannya. Selesai bicara dengan Izam, Tian menyalakan radio dan sebuah stasiun memutar lagu itu. Benar-benar momen yang pas untuk hati yang patah.
Tian dan Izam memang baru putus. Izam yang memutuskan hubungan mereka. Saat itu Tian merasa sangat bersalah karena berkata pada Izam ingin rehat sejenak dari hubungan mereka. Tian tidak ingin putus. Dia hanya ingin memberi sedikit ruang pada diri masing-masing.
Tian sedang merasa sedikit jengah atas ocehan keluarga ibunya yang sering kali membahas kedekatan mereka. Keluarga ibunya selalu mengomentari Izam yang selalu membersamai Tian saat berangkat dan pulang sekolah. Namun tanggapan Izam ternyata di luar dugaan. Dia mengatakan lebih baik mereka berpisah. Saat itu Tian merasa bersalah karena Izam tiba-tiba minta putus.
Delapan bulan bukan waktu yang singkat bagi Tian. Izam adalah laki-laki pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Tian yang selalu perhatian dan lebih cepat berteman dengan laki-laki, tidak pernah merasa jatuh cinta. Meski ada beberapa laki-laki yang mencoba mendekatinya, hati Tian tidak tergerak. Namun semua sifat dan perhatian yang diberikan Izam membuat hatinya tergerak.
Izam penuh perhatian dan membuat sisi manja Tian terpenuhi. Izam tidak pernah marah meski Tian sering menggodanya. Hal itulah yang membuat Tian iseng mengerjainya. Tia pernah berpura-pura menyukai Azril, sahabat Izam, hanya untuk mengetahui bagaimana Izam saat marah.
Saat itu Izam memang marah. Namun dia marah karena tak bisa selalu menemani Tian. Izam harus pulang ke kampung halaman untuk menengok ayahnya. Selama ini Izam tinggal bersama neneknya, yang merupakan tetangga Tian.
Saat itu Izam berkata, "Kau tahu Tian, aku merasa tidak enak hati saat pulang ke rumah ayah. Ternyata di sini kau menduakan hati."
"Aku hanya bercanda. Aku tidak benar-benar menyukai Azril. Aku hanya ingin membuatmu marah."
"Selamat kau sukses membuatku marah." Tatapnya dengan mata yang terluka.
"Maafkan. Aku tak akan pernah lagi bercanda seperti itu."
"Baik. Tapi mulai sekarang kau tidak boleh berdekatan dengan Azril."
"Ok bos!"
Tian menepati janjinya. Dia tidak lagi bercanda tentang perasaannya. Dia tidak mau lagi melihat tatapan penuh luka yang tertinggal di mata Izam. Sebelum berpacaran dengannya, Izam pernah diselingkuhi oleh pacarnya. Saat Tian menggodanya tentang balikan dengan mantannya, Izam sering mengatakan, "Aku tak akan pernah menjilat ludah yang sudah kubuang."
Namun kenyataannya Izam kembali pada mantannya. Padahal saat itu mereka masih bersama. Beberapa hari sebelum kedatangan Azril, ada teman yang tiba-tiba menghubungi Tian. Temannya itu mengatakan kalau dia melihat Izam sedang main ke rumah Zara, mantannya. Dengan penuh keyakinan Tian mengatakan kalau temannya itu mungkin salah lihat. Ternyata kenyataannya memang benar Izam ada di sana.
"Apa kau temanku?" Tian menatap Azril dengan tatapan penuh luka. "Mengapa kau tidak menceritakannya sebelum kami putus?" Tian setengah berteriak pada Azril.
"Aku tak ingin menghancurkan hubungan kalian."
Terkadang Tian merasa lebih baik dia tidak tahu kalau Izam berselingkuh di belakangnya. Baginya tidak masalah kalau Izam ingin kembali pada mantannya. Namun waktu yang Izam pilih untuk kembali pada mantannyalah yang tak bisa dia terima. Dia merasa dikhianati. Kepercayaannya hancur berkeping-keping. Izam yang begitu baik bisa berbuat setega itu padanya. Izam yang berkata bahwa balikan pada mantan itu seperti halnya menelan kembali ludah yang sudah dikeluarkan. Izam yang mati-matian mengatakan kalau tak mungkin kembali pada perempuan itu.
Sesakit apapun hatinya, rasa di hati Tian tidak ikut mati. Cinta itu masih ada. Harap itu masih menyala.
Dia hanya tidak bertemu dengannya selama dua minggu. Mereka kembali bermain bersama. Saat itu Izam sudah putus karena perempuan itu kembali menduakannya.
Tian yang masih cinta, diam-diam menyimpan harap. Dia masih berharap mereka bisa kembali bersama. Dia tahu hatinya sakit dan tak akan mungkin bisa sembuh begitu saja. Namun dia tak ingin benar-benar kehilangan Izam. Dia berharap Izam berubah. Dia berharap Izam bisa menyembuhkan luka yang ditorehkannya.
Ternyata harapannya kosong. Izam hanya fokus dengan dirinya sendiri. Fokus dengan lukanya sendiri. Dia tidak pernah berpikir kalau Tian juga terluka. Izam hanya merasa dirinyalah yang paling terluka. Sejak saat itu Tian menjauh. Dia mencoba dekat dengan orang lain. Usahanya selalu gagal. Setiap laki-laki yang dekat dengannya tiba-tiba mundur. Awalnya Tian tidak mengerti mengapa seperti itu.
Suatu hari dia melihat tulisan Izam. Tulisan itu berisi kalau Izam masih sangat mencintai Tian. Dalam tulisan itu Izam mengatakan dia belum mampu merelakan Tian bersama orang lain. Namun Izam masih bertarung dengan lukanya sendiri.
Sekali lagi Tian terluka. Luka yang ini meninggalkan bekas yang sangat lama. Luka yang masih Tian rasakan sampai sekarang. Hingga Tian pun berpikir, dia tidak perlu kata maaf dari bibir Izam. Tian hanya ingin Izam menunjukkan niat dan tindakannya untuk benar-benar memperbaiki kesalahan. Namun hal itu tak pernah Izam wujudkan.
Waktu berlalu tapi luka itu masih terasa baru.
"Mungkin aku bodoh. Aku berharap dia mengobati lukaku. Padahal seharusnya, akulah yang menyembuhkan diriku sendiri."
"Kau masih belum benar-benar melupakannya?" Azril menatap Tian dengan sedih.
"Kau tahu Azril kepercayaan itu seperti halnya gelas. Sekali retak maka tak akan pernah sama lagi."
"Apa kau masih berharap bisa kembali bersamanya?"
Dengan tegas Tian menggeleng.
"Aku tak yakin diriku bisa mencintainya lagi seperti dulu. Aku tak ingin terus dihantui ketakutan bahwa suatu hari dia akan kembali mengulangnya. Aku tak tahu sehancur apa jika itu sampai terjadi."
"Aku tak menyangka dua orang yang begitu saling mencintai dapat berakhir seperti ini."
"Mungkin akulah yang memberinya ruang untuk melakukan pengkhianatan. Atau cinta kami mungkin tak sebesar yang kami kira. Yang jelas hubungan kami tak akan pernah bisa kembali seperti semula."
"Semoga kau bisa kembali bahagia, Tian."
"Semoga." Tian tersenyum pada Azril lalu pamit pulang.
Hari berganti tapi beberapa kenangan masih tertinggal di hati
Kenangan itu seolah tak akan pernah pergi
Diam bersembunyi mengisi ruang emosi
YN, 21-01-2026