Jumat, 08 Mei 2026
Mak Lampir Juga Perempuan 2#
Jumat, 17 April 2026
Mak Lampir Juga Perempuan 1#
Lima tahun sudah berlalu tapi kenangan tentang Azzura tetap tinggal di benak Elzar. Elzar masih sering mencari tahu tentang keberadaanya. Meski Elzar tahu Azzura tak ingin mengenalnya lagi, dia tetap berharap. Baginya hanya Azzura satu-satunya yang mampu membuat hatinya berdebar kencang selain kopi.
“Zar, kemarin aku bertemu mantan istrimu.” Zami yang baru datang menghampiri meja Elzar. Melihat Elzar tidak menunjukkan reaksi apa-apa, Zami pun kembali melanjutkan. “Kami mengobrol sebentar. Katanya dia baru kembali setelah bertugas selama 5 tahun di Kuningan.”
“Jadi selama ini dia bersembunyi di sana.” Elzar akhirnya memberikan tanggapan.
“Kamu masih mencarinya?” Zami menatap Elzar dengan penasaran. Elzar tidak menjawab. Dia hanya menanggapi rasa penasaran Zami dengan senyuman. “Sudah lima tahun berlalu.” Zami mengingatkan.
“Aku tahu. Tapi sehari pun aku tak pernah bisa melupakannya.” Elzar tersenyum tipis.
“Waktu itu kenapa sih kalian memilih berpisah?” Zami menarik kursi dan menyimpannya di dekat meja kerja Elzar. Selama ini dia benar-benar penasaran.
“Kapan-kapan aja deh ceritanya. Aku lagi sibuk?” Elzar menunjuk layar komputernya yang sedang memuat barisan kode program yang sedang dijalankan.
“Baiklah!” Zami menyerah karena dia juga harus mulai bekerja.
Setelah Zami pergi, Elzar membuka akun Instagramnya di ponsel dan mencari akun Azzura. Unggahan terakhir perempuan itu menunjukkan dia sedang duduk di kedai kopi sambil menulis. Saat tahu dia tidak mengunci akunnya, Elzar pun mulai melihat-lihat unggahannya.
Uang jajan Mak Lampir sepertinya habis, Elzar bergumam. Dia tertawa lalu kembali menggulir unggahan di akun Azzura. Dia berusaha mencari-cari foto terbarunya tapi tak satu pun dia menemukannya.
Seperti apa dia sekarang? Elzar bertanya-tanya.
Setelah mereka selesai mengurus perceraian, Azzura menghilang. Azzura tak mau bertemu dengan Elzar. Azzura benar-benar memutuskan komunikasi dengannya.
“Kata Zami, Zu sudah kembali ke Bandung.” Elzar menelepon kakaknya, yang juga sahabat baik Azzura.
“Iya. Sudah hampir satu tahun malah.” Sahut Elvira dengan santai.
“Kok enggak ngasih tahu?” Elzar sedikit kesal.
“Dia yang melarangku. Kami baru dekat lagi setelah empat tahun, aku tak mungkin mengkhianatinya.” Elvira membela diri.
“Dan kau tidak merasa bersalah pada adikmu ini?” Elzar mengeluh.
“Kau sendiri yang buat masalah.” Elvira mengingatkan.
“Iya aku tahu. Aku terlalu asyik dengan duniaku. Aku menganggap semua baik-baik saja hingga akhirnya dia pergi.”
“Kau baru tahu betapa berartinya dia setelah kau ditinggalkan.”
“Sudahi ceramahnya bu guru!” Protes Elzar. “Apa dia sudah menikah lagi?”
“Setahuku belum.” Elvira memberi jeda pada jawabannya. “Jangan bilang kau mau mengejarnya lagi?” Elvira menebak-nebak.
“Kalau sampai saat ini dia masih sendiri, berarti dia masih cinta padaku.” Jawab Elzar dengan percaya diri.
“Kau kepedean!” Elvira menaikkan suaranya.
“Memang begitu adanya. Mak lampir itu cinta mati padaku.”
“Terserah kamu lah. Kalau kali ini dia sakit hati lagi, kucoret kau dari kartu keluarga!’ Ancam Elvira sambil menutup pembicaraan.
Hari itu saat pulang ke apartemennya Elzar terduduk di sofa. Dia kembali teringat pada Azzura. Pikirannya membawa Elzar ke pertemuan pertama mereka. Saat itu Elzar baru duduk di kelas 7. Dia masuk ke kamar kakaknya untuk meminjam komik. Seperti biasa dia masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Begitu masuk dia langsung menimpuk perempuan yang sedang duduk di kursi belajar kakaknya dengan bantal.
“Siapa sih!” Perempuan itu menoleh ke belakang dan melotot pada Elzar yang tengah asyik cengengesan.
“Eh maaf, saya kira Vira.” Elzar menggaruk kepalanya yang tiba-tiba jadi gatal.
“Ngapain?” Elvira masuk kamar lalu mengalungkan lengan di leher Elzar dan memeluknya erat seolah hendak mencekiknya.
“Adikmu tuh. Tiba-tiba nimpuk pakai bantal!” Perempuan itu melotot pada Elzar lalu menunjuk bantal yang ada di bawah kakinya.
“Maaf!” Elzar tertunduk.
Elvira tertawa melihat adiknya yang tertunduk karena ditatap dengan galak oleh Azzura. “Ayo pergi!” Elvira menarik Elzar menjauh dari kamarnya. “Makanya kalau masuk kamar orang tuh ketuk dulu!” Elvira menjitak kepala adiknya.
“Jadi itu yang namanya Azzura?” Elzar menoleh ke kamar Elvira.
“Cantik dan imut, kan?” Elvira mengedip-ngedipkan mata pada adiknya.
“Apanya yang imut. Yang jelas dia galak.” Elzar merinding ketakutan. “Apa kau yakin kalau dia seumuran denganmu?” Elzar menatap kakaknya dengan penasaran.
“Ya. Kami bahkan lahir di bulan yang sama, hanya beda lima hari.”
Sejak hari itu Azzura jadi pengunjung setia rumah mereka. Lama kelamaan Elzar mulai akrab dengannya. Elzar mulai terbiasa dengan tatapan galak dan kejutekannya.
“Yakin mau traktir nonton?” Tanya Azzura saat Elzar menjemputnya di tempat dia magang. Elzar tidak menjawab. Dia menunjukkan tiket yang sudah dipesannya melalui aplikasi. “Didi kita sudah bisa cari uang!” Azzura mengalungkan lengan di pinggang Elzar lalu mengajaknya pergi.
“Laki-laki yang tadi bicara denganmu siapa?” Elzar menanyakan laki-laki yang tadi mengobrol dengan Azzura saat Elzar tiba.
“Rekan kerjaku.” Sahutnya dengan cuek.
“Apa dia masih lajang?” Lanjut ELzar ingin menuntaskan rasa penasaran.
“Memang kenapa kalau dia lajang? Kau takut dia naksir padaku?” Azzura menatap Elzar dengan tajam.
“Tentu saja tak boleh. Kau milikku ingat!” Elzar menunjuk gelang di tangan kanan Azzura.
“Harusnya saat itu aku tidak menerima gelang ini!”
“Hei, apa yang sudah diterima tak bisa dikembalikan atau ditukar!” Elzar memakaikan helm di kepala Azzura lalu mengajaknya naik ke boncengan motornya.
Mereka resmi pacaran saat Elzar menyelesaikan ujian sidangnya. Elzar memang menyelesaikan kuliah lebih cepat dibanding teman-teman seangkatannya. Saat menyadari perasaannya pada Azzura lebih dari sekedar teman, Elzar mulai menyusun masa depannya dengan lebih rapi. Dia ingin menjadi laki-laki yang pantas untuknya.
Meski usia mereka terpaut tiga tahun, Elzar tidak merasa hal itu menjadi masalah. Elzar justru merasa dialah yang lebih dewasa. Dibalik sikap juteknya terkadang Azzura lebih manja darinya dan juga lebih kekanak-kanakkan. Dengan postur tubuhnya yang mungil, Azzura terlihat lebih muda darinya.
“Uang jajanmu habis?” Elzar menelepon Azzura setelah melihat unggahan status galau di akun media sosialnya. Azzura tidak menjawab. Dia hanya tertawa. “Aku sudah transfer coba dicek.”
“Terima kasih bos. Besok kau pulang?”
“Sepertinya tidak bisa. Aku harus menyelesaikan aplikasi untuk sebuah lembaga.” Elzar terdengar sedih. “Kau menginap di rumah Vira saja.”
“Kita lihat besok saja!”
Elzar melamar Azzura satu tahun setelah dia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT. Dia segera melamarnya karena takut Azzura akan berubah pikiran. Selama ini Elzarlah yang selalu berusaha meyakinkan Azzura bahwa niatnya serius.
Setelah menikah pekerjaan Elzar semakin sibuk. Meski begitu Azzura tidak mengeluh. Dia begitu sabar menghadapinya. Dia jarang mengomel meski terkadang Elzar meninggalkannya untuk bermain basket atau nongkrong dengan teman di sela-sela waktu senggangnya.
Semua baik-baik saja sampai pada suatu hari. Untuk kesekian kalinya Elzar tidak menepati janjinya untuk mengantar Azzura. Saat Elzar pulang setelah bermain dengan temannya, dia mendapati Azzura sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper.
“Mau ke mana?” Tanyanya dengan polos.
“Kembali ke rumah mama?” Azzura menjawab tanpa menoleh padanya.
“Kenapa sih Zu. Bukankah kita baik-baik saja?” Elzar menarik tangan Azzura dan memalingkan wajahnya agar menatap Elzar. Saat melihatnya, Elzar tertegun. Telaga bening itu berkabut dan sembab. Sepertinya dia sudah menangis cukup lama.
“Kau mungkin baik-baik saja tapi aku tidak. Aku tak suka lelakiku masih bertemu dengan mantannya. Aku ingin lelakiku juga memiliki waktu untukku bukan hanya memberiku uang.” Azzura menantang Elzar dengan tatapannya.
“Apa Tania menemuimu?” Elzar menanyakan mantan pacar yang dimaksud oleh Azzura.
“Kemarin dia datang mengantarkan jaketmu yang dipinjamnya.”
“Hubungan kami benar-benar sudah berakhir, Zu. Lagipula kami tidak pernah benar-benar pacaran. Tania saja yang berpikir terlalu jauh. Sejak dulu aku hanya menganggapnya sebagai teman.” Elzar berusaha menjelaskan.
“Cukup!” Azzura berteriak dengan kencang. Dia mendorong Elzar agar menjauh.
Elzar tidak terpana melihat kemarahan yang terpancar di wajah Azzura. Dia tak pernah melihatnya semarah itu.
Melihat Elzar seperti itu, Azzura menurunkan suaranya lalu bicara, "Sejak awal aku memang bukan ibu peri, Zar. Kau sendiri yang bilang kalau aku mirip Mak Lampir." Azzura menatap Elzar dengan tangis yang tertahan. "Meski begitu, aku tetaplah seorang perempuan. Kuharap kau tidak lupa tentang itu." Azzura menenteng kopernya dan pergi meninggalkan Elzar dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
Elzar berusaha menahan kepergiannya tapi kata-kata Azzura menahan langkahnya.
“Stop. Kalau kau memang pernah mencintaiku kau tak akan menahan kepergianku.”
Setelah Azzura pergi, Elzar langsung menemui kakaknya. Kakaknya langsung memasang wajah jutek saat dia datang.
Pasti Elvira sudah tahu tentang kepergian Azzura. Dia tak mungkin bersikap seperti itu kalau tidak tahu.
“Sebenarnya kamu cinta apa enggak sih sama dia?” Tanya Elvira dengan ketus.
“Kalau tidak cinta tak mungkin kunikahi.” Elzar menyugar rambutnya dnegan putus asa.
“Apa kau tahu kalau Azzura keguguran?” Tanya Elvira kemudian.
“Apa? Kapan?” Elzar benar-benar kaget. “Setahuku haidnya memang sering tidak teratur?” Elzar mulai merasa panik. Dia mencoba mengingat.
“Ya. Dia stres karena selalu memendam semuanya sendirian. Bulan lalu dia mengalami pendarahan, aku mengantarnya ke dokter. Dokter bilang dia keguguran, janinnya baru beberapa minggu.”
Kata-kata Elvira membuat Elzar seperti disambar petir. Saat itu dia pergi ke Surabaya untuk seminar tentang program IT terbaru. Sebelum pergi Azzura mengeluh sakit tapi dia tidak terlalu menanggapinya. Dia menganggap Azzura hanya sedang bermanja padanya.
“Kurasa kali ini aku benar-benar tamat.” Elzar menarik napas dengan berat. Dia menatap kakaknya dengan penuh penyesalan.
Elzar pulang ke rumah dan merenungkan semua sikapnya selama ini. Dia menganggap semua baik-baik saja. Dia menganggap Azzura benar-benar merasa bahagia dengan pernikahan mereka. Ternyata selama ini dia terlalu cuek. Dia terlalu nyaman karena Azzura tak pernah banyak menuntut.
Setelah pikirannya cukup tenang dia mencari Azzura ke rumah ibunya. Sudah beberapa kali dia datang tapi Azzura tidak mau menemuinya. Dia malah memberikannya surat gugatan perceraian. Dengan berat hati Elzar pun mengabulkan keinginannya.
Elzar berusaha untuk melupakannya. Elzar memfokuskan pada pekerjaan. Elzar berharap dengan berlalunya waktu dia dapat melupakannya. Namun sampai lima tahun berlalu perasaan Elzar padanya tak juga hilang. Setiap hari dia malah semakin merindukannya.
Elzar berusaha mencari tahu tentang Azzura. Namun orang-orang terdekatnya seolah menutupi keberadaannya. Azzura benar-benar tak ingin bertemu dengannya lagi. Meski begitu Elzar tak ingin menyerah.
Selama ini Elzar selalu membayangkan kata apa yang akan diucapkannya jika mereka bertemu lagi. Dia juga sudah menyusun berbagai skenario di kepalanya. Namun Tuhan masih belum memberinya jalan.
Suatu sore di hari Jumat Elzar mampir ke kedai kopi yang disebutkan oleh Zami. Kedai kopi tempat Zami bertemu dengan Azzura. Dia memesan americano lalu mencari tempat duduk di dekat jendela. Dan di sanalah dia. Azzura sedang duduk dengan tab di hadapannya. Dia tampak asyik mengetik hingga tak memedulikan keadaan di sekitarnya.
“Bolehkah saya duduk di sini?” Elzar bicara dengan hati-hati.
“Elzar….” Azzura memalingkan wajah dari tab-nya dan menatap Elzar.
“Jadi bolehkah aku duduk di sini?” Elzar kembali bertanya.
Sebelum menjawab Azzura menatap ke sekeliling kedai kopi. Hari itu pengunjungnya sangat ramai. Dengan berat hati dia pun mengizinkan Elzar untuk duduk.
YN, 17-04-2026
Minggu, 12 April 2026
Pencuri Hati Itu Bernama Kanaya
Rabu, 11 Februari 2026
Puisi Februari 2026
Menjelang malam
Ada rasa tak berdaya
Kala malam tiba mengakhiri cerita
Ada luka tak kasat mata
Saat bulan menyapa di jendela
Sayup-sayup suara memenuhi telinga
Peluk dan tawa yang kini kosong belaka
Panggilan nyaring penuh cinta tak lagi bersuara
Semua lenyap di telan masa
Tak ada lagi tempat bermanja
Bersenda gurau berbagi cerita
Andai bapak masih bersama
Semua cerita mungkin lebih bermakna
YN, 12-02-2026
Sesal Karena Malu
Ada rasa tak bersuara
Kala sang surya hilang di telan mega
Ada sedih yang tiba-tiba
Kala jangkrik memainkan nada
Tawa yang berakhir air mata
Senyuman yang berganti cela
Senda gurau yang menjadi kaku
Kelincahan lidah yang menjadi kelu
Semua hanya karena malu
Bibir bawel tak mampu mengurai rindu
Mulut manis yang tak pandai merayu
Membuat ia melenggang tanpa ragu
YN, 12-02-2026
Jumat, 12 September 2025
Rona Merah di Pipi Tatia
Rona merah itu kembali mengiringi senyuman manis yang dulu sering muncul di wajahnya. Semuanya karena Artemis. Teman SMA yang kembali ditemui Tatia secara tak sengaja. Hari itu mama meminta Tatia untuk mengantarkan jaket ke tempat kemah. Setelah memberikan jaket pada mama, Tatia pamit untuk menengok anak-anak dari sekolahnya yang juga sedang kemah.
Langkah Tatia terhenti di depan tenda yang tak jauh dari tenda sekolah mama. Di sana ada sosok yang dulu sering mengganggunya. Si Misdaceum, begitu Tatia memanggilnya. Tatia memanggilnya seperti itu karena sifatnya memang begitu. Artemis terkadang bisa sangat manis dan di lain waktu dia bisa sangat menyebalkan. Karakternya sekomplit rasa ramen yang disukai Tatia “Amis, Lada, Haseum” alias misdaceum.
Tatia tidak jadi pergi ke tenda temannya karena Artemis mengajaknya mengobrol. Obrolan mereka tak berlangsung lama karena mama memanggilnya. Mama meminta Tatia segera pulang karena tak ada yang menemani papa makan malam. Dengan berat hati Tatia pun pulang.
Sesampainya di rumah Tatia langsung menyiapkan makan malam. Setelah siap dia memanggil papa dan mereka makan bersama. Selesai makan Tatia mencuci piring lalu pergi ke kamarnya untuk kembali melanjutkan sepak terjang Mathias dalam Novel Cry or Better Yet Beg.
Tatia baru saja membuka aplikasi untuk membaca online saat notifikasi pesan muncul. Ternyata Artemis yang mengirim pesan. Tatia tidak menyangka kalau Artemis akan secepat itu menghubunginya. Tatia pun segera membalas. Hari itu mereka berbalas pesan sampai malam.
Sejak saat itu mereka mulai rajin berkirim pesan. Mereka bercerita banyak hal. Mulai dari masa SMA, murid-murid yang membuat gegana sampai akhirnya pada pertanyaan “punya pacar enggak?” . Entahlah Tatia juga tak tahu mengapa dia bisa merasa senyaman itu bersamanya. Padahal dulu Tatia seringkali dibuat kesal oleh kejailannya.
Awalnya Tatia ragu saat Artemis mengajaknya untuk jalan. Namun dengan pandainya Artemis membujuk dia agar pergi dengannya. Ternyata rasanya cukup menyenangkan. Lama kelamaan bertemu Artemis adalah satu kegiatan yang selalu dirindukannya. Artemis membuatnya merasa siap untuk kembali memulai. Artemis menyemangatinya agar berhenti terus larut dalam kenangan. Artemis juga yang menariknya dari genangan air mata karena kisah cinta yang berakhir.
***
“Tia, aku mau ketemu papa dan mamamu.”
“Mau apa?” Tanya Tatia sedikit kaget.
“Aku ingin berkenalan dengan mereka. Aku ingin mereka tahu siapa sebenarnya laki-laki yang sering membuat anaknya cekikikan padahal tidak sedang nonton drakor.”
“Kamu yakin? Jangan-jangan setelah bertemu mereka kamu malah tak mau kenal lagi denganku.”
“Mulai lagi.” Artemis menatap tajam pada Tatia. Dia kurang suka kalau Tatia berpikiran negatif. Artemis pun menjitak dahinya dengan gemas.
“Sakit tahu!” Tatia meringis.
“Kalau sakit berarti pikiran negatifnya sudah pergi.” Artemis tertawa.
Malam Minggu berikutnya setelah magrib, Artemis datang ke rumah. Tatia langsung panas dingin saat melihatnya bersalaman dengan papa. Dia takut mereka tidak cocok. Namun, dugaannya salah. Artemis dan papa langsung akrab. Mereka mengobrol tentang Persib dengan nyamannya.
Kini giliran mama yang sedang mencoba berakrab ria dengan Artemis. Dan lagi Artemis mampu meraih hatinya. Mama ikut larut dalam obrolan Artemis tentang mengajar di SD. Mama makin asyik mengobrol dengannya saat tahu kalau mama Artemis adalah temannya.
Tatia tahu ini baru awal. Namun dia berharap ini adalah awal yang akan berakhir bahagia. Meski hidupnya tak seindah drama korea, Tatia tetap memiliki harapan. Harapan untuk bisa menemukan seseorang yang bisa menerima dia karena dirinya sendiri bukan karena embel-embel lain yang melekat pada dirinya.
Tatia ingin menemukan laki-laki yang bisa diajak tumbuh bersama. Laki-laki yang tetap membersamainya dalam tangis dan bahagia. Laki-laki yang tetap menggenggam tangannya meski huru-hara menerpa rumah tangga. Laki-laki yang tetap jadi anak kesayangan ibunya tanpa harus melepas genggaman tangannya.
“Tia, seandainya kita harus LDR apa kamu masih mau bersamaku?”
“Memangnya kamu mau ke mana?” Tatia menatap Artemis dengan bingung.
“Aku ikut tes P3K dan lolos. Tapi penempatannya di luar Jawa Barat.” Artemis langsung tertunduk sedih.
“Wah, asyik dong nanti aku bisa sering-sering naik kereta.” Tatia berdecak kagum.
“Dasar Duta K-A-I.” Artemis menjembel pipinya. Sepertinya dia ingat kalau sepanjang masa kuliah Tatia selalu menggunakan kereta.
“Kita sudah memulai trek ini bersama. Bukankah lebih menyenangkan kalau kita juga mengakhirinya di garis finish yang sama?” Tatia menggenggam tangan Artemis dan menatapnya lekat-lekat.”
“Terima kasih, Tia. Semoga rona merah di pipimu tetap ada meski nanti jarak akan memisahkan kita.” Artemis balik menggenggam tangan Tatia dan tersenyum bahagia.
YN, 13-09-2025
Kamis, 04 September 2025
Perburuan Terakhir Artemis
Penggemar mitologi Yunani pasti bertanya mengapa namaku Artemis bukan Apollo. Mereka pasti tahu kalau dalam mitologi Yunani Artemis adalah saudari perempuan Apollo. Saat kutanya pada Ibu, sambil tersenyum beliau menjawab, “saat itu aku memang menginginkan anak kembar laki-laki dan perempuan, makanya namamu Artemis.” Aku pun akan menjawab seperti itu pada orang yang bertanya.
“Misdaceum!” Teriak suara yang sangat kukenal. Aku langsung menoleh ke arah suara itu. Dan dugaanku benar. Itu Dia. Gadis yang sangat ingin kutemui. “Kemah?” Dia menunjuk seragam Pramuka yang kupakai.
“Eh iya, nih. Kamu?” Aku menggaruk kepalaku yang tiba-tiba menggatal. Padahal tadi pagi sudah keramas pakai sampo antiketombe.
“Aku sedang mengunjungi ibu!” Dia menunjuk tenda yang letaknya tak jauh dari tenda sekolahku. “Tunggu. Nama Ibumu Soraya?” Aku menenbak-nebak. Kebetulan tadi pagi aku bertemu dengan teman ibuku saat melintasi tenda itu.
“Ya. Kok bisa tahu?” Dia tampak kaget.
“Ibuku bilang temannya juga sedang kemah. Aku diminta untuk menyapa temannya itu.” Aku menjelaskan dan dia mengangguk dengan jenaka. “Yuk duduk!” Aku mengajaknya untuk duduk-duduk di depan tenda sekolahku.
“Aku enggak nyangka kamu jadi guru.” Dia menahan tawa dengan menutupi bibir dengan jemarinya yang lentik itu.
“Aku saja masih merasa mimpi. Aku yang tengil dan tukang bikin rusuh harus mengasuh anak-anak mungil nan bikin hati gundah gulana.” Aku tertawa, menertawakan diri sendiri. Teringat dulu sering bikin ulah di masa sekolah. “Kamu bagaimana kabarmu. Setelah lulus lanjut ke mana?”
“Aku guru bahasa sekarang.”
“Oh ya! Bahasa korea?” Tebakku asal. Setahuku dia salah satu penggemar K-Pop.
“Bahasa Sunda.” Dia tersenyum dan senyumnya membuat debar di dadaku menggila. “Aneh ya?” Tanyanya.
“Ah tidak.” Sahutku setelah kembali menguasai diri. “Kuliah di mana?” Aku kembali bertanya. Aku senang mendengar suaranya. Apalagi melihat binar ceria di telaga bening itu.
“UPI.”
“Bandung?” Aku terbelalak tak percaya. Jadi selama ini kami kembali berada di almamater yang sama tapi baru bertemu lagi sekarang.
“Memang kamu kuliah di sana juga?” Kini gilirannya yang terbelalak.
“Iya. PJOK. Gini-gini juga aku atlet loh.” Aku menyombongkan diri.
Kami tidak mengobrol lama. Ibunya datang dan mengajaknya pergi. Meski begitu, kami sudah bertukar nomor ponsel. Senang sekali rasanya kembali bertemu dengan dia.
Kemah ini membawa berkah. Padahal tadinya aku malas-malasan. Aku yang sering diomeli ibu karena sering mengganggu keponakan-keponakanku malah harus menjaga anak-anak seusia mereka.
“Sudah kamu sampaikan salam ibu pada Bu Soraya?” Tanya ibu begitu aku pulang ke rumah.
“Sudah. Bu, anaknya Bu Soraya ternyata teman SMA-ku.” Aku tersenyum senang.
“Perempuan?” Tanya ibu sambil tersenyum penuh arti. Dia tahu aku jarang sekali membicarakan teman-temanku. Apalagi teman perempuan.
Aku hanya mengangguk lalu segera berpamitan ke kamar. Aku tahu ibu akan bertanya lebih jauh. Namun, saat ini aku belum sanggup untuk membaginya dengan ibu.
Malam harinya aku mencoba menghubungi nomor yang dia berikan. Ternyata dia memberiku nomor yang benar. Tadinya aku kira dia akan dengan sengaja memberiku nomor yang salah. Kalau itu terjadi aku akan meminta ibu untuk meminta nomornya.
Obrolan pun bermula. Malam itu kami saling berkirim pesan sampai pukul 10 malam. Keesokan harinya kami juga kembali berkirim pesan. Sejak hari itu aku lebih sering melirik ponselku dibandingkan sebelumnya. Aku menanti pesannya. Ini adalah kegiatan baruku.
Setelah beberapa lama hanya saling berkirim pesan, akhirnya aku mencoba untuk mengajaknya jalan. Saat dia menerimanya, aku langsung berteriak kegirangan.
Meski bukan penyuka makanan berkuah, aku manggut-manggut saja saat dia mengajakku makan ramen. Awalnya aku menahan diri untuk tak bertanya. Setelah cukup lama mengobrol akhirnya aku bertanya tentang pacar. Ternyata dia sudah putus dengan pacarnya. Hubungan mereka berakhir beberapa bulan sebelum kami bertemu. Dia sepertinya cukup terluka dengan perpisahannya itu.
Ini kesempatanku untuk menjadi obat bagi lukanya. Aku sudah bertekad untuk kembali membuat rona merah di kedua pipinya kembali. Aku tahu hubungan kami mungkin tidak akan berjalan mudah. Apalagi statusku yang masih sebagai guru honor. Namun, aku akan meyakinkan dia bahwa aku serius. Aku ingin kami berakhir di garis finish yang sama.
Aku adalah artemis. Seperti halnya namaku yang diambil dari dewi perburuan, maka aku pun akan membidiknya sebagai target utamaku. Target perburuanku yang terakhir.
YN, 05-09-2025
Jumat, 18 Juli 2025
Ada Akhtar dalam Tawa Safia
"Meski usiaku lebih muda tak berarti cintaku lebih labil. Kau hanya tak ingin mengakui saja kalau sebenarnya hatimu mulai tergerak." Akhtar tersenyum getir. Dia mengambil ranselnya dari kursi lalu pergi. Meninggalkan Safia tertegun dalam kedalaman makna di balik kata-kata Akhtar.
Bukan baru kali ini Akhtar pergi dengan hati yang kesal. Dia sudah seperti ini sejak sembilan tahun yang lalu. Meski begitu dia tetap menemui Safia. Dia yakin suatu hari nanti Safia akan merasakan ketulusan hatinya.
***
Safia bukannya tak paham dengan apa yang dirasakan Akhtar. Namun hingga saat ini Safia masih tak ingin mengakuinya. Baginya Akhtar adalah sosok yang terlarang. Sebisa mungkin Safia harus menghindarinya.
Akhtar adalah sahabat baik adiknya. Usia Akhtar empat tahun lebih muda darinya. Akhtar adalah keponakan Zaki, mantan pacar yang meninggalkannya untuk menikahi perempuan lain. Dan ibu tidak menginginkannya sebagai menantu.
Safia ingin seseorang yang dapat diterima ibu dengan baik. Ibu sudah terlalu sering mengutarakan kekecewaannya terhadap Safia. Ibu selalu berharap Safia menjadi Bidan seperti dirinya. Saat Safia memutuskan untuk masuk ke fakultas keguruan ibu pernah tidak bicara padanya. Ibunya juga pernah kembali mendiamkannya saat dia putus dengan Zaki.
Zaki adalah menantu yang ibu dambakan. Ibu sangat berharap Safia menikah dengannya. Saat Safia mengatakan alasan dibalik putusnya hubungan mereka, ibu menyalahkan Safia. Ibu mengatakan Safia terlalu dingin padanya.
Mungkin pendapat ibu ada benarnya. Bersama Zaki Safia tidak merasa menjadi dirinya sendiri. Dia selalu menjadi Safia putri yang diharapkan ibu. Lain halnya saat dia bersama dnegan Akhtar. Akhtar membuat Safia merasa menjadi dirinya sendiri. Akhtar tak pernah mengomentari tingkahnya yang kadang masih kekanakan dan tidak terlalu bisa berdandan.
“Nunna, kau boleh melepasnya!” Saran Akhtar saat melihat Safia merasa kelelahan berjalan memakai highheels. Dia melepas sepatunya lalu memberikannya pada Safia untuk dipakai. Saat Safia hanya diam, dia pun berjongkok lalu menggantikan highheels dengan sepatu ketsnya lalu menjinjing highheels itu. “Pakailah dulu, nanti kita beli sandal jepit di depan.” Akhtar tersenyum lalu kembali mengajak Safia jalan. “Kenapa kau memaksakan diri untuk memakai ini!" Akhtar mengacungkan highheel yang dipegangnya.
“Zaki selalu mengejekku pendek dan tidak feminim.” Keluhnya sambil tertawa.
“Bersamaku kau tak perlu memakainya. Kau boleh memakai apapun sesukamu!” Akhtar berkata dengan sungguh-sungguh.
“Terima kasih. Maaf gara-gara aku kamu harus nyeker.” Safia merasa bersalah melihat Akhtar harus berjalan tanpa alas kaki.
“Kalau kau merasa bersalah, seharusnya kau menerimaku.” Akhtar memancingnya.
“Jangan mulai!” Safia memelototinya. Akhtar tidak gentar. Dia malah tertawa lebar.
Safia merindukan hari-hari itu. Hari di mana dia dapat tertawa gembira bersama Akhtar.
***
“Minggu ini kau tidak pulang juga?” Tanya Prof. Andi pada Jumat Sore Ketika mereka baru selesai mengajar. Biasanya Safia langsung pulang ke Garut begitu jam mengajarnya selesai di hari Jumat. Namun sudah tiga kali Jumat Safia malah menemani Prof. Andi mengajar.
“Aku janji akan menemani Namia jalan-jalan.” Sahutnya sambil merapikan lapotop ke dalam tasnya. Mendengar nama anaknya membuat Prof. Andi tertawa.
“Kalian pasti akan menggosipkan aku?” Tuduhnya sambil tertawa.
“Apa asyiknya membicarakan Anda.” Safia langsung mencibir, sebal.
“Namia kesepian sejak ibunya meninggal. Makanya dia sangat bergantung padamu.” Prof. Andi tersenyum malu. Anak semata wayangnya sudah lengket dengan Safia sejak pertama mereka bertemu.
“Makanya segera carikan dia ibu baru.” Safia menyarankan.
“Dia maunya kamu.” Prof. Andi menggoda Safia.
“Anda mulai lagi.” Safia meninju bahu Prof. Andi yang berjalan di sampingnya.
“Aku serius. Dengan menjadikanmu istriku maka orang akan berhenti menjodoh-jodohkan kita.” Prof. Andi tersenyum mengingatkan.
“Tapi saya tidak tertarik menjadi istri Anda.” Kata Safia dengan yakin.
“Kalau ada laki-laki semuda dan setampan Akhtar, tentu saja aku kalah telak.” Prof. Andi mengingatkan Safia. “Kau terima saja dia. Dan aku tak akan mengungkit lagi tentang hal ini.” Sarannya sambil meninggalkan Safia dan pergi menuju mobilnya.
***
Safia sengaja tidak pulang ke Garut karena dia malas ditanya-tanya oleh ibunya. Setiap pulang, ibu selalu bertanya kapan dia akan menikah. Safia bosan menjawabnya. Safia juga tak ingin pulang karena ibu selalu berusaha menjodohkan dia dengan anak teman-temannya.
Sauqi juga pernah bertanya mengapa dia tidak menerima Akhtar saja. Dengan begitu ibu akan berhenti bertanya. Namun Safia merasa itu bukan penyelesaian yang baik.
“Dia teman adikmu, Fia.” Tegur Ibu saat melihat keakrabannya dengan Akhtar. Ibu memperlihatkan wajah yang tidak senang saat menegurnya.
“Memangnya kenapa?” Tanya Safia menatap ibu bingung. Dia tidak merasa ada yang salah dengan sikapnya.
“Carilah laki-laki yang lebih tua. Laki-laki yang matang secara umur dan finansial. Demi kebaikanmu sendiri.”
Karena kata-kata ibulah sekarang Safia mencoba menjaga jarak dengan Akhtar. Safia tahu Akhtar pasti sakit hati. Mungkin sekarang dia akan menyerah dan melupakannya.
***
“Fia, kamu apain lagi si Akhtar?” Todong Sauqi saat mengunjunginya di rumah kontrakan. Dia terlihat kesal. Dan ini bukan pertama kalinya dia sekesal ini.
“Tidak ada. Memangnya kenapa?” Tanya Safia menoleh pada adiknya sejenak lalu kembali fokus pada novel yang sedang dibacanya.
“Sudah beberapa hari ini unggahan di media sosialnya selalu berisi ungkapan patah hati.” Sauqi menarik napas panjang. Dia merebahkan diri di sofa dan matanya memandangi langit-langit. Dia termenung selama beberapa saat. “Awalnya aku mengira cintanya padamu hanya sekedar guyonan. Ternyata dia serius. Cintanya padamu berhasil mengubahnya jadi laki-laki sejati.” Sauqi mengubah posisinya jadi duduk dan memandangi Safia yang sedang asyik membaca novel. “Baru kali ini aku melihatnya segalau itu. Memang tidak sampai menangis seperti waktu itu.”
“Akhtar menangis? Kenapa? Kapan?” Safia jadi penasaran. Setahunya Akhtar adalah laki-laki tangguh. Dia menatap Sauqi dan menantikan jawaban.
Sauqi tidak segera menjawab. Dia mengulur-ulur waktu sambil mengetuk-ketuk pelipisnya. “Saat tahu kau memilih pamannya,” lanjutnya setelah merasa yakin. “Apa kali ini juga kau akan memilih professormu itu dibandingkan dia?” Sauqi menduga-duga.
“Dia mentorku. Dia mengisi kekosongan yang ditinggalkan ayah.” Safia meninggikan suaranya. Dia sedikit terpancing emosi. Bukan hanya Sauqi yang beranggapan kalau Safia dan Prof. Andi memiliki hubungan romantis, teman-temannya juga pernah ada yang berkomentar tentang itu. “Aku mengizinkanmu menikah lebih dulu. Mengapa tidak kau lakukan?” Safia menatap tajam pada adiknya.
“Ibu tidak setuju tentang itu. Dia akan merestui pernikahanku kalau kau sudah memiliki calon.” Sauqi kembali menghembuskan napas panjang.
Hari itu setelah Sauqi pulang, Safia tertegun memandangi buku hariannya. Dia membaca kembali curahan hatinya tentang Akhtar. Kalau harus jujur, dia memang memiliki perasaan untuknya. Perasaan yang sampai kini selalu berusaha untuk ditolaknya. Perasaan yang selalu berusaha dia tutup-tutupi.
***
Safia baru saja mendaratkan pinggulnya di sofa setelah seharian menghabiskan waktu bersama Namia, ketika Sauqi datang dengan napas yang ngos-ngosan.
“Kamu kenapa?” Safia mengajaknya duduk dan menuntunnya untuk menarik napas secara lebih santai. Setelah itu dia mengambilkan minum dan memberikannya pada Sauqi. “Apa yang terjadi?” Tanya Safia setelah adiknya lebih tenang.
“Akhtar kecelakaan, Fia. Kemarin mobilnya menabrak pembatas jalan. Hingga saat ini dia masih belum sadar. Dokter mengatakan keadaannya kritis. Mamanya memintaku membawamu.”
Mendengar hal itu tubuh Safia langsung merasa lemas. Air mata langsung merebak dan memenuhi pelupuk matanya. Rasa takut tiba-tiba saja menjalari tubuhnya.
“Fia, kau baik-baik saja?” Sauqi mengguncang tubuh kakaknya yang tiba-tiba mematung.
“Bawa aku kesana!” Safia memohon pada adiknya setelah berhasil menguasai dirinya lagi.
“Mari kita pergi!” Sauqi menggandeng kakaknya.
Saat sampai di ruang perawatan intensif, Safia langsung disambut oleh mamanya Akhtar. Dia langsung menggandeng Safia dan membawanya menemui Akhtar.
“Dia menunggumu, nak!” Bisik mama Akhtar dengan mata yang sembab dan berkabut. Safia mengangguk lalu mendekat ke ranjang pasien.
“Tar, aku datang!” Bisik Safia di telinga Akhtar sambil menahan tangis. “Berjuanglah lagi. Kali ini aku menunggumu di garis finish.” Bisiknya.
***
Satu bulan berlalu, Safia belum mendengar kabar dari Akhtar. Dia sibuk menggantikan tugas Prof. Andi untuk memberikan kuliah di daerah Tasik. Prof. Andi harus pergi ke Sidney untuk seminar. Dia mendelegasikan semua tugasnya pada Safia.
“Kamu?” Safia menatap tak percaya pada laki-laki yang sedang berdiri di depan fakultasnya.
“Aku datang untuk menagih janji.” Akhtar menghampirinya lalu mengambil tas laptop yang dipegang Safia. “Kau bilang menungguku di garis finish.” Lanjutnya saat melihat Safia mematung. “Bukankah garis finish yang kau maksud adalah pelaminan?” Akhtar melepas cincin dari gantungan kunci mobilnya lalu memakaikannya di jari manis Safia.
“Aku belum bilang ya.” Safia menarik tangannya dan memandangi cincin indah itu.
Akhtar tersenyum lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menelepon seseorang. Setelah itu dia memberikan telepon pada Safia. Ternyata Akhtar menghubungi ibu.
“Sauqi sudah cerita semua Fia. Maafkan ibu. Pulanglah bersama Akhtar. Mari kita bicarakan pernikahanmu dengannya.” Nada suara ibu terdengar senang.
“Terima kasih, ibu.” Bisik Safia dengan mata berkaca-kaca.
“Sama-sama sayang.”
Sabtu, 01 Maret 2025
Tetap Sehat dan Bugar Selama Berpuasa di Bulan Ramadan
Agar dapat menjalankan ibadah dengan baik tentunya kita harus menjaga kesehatan dan kebugaran kita. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan agar tetap sehat dan bugar selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut.
1. Penuhi Kebutuhan Cairan
Selama berpuasa kita tidak makan dan minum selama hampir 14 jam. Tubuh kita akan kehilangan kebutuhan cairan hariannya. Oleh karena itu kita harus menggantinya setelah kita berbuka. Air yang bagus untuk diminum adalah air putih. Kita juga dapat menambahkan air kelapa sebagai sumber asupan cairan untuk mengganti elektrolit yang hilang. Adapun cara untuk minum yang baik untuk mencukupi kebutuhan cairan kita adalah dengan melakukan dapat pembagian 2-4-2, yaitu 2 gelas saat berbuka, 4 gelas antara buka dan sahur, dan 2 gelas lagi saat sahur.
2. Jangan lewatkan sahur
Tak dapat dipungkiri kadang kita merasa malas untuk makan sahur. Rasa kantuk yang tak tertahan, perut yang tak terbiasa membuat kita malas untuk makan sahur. Padahal makan sahur adalah kegiatan yang tidak boleh kita tinggalkan selama puasa di bulan Ramadan. Rasulullah Saw juga menganjurkan untuk melakukan sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan.
Anas bin Malik RA berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
Artinya: "Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah." (HR Bukhari).
Makan sahur itu sama halnya dengan sarapan. Makan sahur adalah kegiatan penting untuk menambah energi harian selama berpuasa. Konsumsilah makanan bergizi seimbang agar kebutuhan energi kita tercukupi. Hindari makanan yang terlalu berlemak atau makanan pedas agar kesehatan lambung kita tetap terjaga.
3. Makan secukupnya
Kita mungkin berpikiran untuk banyak makan saat sahur atau berbuka. Namun hal ini bukanlah hal yang baik. Terlalu banyak makan saat berbuka akan membuat perut kembung dan begah. Perut kita yang tadinya kosong akan merasa kaget karena terus dijejali makanan. Akhirnya kita tak bisa melaksanakan salat tarawih karena perut yang tak nyaman. Makan terlalu banyak saat sahur juga tidak dianjurkan. Makan berlebihan saat sahur akan membuat kekenyangan tidak nyaman pada perut, hingga gangguan pencernaan.
Allah juga mengingatkan kita untuk tidak makan berlebihan seperti firmannya dalam Surat Al-Araf ayat 31, yang artinya:
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus di setiap masuk masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
4. Hindari makanan berminyak
Menyantap gorengan saat berbuka memang nikmat. Hal ini banyak dilakukan oleh masyarakat karena rasa gorengan yang gurih dan harganya yang terjangkau. Padahal banyaknya gorengan yang dikonsumsi akan membuat kita merasa semakin haus dan memicu panas dalam.
Makanan yang berminyak juga dapat meningkatkan risiko kenaikan kolesterol dalam tubuh Anda. Selain itu, penumpukkan lemak bisa membuat berat badan naik saat puasa. Lebih baik pilih makanan yang direbus, dikukus, atau dipepes yang biasanya lebih rendah lemak.
5. Mengurangi makanan dan minuman yang manis
Minuman manis memang penting dikonsumsi saat berbuka untuk menormalkan kadar gula darah kembali setelah berpuasa seharian. Biasanya, minuman manis dan dingin juga dikonsumsi untuk melepas dahaga setelah menahan haus seharian. Namun, kita harus tetap memperhatikan jumlah gula harian yang dikonsumsi yaitu sebanyak 50 gram per hari. Daripada mengonsumsi minuman manis dari gula pasir, sebaiknya pilih jus buah tanpa tambahan gula yang mengandung serat yang baik untuk kesehatan.
6. Olahraga teratur
Aktivitas fisik memiliki banyak manfaat bagi kesehatan fisik dan mental, bahkan selama bulan puasa. Kita tetap dapat melakukan olahraga saat puasa. Olahraga yang kita lakukan adalah olahraga dengan intensitas ringan sampai sedang setelah berbuka. Kita dapat berjalan kaki atau bersepeda menjelang berbuka. Apalagi jika kita melakukannya sambil mencari makanan untuk berbuka. Tentunya olahraga yang kita lakukan tak terasa melelahkan.
7. Tidur yang cukup
Selain memperhatikan makanan, pengaturan pola tidur merupakan hal yang penting. Mengantuk selama puasa bukanlah disebabkan tidak makan dan minum seharian, melainkan waktu tidur yang tidak cukup. Kita harus bangun lebih awal sekitar pukul 3-4 pagi untuk sahur sehingga kita harus tidur lebih awal kebutuhan tidur kita tetap tercukupi.
8. Makan buah yang mengandung air
Makan buah yang mengandung air seperti semangka, pir atau melon dapat menjadi alternatif yang lebih sehat untuk pengganti makanan dan minuman manis. Hal ini karena buah yang mengandung banyak air baik untuk menjaga hidrasi dan memenuhi kebutuhan zat gizi selama bulan puasa.
9. Konsumsi kurma saat berbuka puasa
Kurma adalah sumber energi cepat karena mengandung gula alami yang dapat mengembalikan kadar gula darah yang rendah selama berpuasa. Kurma juga mengandung air dan elektrolit sehingga dapat membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang selama puasa. Selain itu, kandungan serat dalam kurma mencegah makan berlebihan saat berbuka puasa.
Itulah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk tetap sehat dan bugar melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadan. Mari kita jadikan momentum puasa di bulan Ramadan ini untuk banyak beribadah dan meningkatkan kesehatan.
Sumber bacaan:
https://hellosehat.com/nutrisi/tips-makan-sehat/8-cara-menjaga-tubuh-agar-tetap-fit-saat-puasa/
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20220406155129-289-781173/5-cara-berbuka-puasa-sesuai-contoh-nabi-yang-bisa-diamalkan
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6017808/4-hadits-keutamaan-sahur-waktu-mustajab-yang-penuh-berkah
41
Apa yang dirasa saat umur sudah sampai di angka ini? Yang jelas sekarang semua tak lagi sama. Tak ada lagi mama yang ...
-
Namaku Sari, tepatnya Benang Sari. Aku seorang siswa di sebuah sekolah. Ayahku guru biologi dan ibuku pecinta bunga, karena it...
-
Rona merah itu kembali mengiringi senyuman manis yang dulu sering muncul di wajahnya. Semuanya karena Artemis. Teman SMA yang ...






.jpeg)
