Tampilkan postingan dengan label My Daily Activity. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Daily Activity. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2026

Mak Lampir Juga Perempuan 2#

 

 Tak terasa lima tahun sudah dia meninggalkan Bandung. Bukan benar-benar meninggalkan sebenarnya. Azzura terkadang pulang di akhir bulan atau di libur lebaran. Sejak perpisahannya dengan Elzar, Azzura merasa Bandung bukan lagi tempat yang menyenangkan. Terlalu banyak kenangan di setiap sudut kota ini.
Kini Azzura merasa tak ingin lagi bersembunyi. Tak ada gunanya bersembunyi dari orang yang sebenarnya ingin kau temui. Pikiran itu akhirnya dapat Azzura terima. Selama ini dia selalu berharap bisa bertemu secara tidak sengaja dengan Elzar. Banyak skenarioyang telah dirancangnya meski hanya di dalam angan. Dia terlalu malu untuk mengakui bahwa di hatinya masih ada Elzar.
Dia memang terluka saat itu hingga memutuskan untuk pergi. Namun setelah hari berlalu dan tahun berganti dia mulai merindukannya. Rasa malu menahannya untuk berlari dan kembali memeluknya.
Saat menerima SK CPNS dia sedikit terhibur. Mereka tidak akan tinggal di kota yang sama lagi. Sulit rasanya tetap berada di kota yang sama dengan dia. Apalagi sahabat terbaikmu adalah kakaknya. Sangat tak mungkin untuk tidak tahu menahu tentangnya.
“Kamu pulang ke Bandung sekarang?” Tanya Bu Nisa, teman terdekatnya selama mengajar di SMPN yang ada di Kuningan. “Kamu pindah bukan karena Pak Anjas yang selalu mendesakmu untuk menerima cintanya, kan?” Bu Nisa menebak-nebak.
“Bukan, mbak. Aku sudah menjelaskan padanya kalau aku masih belum bisa move on.” Azzura tersenyum malu.
“Mantanmu itu memang cakep, Zu.” Bu Nisa mengacungkan jempol.
“Pak Anjas juga ganteng, mbak.” Azzura bicara dengan jujur.
“Tapi masih kalah ganteng sama mantanmu.” Bu Nisa keukeuh dengan pendapatnya.
“Mbak Nisa bisa saja. Aku tinggal dulu ya, mau pamitan sama teman-teman di TU dan di Labkom.”
“Ditunggu kabar baiknya ya.” Bu Nisa mengedipkan mata pada Azzura yang langsung tertawa.
***
 “Azzura, ya?” Zami, rekan kerja Elzar menghampirinya saat sedang asyik menulis di kafe.
 “Eh, Kak Zami. Apa kabar?” Azzura mengalihkan pandang dari tab-nya lalu menyalami Zami.
 “Baik. Sendiri aja?” Zami larak-lirik mencari.
 “Iya. Kakak?” Azzura balik bertanya. Dalam hati dia sedikit waswas. Biasanya Elzar selalu bersama dengannya.
 “Aku sendiri.” Sepertinya Zami menyadari siapa yang dicari oleh Azzura. “Si Edogawa masih asyik memecahkan barisan kode di laptopnya.” Zami tersenyum. “Kamu ke mana saja? Si Edogawa bilang kamu menghilang.”
 “Aku baru kembali lagi ke Bandung.” Azzura pun menceritakan di mana dia selama lima tahun terakhir ini. Mereka hanya bicara sebentar. Zaki segera berpamitan setelah pacarnya menelepon.
 Elzar pasti akan segera tahu kalau aku sudah kembali, bisik hati Azzura setelah Zami berpamitan.
***
Malam harinya setelah dia kembali ke rumah, Azzura kembali membuka foto-foto Elzar yang dia simpan di Google Drive-nya. Kenangan demi kenangan kembali menampakkan diri.
Azzura tak pernah berpikir bisa jatuh cinta pada adik sahabatnya. Awalnya Elzar hanyalah adik kecil yang selalu mengganggu acara curhatnya bersama Elvira. Lama kelamaan adik kecil itu malah sering muncul di hari-harinya. Dia sering ikut campur dalam hidupnya. Dia juga sering ikut marah dan menggalau bersama saat Azzura putus dengan pacarnya.
“Daripada patah hati terus mending pacaran sama aku.” Usul Elzar saat itu.
“Hei, baru juga dua kali punya pacar.” Protes Azzura.
“Iya sih. Tapi dua-duanya selingkuh, kan?” Elzar mengingatkan. “Yang pertama balikan lagi sama mantannya. Yang kedua malah lebih milih sahabatnya. Kamu tuh bego apa tolol?”
“Pakai majas bisa kan, dek!” Azzura memelototi Elzar. Kata-kata itu sering diucapkan Azzura kalau dia merasa kata-kata Elzar keterlaluan.
“Mau personifikasi atau hiperbola?” Elzar mengedip-ngedipkan mata besarnya.
“Metafora sepertinya bisa. Asal jangan otak udang.” Azzura tertawa.
“Jadi kapan aku bisa ngapel ke rumah?”
“Kapan-kapan. Lalu Tania?”
“Dia bukan pacarku.”
“Apa iya? Buktinya dia nempel terus.”
“Makanya, segera akui aku sebagai pacar. Biar dia berhenti nempel.” Elzar menatap Azzura dengan serius.
“Beresin dulu kuliah. Biar mama dan kakakmu tenang!”
“Janji ya!” Diam-diam Elzar merekam percakapan mereka.
***
“Kamu yakin menerima adikku sebagai suamimu?” Tanya Elvira beberapa saat sebelum Azzura dan Elzar menikah. “Kalau mau kabur aku bisa bantu?” Elvira memasang wajah serius.
“Masa sama adik sendiri begitu, El?” Azzura menatap Elvira sambil menahan tawa.
“Kamu tuh sahabat terbaik aku. Elzar juga satu-satunya adikku. Aku enggak mau kehilangan salah satu dari kalian.”
“Aku yakin, El.” Azzura meremas tangan Elvira lalu berjalan mendekati meja akad nikah, di mana Elzar dan ayahnya sudah menunggu.
“Hai Mak Lampir.” Bisik Elzar sambil meraih tangan Azzura dari genggaman kakaknya lalu mengajaknya duduk. “Kamu cantik.” Bisiknya lagi saat Azzura duduk.
Awalnya Azzura dapat memaklumi pekerjaan dan hobi Elzar. Namun lama kelamaan dia merasa jenuh. Elzar semakin sibuk dengan pekerjaan dan hobinya hingga mereka jarang memiliki waktu untuk bersama. Belum lagi Tania yang tetap menempel meski sudah tahu kalau Elzar bukan lagi lelaki lajang. Azzura merasa sedih dan kesal tapi mencoba untuk menahan diri.
Namun kekesalannya tak dapat dibendung lagi hari itu. Dia baru saja kehilangan bayi yang tanpa sadar telah tumbuh di rahimnya. Selama ini haidnya kadang tidak teratur sehingga saat haidnya tidak datang bulan itu Azzura tidak cepat-cepat membeli tes pak. Namun kali ini dia merasa ada yang sedikit berbeda. Dia pun memutuskan untuk membeli alat tes. Saat garisnya lebih dari satu Azzura menangis bahagia. Dia pun pergi ke dokter untuk memastikan.
Azzura ingin memberi Elzar kejutan sehingga menunggu untuk memberi tahunya. Dia ingin memberi tahu Elzar secara langsung. Dia pun menunggu sampai Elzar selesai dengan proyek barunya. Dia sudah menyusun skenario di benaknya. Namun sayang, bayi mereka tak bisa menunggu. Tuhan kembali mengambilnya beberapa minggu kemudian.
“Zu, kamu yakin tidak akan memberi tahunya?” Tanya Elvira setelah mereka pulang dari rumah sakit.
“Sebaiknya dia tidak tahu, El. Dia pasti merasa bersalah dan sedih.”
“Baiklah kalau itu yang jadi keputusanmu.”
***
Hari itu Elzar berjanji akan menemani Azzura untuk pergi ke pernikahan saudaranya. Namun sepertinya Elzar lupa dengan janjinya. Saat Azzura menghubungi ponselnya, Tania yang menerima. Dia mengatakan kalau Elzar sedang tidur. Mendengar hal itu Azzura langsung kesal. Mengapa perempuan itu ada bersamanya. Bukankah Elzar bilang tidak bisa pulang karena harus menyelesaikan pekerjaannya.
Amarah Azzura makin memuncak saat Tania datang mengantar jaket Elzar.
“Mbak mungkin sudah jadi istrinya. Tapi hatinya tidak sepenuhnya milik, mbak. Buktinya dia masih peduli sama aku.” Tania menyimpan jaket Elzar di kursi lalu pergi.
Setelah Tania pergi Azzura mengemasi pakaiannya. Dia sudah tak bisa menahan diri lagi. Dia tak ingin terus menunggu dan diabaikan. Meski hatinya sakit dia memilih untuk berpisah. Azzura meminta semua orang terdekatnya agar menjauhkan Elzar darinya. Dia ingin melupakannya.
Ternyata tak segampang itu melupakan orang yang dicintai. Azzura menahan diri sekuat mungkin untuk tak mencari tahu tentang keberadaannya. Dia memfokuskan diri pada pekerjaan. Dia selalu menghindari pembicaraan tentang Elzar ataupun asmara. Namun jauh di lubuk hatinya nama itu tetap bergema.
Saat pertama kali bertugas di Kuningan dia berpikir untuk tidak mengajukan mutasi. Namun saat ada kesempatan dia malah memutuskan untuk kembali ke Bandung. Dia tahu tak mungkin selamanya menjauh dari Elzar. Apalagi sekarang dia sudah mulai kembali berkomunikasi dengan Elvira.
***
“Bolehkah saya duduk di sini?” Elzar bicara dengan hati-hati.
“Elzar….” Azzura memalingkan wajah dari tab-nya dan menatap Elzar.
“Jadi bolehkah aku duduk di sini?” Elzar kembali bertanya.
Sebelum menjawab Azzura menatap ke sekeliling kedai kopi. Hari itu pengunjungnya sangat ramai. Dengan berat hati dia pun mengizinkan Elzar untuk duduk.
Setelah Elzar duduk, Azzura kembali asyik dengan tab-nya. Dia berusaha mengabaikan keberadaan Elzar, meski diam-diam mencuri pandang. Azzura menunggu Elzar memulai pembicaraan. Namun Elzar malah mengeluarkan laptopnya dan mulai bekerja. Akhirnya keduanya malah sibuk dengan kegiatan masing-masing.
“Sudah mau pulang?” Tanya Elzar saat melihat Azzura mengemasi tab dan buku catatannya. Azzura tidak bersuara. Dia hanya mengangguk. “Aku antar pulang ya.” Lanjut Elzar sambil mengemasi laptopnya.
“Memangnya tidak ada yang marah kalau kamu mengantarku?” Tanya Azzura akhirnya.
“Di dunia ini yang berani marah padaku cuma kamu.” Elzar menatap Azzura sambil tersenyum.
“Oh ya aku lupa kalau hidupmu hanya di kelilingi mimi peri. Dan hanya aku satu-satunya Mak Lampir.” Azzura mendelik kesal.
“Mak Lampir yang selalu kurindukan.” Elzar tersenyum sambil berdiri lalu mengambil tas Azzura dan berjalan mendahuluinya. Mau tak mau Azzura pun mengikuti langkahnya meninggalkan kafe.

YN, 08-05-2026

Jumat, 17 April 2026

Mak Lampir Juga Perempuan 1#

 

Lima tahun sudah berlalu tapi kenangan tentang Azzura tetap tinggal di benak Elzar. Elzar masih sering mencari tahu tentang keberadaanya. Meski Elzar tahu Azzura tak ingin mengenalnya lagi, dia tetap berharap. Baginya hanya Azzura satu-satunya yang mampu membuat hatinya berdebar kencang selain kopi.

“Zar, kemarin aku bertemu mantan istrimu.” Zami yang baru datang menghampiri meja Elzar. Melihat Elzar tidak menunjukkan reaksi apa-apa, Zami pun kembali melanjutkan. “Kami mengobrol sebentar. Katanya dia baru kembali setelah bertugas selama 5 tahun di Kuningan.”

“Jadi selama ini dia bersembunyi di sana.” Elzar akhirnya memberikan tanggapan.

“Kamu masih mencarinya?” Zami menatap Elzar dengan penasaran. Elzar tidak menjawab. Dia hanya menanggapi rasa penasaran Zami dengan senyuman. “Sudah lima tahun berlalu.” Zami mengingatkan.

“Aku tahu. Tapi sehari pun aku tak pernah bisa melupakannya.” Elzar tersenyum tipis.

“Waktu itu kenapa sih kalian memilih berpisah?” Zami menarik kursi dan menyimpannya di dekat meja kerja Elzar. Selama ini dia benar-benar penasaran.

“Kapan-kapan aja deh ceritanya. Aku lagi sibuk?” Elzar menunjuk layar komputernya yang sedang memuat barisan kode program yang sedang dijalankan.

“Baiklah!” Zami menyerah karena dia juga harus mulai bekerja.

Setelah Zami pergi, Elzar membuka akun Instagramnya di ponsel dan mencari akun Azzura. Unggahan terakhir perempuan itu menunjukkan dia sedang duduk di kedai kopi sambil menulis. Saat tahu dia tidak mengunci akunnya, Elzar pun mulai melihat-lihat unggahannya.

Uang jajan Mak Lampir sepertinya habis, Elzar bergumam. Dia tertawa lalu kembali menggulir unggahan di akun Azzura. Dia berusaha mencari-cari foto terbarunya tapi tak satu pun dia menemukannya.

 Seperti apa dia sekarang? Elzar bertanya-tanya.

Setelah mereka selesai mengurus perceraian, Azzura menghilang. Azzura tak mau bertemu dengan Elzar. Azzura benar-benar memutuskan komunikasi dengannya.

“Kata Zami, Zu sudah kembali ke Bandung.” Elzar menelepon kakaknya, yang juga sahabat baik Azzura.

“Iya. Sudah hampir satu tahun malah.” Sahut Elvira dengan santai.

“Kok enggak ngasih tahu?” Elzar sedikit kesal.

“Dia yang melarangku. Kami baru dekat lagi setelah empat tahun, aku tak mungkin mengkhianatinya.” Elvira membela diri.

“Dan kau tidak merasa bersalah pada adikmu ini?” Elzar mengeluh.

“Kau sendiri yang buat masalah.” Elvira mengingatkan.

“Iya aku tahu. Aku terlalu asyik dengan duniaku. Aku menganggap semua baik-baik saja hingga akhirnya dia pergi.”

“Kau baru tahu betapa berartinya dia setelah kau ditinggalkan.”

“Sudahi ceramahnya bu guru!” Protes Elzar. “Apa dia sudah menikah lagi?”

“Setahuku belum.” Elvira memberi jeda pada jawabannya. “Jangan bilang kau mau mengejarnya lagi?” Elvira menebak-nebak.

“Kalau sampai saat ini dia masih sendiri, berarti dia masih cinta padaku.” Jawab Elzar dengan percaya diri.

“Kau kepedean!” Elvira menaikkan suaranya.

“Memang begitu adanya. Mak lampir itu cinta mati padaku.”

“Terserah kamu lah. Kalau kali ini dia sakit hati lagi, kucoret kau dari kartu keluarga!’ Ancam Elvira sambil menutup pembicaraan.

 Hari itu saat pulang ke apartemennya Elzar terduduk di sofa. Dia kembali teringat pada Azzura. Pikirannya membawa Elzar ke pertemuan pertama mereka. Saat itu Elzar baru duduk di kelas 7. Dia masuk ke kamar kakaknya untuk meminjam komik. Seperti biasa dia masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Begitu masuk dia langsung menimpuk perempuan yang sedang duduk di kursi belajar kakaknya dengan bantal.

 “Siapa sih!” Perempuan itu menoleh ke belakang dan melotot pada Elzar yang tengah asyik cengengesan.

 “Eh maaf, saya kira Vira.” Elzar menggaruk kepalanya yang tiba-tiba jadi gatal.

 “Ngapain?” Elvira masuk kamar lalu mengalungkan lengan di leher Elzar dan memeluknya erat seolah hendak mencekiknya.

 “Adikmu tuh. Tiba-tiba nimpuk pakai bantal!” Perempuan itu melotot pada Elzar lalu menunjuk bantal yang ada di bawah kakinya.

 “Maaf!” Elzar tertunduk.

 Elvira tertawa melihat adiknya yang tertunduk karena ditatap dengan galak oleh Azzura. “Ayo pergi!” Elvira menarik Elzar menjauh dari kamarnya. “Makanya kalau masuk kamar orang tuh ketuk dulu!” Elvira menjitak kepala adiknya.

 “Jadi itu yang namanya Azzura?” Elzar menoleh ke kamar Elvira.

 “Cantik dan imut, kan?” Elvira mengedip-ngedipkan mata pada adiknya.

 “Apanya yang imut. Yang jelas dia galak.” Elzar merinding ketakutan. “Apa kau yakin kalau dia seumuran denganmu?” Elzar menatap kakaknya dengan penasaran.

 “Ya. Kami bahkan lahir di bulan yang sama, hanya beda lima hari.”

 Sejak hari itu Azzura jadi pengunjung setia rumah mereka. Lama kelamaan Elzar mulai akrab dengannya. Elzar mulai terbiasa dengan tatapan galak dan kejutekannya.

“Yakin mau traktir nonton?” Tanya Azzura saat Elzar menjemputnya di tempat dia magang. Elzar tidak menjawab. Dia menunjukkan tiket yang sudah dipesannya melalui aplikasi. “Didi kita sudah bisa cari uang!” Azzura mengalungkan lengan di pinggang Elzar lalu mengajaknya pergi.

“Laki-laki yang tadi bicara denganmu siapa?” Elzar menanyakan laki-laki yang tadi mengobrol dengan Azzura saat Elzar tiba.

 “Rekan kerjaku.” Sahutnya dengan cuek.

 “Apa dia masih lajang?” Lanjut ELzar ingin menuntaskan rasa penasaran.

 “Memang kenapa kalau dia lajang? Kau takut dia naksir padaku?” Azzura menatap Elzar dengan tajam.

 “Tentu saja tak boleh. Kau milikku ingat!” Elzar menunjuk gelang di tangan kanan Azzura.

 “Harusnya saat itu aku tidak menerima gelang ini!”

 “Hei, apa yang sudah diterima tak bisa dikembalikan atau ditukar!” Elzar memakaikan helm di kepala Azzura lalu mengajaknya naik ke boncengan motornya.

 Mereka resmi pacaran saat Elzar menyelesaikan ujian sidangnya. Elzar memang menyelesaikan kuliah lebih cepat dibanding teman-teman seangkatannya. Saat menyadari perasaannya pada Azzura lebih dari sekedar teman, Elzar mulai menyusun masa depannya dengan lebih rapi. Dia ingin menjadi laki-laki yang pantas untuknya.

 Meski usia mereka terpaut tiga tahun, Elzar tidak merasa hal itu menjadi masalah. Elzar justru merasa dialah yang lebih dewasa. Dibalik sikap juteknya terkadang Azzura lebih manja darinya dan juga lebih kekanak-kanakkan. Dengan postur tubuhnya yang mungil, Azzura terlihat lebih muda darinya.

 “Uang jajanmu habis?” Elzar menelepon Azzura setelah melihat unggahan status galau di akun media sosialnya. Azzura tidak menjawab. Dia hanya tertawa. “Aku sudah transfer coba dicek.”

 “Terima kasih bos. Besok kau pulang?”

 “Sepertinya tidak bisa. Aku harus menyelesaikan aplikasi untuk sebuah lembaga.” Elzar terdengar sedih. “Kau menginap di rumah Vira saja.”

 “Kita lihat besok saja!”

 Elzar melamar Azzura satu tahun setelah dia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT. Dia segera melamarnya karena takut Azzura akan berubah pikiran. Selama ini Elzarlah yang selalu berusaha meyakinkan Azzura bahwa niatnya serius.

 Setelah menikah pekerjaan Elzar semakin sibuk. Meski begitu Azzura tidak mengeluh. Dia begitu sabar menghadapinya. Dia jarang mengomel meski terkadang Elzar meninggalkannya untuk bermain basket atau nongkrong dengan teman di sela-sela waktu senggangnya.

 Semua baik-baik saja sampai pada suatu hari. Untuk kesekian kalinya Elzar tidak menepati janjinya untuk mengantar Azzura. Saat Elzar pulang setelah bermain dengan temannya, dia mendapati Azzura sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper.

 “Mau ke mana?” Tanyanya dengan polos.

 “Kembali ke rumah mama?” Azzura menjawab tanpa menoleh padanya.

 “Kenapa sih Zu. Bukankah kita baik-baik saja?” Elzar menarik tangan Azzura dan memalingkan wajahnya agar menatap Elzar. Saat melihatnya, Elzar tertegun. Telaga bening itu berkabut dan sembab. Sepertinya dia sudah menangis cukup lama.

 “Kau mungkin baik-baik saja tapi aku tidak. Aku tak suka lelakiku masih bertemu dengan mantannya. Aku ingin lelakiku juga memiliki waktu untukku bukan hanya memberiku uang.” Azzura menantang Elzar dengan tatapannya.

 “Apa Tania menemuimu?” Elzar menanyakan mantan pacar yang dimaksud oleh Azzura.

 “Kemarin dia datang mengantarkan jaketmu yang dipinjamnya.”

 “Hubungan kami benar-benar sudah berakhir, Zu. Lagipula kami tidak pernah benar-benar pacaran. Tania saja yang berpikir terlalu jauh. Sejak dulu aku hanya menganggapnya sebagai teman.” Elzar berusaha menjelaskan.

 “Cukup!” Azzura berteriak dengan kencang. Dia mendorong Elzar agar menjauh.

 Elzar tidak terpana melihat kemarahan yang terpancar di wajah Azzura. Dia tak pernah melihatnya semarah itu.

Melihat Elzar seperti itu, Azzura menurunkan suaranya lalu bicara, "Sejak awal aku memang bukan ibu peri, Zar. Kau sendiri yang bilang kalau aku mirip Mak Lampir." Azzura menatap Elzar dengan tangis yang tertahan. "Meski begitu, aku tetaplah seorang perempuan. Kuharap kau tidak lupa tentang itu." Azzura menenteng kopernya dan pergi meninggalkan Elzar dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.

 Elzar berusaha menahan kepergiannya tapi kata-kata Azzura menahan langkahnya.

 “Stop. Kalau kau memang pernah mencintaiku kau tak akan menahan kepergianku.”

 Setelah Azzura pergi, Elzar langsung menemui kakaknya. Kakaknya langsung memasang wajah jutek saat dia datang.

 Pasti Elvira sudah tahu tentang kepergian Azzura. Dia tak mungkin bersikap seperti itu kalau tidak tahu.

 “Sebenarnya kamu cinta apa enggak sih sama dia?” Tanya Elvira dengan ketus.

 “Kalau tidak cinta tak mungkin kunikahi.” Elzar menyugar rambutnya dnegan putus asa.

 “Apa kau tahu kalau Azzura keguguran?” Tanya Elvira kemudian.

“Apa? Kapan?” Elzar benar-benar kaget. “Setahuku haidnya memang sering tidak teratur?” Elzar mulai merasa panik. Dia mencoba mengingat.

 “Ya. Dia stres karena selalu memendam semuanya sendirian. Bulan lalu dia mengalami pendarahan, aku mengantarnya ke dokter. Dokter bilang dia keguguran, janinnya baru beberapa minggu.”

 Kata-kata Elvira membuat Elzar seperti disambar petir. Saat itu dia pergi ke Surabaya untuk seminar tentang program IT terbaru. Sebelum pergi Azzura mengeluh sakit tapi dia tidak terlalu menanggapinya. Dia menganggap Azzura hanya sedang bermanja padanya.

 “Kurasa kali ini aku benar-benar tamat.” Elzar menarik napas dengan berat. Dia menatap kakaknya dengan penuh penyesalan.

 Elzar pulang ke rumah dan merenungkan semua sikapnya selama ini. Dia menganggap semua baik-baik saja. Dia menganggap Azzura benar-benar merasa bahagia dengan pernikahan mereka. Ternyata selama ini dia terlalu cuek. Dia terlalu nyaman karena Azzura tak pernah banyak menuntut.

Setelah pikirannya cukup tenang dia mencari Azzura ke rumah ibunya. Sudah beberapa kali dia datang tapi Azzura tidak mau menemuinya. Dia malah memberikannya surat gugatan perceraian. Dengan berat hati Elzar pun mengabulkan keinginannya.

Elzar berusaha untuk melupakannya. Elzar memfokuskan pada pekerjaan. Elzar berharap dengan berlalunya waktu dia dapat melupakannya. Namun sampai lima tahun berlalu perasaan Elzar padanya tak juga hilang. Setiap hari dia malah semakin merindukannya.

Elzar berusaha mencari tahu tentang Azzura. Namun orang-orang terdekatnya seolah menutupi keberadaannya. Azzura benar-benar tak ingin bertemu dengannya lagi. Meski begitu Elzar tak ingin menyerah.

Selama ini Elzar selalu membayangkan kata apa yang akan diucapkannya jika mereka bertemu lagi. Dia juga sudah menyusun berbagai skenario di kepalanya. Namun Tuhan masih belum memberinya jalan.

Suatu sore di hari Jumat Elzar mampir ke kedai kopi yang disebutkan oleh Zami. Kedai kopi tempat Zami bertemu dengan Azzura. Dia memesan americano lalu mencari tempat duduk di dekat jendela. Dan di sanalah dia. Azzura sedang duduk dengan tab di hadapannya. Dia tampak asyik mengetik hingga tak memedulikan keadaan di sekitarnya.

“Bolehkah saya duduk di sini?” Elzar bicara dengan hati-hati.

“Elzar….” Azzura memalingkan wajah dari tab-nya dan menatap Elzar.

“Jadi bolehkah aku duduk di sini?” Elzar kembali bertanya.

Sebelum menjawab Azzura menatap ke sekeliling kedai kopi. Hari itu pengunjungnya sangat ramai. Dengan berat hati dia pun mengizinkan Elzar untuk duduk.

YN, 17-04-2026


Minggu, 12 April 2026

Pencuri Hati Itu Bernama Kanaya

        

        Ezar Khalif belum pernah merasa seputus asa sekarang. Di usianya yang sudah memasuki akhir 30-an, dia baru merasakan jatuh cinta. Dia sudah berusaha untuk menyangkal perasaannya. Dia berpikir mungkin karena terlalu dekat sehingga muncul perasaan lebih. Dia tak tahu harus bagaimana. Gadis itu terlalu muda untuknya.
        “Siang pak, Ezar?” Muridnya menyapa Ezar saat dia melewati ruang kelas XII. Dia baru saja menyelesaikan kelasnya. Dia tidak ingin pergi ke ruang pembina, ruangannya. Dia tahu gadis kecil itu pasti ada di sana. Dia ingin menghindari pertemuan dengannya. Dia pun memutar tubuhnya dan berjalan menuju parkiran.
        “Lif, mau kemana?” Tanya Latief, sahabat Ezar yang juga baru keluar dari kelas.
        “Mau beli kopi.” Jawabnya asal.
        “Sekalianlah ajak Kanaya.” Saran Latief sambil menunjuk gadis yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
        “Memangnya dia mau kemana?” Ezar menghembuskan napas dengan sedikit kesal. Sia-sia saja usahanya untuk menghindari gadis itu.
        “Tadinya aku akan mengantar dia beli memesan makanan untuk rapat tapi Kepala Sekolah memanggil karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Jadi tolong ya, Zar.” Latief menatap Ezar dengan tatapan yang membuat Ezar tak bisa menolak permintaannya.
        “Baiklah!” Ezar pun berjalan menuju Kanaya yang sedang berdiri canggung di dekat parkiran. “Kata Latief kamu mau membeli kue untuk rapat?” Dengan sedikit enggan Ezar akhirnya mengajak bicara gadis itu.
    “Iya. Tapi Pak Latief malah pergi ke ruang kepala.” Gadis itu tersenyum sambil menunjuk Latief yang sedang berjalan menuju ruang Kepala Sekolah.
        “Latief memintaku mengantarmu. Mari!” Ezar memberikan helm Latief pada Kanaya dan mengajaknya naik ke boncengan motornya.
        “Abang yakin Aya boleh ikut?” Gadis itu tampak masih ragu. Sepertinya dia merasa kalau akhir-akhir ini Ezar memnag berusaha menghindarinya.
        “Kalau tak mau ya sudah.” Ezar segera menyalakan motornya.
        “Eh tunggu!” Kanaya langsung naik ke boncengan Ezar dan memeluk pinggangnya dengan erat. Ezar menghembuskan napas dengan berat. Dia berharap degup jantungnya yang kencang tidak terdengar oleh Kanaya.
        Seolah mengerti isi hatinya, sepanjang perjalanan, Kanaya hanya diam. Ezar merasa bersyukur karenanya. Perjalanan yang biasanya terasa begitu cepat kini terasa lama. Ezar sampai menghembuskan napas dengan lega begitu mereka sampai di tempat tujuan.
        “Terima kasih, bang.” Kanaya turun lalu memberikan helm pada Ezar.
        Setelah gadis itu masuk Ezar pergi meninggalkannya dan berjalan menuju kedai kopi yang tak jauh dari sana. Dia memesan satu americano dan buterscotch latte. Setelah pesanan selesai dia kembali ke toko kue untuk menemui Kanaya. Setelah larak-lirik mencari dia tak juga menemukan Kanaya. Dia pun pergi ke toko tas yang ada di sebelah toko kue. Ternyata gadis kecil itu sedang mengagumi sebuah tas warna pink yang ada di etalase.
    Sadar dirinya sedang dicari, Kanaya menoleh lalu melambaikan tangan pada Ezar. Dengan enggan Ezar menemui gadis itu lalu menyerahkan buterscotch latte yang dibelinya.
    "Terima kasih." Sahut Kanaya dengan wajah yang berseri. “Aya kira abang sudah pulang.” Kanaya menatap Ezar dengan malu-malu. “Terima kasih sudah menunggu.” Kanaya tersenyum. “Sebentar aya bayar dulu tas ini.” Gadis itu mengambil tas yang sedari tadi dilihatnya dan membawanya ke kasir. Ezar mengikutinya di belakang.
        “Langsung pulang?” Tanya Ezar setelah Kanaya selesai membayar.
        Kanaya mengangguk lalu berjalan keluar dari toko. “Bang Alif belakangan ini kenapa?” Akhirnya Kanaya mulai memberanikan diri untuk bertanya saat mereka sedang bersiap untuk kembali ke sekolah.
        “Aku baik-baik saja.” Sahut Ezar sambil membantu Kanaya memasangkan helm di kepalanya.
        “Tapi Aya merasa satu bulan ini sikap Bang Alif aneh. Aya sampai berpikir ‘salahku apa’ sampai abang seperti itu.”
        “Oh ya bagaimana rencana mutasimu?” Ezar mengalihkan pembicaraan
      “Entahlah. Dua tahun lalu Aya ingin sekali bisa mengajar di Soreang. Namun sekarang setelah Bapak meninggal Aya bingung. Menurut abang bagaimana?” Kanaya menatap Ezar dengan sedih.
    “Terserah kamu.” Sahutnya ketus. Padahal dalam hati dia sedang bingung dengan dirinya.
    “Memang abang rela kita enggak ketemu lagi?” Kanaya menatap Ezar dengan penasaran.
        “Mengapa harus tidak rela.” Ezar memakai helm lalu mulai menyalakan motornya.
        “Baiklah kalau begitu.” Kanaya menghentikan pembicaraan lalu naik ke boncengan motor Ezar. Sepertinya dia kesal karena sampai mereka tiba di sekolah, Kanaya tetap diam.
        Dalam hati Ezar menyesali kata-katanya. Mengapa dia harus menjawab seperti itu. Padahal sudah jelas-jelas gadis itu memberi jalan baginya untuk memulai percakapan.
***
        “Kamu kenapa sih, lif? Belakangan ini terlihat aneh? Kamu sudah jarang masuk ke ruang pembina?” Latief menatap Ezar yang sedang duduk menonton pertandingan basket di tab-nya.
         “Enggak kenapa-napa?” Ezar tetap asyik dengan tontonannya.
         “Apa kamu bertengkar dengan Aya?” Latief menebak-nebak.
         “Tidak.”
    “Apa kamu benar akan melepasnya begitu saja?” Latief menatap Ezar dengan penasaran. “Aku tahu kau suka pada gadis itu.”
         “Dia terlalu muda untukku. Apalagi statusku duda sedangkan dia masih gadis.”
         “Kalau dia juga suka padamu bagaimana?”
     “Mana mungkin. Dia hanya bersikap baik karena kami sama-sama pembina pramuka.”
         “Baiklah!” Latief pun pergi meninggalkan Ezar karena ada jadwal mengajar.
 Setelah Latief pergi Ezar merenung. Dia merenungkan perjalanan hidupnya selama ini. Ezar memikirkan kembali tentang pernikahannya yang pertama.
    Saat itu dia baru saja lulus menjadi PNS. Ibunya meminta dia segera menikahi perempuan yang sudah sejak lama dijodohkan dengannya. Meski Ezar tidak yakin dengan perasaannya pada perempuan itu tapi Ezar menikahinya.
        Perempuan yang dinikahi Ezar itu sudah dikenalnya sejak kecil. Perempuan itu adalah anak dari sahabat Ayahnya. Perempuan itu cukup cantik dan penurut. Perempuan itu selalu bersikap hangat meski Ezar tidak bisa memperhatikannya dengan baik. Meski sudah berusaha, Ezar merasa belum bisa membalas perasaannya.
        Ezar selalu sibuk dengan pekerjaannya di sekolah dan di toko keluarga. Dia jarang menghabiskan waktu bersama istrinya. Meski begitu istrinya tak pernah mengeluh. Istrinya masih tetap menyambutnya dengan senyuman saat Ezar pulang telat atau bahkan pulang menginap dari sekolah.
    Suatu hari istrinya jatuh sakit. Ezar merasa bersalah karena selama ini sering mengabaikannya. Semakin hari penyakit istrinya semakin parah hingga akhirnya dia meninggal.
        “Emi berdo’a semoga bang Alif bisa bertemu dengan perempuan yang bang Alif cintai.” Kata istrinya saat itu. Mendengar hal itu Ezar tertunduk malu. Dia pun menggenggam tangan istrinya dengan erat. “Emi tahu abang sayang sama Emi. Emi berterima kasih karena abang tetap menjadi suami yang setia meski Emi bukan orang yang abang inginkan.” Kata-kata Emi membuat mata Ezar berkaca-kaca.
         “Maafkan abang, mi!” Suara Ezar terdengar serak dan berat.
         “Jangan minta maaf karena abang tidak salah.”
***
        “Besok kita jadi survei tempat?” Latief menghampiri Ezar yang sedang merapikan bola voli ke lemari.
         “Iya. Salma ikut?” Ezar menanyakan istri Latief yang juga keponakan Ezar.
         “Tentu dia ikut biar Kanaya ada temannya.” Latief tersenyum. “Pakai mobilmu?”
         “Ok. Berangkat jam berapa?”
         “Jam 8.”
        Keesokan harinya selesai sarapan Ezar langsung menuju rumah Latief. Saat tiba di sana Kanaya juga sudah siap. Gadis itu memang tinggal di rumah kontrakan milik keluarga Latief.
        “Mari kita pergi!” Ajak Ezar pada Latief, Salma dan Kanaya.
    “Aya duduk di depan.” Salma mendorong Kanaya agar masuk dan duduk di kursi depan. Ezar hanya menghela napas melihat tingkah keponakannya. Salma adalah orang yang selalu berusaha mendekatkan dia dengan Kanaya.
         “Abang mau?” Kanaya menawarkan keripik talas dari tas kertas yang dibawanya.
         “Nanti saja aku sedang menyetir.” Tolaknya dengan halus.
        Kanaya tidak mengindahkan penolakan Ezar. Dia malah menyuapkan keripik talas itu ke mulut Ezar. Mau tak mau Ezar pun menelannya. Melihat itu Latief dan Salma langsung cekikikan.
            “Abang haus?” Tanya Kanaya setelah satu jam berlalu.
        Ezar tidak menjawab karena Kanaya sudah menyodorkan air mineral yang diberi sedotan. Dengan pasrah dia pun meminum air itu.
        Gadis ini kalau sudah ada maunya susah sekali untuk kudebat. Batin Ezar dengan sedikit kesal.
        “Akhirnya kita sampai juga.” Ezar menghela napas lega begitu mereka sampai disitu Cibeureum.
        Hari itu mereka berjalan-jalan di sekitar situ. Mereka bermaksud mengadakan kemah di sana.
         “Sini aku bawakan tasmu!” Ezar mengambil tas dari bahu Kanaya yang sedang asyik berpose bersama Salma. Gadis itu tersenyum ceria. Bibir mungilnya mengucap terima kasih dengan lirih dan pelan.
        Sementara mereka asyik berpose, Ezar hanya duduk memandangi mereka. Semakin dilihat gadis itu semakin cantik dan menggemaskan. Hati Ezar berdebar kencang saat tanpa sengaja tatapan mereka beradu.
***
        “Kanaya kemana?” Ezar menghampiri Salma yang sedang duduk membaca novel di halaman rumahnya.
        “Tadi ada teman kuliahnya datang. Dia mengajaknya pergi.”
        “Teman kuliah?” Ezar menatap Salma dan menanti penjelasan.
     “Laki-laki. Ganteng. Seumuran.” Jelas Salma sambil tertawa melihat Ezar tidak senang.     “Kurasa laki-laki itu bukan sekedar teman. Terlihat dari tatapannya.” Salma mengompori Ezar.
        “Memang kenapa kalau orang itu menyukainya.” Ezar duduk di samping Salma.
    “Kalau laki-laki itu berhasil meyakinkannya, kemungkinan besar Kanaya akan kembali ke Soreang. Aku akan kehilangan bestiku dan Om akan kehilangan perempuan yang om sukai.” Salma mendengus kesal.
        “Siapa bilang aku menyukainya.” Ezar menyugar rambutnya dengan kasar.
        “Sikap dan tatapan om yang bicara.” Salma tak mau mundur. Dia berniat membuat Omnya segera mengakui perasaannya pada Kanaya.
        Hari itu Ezar tetap tinggal di rumah Salma sampai Kanaya pulang. Dia penasaran dengan teman kuliah yang diceritakan Salma. Sepertinya Salma memang benar, laki-laki itu menyukai Kanaya.
    “Aku tunggu keputusanmu.” Laki-laki itu menatap Kanaya dengan penuh harap sebelum memakai helm dan menaiki motornya. Ezar yang melihat hal itu dari jendela rumah Salma merasa gelisah.
    Setelah laki-laki itu pergi, Ezar buru-buru pamit pulang pada Salma. Dia berjalan menghampiri Kanaya yang sedang berjalan menuju rumah kontrakannya.
      “Eh ada abang.” Kanaya tersenyum pada Ezar yang sedang menatapnya dengan kesal.         “Abang ada perlu?” Kananya menatapnya dengan bingung.
   “Aku ingin tahu tentang kabar mutasimu.” Akhirnya mulut Ezar berhasil mengeluarkan kata-kata. “Supaya aku bisa segera mencari pengganti untuk pembina pramuka putri.” Lanjutnya sambil duduk di kursi yang ada di teras rumah Kanaya.
        “Abang benar-benar berharap Aya pindah?” Raut wajah Kanaya langsung berubah jadi mendung.
    “Sudah kubilang semua terserah padamu. Kau yang punya keputusan untuk hidupmu.”
    “Ya, Aya tahu itu. Namun Aya ingin mendengar pendapat abang. Aya ingin tahu bagaimana perasaan abang tentang itu.” Suara Kanaya tiba-tiba serak dan matanya mulai berkaca-kaca. “Selama ini Aya berpikir, abang peduli pada Aya. Aya berpikir abang pasti merasa sedih kalau Aya pindah. Namun sepertinya Aya berpikir terlalu jauh.” Air mata gadis itu mulai mengaliri pipi mulusnya. “Sekarang Aya sudah tak punya siapa-siapa di Soreang. Aya pernah berpikir untuk tetap tinggal di Garut karena ada Salma dan abang.” Gadis itu terisak. Ezar yang merasa bersalah mengajaknya duduk dan berjongkok di hadapannya. “Kalau tidak suka bilang saja. Mengapa selama ini abang bersikap seolah Aya adalah orang yang paling penting dalam hidup abang. Mengapa abang membuat Aya merasa memiliki tempat istimewa di hati abang.” Gadis itu terus nyerocos dan tak memberi Ezar kesempatan untuk bicara.
        “Maaf kalau abang menyakiti hati Aya.” Ezar menatap Kanaya yang sudah hampir berhenti menangis. “Sebenarnya, abang tak ingin Aya pergi. Namun, abang tak yakin apa Aya mau jadi istri abang. Umur kita terpaut hampir lima belas tahun. Apalagi abang pernah menikah.”
    “Belum tanya tapi sudah mengambil kesimpulan.” Kanaya menyeka air mata di pipinya lalu menghela napas beberapa kali. Kanaya menempelkan kedua lengan di pipi Ezar dan menatapnya dengan serius. “Kanaya sayang sama abang. Bukan sebagai adik tapi sebagai perempuan.” Ezar tertegun mendengar kata-kata Kanaya. “Memang apa salahnya kalau umur kita terpaut jauh? Apa salahnya kalau abang pernah menikah?” Tanyanya kemudian. “Yang terpenting adalah apakah abang menganggap Aya sebagai seorang perempuan atau hanya sebagai adik dan rekan kerja.”
     “Aku tak mungkin memiliki pikiran untuk menikahi perempuan yang hanya kuanggap sebagai adik. Aku tak akan dibuat gelisah oleh perempuan yang hanya kuanggap sebagai rekan kerja.”
    “Jadi apakah Aya harus kembali ke Soreang?” Kanaya menatap Ezar dan menanti jawab.
        “Aku tak mau berjauhan dengan istriku jadi sebaiknya kau tetap tinggal di sini.” Ezar meraih tangan Kanaya yang masih menempel di pipinya lalu menggenggamnya dengan erat. “Bagaimana kalau besok kita temui kakakmu yang ada di Tasikmalaya. Aku ingin melamarmu.” Ezar mengatakan kata-kata itu dengan mantap. Kanaya yang mendengarnya langsung mengangguk dan tersenyum bahagia.

YN, 12-04-2026


Rabu, 11 Februari 2026

Puisi Februari 2026

                   



        Menjelang malam

Ada rasa tak berdaya 

Kala malam tiba mengakhiri cerita

Ada luka tak kasat mata 

Saat bulan menyapa di jendela


Sayup-sayup suara memenuhi telinga

Peluk dan tawa yang kini kosong belaka

Panggilan nyaring penuh cinta tak lagi bersuara

Semua lenyap di telan masa


Tak ada lagi tempat bermanja

Bersenda gurau berbagi cerita

Andai bapak masih bersama

Semua cerita mungkin lebih bermakna


YN, 12-02-2026




    Sesal Karena Malu


Ada rasa tak bersuara

Kala sang surya hilang di telan mega

Ada sedih yang tiba-tiba

Kala jangkrik memainkan nada


    Tawa yang berakhir air mata

    Senyuman yang berganti cela

    Senda gurau yang menjadi kaku

    Kelincahan lidah yang menjadi kelu


Semua hanya karena malu

Bibir bawel tak mampu mengurai rindu

Mulut manis yang tak pandai merayu

Membuat ia melenggang tanpa ragu


YN, 12-02-2026

Jumat, 12 September 2025

Rona Merah di Pipi Tatia

        


     Rona merah itu kembali mengiringi senyuman manis yang dulu sering muncul di wajahnya. Semuanya karena Artemis. Teman SMA yang kembali ditemui Tatia secara tak sengaja. Hari itu mama meminta Tatia untuk mengantarkan jaket ke tempat kemah. Setelah memberikan jaket pada mama, Tatia pamit untuk menengok anak-anak dari sekolahnya yang juga sedang kemah. 

       Langkah Tatia terhenti di depan tenda yang tak jauh dari tenda sekolah mama. Di sana ada sosok yang dulu sering mengganggunya. Si Misdaceum, begitu Tatia memanggilnya. Tatia memanggilnya seperti itu karena sifatnya memang begitu. Artemis terkadang bisa sangat manis dan di lain waktu dia bisa sangat menyebalkan. Karakternya sekomplit rasa ramen yang disukai Tatia “Amis, Lada, Haseum” alias misdaceum.

      Tatia tidak jadi pergi ke tenda temannya karena Artemis mengajaknya mengobrol. Obrolan mereka tak berlangsung lama karena mama memanggilnya. Mama meminta Tatia segera pulang karena tak ada yang menemani papa makan malam. Dengan berat hati Tatia pun pulang. 

       Sesampainya di rumah Tatia langsung menyiapkan makan malam. Setelah siap dia memanggil papa dan mereka makan bersama. Selesai makan Tatia mencuci piring lalu pergi ke kamarnya untuk kembali melanjutkan sepak terjang Mathias dalam Novel Cry or Better Yet Beg. 

     Tatia baru saja membuka aplikasi untuk membaca online saat notifikasi pesan muncul. Ternyata Artemis yang mengirim pesan. Tatia tidak menyangka kalau Artemis akan secepat itu menghubunginya. Tatia pun segera membalas. Hari itu mereka berbalas pesan sampai malam.

       Sejak saat itu mereka mulai rajin berkirim pesan. Mereka bercerita banyak hal. Mulai dari masa SMA, murid-murid yang membuat gegana sampai akhirnya pada pertanyaan “punya pacar enggak?” . Entahlah Tatia juga tak tahu mengapa dia bisa merasa senyaman itu bersamanya. Padahal dulu Tatia seringkali dibuat kesal oleh kejailannya. 

      Awalnya Tatia ragu saat Artemis mengajaknya untuk jalan. Namun dengan pandainya Artemis membujuk dia agar pergi dengannya. Ternyata rasanya cukup menyenangkan. Lama kelamaan bertemu Artemis adalah satu kegiatan yang selalu dirindukannya. Artemis membuatnya merasa siap untuk kembali memulai. Artemis menyemangatinya agar berhenti terus larut dalam kenangan. Artemis juga yang menariknya dari genangan air mata karena kisah cinta yang berakhir. 

***

“Tia, aku mau ketemu papa dan mamamu.” 

“Mau apa?” Tanya Tatia sedikit kaget. 

“Aku ingin berkenalan dengan mereka. Aku ingin mereka tahu siapa sebenarnya laki-laki yang sering membuat anaknya cekikikan padahal tidak sedang nonton drakor.” 

“Kamu yakin? Jangan-jangan setelah bertemu mereka kamu malah tak mau kenal lagi denganku.”

“Mulai lagi.” Artemis menatap tajam pada Tatia. Dia kurang suka kalau Tatia berpikiran negatif. Artemis pun menjitak dahinya dengan gemas.

“Sakit tahu!” Tatia meringis. 

“Kalau sakit berarti pikiran negatifnya sudah pergi.” Artemis tertawa.

Malam Minggu berikutnya setelah magrib, Artemis datang ke rumah. Tatia langsung panas dingin saat melihatnya bersalaman dengan papa. Dia takut mereka tidak cocok. Namun, dugaannya salah. Artemis dan papa langsung akrab. Mereka mengobrol tentang Persib dengan nyamannya.

Kini giliran mama yang sedang mencoba berakrab ria dengan Artemis. Dan lagi Artemis mampu meraih hatinya. Mama ikut larut dalam obrolan Artemis tentang mengajar di SD. Mama makin asyik mengobrol dengannya saat tahu kalau mama Artemis adalah temannya.

Tatia tahu ini baru awal. Namun dia berharap ini adalah awal yang akan berakhir bahagia. Meski hidupnya tak seindah drama korea, Tatia tetap memiliki harapan. Harapan untuk bisa menemukan seseorang yang bisa menerima dia karena dirinya sendiri bukan karena embel-embel lain yang melekat pada dirinya.

Tatia ingin menemukan laki-laki yang bisa diajak tumbuh bersama. Laki-laki yang tetap membersamainya dalam tangis dan bahagia. Laki-laki yang tetap menggenggam tangannya meski huru-hara menerpa rumah tangga. Laki-laki yang tetap jadi anak kesayangan ibunya tanpa harus melepas genggaman tangannya.

“Tia, seandainya kita harus LDR apa kamu masih mau bersamaku?”

“Memangnya kamu mau ke mana?” Tatia menatap Artemis dengan bingung.

“Aku ikut tes P3K dan lolos. Tapi penempatannya di luar Jawa Barat.” Artemis langsung tertunduk sedih.

“Wah, asyik dong nanti aku bisa sering-sering naik kereta.” Tatia berdecak kagum.

“Dasar Duta K-A-I.” Artemis menjembel pipinya. Sepertinya dia ingat kalau sepanjang masa kuliah Tatia selalu menggunakan kereta.

“Kita sudah memulai trek ini bersama. Bukankah lebih menyenangkan kalau kita juga mengakhirinya di garis finish yang sama?” Tatia menggenggam tangan Artemis dan menatapnya lekat-lekat.”

“Terima kasih, Tia. Semoga rona merah di pipimu tetap ada meski nanti jarak akan memisahkan kita.” Artemis balik menggenggam tangan Tatia dan tersenyum bahagia.

YN, 13-09-2025


Kamis, 04 September 2025

Perburuan Terakhir Artemis

         


       Penggemar mitologi Yunani pasti bertanya mengapa namaku Artemis bukan Apollo. Mereka pasti tahu kalau dalam mitologi Yunani Artemis adalah saudari perempuan Apollo. Saat kutanya pada Ibu, sambil tersenyum beliau menjawab, “saat itu aku memang menginginkan anak kembar laki-laki dan perempuan, makanya namamu Artemis.” Aku pun akan menjawab seperti itu pada orang yang bertanya.

Misdaceum!” Teriak suara yang sangat kukenal. Aku langsung menoleh ke arah suara itu. Dan dugaanku benar. Itu Dia. Gadis yang sangat ingin kutemui. “Kemah?” Dia menunjuk seragam Pramuka yang kupakai.

“Eh iya, nih. Kamu?” Aku menggaruk kepalaku yang tiba-tiba menggatal. Padahal tadi pagi sudah keramas pakai sampo antiketombe. 

“Aku sedang mengunjungi ibu!” Dia menunjuk tenda yang letaknya tak jauh dari tenda sekolahku. “Tunggu. Nama Ibumu Soraya?” Aku menenbak-nebak. Kebetulan tadi pagi aku bertemu dengan teman ibuku saat melintasi tenda itu.

“Ya. Kok bisa tahu?” Dia tampak kaget.

“Ibuku bilang temannya juga sedang kemah. Aku diminta untuk menyapa temannya itu.” Aku menjelaskan dan dia mengangguk dengan jenaka. “Yuk duduk!” Aku mengajaknya untuk duduk-duduk di depan tenda sekolahku. 

“Aku enggak nyangka kamu jadi guru.” Dia menahan tawa dengan menutupi bibir dengan jemarinya yang lentik itu.

“Aku saja masih merasa mimpi. Aku yang tengil dan tukang bikin rusuh harus mengasuh anak-anak mungil nan bikin hati gundah gulana.” Aku tertawa, menertawakan diri sendiri. Teringat dulu sering bikin ulah di masa sekolah. “Kamu bagaimana kabarmu. Setelah lulus lanjut ke mana?”

“Aku guru bahasa sekarang.” 

“Oh ya! Bahasa korea?” Tebakku asal. Setahuku dia salah satu penggemar K-Pop. 

“Bahasa Sunda.” Dia tersenyum dan senyumnya membuat debar di dadaku menggila. “Aneh ya?” Tanyanya.

“Ah tidak.” Sahutku setelah kembali menguasai diri. “Kuliah di mana?” Aku kembali bertanya. Aku senang mendengar suaranya. Apalagi melihat binar ceria di telaga bening itu.

“UPI.” 

“Bandung?” Aku terbelalak tak percaya. Jadi selama ini kami kembali berada di almamater yang sama tapi baru bertemu lagi sekarang.

“Memang kamu kuliah di sana juga?” Kini gilirannya yang terbelalak.

“Iya. PJOK. Gini-gini juga aku atlet loh.” Aku menyombongkan diri. 

Kami tidak mengobrol lama. Ibunya datang dan mengajaknya pergi. Meski begitu, kami sudah bertukar nomor ponsel. Senang sekali rasanya kembali bertemu dengan dia. 

      Kemah ini membawa berkah. Padahal tadinya aku malas-malasan. Aku yang sering diomeli ibu karena sering mengganggu keponakan-keponakanku malah harus menjaga anak-anak seusia mereka.

      “Sudah kamu sampaikan salam ibu pada Bu Soraya?” Tanya ibu begitu aku pulang ke rumah.

      “Sudah. Bu, anaknya Bu Soraya ternyata teman SMA-ku.” Aku tersenyum senang.

    “Perempuan?” Tanya ibu sambil tersenyum penuh arti. Dia tahu aku jarang sekali membicarakan teman-temanku. Apalagi teman perempuan. 

     Aku hanya mengangguk lalu segera berpamitan ke kamar. Aku tahu ibu akan bertanya lebih jauh. Namun, saat ini aku belum sanggup untuk membaginya dengan ibu.

      Malam harinya aku mencoba menghubungi nomor yang dia berikan. Ternyata dia memberiku nomor yang benar. Tadinya aku kira dia akan dengan sengaja memberiku nomor yang salah. Kalau itu terjadi aku akan meminta ibu untuk meminta nomornya.

       Obrolan pun bermula. Malam itu kami saling berkirim pesan sampai pukul 10 malam. Keesokan harinya kami juga kembali berkirim pesan. Sejak hari itu aku lebih sering melirik ponselku dibandingkan sebelumnya. Aku menanti pesannya. Ini adalah kegiatan baruku. 

      Setelah beberapa lama hanya saling berkirim pesan, akhirnya aku mencoba untuk mengajaknya jalan. Saat dia menerimanya, aku langsung berteriak kegirangan. 

    Meski bukan penyuka makanan berkuah, aku manggut-manggut saja saat dia mengajakku makan ramen. Awalnya aku menahan diri untuk tak bertanya. Setelah cukup lama mengobrol akhirnya aku bertanya tentang pacar. Ternyata dia sudah putus dengan pacarnya. Hubungan mereka berakhir beberapa bulan sebelum kami bertemu. Dia sepertinya cukup terluka dengan perpisahannya itu.

    Ini kesempatanku untuk menjadi obat bagi lukanya. Aku sudah bertekad untuk kembali membuat rona merah di kedua pipinya kembali. Aku tahu hubungan kami mungkin tidak akan berjalan mudah. Apalagi statusku yang masih sebagai guru honor. Namun, aku akan meyakinkan dia bahwa aku serius. Aku ingin kami berakhir di garis finish yang sama. 

       Aku adalah artemis. Seperti halnya namaku yang diambil dari dewi perburuan, maka aku pun akan membidiknya sebagai target utamaku. Target perburuanku yang terakhir. 

YN, 05-09-2025

 

Jumat, 18 Juli 2025

Ada Akhtar dalam Tawa Safia


 "Meski usiaku lebih muda tak berarti cintaku lebih labil. Kau hanya tak ingin mengakui saja kalau sebenarnya hatimu mulai tergerak." Akhtar tersenyum getir. Dia mengambil ranselnya dari kursi lalu pergi. Meninggalkan Safia tertegun dalam kedalaman makna di balik kata-kata Akhtar.

Bukan baru kali ini Akhtar pergi dengan hati yang kesal. Dia sudah seperti ini sejak sembilan tahun yang lalu. Meski begitu dia tetap menemui Safia. Dia yakin suatu hari nanti Safia akan merasakan ketulusan hatinya. 

***

Safia bukannya tak paham dengan apa yang dirasakan Akhtar. Namun hingga saat ini Safia masih tak ingin mengakuinya. Baginya Akhtar adalah sosok yang terlarang. Sebisa mungkin Safia harus menghindarinya. 

Akhtar adalah sahabat baik adiknya. Usia Akhtar empat tahun lebih muda darinya. Akhtar adalah keponakan Zaki, mantan pacar yang meninggalkannya untuk menikahi perempuan lain. Dan ibu tidak menginginkannya sebagai menantu.

Safia ingin seseorang yang dapat diterima ibu dengan baik. Ibu sudah terlalu sering mengutarakan kekecewaannya terhadap Safia. Ibu selalu berharap Safia menjadi Bidan seperti dirinya. Saat Safia memutuskan untuk masuk ke fakultas keguruan ibu pernah tidak bicara padanya. Ibunya juga pernah kembali mendiamkannya saat dia putus dengan Zaki.

Zaki adalah menantu yang ibu dambakan. Ibu sangat berharap Safia menikah dengannya. Saat Safia mengatakan alasan dibalik putusnya hubungan mereka, ibu menyalahkan Safia. Ibu mengatakan Safia terlalu dingin padanya.

 Mungkin pendapat ibu ada benarnya. Bersama Zaki Safia tidak merasa menjadi dirinya sendiri. Dia selalu menjadi Safia putri yang diharapkan ibu. Lain halnya saat dia bersama dnegan Akhtar. Akhtar membuat Safia merasa menjadi dirinya sendiri. Akhtar tak pernah mengomentari tingkahnya yang kadang masih kekanakan dan tidak terlalu bisa berdandan.

“Nunna, kau boleh melepasnya!” Saran Akhtar saat melihat Safia merasa kelelahan berjalan memakai highheels. Dia melepas sepatunya lalu memberikannya pada Safia untuk dipakai. Saat Safia hanya diam, dia pun berjongkok lalu menggantikan highheels dengan sepatu ketsnya lalu menjinjing highheels itu. “Pakailah dulu, nanti kita beli sandal jepit di depan.” Akhtar tersenyum lalu kembali mengajak Safia jalan. “Kenapa kau memaksakan diri untuk memakai ini!" Akhtar mengacungkan highheel yang dipegangnya.

“Zaki selalu mengejekku pendek dan tidak feminim.” Keluhnya sambil tertawa.

“Bersamaku kau tak perlu memakainya. Kau boleh memakai apapun sesukamu!” Akhtar berkata dengan sungguh-sungguh. 

“Terima kasih. Maaf gara-gara aku kamu harus nyeker.” Safia merasa bersalah melihat Akhtar harus berjalan tanpa alas kaki.

“Kalau kau merasa bersalah, seharusnya kau menerimaku.” Akhtar memancingnya.

“Jangan mulai!” Safia memelototinya. Akhtar tidak gentar. Dia malah tertawa lebar.

Safia merindukan hari-hari itu. Hari di mana dia dapat tertawa gembira bersama Akhtar.

***

“Minggu ini kau tidak pulang juga?” Tanya Prof. Andi pada Jumat Sore Ketika mereka baru selesai mengajar. Biasanya Safia langsung pulang ke Garut begitu jam mengajarnya selesai di hari Jumat. Namun sudah tiga kali Jumat Safia malah menemani Prof. Andi mengajar.

“Aku janji akan menemani Namia jalan-jalan.” Sahutnya sambil merapikan lapotop ke dalam tasnya. Mendengar nama anaknya membuat Prof. Andi tertawa.

“Kalian pasti akan menggosipkan aku?” Tuduhnya sambil tertawa. 

“Apa asyiknya membicarakan Anda.” Safia langsung mencibir, sebal.  

“Namia kesepian sejak ibunya meninggal. Makanya dia sangat bergantung padamu.” Prof. Andi tersenyum malu. Anak semata wayangnya sudah lengket dengan Safia sejak pertama mereka bertemu.

“Makanya segera carikan dia ibu baru.” Safia menyarankan.

“Dia maunya kamu.” Prof. Andi menggoda Safia.

“Anda mulai lagi.” Safia meninju bahu Prof. Andi yang berjalan di sampingnya.

“Aku serius. Dengan menjadikanmu istriku maka orang akan berhenti menjodoh-jodohkan kita.” Prof. Andi tersenyum mengingatkan.

“Tapi saya tidak tertarik menjadi istri Anda.” Kata Safia dengan yakin. 

“Kalau ada laki-laki semuda dan setampan Akhtar, tentu saja aku kalah telak.” Prof. Andi mengingatkan Safia. “Kau terima saja dia. Dan aku tak akan mengungkit lagi tentang hal ini.” Sarannya sambil meninggalkan Safia dan pergi menuju mobilnya.

***

Safia sengaja tidak pulang ke Garut karena dia malas ditanya-tanya oleh ibunya. Setiap pulang, ibu selalu bertanya kapan dia akan menikah. Safia bosan menjawabnya. Safia juga tak ingin pulang karena ibu selalu berusaha menjodohkan dia dengan anak teman-temannya.

Sauqi juga pernah bertanya mengapa dia tidak menerima Akhtar saja. Dengan begitu ibu akan berhenti bertanya. Namun Safia merasa itu bukan penyelesaian yang baik. 

“Dia teman adikmu, Fia.” Tegur Ibu saat melihat keakrabannya dengan Akhtar. Ibu memperlihatkan wajah yang tidak senang saat menegurnya.

“Memangnya kenapa?” Tanya Safia menatap ibu bingung. Dia tidak merasa ada yang salah dengan sikapnya.

“Carilah laki-laki yang lebih tua. Laki-laki yang matang secara umur dan finansial. Demi kebaikanmu sendiri.” 

Karena kata-kata ibulah sekarang Safia mencoba menjaga jarak dengan Akhtar. Safia tahu Akhtar pasti sakit hati. Mungkin sekarang dia akan menyerah dan melupakannya.

***

“Fia, kamu apain lagi si Akhtar?” Todong Sauqi saat mengunjunginya di rumah kontrakan. Dia terlihat kesal. Dan ini bukan pertama kalinya dia sekesal ini.

“Tidak ada. Memangnya kenapa?” Tanya Safia menoleh pada adiknya sejenak lalu kembali fokus pada novel yang sedang dibacanya.

“Sudah beberapa hari ini unggahan di media sosialnya selalu berisi ungkapan patah hati.” Sauqi menarik napas panjang. Dia merebahkan diri di sofa dan matanya memandangi langit-langit. Dia termenung selama beberapa saat. “Awalnya aku mengira cintanya padamu hanya sekedar guyonan. Ternyata dia serius. Cintanya padamu berhasil mengubahnya jadi laki-laki sejati.” Sauqi mengubah posisinya jadi duduk dan memandangi Safia yang sedang asyik membaca novel. “Baru kali ini aku melihatnya segalau itu. Memang tidak sampai menangis seperti waktu itu.” 

“Akhtar menangis? Kenapa? Kapan?” Safia jadi penasaran. Setahunya Akhtar adalah laki-laki tangguh. Dia menatap Sauqi dan menantikan jawaban.

Sauqi tidak segera menjawab. Dia mengulur-ulur waktu sambil mengetuk-ketuk pelipisnya. “Saat tahu kau memilih pamannya,” lanjutnya setelah merasa yakin. “Apa kali ini juga kau akan memilih professormu itu dibandingkan dia?” Sauqi menduga-duga. 

“Dia mentorku. Dia mengisi kekosongan yang ditinggalkan ayah.” Safia meninggikan suaranya. Dia sedikit terpancing emosi. Bukan hanya Sauqi yang beranggapan kalau Safia dan Prof. Andi memiliki hubungan romantis, teman-temannya juga pernah ada yang berkomentar tentang itu. “Aku mengizinkanmu menikah lebih dulu. Mengapa tidak kau lakukan?” Safia menatap tajam pada adiknya.

“Ibu tidak setuju tentang itu. Dia akan merestui pernikahanku kalau kau sudah memiliki calon.” Sauqi kembali menghembuskan napas panjang.

Hari itu setelah Sauqi pulang, Safia tertegun memandangi buku hariannya. Dia membaca kembali curahan hatinya tentang Akhtar. Kalau harus jujur, dia memang memiliki perasaan untuknya. Perasaan yang sampai kini selalu berusaha untuk ditolaknya. Perasaan yang selalu berusaha dia tutup-tutupi.

***

Safia baru saja mendaratkan pinggulnya di sofa setelah seharian menghabiskan waktu bersama Namia, ketika Sauqi datang dengan napas yang ngos-ngosan. 

“Kamu kenapa?” Safia mengajaknya duduk dan menuntunnya untuk menarik napas secara lebih santai. Setelah itu dia mengambilkan minum dan memberikannya pada Sauqi. “Apa yang terjadi?” Tanya Safia setelah adiknya lebih tenang.

“Akhtar kecelakaan, Fia. Kemarin mobilnya menabrak pembatas jalan. Hingga saat ini dia masih belum sadar. Dokter mengatakan keadaannya kritis. Mamanya memintaku membawamu.”

Mendengar hal itu tubuh Safia langsung merasa lemas. Air mata langsung merebak dan memenuhi pelupuk matanya. Rasa takut tiba-tiba saja menjalari tubuhnya. 

“Fia, kau baik-baik saja?” Sauqi mengguncang tubuh kakaknya yang tiba-tiba mematung.

“Bawa aku kesana!” Safia memohon pada adiknya setelah berhasil menguasai dirinya lagi.

“Mari kita pergi!” Sauqi menggandeng kakaknya.

Saat sampai di ruang perawatan intensif, Safia langsung disambut oleh mamanya Akhtar. Dia langsung menggandeng Safia dan membawanya menemui Akhtar.

“Dia menunggumu, nak!” Bisik mama Akhtar dengan mata yang sembab dan berkabut. Safia mengangguk lalu mendekat ke ranjang pasien.

“Tar, aku datang!” Bisik Safia di telinga Akhtar sambil menahan tangis. “Berjuanglah lagi. Kali ini aku menunggumu di garis finish.” Bisiknya.

***

Satu bulan berlalu, Safia belum mendengar kabar dari Akhtar. Dia sibuk menggantikan tugas Prof. Andi untuk memberikan kuliah di daerah Tasik. Prof. Andi harus pergi ke Sidney untuk seminar. Dia mendelegasikan semua tugasnya pada Safia. 

“Kamu?” Safia menatap tak percaya pada laki-laki yang sedang berdiri di depan fakultasnya. 

“Aku datang untuk menagih janji.” Akhtar menghampirinya lalu mengambil tas laptop yang dipegang Safia. “Kau bilang menungguku di garis finish.” Lanjutnya saat melihat Safia mematung. “Bukankah garis finish yang kau maksud adalah pelaminan?” Akhtar melepas cincin dari gantungan kunci mobilnya lalu memakaikannya di jari manis Safia.

“Aku belum bilang ya.” Safia menarik tangannya dan memandangi cincin indah itu.

Akhtar tersenyum lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menelepon seseorang. Setelah itu dia memberikan telepon pada Safia. Ternyata Akhtar menghubungi ibu.

“Sauqi sudah cerita semua Fia. Maafkan ibu. Pulanglah bersama Akhtar. Mari kita bicarakan pernikahanmu dengannya.” Nada suara ibu terdengar senang. 

“Terima kasih, ibu.” Bisik Safia dengan mata berkaca-kaca.

“Sama-sama sayang.”


                                                                                                                YN, 18 Juli 2025

Sabtu, 01 Maret 2025

Tetap Sehat dan Bugar Selama Berpuasa di Bulan Ramadan

 



Bulan Ramadan telah tiba. Umat Islam di seluruh dunia menyambutnya dengan bahagia. Bulan yang penuh dengan keberkahan ini selalu ditunggu setiap tahunnya. Banyak amalan yang bisa kita kerjakan untuk mengisinya seperti tarawih, tadarus, bersedekah dan lain-lain.

 Agar dapat menjalankan ibadah dengan baik tentunya kita harus menjaga kesehatan dan kebugaran kita. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan agar tetap sehat dan bugar selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut.

1. Penuhi Kebutuhan Cairan

Selama berpuasa kita tidak makan dan minum selama hampir 14 jam. Tubuh kita akan kehilangan kebutuhan cairan hariannya. Oleh karena itu kita harus menggantinya setelah kita berbuka. Air yang bagus untuk diminum adalah air putih. Kita juga dapat menambahkan air kelapa sebagai sumber asupan cairan untuk mengganti elektrolit yang hilang. Adapun cara untuk minum yang baik untuk mencukupi kebutuhan cairan kita adalah dengan melakukan dapat pembagian 2-4-2, yaitu 2 gelas saat berbuka, 4 gelas antara buka dan sahur, dan 2 gelas lagi saat sahur.

2. Jangan lewatkan sahur

Tak dapat dipungkiri kadang kita merasa malas untuk makan sahur. Rasa kantuk yang tak tertahan, perut yang tak terbiasa membuat kita malas untuk makan sahur. Padahal makan sahur adalah kegiatan yang tidak boleh kita tinggalkan selama puasa di bulan Ramadan. Rasulullah Saw juga menganjurkan untuk melakukan sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan.

Anas bin Malik RA berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً

Artinya: "Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah." (HR Bukhari).

Makan sahur itu sama halnya dengan sarapan. Makan sahur adalah kegiatan penting untuk menambah energi harian selama berpuasa. Konsumsilah makanan bergizi seimbang agar kebutuhan energi kita tercukupi. Hindari makanan yang terlalu berlemak atau makanan pedas agar kesehatan lambung kita tetap terjaga.

3. Makan secukupnya

Kita mungkin berpikiran untuk banyak makan saat sahur atau berbuka. Namun hal ini bukanlah hal yang baik. Terlalu banyak makan saat berbuka akan membuat perut kembung dan begah. Perut kita yang tadinya kosong akan merasa kaget karena terus dijejali makanan. Akhirnya kita tak bisa melaksanakan salat tarawih karena perut yang tak nyaman. Makan terlalu banyak saat sahur juga tidak dianjurkan. Makan berlebihan saat sahur akan membuat kekenyangan tidak nyaman pada perut, hingga gangguan pencernaan.

Allah juga mengingatkan kita untuk tidak makan berlebihan seperti firmannya dalam Surat Al-Araf ayat 31, yang artinya:

"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus di setiap masuk masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”

4. Hindari makanan berminyak

Menyantap gorengan saat berbuka memang nikmat. Hal ini banyak dilakukan oleh masyarakat karena rasa gorengan yang gurih dan harganya yang terjangkau. Padahal banyaknya gorengan yang dikonsumsi akan membuat kita merasa semakin haus dan memicu panas dalam.

Makanan yang berminyak juga dapat meningkatkan risiko kenaikan kolesterol dalam tubuh Anda. Selain itu, penumpukkan lemak bisa membuat berat badan naik saat puasa. Lebih baik pilih makanan yang direbus, dikukus, atau dipepes yang biasanya lebih rendah lemak.

5. Mengurangi makanan dan minuman yang manis

Minuman manis memang penting dikonsumsi saat berbuka untuk menormalkan kadar gula darah kembali setelah berpuasa seharian. Biasanya, minuman manis dan dingin juga dikonsumsi untuk melepas dahaga setelah menahan haus seharian. Namun, kita harus tetap memperhatikan jumlah gula harian yang dikonsumsi yaitu sebanyak 50 gram per hari. Daripada mengonsumsi minuman manis dari gula pasir, sebaiknya pilih jus buah tanpa tambahan gula yang mengandung serat yang baik untuk kesehatan.

6. Olahraga teratur

Aktivitas fisik memiliki banyak manfaat bagi kesehatan fisik dan mental, bahkan selama bulan puasa. Kita tetap dapat melakukan olahraga saat puasa. Olahraga yang kita lakukan adalah olahraga dengan intensitas ringan sampai sedang setelah berbuka. Kita dapat berjalan kaki atau bersepeda menjelang berbuka. Apalagi jika kita melakukannya sambil mencari makanan untuk berbuka. Tentunya olahraga yang kita lakukan tak terasa melelahkan.

7. Tidur yang cukup

Selain memperhatikan makanan, pengaturan pola tidur merupakan hal yang penting. Mengantuk selama puasa bukanlah disebabkan tidak makan dan minum seharian, melainkan waktu tidur yang tidak cukup. Kita harus bangun lebih awal sekitar pukul 3-4 pagi untuk sahur sehingga kita harus tidur lebih awal kebutuhan tidur kita tetap tercukupi.

8. Makan buah yang mengandung air

Makan buah yang mengandung air seperti semangka, pir atau melon dapat menjadi alternatif yang lebih sehat untuk pengganti makanan dan minuman manis. Hal ini karena buah yang mengandung banyak air baik untuk menjaga hidrasi dan memenuhi kebutuhan zat gizi selama bulan puasa.

9. Konsumsi kurma saat berbuka puasa

Kurma adalah sumber energi cepat karena mengandung gula alami yang dapat mengembalikan kadar gula darah yang rendah selama berpuasa. Kurma juga mengandung air dan elektrolit sehingga dapat membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang selama puasa. Selain itu, kandungan serat dalam kurma mencegah makan berlebihan saat berbuka puasa.

Itulah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk tetap sehat dan bugar melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadan. Mari kita jadikan momentum puasa di bulan Ramadan ini untuk banyak beribadah dan meningkatkan kesehatan.


Sumber bacaan:

https://hellosehat.com/nutrisi/tips-makan-sehat/8-cara-menjaga-tubuh-agar-tetap-fit-saat-puasa/

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20220406155129-289-781173/5-cara-berbuka-puasa-sesuai-contoh-nabi-yang-bisa-diamalkan

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6017808/4-hadits-keutamaan-sahur-waktu-mustajab-yang-penuh-berkah


41

                Apa yang dirasa saat umur sudah sampai di angka ini?        Yang jelas sekarang semua tak lagi sama. Tak ada lagi mama yang ...