Tampilkan postingan dengan label Tweet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tweet. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2026

41

        


       Apa yang dirasa saat umur sudah sampai di angka ini?

       Yang jelas sekarang semua tak lagi sama. Tak ada lagi mama yang mengucap "selamat ulang tahun teh, sing gede milik, teteh cantik...". Hari-hariku tak akan pernah sama lagi.

       Sekarang ini bisa melewati hari tanpa bengong saja sudah sangat kusyukuri. Saat ini begog sedikit langsung ditanya orang "Kenapa?","Apa kamu baik-baik saja?". Pertanyaan yang paling tak ingin kujawab. Karena duniaku memang tak lagi baik-baik saja. 

       "Kamu masih muda lho." Kata mereka yang umurnya paling cuma beda enam tahun. Yang jelas saat ini aku sedang ingin menjauh. Ingin sekedar mengajar tanpa banyak terlibat urusan lain. Aku merasa sedang lelah, itu saja.

      Enam belas tahun sudah kuhabiskan membersamai anak-anak bangsa menyelesaikan pendidikan mereka. Kadang suka tersenyum sendiri saat harus memberi semangat pada orang tua murid tentang anak-anak mereka. Memberi saran tentang cara menyelesaikan masalah anak, padahal diri sendiri belum memilikinya.

        Mudah-mudahan tahun ini bisa kulalui dengan lebih semangat lagi. Meski murid-murid di kelas istimewaku terkadang seolah menganggapku angin lalu, aku tetap akan mengajar mereka dengan sepenuh hati. Meski terkadang "badaiku" tak bisa kuredam tapi aku tak pernah benar-benar membenci kenakalan mereka. 

        Jadi mari kita jalani semuanya dengan bersabar dan bersyukur. Mengingat usia yang sudah memasuki kepala 4, ada baiknya tak terlalu banyak terlibat drama. 

       So, happy birthday to me... Barakallah fii umrik... wish me all the best...

Kamis, 04 Juni 2026

Bagaimana perasaanmu?

    


        "Bagaimana perasaanmu?"

       Pertanyaan sederhana yang sekarang terasa berat untuk dijawab. Pertanyaan yang jika dijawab dengan benar tak akan berbentuk kata tapi airmata. Pertanyaan yang sebenarnya sangat ingin dihindari.

      Bukan ingin mengindari tetapi lebih pada ingin menjaga hati. Menjaga agar dia tetap utuh meski retakannya mulai tumbuh.   

        Dengan mata sembab dan kepala pusing serta badan lelah tapi harus duduk manis dan menceritakan secara berulang kejadian demi kejadiannya. Kejadian yang sampai detik ini masih terasa seperti mimpi. Seandainya aku adalah kaset maka kurekam saja semua cerita itu hingga nanti tinggal kuputar ulang saat ada orang yang bertanya.

        Saat itu sebenarnya aku ingin tidur saja. Berharap saat bangun semuanya selesai dan hanya sebatas mimpi. Namun untuk sekedar rebah saja tak ada waktu. Banyak hal yang harus dibicarakan dan diselesaikan. Dengan sisa tenaga mencoba bertahan dan menghadapi kenyataan.

        Mencoba tersenyum saat hati luluhlantak bukanlah hal yang mudah. Namun itu terus kulakukan. Bukan untuk siapa-siapa tetapi untukku sendiri. Untuk menguatkan diri dan kembali melanjutkan langkah yang masih panjang. 

        Dunia masih berputar langit masih biru tapi duniaku tidak sama lagi. Banyak hal yang tidak akan bisa didengar, dilihat dan dirasa lagi. Banyak hal yang tak akan pernah bisa diulang. Masih banyak PR yang menanti di hadapan.

        Banyak kata yang tak bisa diungkapkan meski sudah terangkai sempurna di dalam skemata. Banyak tangis yang tertahan dan mungkin hanya akan tersimpan dalam dekapan. Banyak waktu yang akan kuperlukan untuk bisa memahami keadaan.

       "Saat seseorang meninggal, orang yang ditinggalkan harus berbahagia. Sesekali mereka boleh menangis, tetapi mereka juga harus tertawa dan menjalani hidup dengan bahagia. Kamu juga harus kuat dan terus melanjutkan hidup. Itu adalah hal yang bisa kamu lakukan sebagai bentuk cinta pada orang yang telah meninggal."

        Kata-kata Ji Euntak pada Kim Shin di atas yang terus coba kugemakan dalam ingatan. Mudah-mudahan pikiran dapat diajak kompromi. Mudah-mudahan hati dapat  diajak merelakan.

YN, 05-06-2026


Senin, 19 Januari 2026

Lagu dan Ayah

 

Pernah galau karena dengar lagu?

Atau pernah termewek-mewek karena mendengar lagu?

Selamat kalian senasib sama saya? 

Tahu lagu Ada Band yang judulnya “Terbaik Bagimu”?

Ini lagu sukses bikin termewek-mewek. Lagu yang bercerita tentang ayah ini bikin mengharu biru bagi aku yang sudah kehilangan ayah. Apalagi di lirik yang ini:

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya

Ku terus berjanji takkan khianati pintanya

Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu

Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Sudah hampir empat tahun bapak pergi tapi rasanya masih seperti kemarin. Masih ingat hari itu adalah hari Rabu. Aku sedang menggelar rapat persiapan studi tur ke Borobudur. Tiba-tiba di telepon sama suami. Ayank (et dah, suami) mengabarkan kalau Bapak sudah beberapa kali kejang. Dengan segala kekuatan yang masih tersisa hari itu, aku nekad pulang ke Garut. Padahal sebelumnya aku tak pernah pulang sendirian dari Maniis (Majalengka) ke Garut. 

Hari itu segala upaya dilakukan agar bisa pulang ke Garut. Mulai dari minta antar ke rekan sampai Pamoyanan, lanjut naek Elf ke Bandrek dan berakhir naik ojol sampai ke RSUD Dokter Slamet, tempat bapak selama hampir 3 bulan terakhir menghabiskan hari-harinya. Perjalanan itu bagaikan mimpi. Seolah-olah sedang masuk ke dalam sebuah alur novel pada bagian komplikasi.

Meski terkadang kami berselisih paham tapi aku sangat menyayangi bapak. Banyak pelajaran hidup yang masih kujalankan sampai detik ini. Banyak harapan yang bapak tujukan padaku. Sampai hari ini pun aku masih berjuang untuk mewujudkannya. 

YN, 19-01-2026



Senin, 12 Januari 2026

Nostalgia Bersama Rangga dan Cinta

        


        "Salah gue?"

        "Salah temen-temen gue?"

      Dialog yang ikonik. Perempuan seumur saya pasti hapal benar dengan dialog tersebut. Dialog yang diucapkan Cinta pada Rangga di tengah pertandingan bola basket yang sedang ditontonnya.

        Kisah Rangga dan Cinta tak akan lekang ditelan waktu. Kisah cinta dua remaja dengan segala permasalahan dan pertentangan batin mereka. Meski kali ini film yang saya tonton adalah remake, rasanya sangat berkesan. Apalagi bagi saya yang jarang nonton film dalam negeri. Bukan karena saya tidak cinta tanah air, sebenarnya, lebih karena film yang beredar lebih sering bergenre horor. 

       Saat melihat Rangga, saya teringat pada siswa saya di sekolah. Lebih tepatnya pada seseorang yang belakangan ini cukup menarik perhatian saya. Rangga yang ditinggalkan ibunya, tak punya teman dan memiliki ayah yang dianggap bermasalah. Bukan masalah tentang orang tuanya, tapi lebih ke bagaimana bila jadi Rangga. Mengapa dia terkesan cuek dan ketus? Mengapa dia cenderung tidak suka berteman dan sendirian?

        Hal-hal itulah yang sampai saat ini masih berusaha saya pahami dari siswa-siswa saya. Mengapa mereka bertingkah? Mengapa mereka tidak betah di kelas? Apa yang sebenarnya terjadi di rumah mereka? Meski saya tidak bisa membantu menyelesaikan masalah mereka, setidaknya saya tak ingin menjadi seseorang yang menambah luka. Saya selalu berharap siswa-siswa yang bermasalah itu segera menemukan jalan keluar dari masalah mereka. 

        Saya harap mereka lebih tangguh dan masih berpikiran logis. Saya berharap mereka mampu melewati masa remaja dengan penuh kenangan manis yang kelak akan membentuk kepribadian mereka menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan dedikasi. Bukan untuk  orang lain tetapi untuk mereka sendiri. 

       Setiap hari setiap orang bertempur di medan perangnya masing-masing. Hal itulah yang ingin saya tekankan pada para siswa. Saya ingin mereka tumbuh jadi lebih tangguh meski cerca dan hina tak akan lepas membersamai pertumbuhan mereka. Tidak selamanya hal yang menyakitkn hanya menyisakan air mata tapi mari kita ubah hal menyakitkan itu sebagai perisai untuk memperkuat batin kita dalam menghadapi masa depan.


YN, 13012026

Sabtu, 12 Juli 2025

Tak Jadi Ucapkan Selamat Tinggal

 

       Sampai jumpa!

       Terima kasih!

       Eits, tunggu tadinya saya mau berpamitan dengan kelas yang seru ini. Ternyata jodoh kita diperpanjang untuk satu tahun ke depan. Bestie saya bilang, "do'a anak-anak begitu kuat, hingga saya kembali menjadi wali mereka". Apapun alasannya saya  menerimanya dengan baik.

       Saya punya prinsip tak ingin menjadi wali untuk kelas yang sama secara berturut-turut. Bukan karena saya egois. Ini lebih disebabkan agar adanya penyegaran. baik saya maupun siswa memerlukan suasana baru untuk menemani tahun kedua mereka di MTs. Namun kenyataan berkata bahwa kami masih harus bersama dalam waktu satu tahun ke depan. 

       Saya tidak sendirian pemirsa. Dua kolega saya juga mengalami kejadian yang sama. Kami mengikuti kelas yang kemarin kami bimbing menaiki tingkat berikutnya. Jika mengingat hal tersebut saya bisa tersenyum lega.😄  

       Masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk kelas ini. Terutama untuk siswa-siswa kesayangan saya. Siswa yang membuat saya merasa tergerak untuk terus belajar dan mencari cara agar kami bisa melewati tahun ini dengan baik. 

      Adapun rencana yang akan saya lakukan adalah sebagai berikut:

1. Mengorganisasikan kembali kepengurusan kelas, terutama untuk pemimpin kelas.

2. Mengintensifkan kembali kegiatan membaca untuk semua siswa.

3. Mengintensifkan kembali hapalan juz 30 untuk semua siswa.

4. Menggalakan kegiatan pohon literasi.

5. Memperkuat komitmen dengan setiap siswa untuk masalah kehadiran dan kebersihan.

   Jadi mari kita mengumpulkan semangat dan tekad yang kuat untuk mewujudkannya. Bukan untuk mendapatkan validasi lebih ke memanfaatkan waktu yang kita miliki. Selamat datang kembali anak-anak ideologisku. Mari kita mulai berjuang lagi untuk menyelesaikan tahun ini dengan penuh warna. See U...😍😍        

Sabtu, 05 Juli 2025

Finally 40

 Happy Birthday.... Saenghil Cukhae.... Barakallah Fii Umrik....

Yeay... Akhirnya sampai di usia ini. Dulu pernah berpikiran usia 40 itu sudah tua dan tak berdaya. Nyatanya masih berjiwa muda dan merasa bisa mengalahkan dunia. 😂

Masih banyak hal yang ingin kugapai meski batang usiaku sudah hampir menuju akhir. Aku masih ingin mewujudkan mimpiku untuk menjadi ibu. Aku masih akan dan terus berjuang untuk mengamalkan ilmu yang telah kuperoleh. Aku masih berusaha jadi anak yang berbakti untuk kedua orang tuaku. Aku juga masih berusaha jadi kakak yang bisa diandalkan oleh kedua adikku. Dan terakhir aku masih berusaha jadi istri yang soleha.

Apa yang istimewa dari tanggal 6 Juli? 

Tentu saja istimewa untukku. 40 tahun yang lalu ibuku yang cantik melahirkan aku ke dunia. Bagiku ini adalah hari untuk diriku sendiri. Hari yang ingin kuhabiskan dengan caraku sendiri. Aku sudah terbiasa untuk memberi kado bagi diri sendiri. Tahun ini mungkin kadonya adalah sepatu.

Belakangan ini aku sedang punya kebiasaan yang baik. Aku memaksa diriku untuk berolahraga. Maka dari itu aku memerlukan sepatu cantik yang akan menemaniku berolahraga. 😎

Aku masih punya target yang ingin kucapai. Aku ingin suatu saat nanti memiliki berat badan ideal. Saat ini aku masih sedang mengusahakannya. Ini adalah kado terbaik yang dapat kuberikan untuk diriku.

Sekali lagi selamat hari lahir Yuli Nurhati, wish u all the best.😘😘


Jumat, 13 Juni 2025

Makna Safia untuk Akhtar

    "Meski usiaku lebih muda tak berarti cintaku lebih labil. Kau hanya tak ingin mengakui saja kalau sebenarnya hatimu mulai tergerak." Akhtar tersenyum getir. Dia mengambil ranselnya dari kursi lalu pergi. Meninggalkan Safia tertegun dalam kedalaman makna di balik kata-kata Akhtar.

    Bukan baru kali ini Akhtar pergi dengan hati yang kesal. Dia sudah seperti ini sejak sembilan tahun yang lalu. Meski begitu dia tetap menemui Safia. Dia yakin suatu hari nanti Safia akan merasakan ketulusan hatinya. 

***

    Akhtar ingat pertemuan pertama mereka. Hari itu Akhtar pergi bermain ke rumah Sauqi, sahabatnya. Di teras Akhtar melihat seorang gadis sedang menyiram bunga. Gadis itu tampak begitu asyik dengan kegiatannya. Dia sampai tak menyadari kedatangan Akhtar. 

    “Permisi.... Permisi.... Permisi....” Akhtar berdiri sambil memanggil gadis yang sedang asyik menyiram bunga. Meski Akhtar sudah berkali-kali memanggil gadis itu masih tak mendengar, Akhtar pun menepuk pundaknya. Gadis itu kaget dan secara refleks menyiram Akhtar. 

    “Ma... af ....” Gadis itu meminta maaf saat melihat Akhtar basah kuyup.

    “Tar, kamu lagi ngapain?” Sauqi tertawa melihat sahabatnya basah kuyup.

    “Mandi....” Sahutnya sambil menyeka air dari wajahnya. Dia menatap sebal pada Sauqi yang tertawa ngakak.

    “Pasti kamu bikin kaget Safia?” Sauqi melirik kakaknya yang mematung dan tampak merasa sangat bersalah. “Fia, ambilin handuk sana!” Sauqi meneleng pada Safia yang langsung kabur ke rumah.

    “Siapa dia?” Tanya Akhtar yang baru hari ini melihat Safia. 

    “Kakak perempuanku.” Sauqi menjelaskan sambil menggandeng Akhtar masuk ke rumah.

    “Kakak?” Akhtar terbelalak tak percaya. Gadis itu tampak seumuran dengan Sauqi. 

    “Dia seperti vampir. Wajahnya seperti tidak menua.” Sauqi berkelakar.

    “Mungkin karena mukamu yang kelewat move on.” Akhtar mengacak rambut Sauqi. 

    “Enak saja.” Sauqi berusaha menjauhkan tangan Akhtar dari tangannya. 

    “Sama kakak kok panggil nama.” Akhtar menatap Sauqi tak percaya. Kakak-kakaknya pasti sudah mencincangnya habis kalau dia berani memanggil mereka dengan nama.

    “Udah biasa. Lagi pula hanya beda empat tahun.” Sauqi tertawa. “Nih ganti baju sana!” Sauqi menyerahkan handuk dan baju ganti pada Akhtar. “Sepertinya Fia terlalu malu hingga lupa membawakanmu handuk,” lanjutnya.

    Sejak hari itu Akhtar mulai sering main ke rumah Sauqi. Dia sengaja pergi ke sana untuk melihat Safia. Dia bertanya pada Sauqi apakah Safia sudah punya pacar atau belum. Akhtar merasa sangat senang saat Sauqi mengatakan kakaknya tak punya pacar. 

    “Kamu naksir kakakku?” Tebak Sauqi saat Akhtar makin sering bermain ke rumahnya. Yang ditanya malah asyik memandangi Safia yang sedang Yoga di halaman belakang. “Anak ini!” Sauqi kesal karena merasa diabaikan lalu meninju bahu Akhtar.

    “Apaan sih, qi?” Akhtar mengusap bahunya.

    “Katanya mau main PS. Eh malah ngintipin kakak gue!” Sauqi ngedumel.

    “Makin dilihat Fia makin cantik.” AKhtar tersenyum lebar.

    “Di sekolah banyak yang naksir kamu. Tapi kamu malah suka sama kakakku yang usianya empat tahun di atas kita.” Sauqi geleng-geleng kepala melihat Akhtar.

    “Sudah jangan ribut. Kalau Safia jadi pacarku nanti kamu harus sungkem.” Akhtar membekap mulut Sauqi lalu mengajaknya masuk kembali ke kamar. Hari itu mereka main PS sampai sore.

***

    “Wow. Kamu lagi ngerjain PR.” Mama berdecak saat masuk ke kamar Akhtar dan melihatnya sedang menyelesaikan soal matematika. Sejak dulu Akhtar lebih senang bermain game daripada belajar. Meski begitu nilai-nilainya di sekolah tidak terlalu buruk.

    “Eh mama sudah pulang.” Akhtar nyengir.

    “Baru saja. Tumben kamu mengerjakan PR?” Mama duduk di pinggir tempat tidur lalu memandangi sekeliling kamarnya yang rapi.

    “Mulai sekarang Akhtar mau rajin belajar.”

    “Kamu sedang jatuh cinta ya!” Mama memicingkan mata dan menatap putra bungsunya dengan penuh rasa penasaran.

    “Memang sekentara itu?” Akhtar tersenyum malu.

    “Kamu berubah. Jadi lebih rapi dan lebih rajin.” Mama tersenyum bangga. “Siapa gadis yang membuatmu jadi keren begini?”

    Akhtar tidak menjawab. Dia mengambil ponsel dan menunjukkan sebuah foto.

    “Cantiknya. Dia teman sekolah kamu?” Mama menebak. “Eh, tapi kayanya dia mirip seseorang?” Mama mengetuk-ngetuk keningnya.

    “Kakaknya Sauqi.” Akhtar tertunduk malu.

    “Mama kira dia seumuran kamu.” Mama terbelalak.

    “Tapi enggak apa-apa kan kalau Akhtar suka dia.” Akhtar terlihat murung. Dia takut mama berkomentar tidak menyenangkan.

    “Selama dia memberi pengaruh baik. Lalu apa yang jadi masalah.” Mama tersenyum lalu mengacak rambut Akhtar. “Selesaikan pekerjaanmu. Mama mau menyiapkan makan malam dulu.”

    Sepeninggal mamanya. Akhtar tertegun memandangi foto Safia. Sudah dua tahun dia memendam perasaannya pada Safia. Sampai saat ini Akhtar masih belum berani mengungkapkannya. 

    Nunna  mau pergi?” Akhtar yang baru saja tiba di rumah Sauqi terlihat kecewa. 

    “Iya. Kamu mau main PS ya!” Safia tersenyum pada Akhtar.

    Nunna mau pergi ke mana?” Dia kembali bertanya.

    “Ke nikahan teman. Sudah dulu ya!” Safia meninggalkan Akhtar termenung sendirian saat sebuah motor berhenti di depan halaman. 

    Ternyata Safia menunggu orang itu. Akhtar tertegun saat melihat laki-laki itu membuka penutup helmnya. Bukankah itu Om Zaki, adik bungsu mama. Apakah mereka pacaran? Akhtar bertanya-tanya dalam hati. 

    Ngapain bengong?” Sauqi menepuk pundak Akhtar.

    “Itu siapanya Nunna?” Akhtar masih menatap Safia yang sekarang sudah naik ke motor dan memeluk erat pinggang Om Zaki.

    “Kayaknya pacarnya.” Sauqi tampak tidak yakin. Dia tahu Akhtar pasti kecewa. 

    “Sejak kapan mereka dekat?” Tanya Akhtar kemudian.

    “Entahlah. Baru kali ini aku melihatnya. Nanti aku selidiki!” Sauqi berusaha menenangkan sahabatnya. “Yuk, masuk!” Dia menggandeng Akhtar masuk ke rumah.

***

Sepertinya hubungan Safia dengan Om Zaki semakin dekat. Akhtar merasa sedih tapi tak bisa berbuat apa-apa. Selama ini Safia hanya mengenalnya sebagai sahabat adiknya. Dia tidak tahu kalau Akhtar diam-diam menyukainya.

“Kamu baik-baik saja?” Mama mendatangi Akhtar di kamarnya. 

“Baik!” Akhtar mencoba tersenyum.

“Sepertinya Zaki serius dengan Safia. Kamu harus merelakannya.” Mama mengelus rambut Akhtar dengan penuh kasih.

“Iya mah. Tapi hati Iif sakit sekali. Dia gadis pertama yang Iif suka.” Mata Akhtar berkaca-kaca.

“Mama tahu, Nak. Tapi Fia juga tidak bersalah. Dia bahkan tak tahu kalau kamu menyukainya.” 

“Mama benar.” Akhtar memeluk mamanya. Tanpa terasa air mata makin merebak dan memenuhi pelupuk matanya.

Meski sakit, Akhtar berusaha untuk tegar. Dia tetap bersikap baik dan manis. Safia tidak bersalah. Dia yang terlalu penakut. 

Akhtar mengobati patah hatinya dengan semakin giat belajar dan berolahraga. Dia ingin jadi laki-laki yang bisa diandalkan oleh perempuan yang kelak jadi pasangannya.

“Apa kau tahu kalau Om Zaki berselingkuh?” Sauqi mendatanginya saat Akhtar baru selesai ujian sidang. Sauqi terlihat marah dan kesal.

“Apa maksudmu?” Akhtar menatap Sauqi dengan bingung.

Sauqi tidak menjawab. Dia menunjukkan foto di Instagram Om Zaki. Di ada unggahan yang dikirim oleh seorang perempuan yang bernama Yunita. Perempuan itu membagikan sebuah momen dan menandai Om Zaki. 

Belakangan ini Akhtar sibuk menyelesaikan skripsinya hingga ia jarang pulang. Dia menghabiskan waktunya di perpustakaan atau di kafe. Dia juga menonaktifkan ponselnya supaya konsentrasinya tidak terpecah.

“Mama kenapa?” Akhtar terpana melihat mamanya yang sedang menangis di ruang duduk.

“Pamanmu menghamili perempuan.” Mama meneteskan air mata.

“Maksud mama?” Akhtar duduk dan memandangi mamanya dengan bingung. “

“Dia berselingkuh dengan rekan kerjanya. Perempuan itu hamil dan minta pertanggungjawaban.” Mama menutup wajah dengan kedua tangannya. “Mama malu pada Safia dan keluarganya.” 

“Apa Safia sudah tahu tentang ini?”

“Iya. Tadi dia datang untuk mengembalikan semua barang yang pernah diberikan Zaki padanya.” Mama menunjuk sebuah kardus yang ada di dekat mereka.  “Fia bilang, perempuan itu meneleponnya dan menceritakan semuanya. Dia juga sudah bicara dengan Zaki.”

***

    “Kau baik-baik saja?” Tanya Akhtar saat dia berusaha mengejar Safia yang tengah berlari di lapangan Kerkof. Tadi dia menelepon Sauqi untuk menanyakan keberadaan Safia. Begitu Sauqi memberitahunya kalau Safia tengah berlari di Lapangan Kerkof, Akhtar langsung pergi menemuinya. 

    “Aku baik. Makanya bisa berada di sini.” Sahutnya sambil tersenyum. Senyum yang selalu dirindukan Akhtar. “Pasti Uqi yang memberitahumu!” 

    “Iya. Aku khawatir pada Nunna.” Akhtar mengusap-ngusap kepalanya sendiri. “Aku takut Nunna menangis sendirian di sini.” 

    “Aku tidak serapuh itu.” Safia tersenyum. 

    “Syukurlah!” Akhtar menarik napas lega. 

    “Oh ya bagaimana ujian sidangnya?” Safia mengubah topik pembicaraan.

    “Berjalan dengan lancar.”  Akhtar tersenyum bahagia. “Kudengar Nunna juga baru selesai ujian Tesis?”

    “Iya. Untungnya aku tahu tentang semuanya saat ujianku selesai. Kalau tidak, aku tak tahu bagaimana.” Safia menghela napas lalu tersenyum.  “Aku terlalu fokus dengan Tesisku sehingga sering mengabaikan Zaki.” Lanjutnya sambil berjalan menuju tempat duduk di pinggir lapangan.

    “Kau pasti sangat sedih.” Akhtar mengikuti Safia dan duduk di sampingnya.

    “Beberapa hari yang lalu memang. Namun sekarang aku baik-baik saja. Hubungan kami memang sudah renggang sebelum keberangkatannya ke Jepang. Saat itu Zaki marah karena aku lebih memilih melanjutkan S2 dari pada menikah dengannya dan ikut ke Jepang.” Safia menghembuskan napas beberapa kali.

    “Syukurlah kalau kau baik-baik saja.” Akhtar tersenyum lega. “Kau tahu Nunna, aku selalu ada untukmu. Jika kau butuh seseorang untuk bercerita aku selalu siap mendengarkan.”

    “Terima kasih.” Safia tersenyum.

***

    Dua tahu sudah berlalu sejak putusnya hubungan Safia dan Om Zaki. Kini Akhtar dan Safia lebih sering menghabiskan waktu bersama. Akhtar tak ingin lagi kehilangan kesempatan. Kali ini dia akan memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Akhtar tahu Safia masih ragu padanya tapi dia akan terus berusaha meyakinkannya.

    “Kau masih muda Akhtar. Masih banyak perempuan seusiamu yang lebih pantas untuk kau pacari." Safia tersenyum. Untuk ketiga kalinya Safia mengingatkan Akhtar tentang hal ini. 

    "Meski usiaku lebih muda tak berarti cintaku lebih labil. Kau hanya tak ingin mengakui saja kalau sebenarnya hatimu mulai tergerak." Akhtar tersenyum getir. Dia mengambil ranselnya dari kursi lalu pergi. Meninggalkan Safia tertegun dalam kedalaman makna di balik kata-kata Akhtar.

YN, 13062025


Senin, 06 Januari 2025

Antara Aku, Menulis dan Gawai

        Waktu kuliah dulu teman- teman sering menggodaku peternak virus. Tahun 2005 komputer masih nebeng yang ada hanya flashdisk. Internet juga hanya ada di tempat-tempat tertentu. 

       Namun ajaibnya pada masa itu aku bisa menyusun tiga draf novel. Dua draf aku kirimkan ke penerbit dan salah satunya aku masukkan ke ajang lomba menulis Dewan Kesenian Jakarta.  Hampir tiap bulan aku kirimkan juga naskah cerpen ke majalah. Namun tak satu pun yang diterbitkan.

        Meski begitu aku bahagia dan terus mencoba. Pada masa itu duduk seharian di depan komputer adalah salah satu cara mengisi kegabutan. Pada masa itu aku sering membayangkan menulis cerita sambil duduk-duduk di kafe seperti tokoh novel.

         Dulu aku tak ambil pusing saat ada masalah dengan komputer. Sobat-sobatku dari teknik mesin akan siap sedia kurecoki dengan semua permasalahan. Mereka jugalah yang menjuluki aku si peternak virus. Padahal waktu itu aku sudah berteman dengan Mcafee dan Smadav.

      Begitu selesai kuliah aku pulang kampung dan memiliki komputer sendiri. Untungnya saat itu komputerku tidak banyak memiliki masalah. Dua tahun berikutnya aku memiliki notebook dan kubawa setiap hari untuk mengajar karena ukurannya yang seperti buku tulis. Yang satu ini bermasalah di chargernya. Aku sampai 2x ganti charger sebelum akhirnya notebook ini bertukar dengan tab 3.

      Saat punya tab 3 aku berharap bisa memiliki keyboardnya sehingga bisa bekerja seperti laptop. Namun keinginan itu tidak kesampaian. Tab 3 keburu matot. Akhirnya beralih lagi menjinjing laptop. Laptop putih yang kutempeli stiker Hello Kitty. Laptop yang menemaniku menempuh S2 sebelum akhirnya beralih ke laptop milik mama. Kini laptop putihku ku alihkan untuk menemani saudara sepupu yang sedang kuliah.

       Permasalahanku dengan kaptop mama adalah baterai. Setelah beberapa lama akhirnya aku harus merogoh saku untuk baterai baru. Laptop itu pun kembali ke pemiliknya karena aku ingin laptop dengan RAM yang lebih tinggi.

         Sebenarnya yang kuinginkan adalah tab S8 tapi yang kubeli malah si cantik Asus. Laptop cantik yang sangat kusayangi. Laptop yang sekarang sedang membuatku sedih karena layarnya tak menyala. 
         Memang aku jarang menjinjingnya lagi ke sekolah karena sudah ada tab s9. Namun aku masih menggunakannya di rumah untuk mengedit. Mengedit dengan laptop lebih cepat dan mudah, menurutku. Dan di musim hujan aku lebih memilih untuk tidak menjinjingnya ke sekolah.

         Aku memang masih bisa bekerja karena ada tab S9. Namun aku tetap galau tentang laptop cantikku. Sampai tulisan ini dipublikasikan aku masih berada dalam kegalauan. 

Rabu, 18 Desember 2024

Keinginan Terlarang (4)

        Waktu yang diperlukan nenek untuk menyiapkan tempat tinggal baru Clarisya ternyata sangat cepat. Dalam waktu tiga minggu saja apartemennya sudah siap dengan segala isinya. Clarisya bahkan hanya tinggal masuk. Nenek telah meminta orang-orangnya untuk memindahkan semua barang dari kamar Clarisya ke kamarnya yang baru saat Clarisya pergi mengantar bapak dan ibu ke desa.

        Clarisya benar-benar takjub. Nenek selalu memberikan semua keinginannya bahkan terkadang melebihi yang dia harapkan. Kuncinya hanya tinggal meminta dan nenek akan segera menyiapkannya.

       Clarisya menyimpan tasnya di samping tempat tidur lalu merebahkan diri. Pikirannya berkelana ke masa lalu. Masa paling bahagia dalam hidupnya.

       "Claris, pacarmu ganteng ya?" Ine, teman sekelasnya, menjajari langkah Clarisya memasuki gerbang sekolah.

       "Ih dia itu kakaknya, tahu." Nora, teman sebangku Clarisya, mengoreksi.

        "Wah, boleh dong titip salam." Mata Ine berbinar-binar.

       "Enggak boleh!" Clarisya melotot lalu berlari ke kelasnya.

        Clarisya benci kalau ada perempuan yang tanya-tanya tentang abangnya. Dia sering ngambeuk kalau ada perempuan yang mencoba mendekati abangnya. Abangnya adalah miliknya. Titik tidak ada koma.

       Orang mungkin akan berpikir Clarisya aneh. Dan Clarisya pun dulu memang merasa dirinya aneh. Namun sejak tahu kalau abangnya itu adalah anak dari sahabat mamanya, Clarisya merasa sangat lega. Hal itu pula yang membuat perasaan posesifnya. makin menjadi.

       "Besok enggak usah anter aku lagi!" Clarisya masuk ke kamar abangnya yang sedang bermain gitar.

       "Lho, kenapa. Sekolah kita kan tetanggaan. Kasihan papa kalau harus mengantar kamu padahal kamu bisa pergi denganku."

      "Nanti banyak temanku yang nitip salam." Clarisya merengut dan abangnya tertawa.

       "Kau cemburu ya!" Abangnya mengacak poni Clarisya.

        "Enak saja." Clarisya berusaha menyingkirkan tangan abangnya dari poninya yang acak-acakan.

       "Tenang saja. Selamanya aku adalah abdimu yang setia, wahai tuan putri." Abangnya menyimpan gitar lalu mengajak Clarisya turun ke ruang makan.

       Di ruang makan Bunda sudah menanti mereka untuk makan malam. Hari ini mereka makan bertiga karena Papa ada jadwal operasi.

       "Claris jangan nempel-nempel terus nanti abangmu enggak bakalan punya pacar!" Bunda pura-pura melotot saat melihat Claris digendong abangnya.

       "Biarin!" Clarisya malah makin bergelayut manja di punggung Abangnya. "Bilang aja kalau Bunda iri karena papa enggak pernah lagi gendong bunda!" Clarisya mencibir.

       "Ya deh. Puas-puasin aja manjanya. Sebentar lagi kan abangmu berangkat kuliah." Bunda tersenyum menggoda Clarisya.

       Setiap teringat hal itu Clarisya kesal. Dia tahu tak mungkin melarang abangnya untuk meraih cita-cita. Namun perasaan takut kehilangan selalu menghantuinya.

        Selesai makan Clarisya dan abangnya bermain ludo sambil mengobrol.

       "Memangnya kalau mau jadi arsitek harus kuliah di Jogja ya? Di Bandung juga kan ada?"

       "Abang kan dapat beasiswanya di sana."

       "Memangnya papa enggak sanggup buat bayar kuliah."

       "Abang ingin mengurangi beban papa dan Bunda. Sebentar lagi kamu kan masuk SMA."

      "Aku SMA nya di Jogja aja, bagaimana?" Clarisya mengefip-ngedipkan mata.

      "Ih jangan nanti papa dan bunda sedih kalau harus berjauhan dengan anak kesayangannya." Abangnya tersenyum.

        Malam itu adalah terakhir kalinya mereka bermain ludo. Abangnya mulai sibuk dengan persiapan kuliah dan tidak punya banyak waktu untuk Clarisya. Sampai hari keberangkatannya ke Jogja mereka tidak banyak bicara.

       "Apapun yang terjadi Fariz tak akan meninggalkan Claris." Abangnya memeluk Clarisya lalu naik ke kereta.

        Clarisya hanya bisa menatap kepergiannya dengan mata berkaca-kaca didampingi Papa dan Bunda yang juga berkaca-kaca. Clarisya merasa sangat sedih. Seolah-olah dia tak akan melihat abangnya lagi.

       Dan ketakutannya menjadi nyata.

Fariz tidak pernah kembali. Bahkan saat papa dan bunda meninggal dalam kecelakaan pun dia tidak muncul. Clarisya benar-benar kecewa dan sedih.

       Clarisya benar-benar sebatang kara. Kedua orang tuanya adalah anak tunggal dan mereka sudah yatim piatu. Dia tidak tahu harus bersandar pada siapa. Dia hanya terpekur memandangi jasad kedua orang tuanya. Dia membeku.

       "Jangan bersedih. Mulai sekarang aku yang akan mengurusmu!" Seorang perempuan yang telah berumur menghampirinya lalu menuntunnya untuk duduk. "Namaku Caroline. Orang-orang memanggilku Nenek Carol. Fariz mengirimku untuk menjagamu."

       Mendengar nama Fariz disebut mata Clarisya kembali berbinar. "Aku ingin bertemu dengannya! Di mana dia?"

        "Kau boleh meminta apapun kecuali bertemu dengan dia." Nenek Carol bicara dengan tegas.

        "Mengapa? Mengapa harus seperti itu?"

        "Ini perjanjian yang kami buat. Aku akan memenuhi semua permintaanmu kalau dia berjanji tidak akan menemuimu."

        "Mengapa? Apakah dia marah padaku?"

        "Inilah yang terbaik untuk kalian berdua. Semakin lama kalian bersama akan semakin sulit bagi kalian untuk saling melupakan."

        "Mengapa kami harus saling melupakan?"

        "Karena kalian terlarang untuk bersama!"

        "Mengapa? Jelaskan!"

        "Suatu hari kau akan tahu alasannya! Sekarang mari kita pulang. Kau harus bersiap menghadiri pemakaman orang tua mu."

        Nenek Carol membawa Clarisya pulang. Dia mengenalkan Claris pada pasangan suami istri yang kemudian menjadi orang tua angkatnya. Mereka memperlakukan Clarisya dengan sangat baik. Mereka tetap sabar meski awal-awal pertemuan mereka Clarisya selalu bersikap tidak bersahabat.

       "Heum... Aku harus menemui nenek untuk berterima kasih tentang apartemen ini!" Clarisya menarik napas dalam-dalam dan berusaha mengenyahkan semua kenangan masa lalu yang menyedihkan.

        Baru saja dia hendak pergi keluar, Bi Imah datang untuk beres-beres. Dia mengatakan kalau nenek sedang tidak ada di rumah. Dan Nenek berpesan akan menghubungi Clarisya kalau urusannya sudah selesai.

        Karena sudah terlanjur berdandan Clarisya pun tetap pergi ke luar. Dia pergi ke kafe favoritnya. Dia memeriksa pos el yang masuk dan membalasnya satu persatu. Dia begitu larut dengan kegiatannya sehingga tidak sadar kalau dari tadi ada yang sedang memperhatikannya.

        "Selamat sore Claris!"

        "Anda lagi! Betapa tidak beruntungnya saya." Claris segera merapikan laptopnya.

        "Saya hanya ikut duduk di sini untuk menikmati kopi. Silahkan kalau Claris mau melanjutkan pekerjaan!"

        "Saya tidak biasa kerja jika ada penonton." Clarisya mendengus kesal.

        "Berarti Claris salah pilih tempat untuk bekerja."

        "Apakah Anda sudah terbiasa mengomentari orang yang tidak di kenal?" Clarisya menatap Pria yang mengaku bernama Pras itu dengan tatapan setajam silet.

        "Kamu terlalu sibuk dengan diri sendiri. Sehingga lupa kalau ini bukan pertemuan kita yang pertama." Pras tertawa kemudian kembali bicara, "Saya sering melihat Anda berlari di Sabuga. Saya juga sering melihat Anda duduk sendirian di Kafe ini."

       "Anda penguntit ya?" Clarisya memicingkan mata. Dia menatap Pras lekat-lekat.

        "Saya hanya seorang laki-laki yang kebetulan sering berpapasan dengan Anda tetapi tidak Anda sadari."

        "Kata-kata Anda persis seperti mahasiswa-mahasiswa yang sering merayu saya."

        "Saya tahu itu. Dan saya iri pada mereka bisa lebih sering melihat Anda."

       "Dan seperti mereka, gombalan Anda pun tidak mempan untuk saya."

        "Saya tidak sedang menggombal. Saya hanya mencoba mengajak Anda mengobrol."

        Clarisya menghembuskan napas dengan kesal lalu kembali fokus dengan tugas-tugas yang dikirim mahasiswanya.

        Pras tidak berbicara. Dia hanya terdiam menatap Clarisya. Dia juga tidak mengomel saat Clarisya merapikan laptopnya dan pergi begitu saja.


Keinginan Terlarang (3)

 Clarisya berlari sekuat tenaga. Dia tidak ingin kalah. Dia tidak peduli kalau tubuhnya merasa letih. Akal sehatnya tertutupi rasa marah.

        Clarisya paling malas kalau ada pria yang mengajaknya berkenalan. Dia tidak ingin berurusan dengan pria. Dia tidak ingin terluka.

        "Hai...!" Pria bernama Pras melambaikan tangan dengan gembira saat Clarisya mendekati garis finish. "Jadi siapa namamu?" Pria itu memberikan air mineral yang masih tersegel.

        "Clarisya!" Sembur Clarisya dengan marah.

        "Boleh bertukar nomor ponsel?" Pria itu menjajari langkahnya sambil menyerahkan ponsel pintarnya.

        "Kita belum saling mengenal, untuk apa bertukar nomor." Clarisya memelototi Pras.

        "Justru karena itu. Aku ingin kita saling mengenal makanya bertukar nomor."

        " Saya tak pernah memberikan nomor secara sembarangan." Clarisya berjalan cepat menuju parkiran.

       "Baiklah!" Pras mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. "Ini kartu namaku. Kau boleh mengecek kantor tempatku bekerja." Pras tersenyum manis.

        Clarisya mengambil kartu nama, memasukkannya ke saku lalu pergi menuju motornya.

        Sesampainya di rumah. Clarisya langsung mengurung diri. Dia mengambil kotak musik berbentuk bola kristal dan mulai memainkannya. Musik dari lagu "You Are My Everything" pun mulai mengalun sendu.

        "Apapun yang terjadi Fariz akan selalu bersama Claris." Kata-kata itu kembali terngiang di telinga Clarisya.

        " Kau bohong! Pembohong!" Clarisya berteriak sambil memukul-mukul boneka Lumba-lumba besar yang jadi boneka favoritnya. Setelah puas berteriak dan memukul Clarisya pun pergi mandi.

        Clarisya tahu setiap dia mengurung diri, ibu akan berdiri di depan pintunya dan menangis memanggil-manggil Clarisya. Sudah lama Clarisya tidak seperti ini. Namun, kehadiran pria tadi membangkitkan kenangan yang lama dipendamnya.

        "Hari ini kita makan apa?" Clarisya langsung menemui ibu di dapur begitu selesai mandi.

        "Ayam bakar. "Sahut ibu sambil tersenyum. Matanya terlihat sembab dan dia berusaha terlihat biasa saja.

        "Ada yang bisa kubantu?" Clarisya menawarkan diri.

        "Tolong keluarkan pie susu dari oven." Ibu bicara sambil tersenyum.

        "Ada pie susu juga. Wow benar-benar hebat." Clarisya langsung menuju oven. Dia mengeluarkan pie susu dan menyimpannya di meja lalu menungguinya sampai dingin.

         Dia selalu suka pie susu. Dia tak pernah bisa menahan diri kalau melihat pie susu. Kekesalannya akan sedikit berkurang kalau dia makan pie susu.


Keinginan Terlarang (2)

 Clarisya mungkin tak bisa sepenuhnya mandiri. Namun untuk saat ini semuanya lebih dari cukup.

        Setelah pulang dari nenek Clarisya kembali bicara dengan bapak dan ibu. Mereka terlihat bahagia sekaligus sedih.

        "Kau telah mewujudkan mimpi kami untuk jadi orang tua. Kau adalah putri terbaik yang Tuhan kirimkan pada kami." Bapak tersenyum pada Clarisya.

       "Kalian juga orang tua terbaik yang bisa dimiliki seorang anak."

        "Bapak sudah menghubungi saudara di desa. Kami akan pergi dalam waktu dua sampai tiga minggu." Ibu berusaha tersenyum meski hatinya sedih.

        "Kita masih punya waktu untuk bersama-sama. Dan aku akan mengunjungi kalian di sela-sela waktu senggangku."

        " Kami akan sangat bahagia menantinya. Dan Claris, kami akan sangat senang mendengar bila ada ... " Bapak berusaha mengosongkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa sesak karena ibu memelototinya.

        " Claris, impian orang tua adalah menikahkan putrinya dengan orang yang baik saat mereka masih hidup." Ibu memperhalus kata-kata bapak.

        Clarisya tertawa karena melihat bapak merengut. Clarisya selalu berharap bisa seperti ibu dan bapak yang mencintai satu sama lain. Harapan Clarisya itu sepertinya tidak akan terwujud dalam waktu dekat.

        Clarisya selalu menjauh bila ada pria yang tertarik padanya. Dia akan langsung membentengi hatinya dengan banyak pemikiran. Dia hanya ingin jatuh cinta pada satu pria. Dan itu untuk selamanya.

        Akankah cintanya menjadi nyata? Akankah ia bisa memiliki pernikahan bahagia seperti ibu dan bapak? Semua itu selalu berputar di kepalanya.

       Sudah sepuluh tahun berlalu tapi aku masih merindukannya. Aku masih berharap dan mungkin akan terus berharap. Dia masih hidup dan aku yakin dia akan kembali padaku.

        Clarisya bangkit dari duduknya. Dia minta izin untuk pergi ke luar. Dia mengganti pakaiannya dengan kostum olahraga lalu pergi ke Sabuga.

        Sesampainya di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), dia langsung siap-siap untuk berlari mengitari lintasan.

        " Hai, ketemu lagi!" Seorang pria bertubuh atletis berusaha menjajari langkahnya.

       Clarisya tersenyum samar lalu mulai peregangan.

        " Hai, aku Pras. Boleh tahu siapa namamu?" Pria itu memandangi Clarisya. Clarisya hanya menggedikkan bahu. "Baiklah, bagaimana kalau kita bertanding?" Lanjut Pria itu, tidak pantang menyerah.

        "Boleh. Kalau saya menang Anda tidak akan mengganggu saya lagi." Clarisya sangat percaya diri.

        "Dan kalau saya menang. Kamu akan memberitahu namamu." Pria itu tersenyum lebar.


Rabu, 06 November 2024

Kondusivitas Mood

     Mengajar di kelas-kelas istimewa memerlukan mood yang bagus. Namun hal itu terkadang sulit diwujudkan. Terlebih lagi saat kelas istimewa itu dihuni oleh 30 remaja yang sedang asyik mencari perhatian dan jati diri.

    Tiga hari dalam satu minggu saya harus menjaga  mood dengan baik. Hal itu harus saya lakukan agar bisa menyelesaikan seluruh rangkaian jadwal mengajar di hari-hari itu. Hal itu bisa sering bisa dilakukan bila masih berada di jam-jam awal. Lain lagi ceritanya bila masuk di jam terakhir dan cuacanya sangat panas. Beberapa kali saat masuk di jam akhir dengan cuaca yang panas, mood saya rusak dan akhirnya mengomel panjang lebar.😔😔

    Saya bukan orang yang bisa bersikap diam atas semua kegaduhan yang mereka buat. Saya tidak bisa tetap tersenyum dan melenggang begitu saja. Itu bukan gaya saya.💃

    Kata celembeng dan cerewet lebih sering dilekatkan pada nama saya, dibandingkan kata pendiam. Orang-orang justru akan merasa heran jika saya hanya diam dan tidak bicara. Mereka akan mengira saya sakit padahal sehat-sehat saja. 😎

    Jika menilik pada struktur alur semua kecerewetan saya itu masih berada dalam tahap komplikasi (masalah mulai bertumpuk) belum sampai pada tahap klimaks (puncak masalah). Tahap klimaks dari kekesalan dan kemarahan saya adalah diam dan tidak peduli. Saya sering menyebutnya "The Mingkem Show". 😏

    Untuk menghadapi kelas istimewa saya sering menyiapkan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik). Hal ini saya lakukan agar mereka dapat beraktivitas dengan teman kelompoknya sehingga tidak terlalu berisik. Meski LKPD yang saya berikan terkadang jawabannya mirip-mirip dengan temannya di kelompok lain. 

    Setiap selesai mengajar di kelas istimewa rasa-rasanya beban di hati berkurang. Apalagi bila mood saya tetap baik setelah keluar dari sana. Hal ini sangat baik untuk saya. Masih ada kelas lain yang harus saya masuki. Saya tak ingin mood yang rusak membuat pembelajaran di kelas lain terkena imbas.

    Di sebuah kelas istimewa pun masih ada anak yang memiliki semangat belajar. Ada satu anak yang membuat saya selalu berusaha untuk menjaga kondusivitas mood. Anak itu tak pernah berkomentar. Akan tetapi, dari wajahnya tampak kekesalan dan kekecewaan. Dia akan menghela napas berat dan hatinya mungkin berkata "heum lagi-lagi ibu marah, lagi-lagi ibu tantrum". 😆

    Mengajar di kelas istimewa memang bukan pertama kalinya bagi saya. Selagi masih jadi guru honor pun saya sudah terbiasa diberikan jadwal di kelas istimewa. Namun generasi sekarang adalah generasi yang secara mental jauh lebih manja dibanding generasi sebelumnya. Generasi sekarang cenderung terlalu dalam ketika menanggapi sesuatu. Daya juang mereka jauh lebih rendah. 😢

    Remaja sekarang terlalu dininabobokan dengan kecanggihan teknologi. Mereka juga lebih mudah mengakses internet sehingga bahasa-bahasa viral lebih  mudah diserap dibandingkan dengan bahasa-bahasa formal. Mereka sering mengucapkan kata-kata yang sedang viral itu meski kadang tidak tahu artinya.

    "Pick me", "mewing", "tobrut" kata-kata itu sering mereka ucapkan. Entah itu karena mereka ingin dianggap keren atau menuruti teman. Sebagian dari mereka kadang tidak tahu arti kata-kata itu. Tak jarang kata-kata viral itu menjadi permasalahan di antara para remaja. Belum lagi masalah panggil memanggil nama orang tua. Tak jarang saya menerima pengaduan "Bu si A nyebut-nyebut nama bapak saya, si B menghina ayah saya". 

    Kalau sudah seperti itu saya hanya mengelus dada dan memegang kepala. Bukan mau triping apalagi ajeb-ajeb. Hal itu saya lakukan untuk membisiki diri saya supaya bersabar. Sayalah orang dewasa di antara mereka. Masa saya harus ikut-ikutan kesal dengan kebocahan mereka. 

    Rekan-rekan terkadang menggoda saat melihat saya baru keluar dari kelas itu. Karena kelas istimewa itu adalah salah satu tempat menguji kesabaran. Di waktu-waktu istirahat atau senggang kami pun sering bertukar cerita dan saling menertawakan kekesalan masing-masing. Hal itu cukup untuk jadi obat bagi kami para pengajar di kelas istimewa.

    Harapan saya untuk kelas istimewa tidak banyak. Saya hanya ingin tetap membersamai mereka hingga pembelajaran di tahun ajaran ini selesai dan tetap sabar. Meski untuk itu usaha saya harus lebih banyak dan tentunya stok sabar saya harus sering diisi ulang. Mudah-mudahan mereka jadi anak-anak yang soleh dan soleha. 💪

    

    

Selasa, 06 Agustus 2024

Repetisi Membosankan

 

Repetisi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata kunci yang terdapat di awal kalimat untuk mencapai efek tertentu dalam penyampaian makna ulangan (sandiwara dan sebagainya). (KBBI)

 

Aku ingin bebas

Aku ingin terbang ke Angkasa

Aku ingin menari bersama burung

 

Sepenggal repetisi dalam puisi di atas terkesan indah. Namun tatkala repetisi itu dilakukan terus menerus justru memudarkan keindahannya. 

Dalam hidup terkadang kita harus melakukan pengulangan demi pengulangan. Hal tersebut dilakukan dengan berbagai tujuan. Seperti halnya saat seorang ibu yang terus menerus mengingatkan anaknya untuk melakukan ini dan itu. 

"Salat dulu nak!", "Makan dulu nak!", "PR nya dikerjakan."

Kata-kata tersebut sering kali terdengar diucapkan oleh seorang ibu pada anaknya. Hal itu dilakukan karena rasa kasihnya pada sang anak. Namun di sisi lain si anak tak jarang malah merasa bentuk perhatian dari ibunya adalah repetisi yang menjengkelkan dan membosankan. 

Pengulangan-pengulangan seperti itu tentunya tidak akan hanya terjadi di lingkungan rumah, di sekolah atau di dunia kerja pun tak dapat dielakkan. Banyak repetisi membosankan yang mengiringi keseharian kita. Saking bosannya terkadang membuat kita jadi malas dan tak lagi peduli.

Jika kita ingat kembali secara umum manusia adalah makhluk yang terbiasa dengan rutinitas. Meskipun pendekatan pembelajaran humanisme lebih digaungkan dibandingkan behaviorisme, kita tak bisa sepenuhnya melepaskan behaviorisme. Dalam pendekatan behaviorisme ada istilah drill (pengulangan) yang dilakukan untuk mengajarkan sesuatu. Hal ini masih bisa digunakan sampai sekarang apalagi untuk anak-anak.

Ketika mengajarkan sesuatu pada anak tentunya kita akan banyak memberikan pengulangan-pengulangan. Salah satu contohnya saat mengajarkan huruf dan membaca. Kita harus terus menerus untuk mengingatkan mereka “ini a, ini b, ini c” dan seterusnya. Cara ini cukup efektif bila mengingat usia dan pola pikir mereka yang masih dalam proses pembentukan.

Lain halnya jika pada anak yang sudah menuju remaja. Repetisi justru akan dianggap membosankan karena pada tahap ini anak sudah memiliki pemikiran spekulasi tentang kualitas ideal yang diinginkan dalam diri sendiri dan orang lain. Pada tahap ini anak merasa tidak perlu lagi diingatkan tentang hal-hal yang sudah mereka tahu. Mereka cenderung merasa jengah jika kita terus menerus mengingatkannya tentang sesuatu.

Lalu apakah yang harus dilakukan? Supaya semuanya tak lagi menjadi repetisi yang membosankan.

Yang harus kita lakukan adalah mengganti kata-kata atau susunan kata yang digunakan sehingga repetisi tak lagi terasa membosankan. Kita juga bisa menggunakan bicara atau cara penyampaian lain yang lebih berterima. Kepiawaian dalam memilih kata dan menggunakan cara penyampaian yang berbeda akan lebih membantu. Selain itu kita juga harus melihat terlebih dulu pada siapa repetisi ini kita berikan. Bagaimana kondisi orang tersebut juga perlu menjadi pertimbangan.

Mari kita sama-sama belajar agar bisa menerima segala hal dengan lebih bijaksana. Mari kita belajar lebih memahami agar repetisi bertujuan baik yang kita terima tak lagi membosankan.

Jumat, 26 Juli 2024

Paradoks Persfektif

    Paradoks adalah pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran. (KBBI)
    Persfektif adalah sudut pandang; pandangan. (KBBI)

      Pernah dengar kata-kata "dasar orang aneh", "alien", "beda server"? Kalau saya sih sering mendengarnya. Kata-kata tersebut pernah beberapa kali ditujukan rekan pada dairi saya. Kadang saya pun berpikir apakah ada yang salah dengan diri ini? Sementara orang-orang berada di saluran fm saya malah ada di am (cek istilah saluran radio, karena saya pendengar radio).
      Orang-orang sering mengira saya menari-nari karena bahagia. Di lain waktu mereka pun sering mengira saya bernyanyi nyaring karena saya kasmaran. Padahal kenyataannya adalah saya sedang merasa bosan, kesal atau tidak bahagia. Saya suka dengan komentar teman saya diunggahan saya pada status FB. Dia menulis "daripada ngabatin mending ngabaso" (daripada membatin mending makan bakso). Kata-kata itu sangat menghibur dan menginspirasi. 
       Saat berada di posisi tak bisa melawan arus, harus manut dan patuh padahal dalam hati kadang tidak sejalan, disitulah saya mulai berulah.😌 
       Saya bisa menggelar konser di meja kerja saya. Istilah konser ini saya gunakan saat saya nyanyi-nyanyi di meja kerja dan membuat kegaduhan untuk teman sebangku saya. Atau mungkin di lain waktu saya akan bergerak-gerak kurang kerjaan yang dikira orang sedang joged-joged.
      Meski saya menyelesaikan kedua gelar di bidang bahasa tapi pola pikir saya kadang lebih suka seperti pola pikir eksak. Saat mengajar saya lebih suka membuat tabel untuk menjelaskan perbedaan dua bahasan atau menggunakan simbol-simbol untuk mencatat. Saya kurang suka ketika berbelit-belit dalam menulis ataupun berbicara.
       Saya adalah orang yang lebih suka to the point. Mungkin hal itu juga yang membuat saya harus melengkapi kembali ujian mata kuliah PKN saya waktu S1.😀  
       Saat itu saya ditelepon dosen agar melengkapi jawaban esai soal UAS. Kata beliau jawaban untuk soal PG sangat bagus karena banyak jawaban yang dijawab dengan benar, hanya saja saya terlalu singkat saat menjawab esai. Kebiasaan to the point ini sering membuat saya kesulitan saat harus berpanjang-panjang dalam berargumen. Hal ini juga sering membuat orang menilai saya teugeug (ketus).
        Mungkin pembelajaran tentang kalimat efektif dan pragmatik cukup melekat dalam benak saya sehingga saya sering bersikap demikian. Bisa jadi saya malas beradu argumen atau mempermasalahkan hal yang kurang penting.
      Memang ada orang yang berpandangan bahwa guru bahasa adalah orang yang suka bicara berbelit-belit, berpanjang-panjang. Orang juga ada yang berpandangan kalau guru bahasa adalah guru yang wajib pintar menulis apapun karena di dalam mata kuliah dan mata pelajaran bahasa ada pembelajaran menulis. Padahal sejatinya tidak demikian.
       Writing is healing. 
       Ya menulis bisa menjadi cara untuk menyembuhkan. Apa yang dapat disembuhkan? 
      Ada hal-hal yang lebih menenangkan setelah diceritakan dan dibagikan kepada orang lain. Namun di saat kita tak bisa bicara karena bibir kadang berubah menjadi kelu saat akan memulai cerita, menulis bisa menjadi jalan keluar. 
       Apakah saya menulis? Tentu.
       Saya tak mungkin dapat menyelesaikan kedua jenjang pendidikan jika tidak menulis. Lalu apakah saya juga menulis saat saya meminta siswa untuk menulis. Jawabnya ya. Saya menulis untuk menunjukkan pada murid-murid saya bahwa saya juga melakukannya. Meski tidak berarti saya mahir atau mumpuni dalam melakukannya. Hal yang saya inginkan adalah mereka mencoba karena segala sesuatu mungkin terasa menakutkan saat belum dimulai dan dilaksanakan.
       Lalu apakah saya aktif menulis? Inilah yang menjadi pertanyaan besar?
      Salah satu kekurangan orang moody seperti saya adalah susahnya untuk konsisten. Saya merasa tertekan hingga kadang tak bisa menyelesaikan apa yang sudah mulai ditulis ketika mood sedang tidak baik. Blog ini pun bukan yang pertama yang saya miliki. Pernah ada satu atau dua blog lain yang pernah saya buat tapi sudah lama tak dikunjungi karena lupa kata sandi. 😇 
        Jadi bila ada yang beranggapan saya pasti rajin dan suka menulis karena guru bahasa itu tidaklah tepat. Menulis itu proses yang melibatkan banyak hal. Menulis juga banyak jenisnya.
       Setiap orang bisa menulis. Apalagi jika menulis itu adalah panggilan jiwanya. Bukan hanya guru bahasa, siapapun bisa melakukannya. Sependek pengetahuan saya, menulis karena hasrat jauh lebih mudah dilakukan daripada menulis karena tuntutan atau kewajiban. Jadi lakukanlah! Tulislah apa yang menjadi minatmu, apa yang menjadi panggilan jiwamu.
          Dan ini adalah tulisan terpanjang yang pernah saya tulis di sini. Entah ada angin apa yang menggerakkan jari-jari saya dan menggelitik skemata yang beberapa waktu ini terasa kaku. Mudah-mudahan saya bisa menulis dengan lebih konsisten. Dan tentunya dengan pikiran yang sebening mata air. 


YN, 26/07/2024
Disponsori lagu-lagu Jepang yang saya pun tak mengerti artinya.😆

Sabtu, 06 Juli 2024

39

      Ini bukan tentang nomor sepatu. Ini tentang usiaku yang sebentar lagi akan melepaskan angka 3 didepannya.
      Tak terasa 39 tahun sudah kulalui. Tahun depan usiaku sudah masuk ke angka empat. Do'a yang kupanjatkan masih sama. Harapan itu masih tumbuh dalam hati meski tidak semenggebu tahun-tahun yang lalu.
      Apa pentingnya ultah? Bagiku lebih ke momen untuk mengingatkan diri bahwa usia semakin berkurang dan masa untuk introspeksi. 
       Jika dulu banyak hal yang ingin kuraih, sekarang tidak. Sekarang aku hanya ingin menikmati sisa hidup dengan tenang. Menemani ibuku di masa tuanya. Menemani adik bungsuku sampai dia bertemu dengan jodohnya. Menemani suamiku.
       Apa yang kulakukan di hari ultah ke-39 ini? 
       Mencicipi kuliner di Festival Baso Aci Garut 2024, di Festival Makanan Pedas dan mencoba menu kopi di kedai kopi yang ada di mal. Berburu seragam sekolah untuk anak SMA. Inilah caraku menikmati hari ini.
       

Selasa, 11 Juni 2024

Sinekdok Yang Menyenangkan

        Pernah dengar sinekdok pars pro toto atau totem pro parte? 

       Kedua hal tersebut adalah gaya bahasa. Sinekdok pars pro toto adalah majas yang digunakan untuk menyebutkan sebagian tetapi dimaksud adalah keseluruhan. Misalnya, Ibu membeli lima ekor ayam. Dalam kalimat tersebut yang ibu beli adalah ayam secara keseluruhan bukan hanya ekornya. Sementara itu, sinekdok totem pro parte adalah kebalikannya, menyebutkan keselurihan tapi yang dimaksudkan hanya sebagian. Contohnya, Indonesia memenangkan pertandingan bulu tangkis. Yang dimaksud dalam kalimat tersebut sebenarnya bukan seluruh warga Indonesia tetapi hanya pemain bulu tangkis.

       Dalam kebaikan sinekdok pars pro toto tentunya menyenangkan. Namun akan tidak menyenangkan rasanya jika dalam keburukan. Hanya sebagian yang melakukan kesalahan tapi yang kena getahnya semua yang terkait. Seperti halnya saat sakit gigi. Satu atau dua gigi yang bermasalah tapi yang terasa sakit hampir semuanya.

       Terkadang kita memberi label yang sama pada siswa kita. Satu atau dua orang yang mambuat kesal tapi rasanya malas untuk mengajar di kelas tersebut. Sebenarnya hal ini tidak boleh dibiarkan. Masih ada siswa lain yang ingin belajar dan menantikan kehadiran kita. Jadi semangatlah! Singkirkan semua duri-duri kecil yang mengganjal itu agar kita bisa mengamalkan tugas dengan baik.

       Kita harus berpikir. Mungkin kita pun diberi label seperti itu oleh orang lain. Bisa itu oleh teman, kolega atau pimpinan. Lalu apa yang harus kita lakukan? Tetap jadi diri sendiri. Tampilkan versi terbaik dari diri kita. Bukan demi menjilat atau mencari muka tetapi agar kita bangga pada diri sendiri.

       Hal yang paling menakutkan bukan dihakimi orang. Penghakiman orang masih dapat dikatakan biasa. Yang paling menakutkan adalah penghakiman dari diri sendiri. Saat hati nurani kita menghakimi. Hati kita tahu jika kita berbuat salah sekalipun tak seorang pun tahu tentang itu.

       Menjadi orang yang baik mungkin melelahkan jika yang kita inginkan adalah validasi dari orang lain. Sangatlah tidak mungkin untuk kita membuat semua orang ikut senang dengan apa yang kita lakukan. Hal itu bukan masalah besar. Hal yang perlu kita lakukan adalah berbuat baik. Masalah respon itu kembali pada hati mereka yang mencoba menerima atau menolaknya.

       Jika setiap hal baik yang kita kerjakan selalu menanti validasi orang, lama kelamaan energi kita terkuras dan lelah. Jadi berbuat baiklah, demi diri sendiri. Berkaryalah demi dirimu sendiri. Capailah semua cita dan mimpi yang mungkin hanya menghuni sudut-sudut hati atau membuat warna di catatan harianmu.

       

Jumat, 07 Juni 2024

Berkaca sebelum Berkomentar

      Apakah dengan bertambahnya umur kita, body shaming berhenti? 
      Jawabannya adalah tidak. "Masa sih badan gede gitu kalau dipukul sakit? Enak yang badannya gede mah enggak akan kedinginan."
      Mungkin kalimat-kalimat itu terdengar biasa saja bagi yang mengatakan. Mungkin juga lucu bagi yang mendengar. Namun tentunya tak menyenangkan untuk orang yang dimaksud.
      Jika selama ini kita mengira body shaming hanya terjadi pada kalangan anak atau remaja, itu sangatlah kurang tepat. Orang dewasa pun sering mengalaminya.
       Semua orang tentu ingin memiliki badan indah layaknya model, kulit seputih salju, bibir semerah darah, rambut sehitam malam. Namun kita manusia yang memiliki gen dan gaya hidup yang berbeda. Ada orang yang memiliki badan kurus tapi makannya banyak. Di sisi lain ada orang yang memiliki badan gemuk tapi makannya sedikit.
       Selama ini tubuh gemuk sering diidentikkan dengan orang yang suka makan coklat, junk food dan makanan tak sehat lainnya. Padahal bisa saja diakibatkan oleh kurangnya olahraga dan bahkan genetika.
        Jadi mari kita berhenti mengomentari kekurangan fisik orang lain. Lihatlah diri sendiri sebelum berkomentar. Kita tak akan pernah tahu sejauh mana dampak yang ditimbulkan dari kata-kata yang kita ucapkan terhadap kehidupan seseorang.

Senin, 03 Juni 2024

Menjelang 40

       Satu tahun lagi usiaku genap 40. Tidak terasa aku hampir menjelang paruh baya. Apa saja ha yang telah kuraih? Coba kita pikirkan.
       Pertama, Berat badan. 
       Mengapa ini jadi hal yang perlu dibahas? Jawabnya adalah orang sering mengingatkanku tentang ini. Bahkan tak jarang mereka tertawa setelah membahasnya. Mulai dari komentar "Masa pantat besar bisa merasa sakit?", "Masa badan besar takut hantu?" sampai pada komentar "Mungkin kamu harus diet biar cepat punya momongan".
       Dulu aku akan melotot dan marah. Sekarang aku hanya akan melihat siapa yang berkomentar lalu menatapnya sekilas. Rasanya tak perlu menghabiskan energi untuk mendebat omongan mereka. Toh berat badanku tak berubah karena komentar mereka. Dan kupikir orang dewasa tak akan  berkomentar demikian.
       Kedua, karir. 
       Aku bersyukur Tuhan memberiku pekerjaan yang sesuai dengan hasratku. Aku menyukai bahasa dan sekarang menjadi guru bahasa. Bonusnya pekerjaanku ini sudah di-ACC negara. Meski pangkatku masih tetap seperti awal pengangkatan. Sistem kenaikan pangkat yang konon dipermudah belum memudahkan aku untuk naik pangkat. Mungkin tahun depan, Aamiin.
       Bisa kembali ke kampung halaman adalah karunia terbesar di tahun ini. Sebetah dan sebahagia apapun di daerah orang tetap aku ingin kembali ke kampung halaman. Aku ingin pulang dan pergi dari dan ke rumah sendiri. Aku berharap masih bisa menemani ibuku di waktu-waktu yang tak mengharuskanku berada di tempat kerja. 
       Dulu ibu selalu berkata, "karir yang paling cocok untuk perempuan adalah menjadi guru". Kalau guru dengan jam kerja seperti dulu mungkin. Jam kerja yang sekarang tidak seperti itu. 37,5 atau 40 seminggu harus dihabiskan di tempat kerja. Jadi semua pekerjaan sebaiknya diselesaikan di tempat sehingga waktu di rumah dikhususkan untuk me time dan family time.
        Ketiga, momongan. 
        Aku masih belum dipercaya untuk jadi seorang ibu. Cita-cita yang belum tercapai. Sedih? Galau? Menangis? Tentu. Namun, tidak sedahsyat dulu. Aku yang sekarang belajar sabar dan pasrah. Karena garis hidup manusia sudah ada yang menulisnya. 
       Berusahakah aku? Berdo'akah aku? Tentunya tak perlu ku umbar dan kuceritakan pada setiap orang yang bertanya. Ada hal-hal yang memang di luar kuasa kita. Dan harusnya semua manusia paham tentang itu.
       Tak perlu kiranya kita bertanya mendalam tentang jodoh, keturunan dan hal pribadi lainnya yang mungkin membuat orang yang kita ajak bicara merasa tidak nyaman.
       Keempat, tempat tinggal.
       Alhamdulillah, ayah mewariskan sebuah rumah untukku. Aku bersyukur karenanya. Meski rumahku sederhana, aku merasa tenang di dalamnya. Tak perlulah kudengarkan omongan orang tentang rumahku. 
       Komentar-komentar orang tak akan mengubah rumahku jadi bagus atau sebaliknya. Biarkan orang berkomentar. Mereka punya bibir yang tentunya tidak berada dalam jangkauan kendaliku. 
       Kelima, kendaraan.
       Lagi-lagi aku ingat komentar orang. Betapa mereka selalu memandang hidup orang lain segampang pandangan mereka. 
      Aku belum punya roda empat dan hanya punya roda dua. Alhamdulillah roda dua yang kumiliki ini telah mengantarku meraih gelar S2 dan berbakti di daerah orang sebelum akhirnya kembali ke kampung halaman.
       Mungkin nanti aku berencana memiliki roda empat. Tentunya setelah kupikirkan di mana memarkirkannya. Aku tak punya kantong doraemon untuk menyimpannya.
      Keenam, pendidikan.
      Meski belum diakui, pendidikan terakhirku itu magister. Perlu proses lagi untuk dapat membubuhkan gelar agar diakui tempat kerjaku. Itu bukan masalah besar. Ilmu yang kuperoleh tidak hilang dengan tidak dicantumkannya gelar. 
      Banyak hal yang kuperoleh saat meraih gelar magister. Layaknya ponsel yang di charge begitu pula pengetahuan tentang mata pelajaran yang kuajarkan. Bertambahnya persaudaraan dan relasi. 
       Banyak hal yang telah kuraih tapi tak bisa kubahas. Yang pasti aku sedang menempa diri untuk lebih bersyukur dan bersabar. Kedua hal itulah yang membantuku tetap menjaga kewarasan di tengah problematika hidup dan derasnya komentar netizen.

41

                Apa yang dirasa saat umur sudah sampai di angka ini?        Yang jelas sekarang semua tak lagi sama. Tak ada lagi mama yang ...