Tampilkan postingan dengan label My Heart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Heart. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juli 2026

41

        


       Apa yang dirasa saat umur sudah sampai di angka ini?

       Yang jelas sekarang semua tak lagi sama. Tak ada lagi mama yang mengucap "selamat ulang tahun teh, sing gede milik, teteh cantik...". Hari-hariku tak akan pernah sama lagi.

       Sekarang ini bisa melewati hari tanpa bengong saja sudah sangat kusyukuri. Saat ini begog sedikit langsung ditanya orang "Kenapa?","Apa kamu baik-baik saja?". Pertanyaan yang paling tak ingin kujawab. Karena duniaku memang tak lagi baik-baik saja. 

       "Kamu masih muda lho." Kata mereka yang umurnya paling cuma beda enam tahun. Yang jelas saat ini aku sedang ingin menjauh. Ingin sekedar mengajar tanpa banyak terlibat urusan lain. Aku merasa sedang lelah, itu saja.

      Enam belas tahun sudah kuhabiskan membersamai anak-anak bangsa menyelesaikan pendidikan mereka. Kadang suka tersenyum sendiri saat harus memberi semangat pada orang tua murid tentang anak-anak mereka. Memberi saran tentang cara menyelesaikan masalah anak, padahal diri sendiri belum memilikinya.

        Mudah-mudahan tahun ini bisa kulalui dengan lebih semangat lagi. Meski murid-murid di kelas istimewaku terkadang seolah menganggapku angin lalu, aku tetap akan mengajar mereka dengan sepenuh hati. Meski terkadang "badaiku" tak bisa kuredam tapi aku tak pernah benar-benar membenci kenakalan mereka. 

        Jadi mari kita jalani semuanya dengan bersabar dan bersyukur. Mengingat usia yang sudah memasuki kepala 4, ada baiknya tak terlalu banyak terlibat drama. 

       So, happy birthday to me... Barakallah fii umrik... wish me all the best...

Kamis, 04 Juni 2026

Bagaimana perasaanmu?

    


        "Bagaimana perasaanmu?"

       Pertanyaan sederhana yang sekarang terasa berat untuk dijawab. Pertanyaan yang jika dijawab dengan benar tak akan berbentuk kata tapi airmata. Pertanyaan yang sebenarnya sangat ingin dihindari.

      Bukan ingin mengindari tetapi lebih pada ingin menjaga hati. Menjaga agar dia tetap utuh meski retakannya mulai tumbuh.   

        Dengan mata sembab dan kepala pusing serta badan lelah tapi harus duduk manis dan menceritakan secara berulang kejadian demi kejadiannya. Kejadian yang sampai detik ini masih terasa seperti mimpi. Seandainya aku adalah kaset maka kurekam saja semua cerita itu hingga nanti tinggal kuputar ulang saat ada orang yang bertanya.

        Saat itu sebenarnya aku ingin tidur saja. Berharap saat bangun semuanya selesai dan hanya sebatas mimpi. Namun untuk sekedar rebah saja tak ada waktu. Banyak hal yang harus dibicarakan dan diselesaikan. Dengan sisa tenaga mencoba bertahan dan menghadapi kenyataan.

        Mencoba tersenyum saat hati luluhlantak bukanlah hal yang mudah. Namun itu terus kulakukan. Bukan untuk siapa-siapa tetapi untukku sendiri. Untuk menguatkan diri dan kembali melanjutkan langkah yang masih panjang. 

        Dunia masih berputar langit masih biru tapi duniaku tidak sama lagi. Banyak hal yang tidak akan bisa didengar, dilihat dan dirasa lagi. Banyak hal yang tak akan pernah bisa diulang. Masih banyak PR yang menanti di hadapan.

        Banyak kata yang tak bisa diungkapkan meski sudah terangkai sempurna di dalam skemata. Banyak tangis yang tertahan dan mungkin hanya akan tersimpan dalam dekapan. Banyak waktu yang akan kuperlukan untuk bisa memahami keadaan.

       "Saat seseorang meninggal, orang yang ditinggalkan harus berbahagia. Sesekali mereka boleh menangis, tetapi mereka juga harus tertawa dan menjalani hidup dengan bahagia. Kamu juga harus kuat dan terus melanjutkan hidup. Itu adalah hal yang bisa kamu lakukan sebagai bentuk cinta pada orang yang telah meninggal."

        Kata-kata Ji Euntak pada Kim Shin di atas yang terus coba kugemakan dalam ingatan. Mudah-mudahan pikiran dapat diajak kompromi. Mudah-mudahan hati dapat  diajak merelakan.

YN, 05-06-2026


Rabu, 29 Oktober 2025

Benang Sari

      


       Namaku Sari, tepatnya Benang Sari. Aku seorang siswa di sebuah sekolah. Ayahku guru biologi dan ibuku pecinta bunga, karena itulah mereka menamaiku Benang Sari. Sedari kecil badanku memang tumbuh subur. Karena itulah orang-orang di sekelilingku sering mengataiku "gendut", "demplon", "kasur", dan kata-kata lainnya yang seirama.

        Hampir setiap kegiatan, setiap tindakan, bahkan sampai bersin pun disangkut pautkan dengan berat badan. Seolah-olah menjadi orang gendut adalah dosa tak termaafkan. Meski bukan lagi hal baru terkadang aku merasa jengah dan sedih. Tuhan mengapa aku tidak bisa seperti orang lain? Mengapa aku seperti ini? 

        Kata-kata dan ejekan mereka semakin lama, semakin membuatku malas melakukan apapun. Mereka selalu menjadikan aku sebagai guyonan. Seolah-olah aku adalah badut yang memalukan. Pernah suatu ketika aku baru saja akan menyantap makan siang, lalu muncul orang dan langsung berkata, "Pantas gendut makan terus." Saat itu aku hanya bisa tersenyum. Dalam hati aku menangis. Dia tidak tahu kalau itu adalah makanan pertama yang masuk ke perutku.

        Ketika ada acara foto bersama sering kali orang membuatku merasa malu dengan komentar mereka. 

        "Sadar diri kenapa? Sudah tahu gendut malah menghalangi orang." Ujar seseorang saat aku sedang mencari posisi yang nyaman untuk berfoto. Padahal aku sama sekali tidak berniat menghalangi. Aku hanya sedang berusaha menempatkan diri agar tidak mengganggu orang.

      Di lain kesempatan aku sedang ikut upacara dan tiba-tiba saja bersin. Suara bersinku cukup kencang. Dan lagi ada orang yang menyangkutpautkannya dengan berat badanku. 

       "Bersinnya sesuai dengan berat badan, ya!" Komentar orang itu sambil tersenyum. 

        Kali ini aku tidak diam. Kujawab dia, "Kan menyesuaikan. Tidak lucu kalau badan besar tapi suara bersinnya kaya orang keselek." Sahutku sambil tersenyum hingga membuat orang itu terdiam.

         Kalau ayahku tahu, pasti beliau marah. Ayah selalu mengajariku untuk tidak membalas perlakuan buruk dengan hal yang serupa. Ayah selalu mengajarkanku untuk berbuat baik pada sesama. Namun kali ini mulutku tak bisa lagi terkunci. Dia kehilangan kekakuannya dan mampu bersuara.

        Aku pernah mencoba untuk diet dengan tidak makan nasi. Dietku berhasil tapi aku terlihat pucat dan seperti orang yang mau pingsan. Ayah memarahi dan memintaku untuk berhenti melakukan hal itu. Aku pun kembali makan seperti biasa. Alhasil berat badanku kembali ke semula. 

      Semakin hari rasa tidak nyaman semakin mengangguku. Aku sampai merasa tidak ingin lagi menjadi diriku. Aku merasa menjadi manusia paling berdosa sedunia karena tubuh gendutku. Aku ingin seperti orang lain yang bisa membeli baju yang tersedia di toko dengan ukuran normal. Ukuran yang cukup normal sehingga orang tak lagi memandangku dengan rasa kasihan. Aku juga ingin bisa melakukan kegiatan olahraga tanpa rakut orang akan mengataiku "gempa" saat aku bergerak dan melakukan kegiatan olahraga.

         Hingga suatu hari aku sakit dan diantar teman ke UKS. Di sana aku bertemu dengan guru yang bertugas. Beliau menanyaiku. Awalnya aku malu untuk bicara. Namun sepertinya dia memahami masalahku. Dia bercerita kalau dulu dia sepertiku, sering mendapatkan perlakuan body shaming karena berat badan. Beliau berkata, "Sampai usia berapa pun body shaming itu akan selalu ada, terlepas dari kamu gendut atau tidak. Aku kasih tahu ya, gendut itu semacam tato yang melekat di tubuh. Sekuat apapun kamu mencoba yang diingat orang hanyalah kamu pernah gendut." Beliau tertawa dan tawanya menular. "Kau tahu, Sari. Kalau orang gendut itu baru bismillah saja sudah gendut. Minum saja bisa jadi daging." Beliau bicara sambil sesekali tertawa. 

        "Ibu mudah sekali menertawakannya karena ibu sudah dewasa. Ibu juga tidak segendut aku." Aku memotong pembicaraannya. Beliau tidak marah tapi malah menggenggam tanganku dan kembali bicara.

        "Kau tahu Sari, berat badanku pernah hampir mencapai angka 90. Aku panik dan mulai berpikir keras. Sejak itu aku pun berusaha untuk menguranginya. Bukan dengan cara tidak makan tapi dengan cara mengaturnya. Selain itu kita juga harus pandai mengelola emosi." Beliau tertawa. "Kau tahu Sari. Dulu kalau marah, nasi padang bisa habis semua. Kau tahu kan kalau nasi padang dibungkus itu nasinya pasti segunung." Mau tak mau aku mengangguk. Kata-kata beliau ada benarnya.

         Hari itu sepulang sekolah aku bicara dengan ayah dan ibu. Aku menumpahkan semua isi hati. Mata coklat ayahku berkaca-kaca. Beliau sedih sekaligus bangga karena akhirnya aku mau berbicara tentang hal yang menjadi luka batinku. Ibuku juga mendukung keinginanku untuk hidup sehat. 

          Keesokan harinya Ayah dan Ibu mulai menyusun jadwal dan rencana untuk program hidup sehat kami. Kami mencoba melakukan intermintent fasting dengan pola 16:8. Awalnya terasa sangat berat, hanya makan dua kali sehari, tidak makan es krim kesukaanku, permen favoritku dan snack yang banyak bertebaran di minimarket. Namun aku ingat kembali pada semua kata-kata tidak menyenangkan yang kuterima. Aku pun menguatkan diri. Selain itu ayah dan ibu juga menemaniku dalam proses ini. Mereka mengajakku jalan-jalan pagi di hari libur dan terus menyemangatiku.

        Setelah enam bulan berlalu hidupku berubah. Kata ayah tidurku tidak lagi mendengkur. Aku juga mulai bisa membeli baju-baju yang kuinginkan. Aku lebih percaya diri saat berfoto. Aku berusaha untuk mengontrol emosi. Aku mencoba untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Meski berat badanku masih belum mencapai ukuran ideal, tapi aku bangga dengan diriku.

         Kata-kata guruku itu benar tentang "gendut itu semacam tato". Berapapun berat badanku sekarang orang tetap mengatai. Sebanyak apapun lemakku hilang mereka tetap mengomentari hidupku. Aku pun memilih berdamai dengan diri sendiri. Tidak lagi terlalu memikirkan pendapat orang meski terkadang telinga dan hatiku tidak benar-benar mampu memfilternya.

       Aku masih sering kesal saat ada orang yang dengan seenak mulut mereka mengomentari makanan ataupun baju yang kupakai. Namun aku ingat, bahwa aku hanya memiliki dua tangan. Kedua tanganku ini tidak dapat digunakan untuk menutup mulut mereka. Jadi kugunakan saja untuk menutup kupingku. Aku tahu tak mungkin menyaring omongan mereka, jadi kupasang saja filter di telingaku agar hanya meneruskan hal-hal positif ke otak.

         Luka karena body shaming ini mungkin tidak benar-benar sembuh dan akan meninggalkan jejak. Namun aku memilih untuk tetap melanjutkan hidup. Menggapai mimpi dan harap. Tak ada yang akan membantu dan menguatkanmu kalau kau kalah dalam pertarungan dengan dirimu sendiri.


YN, 29102025

Sabtu, 12 Juli 2025

Tak Jadi Ucapkan Selamat Tinggal

 

       Sampai jumpa!

       Terima kasih!

       Eits, tunggu tadinya saya mau berpamitan dengan kelas yang seru ini. Ternyata jodoh kita diperpanjang untuk satu tahun ke depan. Bestie saya bilang, "do'a anak-anak begitu kuat, hingga saya kembali menjadi wali mereka". Apapun alasannya saya  menerimanya dengan baik.

       Saya punya prinsip tak ingin menjadi wali untuk kelas yang sama secara berturut-turut. Bukan karena saya egois. Ini lebih disebabkan agar adanya penyegaran. baik saya maupun siswa memerlukan suasana baru untuk menemani tahun kedua mereka di MTs. Namun kenyataan berkata bahwa kami masih harus bersama dalam waktu satu tahun ke depan. 

       Saya tidak sendirian pemirsa. Dua kolega saya juga mengalami kejadian yang sama. Kami mengikuti kelas yang kemarin kami bimbing menaiki tingkat berikutnya. Jika mengingat hal tersebut saya bisa tersenyum lega.😄  

       Masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk kelas ini. Terutama untuk siswa-siswa kesayangan saya. Siswa yang membuat saya merasa tergerak untuk terus belajar dan mencari cara agar kami bisa melewati tahun ini dengan baik. 

      Adapun rencana yang akan saya lakukan adalah sebagai berikut:

1. Mengorganisasikan kembali kepengurusan kelas, terutama untuk pemimpin kelas.

2. Mengintensifkan kembali kegiatan membaca untuk semua siswa.

3. Mengintensifkan kembali hapalan juz 30 untuk semua siswa.

4. Menggalakan kegiatan pohon literasi.

5. Memperkuat komitmen dengan setiap siswa untuk masalah kehadiran dan kebersihan.

   Jadi mari kita mengumpulkan semangat dan tekad yang kuat untuk mewujudkannya. Bukan untuk mendapatkan validasi lebih ke memanfaatkan waktu yang kita miliki. Selamat datang kembali anak-anak ideologisku. Mari kita mulai berjuang lagi untuk menyelesaikan tahun ini dengan penuh warna. See U...😍😍        

Sabtu, 05 Juli 2025

Finally 40

 Happy Birthday.... Saenghil Cukhae.... Barakallah Fii Umrik....

Yeay... Akhirnya sampai di usia ini. Dulu pernah berpikiran usia 40 itu sudah tua dan tak berdaya. Nyatanya masih berjiwa muda dan merasa bisa mengalahkan dunia. 😂

Masih banyak hal yang ingin kugapai meski batang usiaku sudah hampir menuju akhir. Aku masih ingin mewujudkan mimpiku untuk menjadi ibu. Aku masih akan dan terus berjuang untuk mengamalkan ilmu yang telah kuperoleh. Aku masih berusaha jadi anak yang berbakti untuk kedua orang tuaku. Aku juga masih berusaha jadi kakak yang bisa diandalkan oleh kedua adikku. Dan terakhir aku masih berusaha jadi istri yang soleha.

Apa yang istimewa dari tanggal 6 Juli? 

Tentu saja istimewa untukku. 40 tahun yang lalu ibuku yang cantik melahirkan aku ke dunia. Bagiku ini adalah hari untuk diriku sendiri. Hari yang ingin kuhabiskan dengan caraku sendiri. Aku sudah terbiasa untuk memberi kado bagi diri sendiri. Tahun ini mungkin kadonya adalah sepatu.

Belakangan ini aku sedang punya kebiasaan yang baik. Aku memaksa diriku untuk berolahraga. Maka dari itu aku memerlukan sepatu cantik yang akan menemaniku berolahraga. 😎

Aku masih punya target yang ingin kucapai. Aku ingin suatu saat nanti memiliki berat badan ideal. Saat ini aku masih sedang mengusahakannya. Ini adalah kado terbaik yang dapat kuberikan untuk diriku.

Sekali lagi selamat hari lahir Yuli Nurhati, wish u all the best.😘😘


Selasa, 20 Mei 2025

Soundtrack di Hidupku (Bagian 1)

       "Hidup lo kaya film aja ada soundtracknya." 
        Pernah dengar komentar itu? Kalau aku sih pernah.
   Sependek usiaku yang memasuki kepala empat, lagu demi lagu silih berganti memenuhi telinga. Ada yang sedih, ada juga yang bahagia. Mulai dari lagu berbahasa sunda sampai bahasa Korea. Meski kadang tidak benar-benar mengenal liriknya, telinga langsung merasa nyaman saat mendengarnya. Nah kali ini aku akan membahas beberapa lagu cinta dengan musik melow yang masih betah kudengarkan sampai sekarang
1. Sudden Shower- OST Lovely Runner


       Tahu drama korea yang judulnya Lovely Runner? Drama ini sudah muncul di salah satu aplikasi menonton yang ada di ponsel. Namun saat itu hanya sekedar lewat. Tak ada niat untuk menonton. Usia segini kan ngefansnya sama Ajuhssi semacam Gong Yoo atau LDK. Saat melihat aktor dan aktrisnya yang kurang kukenal, keinginan untuk menonton pun tidak begitu menggebu.
       Singkat cerita waktu pun berlalu. Saat itu aku membuat playlist lagu untuk menemani hari-hari. Nah, muncullah di Youtube Soundtrack drama Lovely Runner yang berjudul Sudden Shower. Begitu mendengarnya langsung terhanyut. Apalagi pas melihat klipnya kaya sedih gitu. Padahal saat itu sama sekali tidak tahu artinya. Semakin didengar kok semakin nyaman. Akhirnya dibukalah aplikasi menonton itu, dan mulailah menonton. 
        Setelah menonton dramanya, barulah mengerti isi lagunya. Makin sukalah aku. Berminggu-minggu lagu itu jadi the next love story setelah First Love-nya Utada Hikaru.
Rasa sedihnya tetap bertahan padahal ceritanya happy ending.😎

2. First Love- Utada Hikaru


        Lagu ini pertama kudengar saat dulu menonton drama jepang berjudul Forbidden Love (Takizawa Hideaki). Drama yang menceritakan siswa yang menjalin cinta dengan gurunya yang sudah bertunangan. Lagu ini kembali hits karena drama berjudul First Love yang dibintangi Takeru Sato (Si Kenshin Himura dalam Samurai X live action). Kedua drama tersebut menyisakan rasa sedih setelah selesai ditonton padahal keduanya berakhir bahagia. 😌

3. Soledad-Westlife        


       Hari itu aku baru saja mengetahui bahwa si dia berselingkuh. Dia yang kusangka sangat sayang padaku ternyata tidak tahan menghadapi tingkahku dan kembali pada mantannya. Dengan hati yang sedih aku menyalakan lagu dan muncullah lagu ini. Sampai sekarang saat lagu ini diputar aku pasti ingat pada hari itu. 😭

4. October and April- The Rasmus dan Anette Olzon


        Lagu ini sering kuputar saat itu. Lima belas tahun yang lalu lagu ini pernah jadi satu penghuni playlistku. Saat itu aku sedang dekat dengan seseorang. Aku pun berbagi lagu ini dengannya. Ternyata dia juga suka. Ya kami berdua memang suka mengutarakan isi hati melalui lagu. Saat hubungan kami berakhir aku sempat merasa menyesal telah berbagi lagu ini dengannya. Namun sekarang tidak lagi menyesal. Meski kami tidak berjodoh tapi kami masih berteman baik hingga sekarang.🙈

5. Bidadari Surga-Ustad Jefri Al Buchori


         Lagu ini adalah lagu yang sering dinyanyikan suamiku. Terkadang dalam perjalanan pulang kami sering menyanyikannya bersama. Lagu ini juga menjadi backsound dalam video pernikahan kami. 😍

Itulah beberapa lagu yang pernah menjadi soundtrack dalam hidupku. Masih banyak judul lainnya tapi baterai tab-ku sudah sekarat, jadi kita lanjutkan nanti. 🙊

Rabu, 26 Maret 2025

It's End With Us (Berakhir di Kita), Tapi ini bukan tentang Film

     


    Tahun ini saya ditugaskan mendampingi besti untuk mengelola UKS. Hampir setiap hari ruangan kami didatangi siswa yang datang dengan keluhan sakit kepala dan asam lambung naik. Beberapa dari mereka beralasan tidak makan karena sedang diet dan takut gendut.😔😏

    Mendengar alasan mereka, saya hanya tersenyum. Saya paling tahu bagaimana rasanya jadi si gendut. Komentar-komentar dengan niat bercanda yang dikemukakan orang tentang berat badan saya. Kata-kata sederhana yang ternyata menusuk hati sering saya dengar. Seolah-olah orang gendut itu adalah orang paling berdosa sedunia.😭

    Duduk serba salah karena memakan tempat. Berdiri juga salah karena menghalangi pemandangan. Bahkan sampai bersin pun disangkutpautkan dengan berat badan. Lucu sekali bukan? 😔

    Apakah semua itu hanya terjadi saat kita menjadi siswa? Jawabannya tidak Romeo. Sampai kapan pun semua komentar iu akan selalu muncul. Begitu pun yang terjadi pada saya. Maka dari itu saya selalu memberikan semangat untuk semua murid-murid saya terkhusus yang memiliki badan tidak sesuai harapan masyarakat.😑

    Apa yang saya lakukan? 

    Dulu saya tak ambil pusing. saya terlalu nyaman dengan hidup saya. Kenyamanan itu hingga membuat berat badan saya terus bertambah. Kalau ada hal yang membuat saya kesal saya lari pada makanan. Stres membuat saya malah makin semangat makan bukannya malas makan.😲

    Apakah saya pernah diet?

    Pernah. Dulu saat masih kuliah saya dan sepupu pernah diet. Kami menghilangkan nasi dari menu kami. Kami juga mulai melakukan senam dan jalan-jalan untuk menunjang diet ini. Berat badan saya turun saat itu. Namun tekad saya tidak sekuat sepupu. Saya tidak melanjutkan diet itu dan berat badan saya kembali naik ke semula.😚

    Suami saya sering mengingatkan saya untuk berolahraga. Dia juga mengingatkan untuk tidak terlalu banyak mengemil. Saya hanya tersenyum saat itu. Saya terlalu nyaman dengan hidup saya. Saat baju di toko tak bisa saya beli karena ukurannya kurang pas, masih ada mama yang akan membuatkan baju.😍

    Namun sekarang kondisi mama sudah tidak sesehat dulu. Mama sudah tidak bisa lagi membuatkan baju untuk saya. Saya sedih dan mulai berpikir. 😫

    Tahun ini usia saya 40 tahun. Saya masih belum dikarunia anak. Dan orang juga sering mengaitkan berat badan dengan hal itu. Dulu saya suka merasa sebal. Sekarang tidak terlalu.

    Akhir tahun 2024 saya berada di titik terpenat dalam hidup. Yang saya pikirkan saat itu adalah saya ingin jadi ibu. Saya merasa hidup saya kosong dan sepi. Saya terlalu memikirkannya sampai vertigo saya kambuh. 😭

    Saya pun berpikir dan berpikir lagi. Saya mulai menerima semuanya. Bukan berarti saya menyerah. Saya hanya tidak ingin terlalu memikirkannya. Saya ingin sehat dan bahagia. Saya ingin menua tanpa membuat banyak orang repot.

    Awal tahun 2025 sepupu-sepupu mulai diet. Mereka mulai intermittent fasting (IF). Saya pun memutuskan untuk mencobanya. Saya mulai dengan pola 16: 8. Saya mulai makan pukul 9 pagi dan berhenti makan pukul 5 sore. Saya mulai mengurangi membeli camilan yang mengandung terigu dan gula. Saya juga mulai berolahraga tipis-tipis dengan senam atau jalan kaki.

    Apakah ini mudah?

    Awalnya terasa agak kewalahan. Apalagi suami sering menggoda dengan membeli makanan kesukaan. Namun kali ini tekad saya sangat kuat. Saya terus berusaha konsisten dengan apa yang saya mulai hingga hari ini.

    Adik saya bertanya sampai kapan akan seperti ini? Dengan yakin saya jawab: selamanya.

    Saya masih makan nasi dan karbo lainnya meski jumlahnya sedikit. Saya juga masih tergoda dengan cireng dan kerupuk. Saya juga kadang masih malas berolahraga. Namun satu hal yang pasti saya akan terus mencoba dan berusaha.

    Apakah komentar-komentar itu berhenti?

    Tentu saja tidak. Saya malah dikira langsing karena puasa. Dikiranya berat badan saya turun selama bulan Ramadan. Padahal saya bisa sampai di berat badan yang sekarang ini setelah tiga bulan. Orang lain mungkin tidak tahu seperti apa proses yang saya lalui sampai hari ini. Mereka hanya melihat hasilnya.

    Saya tidak ingin pamer dengan apa yang saya jalani sekarang. Saya bukan seorang ahli. Saya hanya mencoba untuk hidup lebih sehat dan bahagia. Saya ingin lebih mencintai diri sendiri. Saya ingin bisa menikmati kembali baju-baju yang ada di toko. 

    Mengapa baru sekarang?

    Mungkin karena sebentar lagi saya 40. Bukankah umur 40 itu it's another 25? 😂🙊

    Yang jelas tekadnya lebih kuat di tahun ini. Support systemnya juga lebih kuat sekarang. Suami saya terlihat bahagia karena hampir setiap hari saya memasak. Saat ini saya lebih puas dengan makanan yang dimasak sendiri. Saya berharap tekad ini terus membara hingga saya bisa tetap konsisten dengan apa yang sudah dimulai.

    Mari kita cintai diri kita. Mari kita berusaha untuk mencapai kebahagian kita. Mari kita berhenti mengomentari berat badan orang lain. Mari kita biasakan mulut kita untuk berbicara yang baik. Mari kita berikan support system yang baik untuk orang-orang yang kita sayangi. Mari kita ciptakan dunia yang lebih nyaman untuk kita semua.💪😍


    

Senin, 06 Januari 2025

Antara Aku, Menulis dan Gawai

        Waktu kuliah dulu teman- teman sering menggodaku peternak virus. Tahun 2005 komputer masih nebeng yang ada hanya flashdisk. Internet juga hanya ada di tempat-tempat tertentu. 

       Namun ajaibnya pada masa itu aku bisa menyusun tiga draf novel. Dua draf aku kirimkan ke penerbit dan salah satunya aku masukkan ke ajang lomba menulis Dewan Kesenian Jakarta.  Hampir tiap bulan aku kirimkan juga naskah cerpen ke majalah. Namun tak satu pun yang diterbitkan.

        Meski begitu aku bahagia dan terus mencoba. Pada masa itu duduk seharian di depan komputer adalah salah satu cara mengisi kegabutan. Pada masa itu aku sering membayangkan menulis cerita sambil duduk-duduk di kafe seperti tokoh novel.

         Dulu aku tak ambil pusing saat ada masalah dengan komputer. Sobat-sobatku dari teknik mesin akan siap sedia kurecoki dengan semua permasalahan. Mereka jugalah yang menjuluki aku si peternak virus. Padahal waktu itu aku sudah berteman dengan Mcafee dan Smadav.

      Begitu selesai kuliah aku pulang kampung dan memiliki komputer sendiri. Untungnya saat itu komputerku tidak banyak memiliki masalah. Dua tahun berikutnya aku memiliki notebook dan kubawa setiap hari untuk mengajar karena ukurannya yang seperti buku tulis. Yang satu ini bermasalah di chargernya. Aku sampai 2x ganti charger sebelum akhirnya notebook ini bertukar dengan tab 3.

      Saat punya tab 3 aku berharap bisa memiliki keyboardnya sehingga bisa bekerja seperti laptop. Namun keinginan itu tidak kesampaian. Tab 3 keburu matot. Akhirnya beralih lagi menjinjing laptop. Laptop putih yang kutempeli stiker Hello Kitty. Laptop yang menemaniku menempuh S2 sebelum akhirnya beralih ke laptop milik mama. Kini laptop putihku ku alihkan untuk menemani saudara sepupu yang sedang kuliah.

       Permasalahanku dengan kaptop mama adalah baterai. Setelah beberapa lama akhirnya aku harus merogoh saku untuk baterai baru. Laptop itu pun kembali ke pemiliknya karena aku ingin laptop dengan RAM yang lebih tinggi.

         Sebenarnya yang kuinginkan adalah tab S8 tapi yang kubeli malah si cantik Asus. Laptop cantik yang sangat kusayangi. Laptop yang sekarang sedang membuatku sedih karena layarnya tak menyala. 
         Memang aku jarang menjinjingnya lagi ke sekolah karena sudah ada tab s9. Namun aku masih menggunakannya di rumah untuk mengedit. Mengedit dengan laptop lebih cepat dan mudah, menurutku. Dan di musim hujan aku lebih memilih untuk tidak menjinjingnya ke sekolah.

         Aku memang masih bisa bekerja karena ada tab S9. Namun aku tetap galau tentang laptop cantikku. Sampai tulisan ini dipublikasikan aku masih berada dalam kegalauan. 

Kamis, 17 Oktober 2024

Tentang Kehilangan

         Ada yang memilih pergi untuk menutupi kesedihan. Ada yang memilih untuk tetap tinggal meski air mata bercucuran. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengelola kesedihan. 

    Kepergian seseorang akan meninggalkan banyak hal. Ada rasa sedih, haru, dan mungkin amarah. Kepergian seseorang akan membuat hidup orang-orang di sekitarnya berubah.

        Jika waktu yang kita habiskan dengan orang yang pergi itu cukup lama maka rasa sedihnya pun tentu tidak seringan orang lain. Apalagi jika yang pergi itu adalah anggota keluarga, misalnya ayah.

    Bagi anak perempuan yang memiliki kedekatan dengan ayah, kepergiannya tentu sangat berdampak. Sekalipun anak perempuan itu sudah berada pada masa dewasa, kepedihannya tetap sangat terasa. Apalagi jika dia adalah anak perempuan pertama di dalam keluarga.

    Layaknya sebuah pohon yang kehilangan sebagian akarnya. Begitulah kiranya saat kehilangan seorang ayah. Hidup tak tetap berlanjut tapi ada ruang kosong yang tak dapat digantikan siapapun.

    

        

Senin, 09 September 2024

Empati Ironi

 

    Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. (KBBI)

Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan makna sesungguhnya, misalnya dengan mengemukakan makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya dan ketidaksesuaian antara suasana yang diketengahkan dan kenyataan yang mendasarinya. (KBBI)

 

Masih banyak siswa SMP yang belum bisa membaca.

              Berita ini memang mengejutkan tetapi bukan hal yang luar biasa bagi saya. Sependek ingatan saya dulu pun pernah ada siswa yang juga belum bisa membaca padahal sudah di tingkat MTs dan MA.

              Siapa yang salah? Di manakah letak permasalahannya?

              Rasa-rasanya pertan yaan-pertanyaan tersebut tidak akan menyelesaikan permasalahan. Banyak hal yang berkaitan dengan bisa atau tidaknya seorang anak dalam membaca. Dan harap diingat tak ada satu pihak pun yang merasa berhak untuk dipersalahkan.

              Dalam jurnal yang pernah saya baca, tiga guru SD diwawancara mengapa beberapa siswa mereka masih belum bisa membaca. Jawaban ketiganya hampir sama.  Di sekolah guru sudah melakukan berbagai cara untuk mengajarkan siswa untuk membaca tetapi di rumahnya siswa banyak yang tidak melakukan latihan ulang sehingga ketika kembali ke sekolah mereka tetap lupa dengan yang telah diajarkan.

              Kalau dipikir ulang siswa lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dibandingkan di sekolah. Bantuan orang tua sangatlah diperlukan untuk para siswa agar bisa mengulang kembali pelajaran yang telah diberikan di sekolah. Jika hal ini dapat dilakukan dengan baik maka kemampuan siswa dalam belajar akan jauh lebih baik, termasuk kemampuan membaca.

              Bukankah sangat lucu saat siswa yang kesulitan membaca ternyata bisa bermain game online. Jika bermain game yang memerlukan keterampilan lebih saja mereka bisa dan sanggup melakukannya lalu bagaimana dengan membaca?

              Membaca merupakan kemampuan reseptif tahap kedua. Siswa bisa saja menemukan informasi dari kemampuan reseptif tahap kesatu yaitu menyimak meski belum bisa membaca. Namun ada banyak hal yang tidak cukup diperoleh hanya dengan menyimak. Ada hal-hal tertentu yang cenderung lebih sulit diperoleh dari menyimak.  Hal-hal sulit tersebut dapat diperoleh dari kegiatan membaca.

              Jika siswa sudah lancar membaca maka kegiatan berbahasa yang lainnya yaitu menulis akan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Secara tidak sadar saat kita menulis, kita mengeja dan mengucapkan kata-kata yang ingin kita tulis di dalam benak kita. Kalau dipikir saat menulis sebenarnya kita hanya tinggal memindahkan lambang huruf yang ada di buku paket atau papan tulis ke buku catatan. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Pada siswa yang belum lancar membaca, kata-kata yang ditulisnya sering mengalami kehilangan huruf ataupun salah tulis.

              Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi fenomena ini?

              Langkah pertama yang harus ditempuh adalah mengetahui sejauh mana kesulitan siswa. Kita bisa meminta siswa untuk membaca sebuah teks. Selama proses membaca kita amati kesulitan apa yang dialami siswa saat membaca. Sebagai panduan, kita bisa menggunakan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.

1.    1Apakah siswa sudah kenal semua huruf abjad?

2.   2. Huruf apa yang sering tertukar?

3.   3. Huruf apa saja yang sulit dilafalkan oleh siswa?

4.   4. Apakah siswa sudah bisa merangkai huruf dan membacanya menjadi kata?

5.   5. Apakah siswa kesulitan dalam melafalkan diftong (gabungan vokal: au, ai, oi)?

6.   6. Apakah siswa kesulitan dalam melafalkan kluster (gabungan konsonan: kh, str, st, dll)?

7.   7. Apakah siswa sering melewatkan membaca akhiran ( nya, mu, ku)?

8.   8. Dst.

Langkah kedua adalah menemukan solusi yang tepat untuk kesulitan yang di alami oleh siswa. Jika siswa belum kenal huruf maka kita perkenalkan terlebih dahulu huruf-huruf tersebut. Untuk huruf-huruf yang tampak mirip kita bisa memberikan penegasan yang lebih agar siswa tidak lagi tertukar. Kita bisa menggunakan flashcard sebagai media, buku bacalah (yang biasanya digunakan untuk anak TK atau SD) atau aplikasi membaca yang dapat kita unduh di playstore. Sedangkan untuk metode kita bisa menggunakan metode simak dan ulangi, montesorri dan bermain sambil belajar dan masih banyak yang lainnya.

Langkah ketiga adalah bersabar dan terus berlatih. Membaca adalah kemmapuan yang harus terus diasah. Semakin sering membaca maka akan semakin lancar. Selain itu perbendaharaan kosa kata akan semakin bertambah. Dengan bertambahnya kosa kata maka akan makin mudah untuk memahami isi bacaan.

Hal-hal yang saya bahas ini hanyalah sebagian kecil mengenai masalah  yang berkaitan dengan membaca. Banyak hal lain yang tentunya dapat membantu pengetahuan dan wawasan kita untuk membantu anak ataupun siswa dan siswi kita dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam membaca. Sampai saat ini saya juga masih berusaha mencari cara yang tepat untuk membantu siswa-siswa saya yang mengalami kesulitan dalam membaca sesuai dengan karakteristik gaya belajar mereka.

Bacaan lebih lanjut:

Analisis Faktor Penyebab Kesulitan Membaca Permulaan Pada Siswa Kelas I SDN Argopeni Tahun Ajaran 2019/2020 (researchgate.net).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Siswa (Studi Kasus Di SDN 105 Pekanbaru) (researchgate.net)

Membaca Ala Montessori: Cara Membaca TK yang Efektif dan Menyenangkan (chebira.com)

Jumat, 26 Juli 2024

Paradoks Persfektif

    Paradoks adalah pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran. (KBBI)
    Persfektif adalah sudut pandang; pandangan. (KBBI)

      Pernah dengar kata-kata "dasar orang aneh", "alien", "beda server"? Kalau saya sih sering mendengarnya. Kata-kata tersebut pernah beberapa kali ditujukan rekan pada dairi saya. Kadang saya pun berpikir apakah ada yang salah dengan diri ini? Sementara orang-orang berada di saluran fm saya malah ada di am (cek istilah saluran radio, karena saya pendengar radio).
      Orang-orang sering mengira saya menari-nari karena bahagia. Di lain waktu mereka pun sering mengira saya bernyanyi nyaring karena saya kasmaran. Padahal kenyataannya adalah saya sedang merasa bosan, kesal atau tidak bahagia. Saya suka dengan komentar teman saya diunggahan saya pada status FB. Dia menulis "daripada ngabatin mending ngabaso" (daripada membatin mending makan bakso). Kata-kata itu sangat menghibur dan menginspirasi. 
       Saat berada di posisi tak bisa melawan arus, harus manut dan patuh padahal dalam hati kadang tidak sejalan, disitulah saya mulai berulah.😌 
       Saya bisa menggelar konser di meja kerja saya. Istilah konser ini saya gunakan saat saya nyanyi-nyanyi di meja kerja dan membuat kegaduhan untuk teman sebangku saya. Atau mungkin di lain waktu saya akan bergerak-gerak kurang kerjaan yang dikira orang sedang joged-joged.
      Meski saya menyelesaikan kedua gelar di bidang bahasa tapi pola pikir saya kadang lebih suka seperti pola pikir eksak. Saat mengajar saya lebih suka membuat tabel untuk menjelaskan perbedaan dua bahasan atau menggunakan simbol-simbol untuk mencatat. Saya kurang suka ketika berbelit-belit dalam menulis ataupun berbicara.
       Saya adalah orang yang lebih suka to the point. Mungkin hal itu juga yang membuat saya harus melengkapi kembali ujian mata kuliah PKN saya waktu S1.😀  
       Saat itu saya ditelepon dosen agar melengkapi jawaban esai soal UAS. Kata beliau jawaban untuk soal PG sangat bagus karena banyak jawaban yang dijawab dengan benar, hanya saja saya terlalu singkat saat menjawab esai. Kebiasaan to the point ini sering membuat saya kesulitan saat harus berpanjang-panjang dalam berargumen. Hal ini juga sering membuat orang menilai saya teugeug (ketus).
        Mungkin pembelajaran tentang kalimat efektif dan pragmatik cukup melekat dalam benak saya sehingga saya sering bersikap demikian. Bisa jadi saya malas beradu argumen atau mempermasalahkan hal yang kurang penting.
      Memang ada orang yang berpandangan bahwa guru bahasa adalah orang yang suka bicara berbelit-belit, berpanjang-panjang. Orang juga ada yang berpandangan kalau guru bahasa adalah guru yang wajib pintar menulis apapun karena di dalam mata kuliah dan mata pelajaran bahasa ada pembelajaran menulis. Padahal sejatinya tidak demikian.
       Writing is healing. 
       Ya menulis bisa menjadi cara untuk menyembuhkan. Apa yang dapat disembuhkan? 
      Ada hal-hal yang lebih menenangkan setelah diceritakan dan dibagikan kepada orang lain. Namun di saat kita tak bisa bicara karena bibir kadang berubah menjadi kelu saat akan memulai cerita, menulis bisa menjadi jalan keluar. 
       Apakah saya menulis? Tentu.
       Saya tak mungkin dapat menyelesaikan kedua jenjang pendidikan jika tidak menulis. Lalu apakah saya juga menulis saat saya meminta siswa untuk menulis. Jawabnya ya. Saya menulis untuk menunjukkan pada murid-murid saya bahwa saya juga melakukannya. Meski tidak berarti saya mahir atau mumpuni dalam melakukannya. Hal yang saya inginkan adalah mereka mencoba karena segala sesuatu mungkin terasa menakutkan saat belum dimulai dan dilaksanakan.
       Lalu apakah saya aktif menulis? Inilah yang menjadi pertanyaan besar?
      Salah satu kekurangan orang moody seperti saya adalah susahnya untuk konsisten. Saya merasa tertekan hingga kadang tak bisa menyelesaikan apa yang sudah mulai ditulis ketika mood sedang tidak baik. Blog ini pun bukan yang pertama yang saya miliki. Pernah ada satu atau dua blog lain yang pernah saya buat tapi sudah lama tak dikunjungi karena lupa kata sandi. 😇 
        Jadi bila ada yang beranggapan saya pasti rajin dan suka menulis karena guru bahasa itu tidaklah tepat. Menulis itu proses yang melibatkan banyak hal. Menulis juga banyak jenisnya.
       Setiap orang bisa menulis. Apalagi jika menulis itu adalah panggilan jiwanya. Bukan hanya guru bahasa, siapapun bisa melakukannya. Sependek pengetahuan saya, menulis karena hasrat jauh lebih mudah dilakukan daripada menulis karena tuntutan atau kewajiban. Jadi lakukanlah! Tulislah apa yang menjadi minatmu, apa yang menjadi panggilan jiwamu.
          Dan ini adalah tulisan terpanjang yang pernah saya tulis di sini. Entah ada angin apa yang menggerakkan jari-jari saya dan menggelitik skemata yang beberapa waktu ini terasa kaku. Mudah-mudahan saya bisa menulis dengan lebih konsisten. Dan tentunya dengan pikiran yang sebening mata air. 


YN, 26/07/2024
Disponsori lagu-lagu Jepang yang saya pun tak mengerti artinya.😆

Jumat, 28 April 2023

Are you lonely?

       Are you lonely?
       Yes, I am. 
        Kadang suka merasa apakah otakku yang bermasalah? Ataukah cara pandangku yang terlalu sempit tentang dunia? Apakah ego menutupi rasa syukurku?
       Aku bersyukur dengan apa yang telah kumiliki. Namun ada ruang kosong yang sampai sekarang belum terisi. Ada sisi hati yang masih merasa sepi. Ada rasa iri yang menari-nari.
      Kemana pun pergi rasa itu mengikuti. Menusuk-nusuk kekuatan hati. Menggerogoti sabar yang dikemas dengan hati-hati. 
      Diri sudah tak sanggup lagi berdiskusi. Membahas gelisah dan resah yang melingkupi hati. Hanya mampu diam, memeluk hati dari dalam.
     Saat malam rasa sepi makin menjadi. Berharap esok akan menjadi lebih baik lagi.
      10 tahun menanti dan 10 tahun menata hati. Sudah cukup kebal dengan komentar orang meski beberapa tetap tak lulus sensor dan merasuki hati. Sudah hampir menyerah dan pasrah. Mungkin Sang Pencipta belum berkenan mengabulkan do'a.
        Penantian terasa makin menjadi tatkala harus berpindah tempat mengabdi. Empat tahun sudah berada di kota angin mencoba menakar sabar yang masih tersisa di diri.
        Banyak hal yang disesali. Banyak hal yang harus disyukuri. Dan hati masih sering tersulut emosi, air mata makin gandrung unjuk diri. 
       Berharap tahun ini ada perubahan yang membuat diri tak lagi kesepian. 
       Orang mungkin bosan mendengar keluhku. Dan aku pun bosan menjelaskan apa yang dirasakan batinku. Hanya bisa bergeming dan menahan agar caci maki di otak tidak bocor dan membludak keluar.
       Ingin teriak. Ingin memaki. Namun kekuatan untuk melakukannya tertahan dan terkunci.
       Aku tak tahu sampai kapan benteng pertahananku akan tetap kokoh. Goncangan kekesalan, tsunami ketidakpastian dan kepercayaan diri yang hampir longsor...

YN, 28042023

41

                Apa yang dirasa saat umur sudah sampai di angka ini?        Yang jelas sekarang semua tak lagi sama. Tak ada lagi mama yang ...