Namaku Sari, tepatnya Benang Sari. Aku seorang siswa di sebuah sekolah. Ayahku guru biologi dan ibuku pecinta bunga, karena itulah mereka menamaiku Benang Sari. Sedari kecil badanku memang tumbuh subur. Karena itulah orang-orang di sekelilingku sering mengataiku "gendut", "demplon", "kasur", dan kata-kata lainnya yang seirama.
Hampir setiap kegiatan, setiap tindakan, bahkan sampai bersin pun disangkut pautkan dengan berat badan. Seolah-olah menjadi orang gendut adalah dosa tak termaafkan. Meski bukan lagi hal baru terkadang aku merasa jengah dan sedih. Tuhan mengapa aku tidak bisa seperti orang lain? Mengapa aku seperti ini?
Kata-kata dan ejekan mereka semakin lama, semakin membuatku malas melakukan apapun. Mereka selalu menjadikan aku sebagai guyonan. Seolah-olah aku adalah badut yang memalukan. Pernah suatu ketika aku baru saja akan menyantap makan siang, lalu muncul orang dan langsung berkata, "Pantas gendut makan terus." Saat itu aku hanya bisa tersenyum. Dalam hati aku menangis. Dia tidak tahu kalau itu adalah makanan pertama yang masuk ke perutku.
Ketika ada acara foto bersama sering kali orang membuatku merasa malu dengan komentar mereka.
"Sadar diri kenapa? Sudah tahu gendut malah menghalangi orang." Ujar seseorang saat aku sedang mencari posisi yang nyaman untuk berfoto. Padahal aku sama sekali tidak berniat menghalangi. Aku hanya sedang berusaha menempatkan diri agar tidak mengganggu orang.
Di lain kesempatan aku sedang ikut upacara dan tiba-tiba saja bersin. Suara bersinku cukup kencang. Dan lagi ada orang yang menyangkutpautkannya dengan berat badanku.
"Bersinnya sesuai dengan berat badan, ya!" Komentar orang itu sambil tersenyum.
Kali ini aku tidak diam. Kujawab dia, "Kan menyesuaikan. Tidak lucu kalau badan besar tapi suara bersinnya kaya orang keselek." Sahutku sambil tersenyum hingga membuat orang itu terdiam.
Kalau ayahku tahu, pasti beliau marah. Ayah selalu mengajariku untuk tidak membalas perlakuan buruk dengan hal yang serupa. Ayah selalu mengajarkanku untuk berbuat baik pada sesama. Namun kali ini mulutku tak bisa lagi terkunci. Dia kehilangan kekakuannya dan mampu bersuara.
Aku pernah mencoba untuk diet dengan tidak makan nasi. Dietku berhasil tapi aku terlihat pucat dan seperti orang yang mau pingsan. Ayah memarahi dan memintaku untuk berhenti melakukan hal itu. Aku pun kembali makan seperti biasa. Alhasil berat badanku kembali ke semula.
Semakin hari rasa tidak nyaman semakin mengangguku. Aku sampai merasa tidak ingin lagi menjadi diriku. Aku merasa menjadi manusia paling berdosa sedunia karena tubuh gendutku. Aku ingin seperti orang lain yang bisa membeli baju yang tersedia di toko dengan ukuran normal. Ukuran yang cukup normal sehingga orang tak lagi memandangku dengan rasa kasihan. Aku juga ingin bisa melakukan kegiatan olahraga tanpa rakut orang akan mengataiku "gempa" saat aku bergerak dan melakukan kegiatan olahraga.
Hingga suatu hari aku sakit dan diantar teman ke UKS. Di sana aku bertemu dengan guru yang bertugas. Beliau menanyaiku. Awalnya aku malu untuk bicara. Namun sepertinya dia memahami masalahku. Dia bercerita kalau dulu dia sepertiku, sering mendapatkan perlakuan body shaming karena berat badan. Beliau berkata, "Sampai usia berapa pun body shaming itu akan selalu ada, terlepas dari kamu gendut atau tidak. Aku kasih tahu ya, gendut itu semacam tato yang melekat di tubuh. Sekuat apapun kamu mencoba yang diingat orang hanyalah kamu pernah gendut." Beliau tertawa dan tawanya menular. "Kau tahu, Sari. Kalau orang gendut itu baru bismillah saja sudah gendut. Minum saja bisa jadi daging." Beliau bicara sambil sesekali tertawa.
"Ibu mudah sekali menertawakannya karena ibu sudah dewasa. Ibu juga tidak segendut aku." Aku memotong pembicaraannya. Beliau tidak marah tapi malah menggenggam tanganku dan kembali bicara.
"Kau tahu Sari, berat badanku pernah hampir mencapai angka 90. Aku panik dan mulai berpikir keras. Sejak itu aku pun berusaha untuk menguranginya. Bukan dengan cara tidak makan tapi dengan cara mengaturnya. Selain itu kita juga harus pandai mengelola emosi." Beliau tertawa. "Kau tahu Sari. Dulu kalau marah, nasi padang bisa habis semua. Kau tahu kan kalau nasi padang dibungkus itu nasinya pasti segunung." Mau tak mau aku mengangguk. Kata-kata beliau ada benarnya.
Hari itu sepulang sekolah aku bicara dengan ayah dan ibu. Aku menumpahkan semua isi hati. Mata coklat ayahku berkaca-kaca. Beliau sedih sekaligus bangga karena akhirnya aku mau berbicara tentang hal yang menjadi luka batinku. Ibuku juga mendukung keinginanku untuk hidup sehat.
Keesokan harinya Ayah dan Ibu mulai menyusun jadwal dan rencana untuk program hidup sehat kami. Kami mencoba melakukan intermintent fasting dengan pola 16:8. Awalnya terasa sangat berat, hanya makan dua kali sehari, tidak makan es krim kesukaanku, permen favoritku dan snack yang banyak bertebaran di minimarket. Namun aku ingat kembali pada semua kata-kata tidak menyenangkan yang kuterima. Aku pun menguatkan diri. Selain itu ayah dan ibu juga menemaniku dalam proses ini. Mereka mengajakku jalan-jalan pagi di hari libur dan terus menyemangatiku.
Setelah enam bulan berlalu hidupku berubah. Kata ayah tidurku tidak lagi mendengkur. Aku juga mulai bisa membeli baju-baju yang kuinginkan. Aku lebih percaya diri saat berfoto. Aku berusaha untuk mengontrol emosi. Aku mencoba untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Meski berat badanku masih belum mencapai ukuran ideal, tapi aku bangga dengan diriku.
Kata-kata guruku itu benar tentang "gendut itu semacam tato". Berapapun berat badanku sekarang orang tetap mengatai. Sebanyak apapun lemakku hilang mereka tetap mengomentari hidupku. Aku pun memilih berdamai dengan diri sendiri. Tidak lagi terlalu memikirkan pendapat orang meski terkadang telinga dan hatiku tidak benar-benar mampu memfilternya.
Aku masih sering kesal saat ada orang yang dengan seenak mulut mereka mengomentari makanan ataupun baju yang kupakai. Namun aku ingat, bahwa aku hanya memiliki dua tangan. Kedua tanganku ini tidak dapat digunakan untuk menutup mulut mereka. Jadi kugunakan saja untuk menutup kupingku. Aku tahu tak mungkin menyaring omongan mereka, jadi kupasang saja filter di telingaku agar hanya meneruskan hal-hal positif ke otak.
Luka karena body shaming ini mungkin tidak benar-benar sembuh dan akan meninggalkan jejak. Namun aku memilih untuk tetap melanjutkan hidup. Menggapai mimpi dan harap. Tak ada yang akan membantu dan menguatkanmu kalau kau kalah dalam pertarungan dengan dirimu sendiri.
YN, 29102025
