Jumat, 12 September 2025

Rona Merah di Pipi Tatia

        


     Rona merah itu kembali mengiringi senyuman manis yang dulu sering muncul di wajahnya. Semuanya karena Artemis. Teman SMA yang kembali ditemui Tatia secara tak sengaja. Hari itu mama meminta Tatia untuk mengantarkan jaket ke tempat kemah. Setelah memberikan jaket pada mama, Tatia pamit untuk menengok anak-anak dari sekolahnya yang juga sedang kemah. 

       Langkah Tatia terhenti di depan tenda yang tak jauh dari tenda sekolah mama. Di sana ada sosok yang dulu sering mengganggunya. Si Misdaceum, begitu Tatia memanggilnya. Tatia memanggilnya seperti itu karena sifatnya memang begitu. Artemis terkadang bisa sangat manis dan di lain waktu dia bisa sangat menyebalkan. Karakternya sekomplit rasa ramen yang disukai Tatia “Amis, Lada, Haseum” alias misdaceum.

      Tatia tidak jadi pergi ke tenda temannya karena Artemis mengajaknya mengobrol. Obrolan mereka tak berlangsung lama karena mama memanggilnya. Mama meminta Tatia segera pulang karena tak ada yang menemani papa makan malam. Dengan berat hati Tatia pun pulang. 

       Sesampainya di rumah Tatia langsung menyiapkan makan malam. Setelah siap dia memanggil papa dan mereka makan bersama. Selesai makan Tatia mencuci piring lalu pergi ke kamarnya untuk kembali melanjutkan sepak terjang Mathias dalam Novel Cry or Better Yet Beg. 

     Tatia baru saja membuka aplikasi untuk membaca online saat notifikasi pesan muncul. Ternyata Artemis yang mengirim pesan. Tatia tidak menyangka kalau Artemis akan secepat itu menghubunginya. Tatia pun segera membalas. Hari itu mereka berbalas pesan sampai malam.

       Sejak saat itu mereka mulai rajin berkirim pesan. Mereka bercerita banyak hal. Mulai dari masa SMA, murid-murid yang membuat gegana sampai akhirnya pada pertanyaan “punya pacar enggak?” . Entahlah Tatia juga tak tahu mengapa dia bisa merasa senyaman itu bersamanya. Padahal dulu Tatia seringkali dibuat kesal oleh kejailannya. 

      Awalnya Tatia ragu saat Artemis mengajaknya untuk jalan. Namun dengan pandainya Artemis membujuk dia agar pergi dengannya. Ternyata rasanya cukup menyenangkan. Lama kelamaan bertemu Artemis adalah satu kegiatan yang selalu dirindukannya. Artemis membuatnya merasa siap untuk kembali memulai. Artemis menyemangatinya agar berhenti terus larut dalam kenangan. Artemis juga yang menariknya dari genangan air mata karena kisah cinta yang berakhir. 

***

“Tia, aku mau ketemu papa dan mamamu.” 

“Mau apa?” Tanya Tatia sedikit kaget. 

“Aku ingin berkenalan dengan mereka. Aku ingin mereka tahu siapa sebenarnya laki-laki yang sering membuat anaknya cekikikan padahal tidak sedang nonton drakor.” 

“Kamu yakin? Jangan-jangan setelah bertemu mereka kamu malah tak mau kenal lagi denganku.”

“Mulai lagi.” Artemis menatap tajam pada Tatia. Dia kurang suka kalau Tatia berpikiran negatif. Artemis pun menjitak dahinya dengan gemas.

“Sakit tahu!” Tatia meringis. 

“Kalau sakit berarti pikiran negatifnya sudah pergi.” Artemis tertawa.

Malam Minggu berikutnya setelah magrib, Artemis datang ke rumah. Tatia langsung panas dingin saat melihatnya bersalaman dengan papa. Dia takut mereka tidak cocok. Namun, dugaannya salah. Artemis dan papa langsung akrab. Mereka mengobrol tentang Persib dengan nyamannya.

Kini giliran mama yang sedang mencoba berakrab ria dengan Artemis. Dan lagi Artemis mampu meraih hatinya. Mama ikut larut dalam obrolan Artemis tentang mengajar di SD. Mama makin asyik mengobrol dengannya saat tahu kalau mama Artemis adalah temannya.

Tatia tahu ini baru awal. Namun dia berharap ini adalah awal yang akan berakhir bahagia. Meski hidupnya tak seindah drama korea, Tatia tetap memiliki harapan. Harapan untuk bisa menemukan seseorang yang bisa menerima dia karena dirinya sendiri bukan karena embel-embel lain yang melekat pada dirinya.

Tatia ingin menemukan laki-laki yang bisa diajak tumbuh bersama. Laki-laki yang tetap membersamainya dalam tangis dan bahagia. Laki-laki yang tetap menggenggam tangannya meski huru-hara menerpa rumah tangga. Laki-laki yang tetap jadi anak kesayangan ibunya tanpa harus melepas genggaman tangannya.

“Tia, seandainya kita harus LDR apa kamu masih mau bersamaku?”

“Memangnya kamu mau ke mana?” Tatia menatap Artemis dengan bingung.

“Aku ikut tes P3K dan lolos. Tapi penempatannya di luar Jawa Barat.” Artemis langsung tertunduk sedih.

“Wah, asyik dong nanti aku bisa sering-sering naik kereta.” Tatia berdecak kagum.

“Dasar Duta K-A-I.” Artemis menjembel pipinya. Sepertinya dia ingat kalau sepanjang masa kuliah Tatia selalu menggunakan kereta.

“Kita sudah memulai trek ini bersama. Bukankah lebih menyenangkan kalau kita juga mengakhirinya di garis finish yang sama?” Tatia menggenggam tangan Artemis dan menatapnya lekat-lekat.”

“Terima kasih, Tia. Semoga rona merah di pipimu tetap ada meski nanti jarak akan memisahkan kita.” Artemis balik menggenggam tangan Tatia dan tersenyum bahagia.

YN, 13-09-2025


Kamis, 04 September 2025

Perburuan Terakhir Artemis

         


       Penggemar mitologi Yunani pasti bertanya mengapa namaku Artemis bukan Apollo. Mereka pasti tahu kalau dalam mitologi Yunani Artemis adalah saudari perempuan Apollo. Saat kutanya pada Ibu, sambil tersenyum beliau menjawab, “saat itu aku memang menginginkan anak kembar laki-laki dan perempuan, makanya namamu Artemis.” Aku pun akan menjawab seperti itu pada orang yang bertanya.

Misdaceum!” Teriak suara yang sangat kukenal. Aku langsung menoleh ke arah suara itu. Dan dugaanku benar. Itu Dia. Gadis yang sangat ingin kutemui. “Kemah?” Dia menunjuk seragam Pramuka yang kupakai.

“Eh iya, nih. Kamu?” Aku menggaruk kepalaku yang tiba-tiba menggatal. Padahal tadi pagi sudah keramas pakai sampo antiketombe. 

“Aku sedang mengunjungi ibu!” Dia menunjuk tenda yang letaknya tak jauh dari tenda sekolahku. “Tunggu. Nama Ibumu Soraya?” Aku menenbak-nebak. Kebetulan tadi pagi aku bertemu dengan teman ibuku saat melintasi tenda itu.

“Ya. Kok bisa tahu?” Dia tampak kaget.

“Ibuku bilang temannya juga sedang kemah. Aku diminta untuk menyapa temannya itu.” Aku menjelaskan dan dia mengangguk dengan jenaka. “Yuk duduk!” Aku mengajaknya untuk duduk-duduk di depan tenda sekolahku. 

“Aku enggak nyangka kamu jadi guru.” Dia menahan tawa dengan menutupi bibir dengan jemarinya yang lentik itu.

“Aku saja masih merasa mimpi. Aku yang tengil dan tukang bikin rusuh harus mengasuh anak-anak mungil nan bikin hati gundah gulana.” Aku tertawa, menertawakan diri sendiri. Teringat dulu sering bikin ulah di masa sekolah. “Kamu bagaimana kabarmu. Setelah lulus lanjut ke mana?”

“Aku guru bahasa sekarang.” 

“Oh ya! Bahasa korea?” Tebakku asal. Setahuku dia salah satu penggemar K-Pop. 

“Bahasa Sunda.” Dia tersenyum dan senyumnya membuat debar di dadaku menggila. “Aneh ya?” Tanyanya.

“Ah tidak.” Sahutku setelah kembali menguasai diri. “Kuliah di mana?” Aku kembali bertanya. Aku senang mendengar suaranya. Apalagi melihat binar ceria di telaga bening itu.

“UPI.” 

“Bandung?” Aku terbelalak tak percaya. Jadi selama ini kami kembali berada di almamater yang sama tapi baru bertemu lagi sekarang.

“Memang kamu kuliah di sana juga?” Kini gilirannya yang terbelalak.

“Iya. PJOK. Gini-gini juga aku atlet loh.” Aku menyombongkan diri. 

Kami tidak mengobrol lama. Ibunya datang dan mengajaknya pergi. Meski begitu, kami sudah bertukar nomor ponsel. Senang sekali rasanya kembali bertemu dengan dia. 

      Kemah ini membawa berkah. Padahal tadinya aku malas-malasan. Aku yang sering diomeli ibu karena sering mengganggu keponakan-keponakanku malah harus menjaga anak-anak seusia mereka.

      “Sudah kamu sampaikan salam ibu pada Bu Soraya?” Tanya ibu begitu aku pulang ke rumah.

      “Sudah. Bu, anaknya Bu Soraya ternyata teman SMA-ku.” Aku tersenyum senang.

    “Perempuan?” Tanya ibu sambil tersenyum penuh arti. Dia tahu aku jarang sekali membicarakan teman-temanku. Apalagi teman perempuan. 

     Aku hanya mengangguk lalu segera berpamitan ke kamar. Aku tahu ibu akan bertanya lebih jauh. Namun, saat ini aku belum sanggup untuk membaginya dengan ibu.

      Malam harinya aku mencoba menghubungi nomor yang dia berikan. Ternyata dia memberiku nomor yang benar. Tadinya aku kira dia akan dengan sengaja memberiku nomor yang salah. Kalau itu terjadi aku akan meminta ibu untuk meminta nomornya.

       Obrolan pun bermula. Malam itu kami saling berkirim pesan sampai pukul 10 malam. Keesokan harinya kami juga kembali berkirim pesan. Sejak hari itu aku lebih sering melirik ponselku dibandingkan sebelumnya. Aku menanti pesannya. Ini adalah kegiatan baruku. 

      Setelah beberapa lama hanya saling berkirim pesan, akhirnya aku mencoba untuk mengajaknya jalan. Saat dia menerimanya, aku langsung berteriak kegirangan. 

    Meski bukan penyuka makanan berkuah, aku manggut-manggut saja saat dia mengajakku makan ramen. Awalnya aku menahan diri untuk tak bertanya. Setelah cukup lama mengobrol akhirnya aku bertanya tentang pacar. Ternyata dia sudah putus dengan pacarnya. Hubungan mereka berakhir beberapa bulan sebelum kami bertemu. Dia sepertinya cukup terluka dengan perpisahannya itu.

    Ini kesempatanku untuk menjadi obat bagi lukanya. Aku sudah bertekad untuk kembali membuat rona merah di kedua pipinya kembali. Aku tahu hubungan kami mungkin tidak akan berjalan mudah. Apalagi statusku yang masih sebagai guru honor. Namun, aku akan meyakinkan dia bahwa aku serius. Aku ingin kami berakhir di garis finish yang sama. 

       Aku adalah artemis. Seperti halnya namaku yang diambil dari dewi perburuan, maka aku pun akan membidiknya sebagai target utamaku. Target perburuanku yang terakhir. 

YN, 05-09-2025

 

Tertinggal di Hati

  If only you could see the tears In the world you left behind If only you could heal my heart Just one more time Even when I close my eyes ...