Penggemar mitologi Yunani pasti bertanya mengapa namaku Artemis bukan Apollo. Mereka pasti tahu kalau dalam mitologi Yunani Artemis adalah saudari perempuan Apollo. Saat kutanya pada Ibu, sambil tersenyum beliau menjawab, “saat itu aku memang menginginkan anak kembar laki-laki dan perempuan, makanya namamu Artemis.” Aku pun akan menjawab seperti itu pada orang yang bertanya.
“Misdaceum!” Teriak suara yang sangat kukenal. Aku langsung menoleh ke arah suara itu. Dan dugaanku benar. Itu Dia. Gadis yang sangat ingin kutemui. “Kemah?” Dia menunjuk seragam Pramuka yang kupakai.
“Eh iya, nih. Kamu?” Aku menggaruk kepalaku yang tiba-tiba menggatal. Padahal tadi pagi sudah keramas pakai sampo antiketombe.
“Aku sedang mengunjungi ibu!” Dia menunjuk tenda yang letaknya tak jauh dari tenda sekolahku. “Tunggu. Nama Ibumu Soraya?” Aku menenbak-nebak. Kebetulan tadi pagi aku bertemu dengan teman ibuku saat melintasi tenda itu.
“Ya. Kok bisa tahu?” Dia tampak kaget.
“Ibuku bilang temannya juga sedang kemah. Aku diminta untuk menyapa temannya itu.” Aku menjelaskan dan dia mengangguk dengan jenaka. “Yuk duduk!” Aku mengajaknya untuk duduk-duduk di depan tenda sekolahku.
“Aku enggak nyangka kamu jadi guru.” Dia menahan tawa dengan menutupi bibir dengan jemarinya yang lentik itu.
“Aku saja masih merasa mimpi. Aku yang tengil dan tukang bikin rusuh harus mengasuh anak-anak mungil nan bikin hati gundah gulana.” Aku tertawa, menertawakan diri sendiri. Teringat dulu sering bikin ulah di masa sekolah. “Kamu bagaimana kabarmu. Setelah lulus lanjut ke mana?”
“Aku guru bahasa sekarang.”
“Oh ya! Bahasa korea?” Tebakku asal. Setahuku dia salah satu penggemar K-Pop.
“Bahasa Sunda.” Dia tersenyum dan senyumnya membuat debar di dadaku menggila. “Aneh ya?” Tanyanya.
“Ah tidak.” Sahutku setelah kembali menguasai diri. “Kuliah di mana?” Aku kembali bertanya. Aku senang mendengar suaranya. Apalagi melihat binar ceria di telaga bening itu.
“UPI.”
“Bandung?” Aku terbelalak tak percaya. Jadi selama ini kami kembali berada di almamater yang sama tapi baru bertemu lagi sekarang.
“Memang kamu kuliah di sana juga?” Kini gilirannya yang terbelalak.
“Iya. PJOK. Gini-gini juga aku atlet loh.” Aku menyombongkan diri.
Kami tidak mengobrol lama. Ibunya datang dan mengajaknya pergi. Meski begitu, kami sudah bertukar nomor ponsel. Senang sekali rasanya kembali bertemu dengan dia.
Kemah ini membawa berkah. Padahal tadinya aku malas-malasan. Aku yang sering diomeli ibu karena sering mengganggu keponakan-keponakanku malah harus menjaga anak-anak seusia mereka.
“Sudah kamu sampaikan salam ibu pada Bu Soraya?” Tanya ibu begitu aku pulang ke rumah.
“Sudah. Bu, anaknya Bu Soraya ternyata teman SMA-ku.” Aku tersenyum senang.
“Perempuan?” Tanya ibu sambil tersenyum penuh arti. Dia tahu aku jarang sekali membicarakan teman-temanku. Apalagi teman perempuan.
Aku hanya mengangguk lalu segera berpamitan ke kamar. Aku tahu ibu akan bertanya lebih jauh. Namun, saat ini aku belum sanggup untuk membaginya dengan ibu.
Malam harinya aku mencoba menghubungi nomor yang dia berikan. Ternyata dia memberiku nomor yang benar. Tadinya aku kira dia akan dengan sengaja memberiku nomor yang salah. Kalau itu terjadi aku akan meminta ibu untuk meminta nomornya.
Obrolan pun bermula. Malam itu kami saling berkirim pesan sampai pukul 10 malam. Keesokan harinya kami juga kembali berkirim pesan. Sejak hari itu aku lebih sering melirik ponselku dibandingkan sebelumnya. Aku menanti pesannya. Ini adalah kegiatan baruku.
Setelah beberapa lama hanya saling berkirim pesan, akhirnya aku mencoba untuk mengajaknya jalan. Saat dia menerimanya, aku langsung berteriak kegirangan.
Meski bukan penyuka makanan berkuah, aku manggut-manggut saja saat dia mengajakku makan ramen. Awalnya aku menahan diri untuk tak bertanya. Setelah cukup lama mengobrol akhirnya aku bertanya tentang pacar. Ternyata dia sudah putus dengan pacarnya. Hubungan mereka berakhir beberapa bulan sebelum kami bertemu. Dia sepertinya cukup terluka dengan perpisahannya itu.
Ini kesempatanku untuk menjadi obat bagi lukanya. Aku sudah bertekad untuk kembali membuat rona merah di kedua pipinya kembali. Aku tahu hubungan kami mungkin tidak akan berjalan mudah. Apalagi statusku yang masih sebagai guru honor. Namun, aku akan meyakinkan dia bahwa aku serius. Aku ingin kami berakhir di garis finish yang sama.
Aku adalah artemis. Seperti halnya namaku yang diambil dari dewi perburuan, maka aku pun akan membidiknya sebagai target utamaku. Target perburuanku yang terakhir.
YN, 05-09-2025
.jpeg)