Rabu, 21 Januari 2026

Tertinggal di Hati

 



If only you could see the tears
In the world you left behind
If only you could heal my heart
Just one more time
Even when I close my eyes
There's an image of your face
And once again I come to realize
You're a loss I can't replace

Setiap mendengar lagu Westlife yang berjudul Soledad, benak Tian selalu dipenuhi kenangan tentang hari itu. Hari saat Azril mengabarkan kalau Izam, pacar Tian kembali pada mantannya. Selesai bicara dengan Izam, Tian menyalakan radio dan sebuah stasiun memutar lagu itu. Benar-benar momen yang pas untuk hati yang patah.
Tian dan Izam memang baru putus. Izam yang memutuskan hubungan mereka. Saat itu Tian merasa sangat bersalah karena berkata pada Izam ingin rehat sejenak dari hubungan mereka. Tian tidak ingin putus. Dia hanya ingin memberi sedikit ruang pada diri masing-masing. 
Tian sedang merasa sedikit jengah atas ocehan keluarga ibunya yang sering kali membahas kedekatan mereka. Keluarga ibunya selalu mengomentari Izam yang selalu membersamai Tian saat berangkat dan pulang sekolah. Namun tanggapan Izam ternyata di luar dugaan. Dia mengatakan lebih baik mereka berpisah. Saat itu Tian merasa bersalah karena Izam tiba-tiba minta putus.
Delapan bulan bukan waktu yang singkat bagi Tian. Izam adalah laki-laki pertama yang berhasil membuatnya jatuh cinta. Tian yang selalu perhatian dan lebih cepat berteman dengan laki-laki, tidak pernah merasa jatuh cinta. Meski ada beberapa laki-laki yang mencoba mendekatinya, hati Tian tidak tergerak. Namun semua sifat dan perhatian yang diberikan Izam membuat hatinya tergerak. 
Izam penuh perhatian dan membuat sisi manja Tian terpenuhi. Izam tidak pernah marah meski Tian sering menggodanya. Hal itulah yang membuat Tian iseng mengerjainya. Tia pernah berpura-pura menyukai Azril, sahabat Izam, hanya untuk mengetahui bagaimana Izam saat marah.
Saat itu Izam memang marah. Namun dia marah karena tak bisa selalu menemani Tian. Izam harus pulang ke kampung halaman untuk menengok ayahnya. Selama ini Izam tinggal bersama neneknya, yang merupakan tetangga Tian.
Saat itu Izam berkata, "Kau tahu Tian, aku merasa tidak enak hati saat pulang ke rumah ayah. Ternyata di sini kau menduakan hati." 
"Aku hanya bercanda. Aku tidak benar-benar menyukai Azril. Aku hanya ingin membuatmu marah."
"Selamat kau sukses membuatku marah." Tatapnya dengan mata yang terluka.
"Maafkan. Aku tak akan pernah lagi bercanda seperti itu."
"Baik. Tapi mulai sekarang kau tidak boleh berdekatan dengan Azril."
"Ok bos!"
Tian menepati janjinya. Dia tidak lagi bercanda tentang perasaannya. Dia tidak mau lagi melihat tatapan penuh luka yang tertinggal di mata Izam. Sebelum berpacaran dengannya, Izam pernah diselingkuhi oleh pacarnya. Saat Tian menggodanya tentang balikan dengan mantannya, Izam sering mengatakan, "Aku tak akan pernah menjilat ludah yang sudah kubuang." 
Namun kenyataannya Izam kembali pada mantannya. Padahal saat itu mereka masih bersama. Beberapa hari sebelum kedatangan Azril, ada teman yang tiba-tiba menghubungi Tian. Temannya itu mengatakan kalau dia melihat Izam sedang main ke rumah Zara, mantannya. Dengan penuh keyakinan Tian mengatakan kalau temannya itu mungkin salah lihat. Ternyata kenyataannya memang benar Izam ada di sana.
"Apa kau temanku?" Tian menatap Azril dengan tatapan penuh luka. "Mengapa kau tidak menceritakannya sebelum kami putus?" Tian setengah berteriak pada Azril.
"Aku tak ingin menghancurkan hubungan kalian."
Terkadang Tian merasa lebih baik dia tidak tahu kalau Izam berselingkuh di belakangnya. Baginya tidak masalah kalau Izam ingin kembali pada mantannya. Namun waktu yang Izam pilih untuk kembali pada mantannyalah yang tak bisa dia terima. Dia merasa dikhianati. Kepercayaannya hancur berkeping-keping. Izam yang begitu baik bisa berbuat setega itu padanya. Izam yang berkata bahwa balikan pada mantan itu seperti halnya menelan kembali ludah yang sudah dikeluarkan. Izam yang mati-matian mengatakan kalau tak mungkin kembali pada perempuan itu. 
Sesakit apapun hatinya, rasa di hati Tian tidak ikut mati. Cinta itu masih ada. Harap itu masih menyala.
Dia hanya tidak bertemu dengannya selama dua minggu. Mereka kembali bermain bersama. Saat itu Izam sudah putus karena perempuan itu kembali menduakannya. 
Tian yang masih cinta, diam-diam menyimpan harap. Dia masih berharap mereka bisa kembali bersama. Dia tahu hatinya sakit dan tak akan mungkin bisa sembuh begitu saja. Namun dia tak ingin benar-benar kehilangan Izam. Dia berharap Izam berubah. Dia berharap Izam bisa menyembuhkan luka yang ditorehkannya.
Ternyata harapannya kosong. Izam hanya fokus dengan dirinya sendiri. Fokus dengan lukanya sendiri. Dia tidak pernah berpikir kalau Tian juga terluka. Izam hanya merasa dirinyalah yang paling terluka. Sejak saat itu Tian menjauh. Dia mencoba dekat dengan orang lain. Usahanya selalu gagal. Setiap laki-laki yang dekat dengannya tiba-tiba mundur. Awalnya Tian tidak mengerti mengapa seperti itu.
Suatu hari dia melihat tulisan Izam. Tulisan itu berisi kalau Izam masih sangat mencintai Tian. Dalam tulisan itu Izam mengatakan dia belum mampu merelakan Tian bersama orang lain. Namun Izam masih bertarung dengan lukanya sendiri.
Sekali lagi Tian terluka. Luka yang ini meninggalkan bekas yang sangat lama. Luka yang masih Tian rasakan sampai sekarang. Hingga Tian pun berpikir, dia tidak perlu kata maaf dari bibir Izam. Tian hanya ingin Izam menunjukkan niat dan tindakannya untuk benar-benar memperbaiki kesalahan. Namun hal itu tak pernah Izam wujudkan.
Waktu berlalu tapi luka itu masih terasa baru. 
"Mungkin aku bodoh. Aku berharap dia mengobati lukaku. Padahal seharusnya, akulah yang menyembuhkan diriku sendiri." 
"Kau masih belum benar-benar melupakannya?" Azril menatap Tian dengan sedih.
"Kau tahu Azril kepercayaan itu seperti halnya gelas. Sekali retak maka tak akan pernah sama lagi."
"Apa kau masih berharap bisa kembali bersamanya?"
Dengan tegas Tian menggeleng. 
"Aku tak yakin diriku bisa mencintainya lagi seperti dulu. Aku tak ingin terus dihantui ketakutan bahwa suatu hari dia akan kembali mengulangnya. Aku tak tahu sehancur apa jika itu sampai terjadi."
"Aku tak menyangka dua orang yang begitu saling mencintai dapat berakhir seperti ini."
"Mungkin akulah yang memberinya ruang untuk melakukan pengkhianatan. Atau cinta kami mungkin tak sebesar yang kami kira. Yang jelas hubungan kami tak akan pernah bisa kembali seperti semula."
"Semoga kau bisa kembali bahagia, Tian."
"Semoga." Tian tersenyum pada Azril lalu pamit pulang.


Hari berganti tapi beberapa kenangan masih tertinggal di hati
Kenangan itu seolah tak akan pernah pergi
Diam bersembunyi mengisi ruang emosi

YN, 21-01-2026






Selasa, 20 Januari 2026

Surat Ke-48

   


"Leksha, tunggu!" Arul menarik tas Aleksha lalu mengajaknya duduk di teras mesjid. Arul tampak kelelahan, ia mengatur nafasnya kemudian kembali bicara. "Dari tadi aku menunggumu."

       "Benarkah?" Aleksha meragukan kata-kata Arul. Saat ia lewat tadi, Arul tengah asyik bicara dengan pacarnya.

       "Dia ingin bicara makanya tadi kami duduk bersama." Arul tersenyum. Ia tahu pasti Aleksha marah karena melihat Arul bicara dengan pacarnya. "Yuk kita kerjakan PR matematikanya." Arul membantuk Aleksha berdiri lalu mengajaknya ke ruang PMR.

       Sesampainya di sana Arul mengajak Aleksha duduk. Dia mengeluarkan buku matematikanya lalu mulai mengerjakan soal. Arul mengajari Aleksha dengan telaten. Dia terlihat bersemangat setiap kali Aleksha bertanya padanya. Selesai mengerjakan PR, Arul mengantar Aleksha pulang.

       "Rul, kalau ada yang lihat bagaimana?" Tanya Aleksha saat Arul memberikan helm padanya.

       "Aku bilang saja aku mengantar sahabatku." Jawab Arul santai lalu mulai menstarter motornya. Aleksha tersenyum, memakai helmlalu naik ke motor Arul.

       "Pegangan yang kuat ya!" Seru Arul sambil menjalankan motornya.

       Arul dan Aleksha terlibat hubungan yang susah dijelaskan dengan kata. Keduanya merasa nyaman dan saling membutuhkan. Meski begitu mereka tak bisa memutuskan pacar masing-masing. Arul selalu berkata, "kita jalani seperti air mengalir saja".

       "Seandainya sejak awal kau mengatakannya pasti semuaya lebih mudah." Ujar Arul saat mereka mengerjakan PR bahasa Inggris.

       "If only..." sahut Aleksha sambil memasang ekspresi lucu. Ekspresi yang membuat Arul selalu rindu padanya.

       "Leksha..."

       "Ya, kangkung."

       "Aku takut."

       "Apa yang membuat ketua PMR kita takut?" Tanya Aleksha sambil menutup buku bahasa Inggrisnya dan menatap Arul.

       "Setelah lulus aku akan lansung masuk militer."

       "Bukankah itu cita-citamu, kenapa sekarang kau malah takut?"

       "Aku takut kehilanganmu."

       "Gemel, aku kira apa." Aleksha tersenyum. Dia hendak memukul Arul tapi Arul malah menggenggam tangan Aleksha lalu menatapnya lekat-lekat. "Kau ingin aku menunggumu?"

       "Kalau kau bisa percaya padaku."

       Aleksha terdiam lalu berkata, "masih ingat film 'Dear John' yang kita tonton bersama anak-anak PMR?"

       "Yang tokohnya prianya seorang prajurit?"

       "Iya. Tulislah surat untukku. Tak perlu setiap waktu, satu bulan satu surat saja cukup."

       "Kenapa harus surat?"

       "Kalau sms kan tergantung sinyal. Kalau surat di mana pun kau berada pasti bisa menulis."

       "Baiklah."

        Aleksha menangis sedih saat melepas kepergian Arul. Dia merasa sebagian dari hidupnya ikut pergi bersama Arul. Surat pertama yang ditulis Arul dibacanya sampai puluhan kali. Dia bahkan selalu membawanya kemanapun dia pergi.

Teman-teman kuliahnya menyebut dia Miss Letters. Mereka sering menggodanya tapi Aleksha tak peduli.

       Surat kedua, ketiga, keempat dan seterusnya selalu datang tepat waktu. Namun surat ke-48 tidak datang. Aleksha jadi khawatir. Tak biasanya Arul terlambat mengirim surat. Dia tak tahu harus bertanya pada siapa.

       Akhirnya Aleksha tak ambil pusing. Dia memfokuskan diri pada ujian sidang skripsinya. Dia sudah berjanji akan menunggu Arul. Dia tak peduli berapapun lamanya waktu yang dia perlukan untuk menunggunya. Aleksha yakin Arul akan datang.

       Sampai acara wisuda tiba pun, surat ke-48 belum tiba. Aleksha mulai goyah. Dia menangis lagi. Dia mengikuti prosesi wisuda tanpa semangat. Dia hampir saja jatuh saat menerima ijazah. Untungnya temannya segera menangkap tubuhnya.

       Saat keluar dari gedung, Aleksha dikejutkan dengan suara helikopter. Heli itu terbang sambil membawa tulisan "Selamat Wisuda Miss Kangkung". Tak lama setelah helikopter pergi seorang pria berseragam muncul sambil membawa sebuah miniatur bola voly.

       "Percaya padaku?"

       "Arul..." Aleksha benar-benar tak percaya melihat pria gagah yang berdiri di hadapannya.

       "Bukalah!" Pinta Arul sambil memberikan miniatur bola voly pada Aleksha.

       Aleksha mengambil miniatur bola voly dari angan Arul lalu mebukanya. Di dalamnya berisi sebuah kotak dan surat ke-48. Isi surat itu sangat singkat, "Leksha maukah kau menikah denganku?"

      "Jawabanmu?" tanya Arul penuh harap.

       "Aku mau." Sahut Aleksha sambil menghapus air mata yang mulai membasahi pipinya. Arul mengambil kotak dari bola voly membukanya lalu mengeluarkan cincin dan memakaikannya di jari manis Aleksha.

       "Percaya padaku?" tanya Arul sambil merentangkan tangan untuk memeluk Aleksha.

       " Aku percaya," sahutnya sambil menghambur ke pelukan Arul.

 

  

                                                                                                                     YN, 30 Oktober 2011

 

Senin, 19 Januari 2026

Lagu dan Ayah

 

Pernah galau karena dengar lagu?

Atau pernah termewek-mewek karena mendengar lagu?

Selamat kalian senasib sama saya? 

Tahu lagu Ada Band yang judulnya “Terbaik Bagimu”?

Ini lagu sukses bikin termewek-mewek. Lagu yang bercerita tentang ayah ini bikin mengharu biru bagi aku yang sudah kehilangan ayah. Apalagi di lirik yang ini:

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya

Ku terus berjanji takkan khianati pintanya

Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu

Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu

Sudah hampir empat tahun bapak pergi tapi rasanya masih seperti kemarin. Masih ingat hari itu adalah hari Rabu. Aku sedang menggelar rapat persiapan studi tur ke Borobudur. Tiba-tiba di telepon sama suami. Ayank (et dah, suami) mengabarkan kalau Bapak sudah beberapa kali kejang. Dengan segala kekuatan yang masih tersisa hari itu, aku nekad pulang ke Garut. Padahal sebelumnya aku tak pernah pulang sendirian dari Maniis (Majalengka) ke Garut. 

Hari itu segala upaya dilakukan agar bisa pulang ke Garut. Mulai dari minta antar ke rekan sampai Pamoyanan, lanjut naek Elf ke Bandrek dan berakhir naik ojol sampai ke RSUD Dokter Slamet, tempat bapak selama hampir 3 bulan terakhir menghabiskan hari-harinya. Perjalanan itu bagaikan mimpi. Seolah-olah sedang masuk ke dalam sebuah alur novel pada bagian komplikasi.

Meski terkadang kami berselisih paham tapi aku sangat menyayangi bapak. Banyak pelajaran hidup yang masih kujalankan sampai detik ini. Banyak harapan yang bapak tujukan padaku. Sampai hari ini pun aku masih berjuang untuk mewujudkannya. 

YN, 19-01-2026



Senin, 12 Januari 2026

Nostalgia Bersama Rangga dan Cinta

        


        "Salah gue?"

        "Salah temen-temen gue?"

      Dialog yang ikonik. Perempuan seumur saya pasti hapal benar dengan dialog tersebut. Dialog yang diucapkan Cinta pada Rangga di tengah pertandingan bola basket yang sedang ditontonnya.

        Kisah Rangga dan Cinta tak akan lekang ditelan waktu. Kisah cinta dua remaja dengan segala permasalahan dan pertentangan batin mereka. Meski kali ini film yang saya tonton adalah remake, rasanya sangat berkesan. Apalagi bagi saya yang jarang nonton film dalam negeri. Bukan karena saya tidak cinta tanah air, sebenarnya, lebih karena film yang beredar lebih sering bergenre horor. 

       Saat melihat Rangga, saya teringat pada siswa saya di sekolah. Lebih tepatnya pada seseorang yang belakangan ini cukup menarik perhatian saya. Rangga yang ditinggalkan ibunya, tak punya teman dan memiliki ayah yang dianggap bermasalah. Bukan masalah tentang orang tuanya, tapi lebih ke bagaimana bila jadi Rangga. Mengapa dia terkesan cuek dan ketus? Mengapa dia cenderung tidak suka berteman dan sendirian?

        Hal-hal itulah yang sampai saat ini masih berusaha saya pahami dari siswa-siswa saya. Mengapa mereka bertingkah? Mengapa mereka tidak betah di kelas? Apa yang sebenarnya terjadi di rumah mereka? Meski saya tidak bisa membantu menyelesaikan masalah mereka, setidaknya saya tak ingin menjadi seseorang yang menambah luka. Saya selalu berharap siswa-siswa yang bermasalah itu segera menemukan jalan keluar dari masalah mereka. 

        Saya harap mereka lebih tangguh dan masih berpikiran logis. Saya berharap mereka mampu melewati masa remaja dengan penuh kenangan manis yang kelak akan membentuk kepribadian mereka menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan dedikasi. Bukan untuk  orang lain tetapi untuk mereka sendiri. 

       Setiap hari setiap orang bertempur di medan perangnya masing-masing. Hal itulah yang ingin saya tekankan pada para siswa. Saya ingin mereka tumbuh jadi lebih tangguh meski cerca dan hina tak akan lepas membersamai pertumbuhan mereka. Tidak selamanya hal yang menyakitkn hanya menyisakan air mata tapi mari kita ubah hal menyakitkan itu sebagai perisai untuk memperkuat batin kita dalam menghadapi masa depan.


YN, 13012026

Tertinggal di Hati

  If only you could see the tears In the world you left behind If only you could heal my heart Just one more time Even when I close my eyes ...