In the world you left behind
If only you could heal my heart
Just one more time
Even when I close my eyes
There's an image of your face
And once again I come to realize
You're a loss I can't replace
"Leksha, tunggu!" Arul menarik tas Aleksha lalu mengajaknya duduk di teras mesjid. Arul tampak kelelahan, ia mengatur nafasnya kemudian kembali bicara. "Dari tadi aku menunggumu."
"Benarkah?" Aleksha meragukan kata-kata Arul. Saat ia lewat tadi,
Arul tengah asyik bicara dengan pacarnya.
"Dia
ingin bicara makanya tadi kami duduk bersama." Arul tersenyum. Ia tahu
pasti Aleksha marah karena melihat Arul bicara dengan pacarnya. "Yuk kita
kerjakan PR matematikanya." Arul membantuk Aleksha berdiri lalu
mengajaknya ke ruang PMR.
Sesampainya
di sana Arul mengajak Aleksha duduk. Dia mengeluarkan buku matematikanya lalu
mulai mengerjakan soal. Arul mengajari Aleksha dengan telaten. Dia terlihat
bersemangat setiap kali Aleksha bertanya padanya. Selesai mengerjakan PR, Arul
mengantar Aleksha pulang.
"Rul,
kalau ada yang lihat bagaimana?" Tanya Aleksha saat Arul memberikan helm
padanya.
"Aku
bilang saja aku mengantar sahabatku." Jawab Arul santai lalu mulai
menstarter motornya. Aleksha tersenyum, memakai helmlalu naik ke motor Arul.
"Pegangan yang kuat ya!" Seru Arul sambil menjalankan motornya.
Arul dan
Aleksha terlibat hubungan yang susah dijelaskan dengan kata. Keduanya merasa
nyaman dan saling membutuhkan. Meski begitu mereka tak bisa memutuskan pacar
masing-masing. Arul selalu berkata, "kita jalani seperti air mengalir
saja".
"Seandainya sejak awal kau mengatakannya pasti semuaya lebih mudah."
Ujar Arul saat mereka mengerjakan PR bahasa Inggris.
"If
only..." sahut Aleksha sambil memasang ekspresi lucu. Ekspresi yang
membuat Arul selalu rindu padanya.
"Leksha..."
"Ya,
kangkung."
"Aku
takut."
"Apa
yang membuat ketua PMR kita takut?" Tanya Aleksha sambil menutup buku
bahasa Inggrisnya dan menatap Arul.
"Setelah lulus aku akan lansung masuk militer."
"Bukankah itu cita-citamu, kenapa sekarang kau malah takut?"
"Aku
takut kehilanganmu."
"Gemel,
aku kira apa." Aleksha tersenyum. Dia hendak memukul Arul tapi Arul malah
menggenggam tangan Aleksha lalu menatapnya lekat-lekat. "Kau ingin aku
menunggumu?"
"Kalau
kau bisa percaya padaku."
Aleksha
terdiam lalu berkata, "masih ingat film 'Dear John' yang kita tonton
bersama anak-anak PMR?"
"Yang
tokohnya prianya seorang prajurit?"
"Iya.
Tulislah surat untukku. Tak perlu setiap waktu, satu bulan satu surat saja
cukup."
"Kenapa
harus surat?"
"Kalau
sms kan tergantung sinyal. Kalau surat di mana pun kau berada pasti bisa
menulis."
"Baiklah."
Aleksha menangis sedih saat melepas kepergian Arul. Dia merasa sebagian dari
hidupnya ikut pergi bersama Arul. Surat pertama yang ditulis Arul dibacanya
sampai puluhan kali. Dia bahkan selalu membawanya kemanapun dia pergi.
Teman-teman kuliahnya menyebut dia Miss Letters.
Mereka sering menggodanya tapi Aleksha tak peduli.
Surat kedua,
ketiga, keempat dan seterusnya selalu datang tepat waktu. Namun surat ke-48
tidak datang. Aleksha jadi khawatir. Tak biasanya Arul terlambat mengirim
surat. Dia tak tahu harus bertanya pada siapa.
Akhirnya
Aleksha tak ambil pusing. Dia memfokuskan diri pada ujian sidang skripsinya.
Dia sudah berjanji akan menunggu Arul. Dia tak peduli berapapun lamanya waktu
yang dia perlukan untuk menunggunya. Aleksha yakin Arul akan datang.
Sampai acara
wisuda tiba pun, surat ke-48 belum tiba. Aleksha mulai goyah. Dia menangis
lagi. Dia mengikuti prosesi wisuda tanpa semangat. Dia hampir saja jatuh saat
menerima ijazah. Untungnya temannya segera menangkap tubuhnya.
Saat keluar
dari gedung, Aleksha dikejutkan dengan suara helikopter. Heli itu terbang
sambil membawa tulisan "Selamat Wisuda Miss Kangkung". Tak lama
setelah helikopter pergi seorang pria berseragam muncul sambil membawa sebuah
miniatur bola voly.
"Percaya padaku?"
"Arul..." Aleksha benar-benar tak percaya melihat pria gagah yang
berdiri di hadapannya.
"Bukalah!" Pinta Arul sambil memberikan miniatur bola voly pada
Aleksha.
Aleksha
mengambil miniatur bola voly dari angan Arul lalu mebukanya. Di dalamnya berisi
sebuah kotak dan surat ke-48. Isi surat itu sangat singkat, "Leksha maukah
kau menikah denganku?"
"Jawabanmu?" tanya Arul penuh harap.
"Aku
mau." Sahut Aleksha sambil menghapus air mata yang mulai membasahi
pipinya. Arul mengambil kotak dari bola voly membukanya lalu mengeluarkan
cincin dan memakaikannya di jari manis Aleksha.
"Percaya padaku?" tanya Arul sambil merentangkan tangan untuk memeluk
Aleksha.
" Aku
percaya," sahutnya sambil menghambur ke pelukan Arul.
YN, 30 Oktober 2011
Atau pernah termewek-mewek karena mendengar lagu?
Selamat kalian senasib sama saya?
Tahu lagu Ada Band yang judulnya “Terbaik Bagimu”?

Ini lagu sukses bikin termewek-mewek. Lagu yang bercerita tentang ayah ini bikin mengharu biru bagi aku yang sudah kehilangan ayah. Apalagi di lirik yang ini:
Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji takkan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan ku mampu penuhi maumu
Sudah hampir empat tahun bapak pergi tapi rasanya masih seperti kemarin. Masih ingat hari itu adalah hari Rabu. Aku sedang menggelar rapat persiapan studi tur ke Borobudur. Tiba-tiba di telepon sama suami. Ayank (et dah, suami) mengabarkan kalau Bapak sudah beberapa kali kejang. Dengan segala kekuatan yang masih tersisa hari itu, aku nekad pulang ke Garut. Padahal sebelumnya aku tak pernah pulang sendirian dari Maniis (Majalengka) ke Garut.
Hari itu segala upaya dilakukan agar bisa pulang ke Garut. Mulai dari minta antar ke rekan sampai Pamoyanan, lanjut naek Elf ke Bandrek dan berakhir naik ojol sampai ke RSUD Dokter Slamet, tempat bapak selama hampir 3 bulan terakhir menghabiskan hari-harinya. Perjalanan itu bagaikan mimpi. Seolah-olah sedang masuk ke dalam sebuah alur novel pada bagian komplikasi.
Meski terkadang kami berselisih paham tapi aku sangat menyayangi bapak. Banyak pelajaran hidup yang masih kujalankan sampai detik ini. Banyak harapan yang bapak tujukan padaku. Sampai hari ini pun aku masih berjuang untuk mewujudkannya.
YN, 19-01-2026
"Salah gue?"
"Salah temen-temen gue?"
Dialog yang ikonik. Perempuan seumur saya pasti hapal benar dengan dialog tersebut. Dialog yang diucapkan Cinta pada Rangga di tengah pertandingan bola basket yang sedang ditontonnya.
Kisah Rangga dan Cinta tak akan lekang ditelan waktu. Kisah cinta dua remaja dengan segala permasalahan dan pertentangan batin mereka. Meski kali ini film yang saya tonton adalah remake, rasanya sangat berkesan. Apalagi bagi saya yang jarang nonton film dalam negeri. Bukan karena saya tidak cinta tanah air, sebenarnya, lebih karena film yang beredar lebih sering bergenre horor.
Saat melihat Rangga, saya teringat pada siswa saya di sekolah. Lebih tepatnya pada seseorang yang belakangan ini cukup menarik perhatian saya. Rangga yang ditinggalkan ibunya, tak punya teman dan memiliki ayah yang dianggap bermasalah. Bukan masalah tentang orang tuanya, tapi lebih ke bagaimana bila jadi Rangga. Mengapa dia terkesan cuek dan ketus? Mengapa dia cenderung tidak suka berteman dan sendirian?
Hal-hal itulah yang sampai saat ini masih berusaha saya pahami dari siswa-siswa saya. Mengapa mereka bertingkah? Mengapa mereka tidak betah di kelas? Apa yang sebenarnya terjadi di rumah mereka? Meski saya tidak bisa membantu menyelesaikan masalah mereka, setidaknya saya tak ingin menjadi seseorang yang menambah luka. Saya selalu berharap siswa-siswa yang bermasalah itu segera menemukan jalan keluar dari masalah mereka.
Saya harap mereka lebih tangguh dan masih berpikiran logis. Saya berharap mereka mampu melewati masa remaja dengan penuh kenangan manis yang kelak akan membentuk kepribadian mereka menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan dedikasi. Bukan untuk orang lain tetapi untuk mereka sendiri.
Setiap hari setiap orang bertempur di medan perangnya masing-masing. Hal itulah yang ingin saya tekankan pada para siswa. Saya ingin mereka tumbuh jadi lebih tangguh meski cerca dan hina tak akan lepas membersamai pertumbuhan mereka. Tidak selamanya hal yang menyakitkn hanya menyisakan air mata tapi mari kita ubah hal menyakitkan itu sebagai perisai untuk memperkuat batin kita dalam menghadapi masa depan.
YN, 13012026
If only you could see the tears In the world you left behind If only you could heal my heart Just one more time Even when I close my eyes ...