Selasa, 20 Januari 2026

Surat Ke-48

   


"Leksha, tunggu!" Arul menarik tas Aleksha lalu mengajaknya duduk di teras mesjid. Arul tampak kelelahan, ia mengatur nafasnya kemudian kembali bicara. "Dari tadi aku menunggumu."

       "Benarkah?" Aleksha meragukan kata-kata Arul. Saat ia lewat tadi, Arul tengah asyik bicara dengan pacarnya.

       "Dia ingin bicara makanya tadi kami duduk bersama." Arul tersenyum. Ia tahu pasti Aleksha marah karena melihat Arul bicara dengan pacarnya. "Yuk kita kerjakan PR matematikanya." Arul membantuk Aleksha berdiri lalu mengajaknya ke ruang PMR.

       Sesampainya di sana Arul mengajak Aleksha duduk. Dia mengeluarkan buku matematikanya lalu mulai mengerjakan soal. Arul mengajari Aleksha dengan telaten. Dia terlihat bersemangat setiap kali Aleksha bertanya padanya. Selesai mengerjakan PR, Arul mengantar Aleksha pulang.

       "Rul, kalau ada yang lihat bagaimana?" Tanya Aleksha saat Arul memberikan helm padanya.

       "Aku bilang saja aku mengantar sahabatku." Jawab Arul santai lalu mulai menstarter motornya. Aleksha tersenyum, memakai helmlalu naik ke motor Arul.

       "Pegangan yang kuat ya!" Seru Arul sambil menjalankan motornya.

       Arul dan Aleksha terlibat hubungan yang susah dijelaskan dengan kata. Keduanya merasa nyaman dan saling membutuhkan. Meski begitu mereka tak bisa memutuskan pacar masing-masing. Arul selalu berkata, "kita jalani seperti air mengalir saja".

       "Seandainya sejak awal kau mengatakannya pasti semuaya lebih mudah." Ujar Arul saat mereka mengerjakan PR bahasa Inggris.

       "If only..." sahut Aleksha sambil memasang ekspresi lucu. Ekspresi yang membuat Arul selalu rindu padanya.

       "Leksha..."

       "Ya, kangkung."

       "Aku takut."

       "Apa yang membuat ketua PMR kita takut?" Tanya Aleksha sambil menutup buku bahasa Inggrisnya dan menatap Arul.

       "Setelah lulus aku akan lansung masuk militer."

       "Bukankah itu cita-citamu, kenapa sekarang kau malah takut?"

       "Aku takut kehilanganmu."

       "Gemel, aku kira apa." Aleksha tersenyum. Dia hendak memukul Arul tapi Arul malah menggenggam tangan Aleksha lalu menatapnya lekat-lekat. "Kau ingin aku menunggumu?"

       "Kalau kau bisa percaya padaku."

       Aleksha terdiam lalu berkata, "masih ingat film 'Dear John' yang kita tonton bersama anak-anak PMR?"

       "Yang tokohnya prianya seorang prajurit?"

       "Iya. Tulislah surat untukku. Tak perlu setiap waktu, satu bulan satu surat saja cukup."

       "Kenapa harus surat?"

       "Kalau sms kan tergantung sinyal. Kalau surat di mana pun kau berada pasti bisa menulis."

       "Baiklah."

        Aleksha menangis sedih saat melepas kepergian Arul. Dia merasa sebagian dari hidupnya ikut pergi bersama Arul. Surat pertama yang ditulis Arul dibacanya sampai puluhan kali. Dia bahkan selalu membawanya kemanapun dia pergi.

Teman-teman kuliahnya menyebut dia Miss Letters. Mereka sering menggodanya tapi Aleksha tak peduli.

       Surat kedua, ketiga, keempat dan seterusnya selalu datang tepat waktu. Namun surat ke-48 tidak datang. Aleksha jadi khawatir. Tak biasanya Arul terlambat mengirim surat. Dia tak tahu harus bertanya pada siapa.

       Akhirnya Aleksha tak ambil pusing. Dia memfokuskan diri pada ujian sidang skripsinya. Dia sudah berjanji akan menunggu Arul. Dia tak peduli berapapun lamanya waktu yang dia perlukan untuk menunggunya. Aleksha yakin Arul akan datang.

       Sampai acara wisuda tiba pun, surat ke-48 belum tiba. Aleksha mulai goyah. Dia menangis lagi. Dia mengikuti prosesi wisuda tanpa semangat. Dia hampir saja jatuh saat menerima ijazah. Untungnya temannya segera menangkap tubuhnya.

       Saat keluar dari gedung, Aleksha dikejutkan dengan suara helikopter. Heli itu terbang sambil membawa tulisan "Selamat Wisuda Miss Kangkung". Tak lama setelah helikopter pergi seorang pria berseragam muncul sambil membawa sebuah miniatur bola voly.

       "Percaya padaku?"

       "Arul..." Aleksha benar-benar tak percaya melihat pria gagah yang berdiri di hadapannya.

       "Bukalah!" Pinta Arul sambil memberikan miniatur bola voly pada Aleksha.

       Aleksha mengambil miniatur bola voly dari angan Arul lalu mebukanya. Di dalamnya berisi sebuah kotak dan surat ke-48. Isi surat itu sangat singkat, "Leksha maukah kau menikah denganku?"

      "Jawabanmu?" tanya Arul penuh harap.

       "Aku mau." Sahut Aleksha sambil menghapus air mata yang mulai membasahi pipinya. Arul mengambil kotak dari bola voly membukanya lalu mengeluarkan cincin dan memakaikannya di jari manis Aleksha.

       "Percaya padaku?" tanya Arul sambil merentangkan tangan untuk memeluk Aleksha.

       " Aku percaya," sahutnya sambil menghambur ke pelukan Arul.

 

  

                                                                                                                     YN, 30 Oktober 2011

 

Tertinggal di Hati

  If only you could see the tears In the world you left behind If only you could heal my heart Just one more time Even when I close my eyes ...