Jumat, 08 Mei 2026

Mak Lampir Juga Perempuan 2#

 

 Tak terasa lima tahun sudah dia meninggalkan Bandung. Bukan benar-benar meninggalkan sebenarnya. Azzura terkadang pulang di akhir bulan atau di libur lebaran. Sejak perpisahannya dengan Elzar, Azzura merasa Bandung bukan lagi tempat yang menyenangkan. Terlalu banyak kenangan di setiap sudut kota ini.
Kini Azzura merasa tak ingin lagi bersembunyi. Tak ada gunanya bersembunyi dari orang yang sebenarnya ingin kau temui. Pikiran itu akhirnya dapat Azzura terima. Selama ini dia selalu berharap bisa bertemu secara tidak sengaja dengan Elzar. Banyak skenarioyang telah dirancangnya meski hanya di dalam angan. Dia terlalu malu untuk mengakui bahwa di hatinya masih ada Elzar.
Dia memang terluka saat itu hingga memutuskan untuk pergi. Namun setelah hari berlalu dan tahun berganti dia mulai merindukannya. Rasa malu menahannya untuk berlari dan kembali memeluknya.
Saat menerima SK CPNS dia sedikit terhibur. Mereka tidak akan tinggal di kota yang sama lagi. Sulit rasanya tetap berada di kota yang sama dengan dia. Apalagi sahabat terbaikmu adalah kakaknya. Sangat tak mungkin untuk tidak tahu menahu tentangnya.
“Kamu pulang ke Bandung sekarang?” Tanya Bu Nisa, teman terdekatnya selama mengajar di SMPN yang ada di Kuningan. “Kamu pindah bukan karena Pak Anjas yang selalu mendesakmu untuk menerima cintanya, kan?” Bu Nisa menebak-nebak.
“Bukan, mbak. Aku sudah menjelaskan padanya kalau aku masih belum bisa move on.” Azzura tersenyum malu.
“Mantanmu itu memang cakep, Zu.” Bu Nisa mengacungkan jempol.
“Pak Anjas juga ganteng, mbak.” Azzura bicara dengan jujur.
“Tapi masih kalah ganteng sama mantanmu.” Bu Nisa keukeuh dengan pendapatnya.
“Mbak Nisa bisa saja. Aku tinggal dulu ya, mau pamitan sama teman-teman di TU dan di Labkom.”
“Ditunggu kabar baiknya ya.” Bu Nisa mengedipkan mata pada Azzura yang langsung tertawa.
***
 “Azzura, ya?” Zami, rekan kerja Elzar menghampirinya saat sedang asyik menulis di kafe.
 “Eh, Kak Zami. Apa kabar?” Azzura mengalihkan pandang dari tab-nya lalu menyalami Zami.
 “Baik. Sendiri aja?” Zami larak-lirik mencari.
 “Iya. Kakak?” Azzura balik bertanya. Dalam hati dia sedikit waswas. Biasanya Elzar selalu bersama dengannya.
 “Aku sendiri.” Sepertinya Zami menyadari siapa yang dicari oleh Azzura. “Si Edogawa masih asyik memecahkan barisan kode di laptopnya.” Zami tersenyum. “Kamu ke mana saja? Si Edogawa bilang kamu menghilang.”
 “Aku baru kembali lagi ke Bandung.” Azzura pun menceritakan di mana dia selama lima tahun terakhir ini. Mereka hanya bicara sebentar. Zaki segera berpamitan setelah pacarnya menelepon.
 Elzar pasti akan segera tahu kalau aku sudah kembali, bisik hati Azzura setelah Zami berpamitan.
***
Malam harinya setelah dia kembali ke rumah, Azzura kembali membuka foto-foto Elzar yang dia simpan di Google Drive-nya. Kenangan demi kenangan kembali menampakkan diri.
Azzura tak pernah berpikir bisa jatuh cinta pada adik sahabatnya. Awalnya Elzar hanyalah adik kecil yang selalu mengganggu acara curhatnya bersama Elvira. Lama kelamaan adik kecil itu malah sering muncul di hari-harinya. Dia sering ikut campur dalam hidupnya. Dia juga sering ikut marah dan menggalau bersama saat Azzura putus dengan pacarnya.
“Daripada patah hati terus mending pacaran sama aku.” Usul Elzar saat itu.
“Hei, baru juga dua kali punya pacar.” Protes Azzura.
“Iya sih. Tapi dua-duanya selingkuh, kan?” Elzar mengingatkan. “Yang pertama balikan lagi sama mantannya. Yang kedua malah lebih milih sahabatnya. Kamu tuh bego apa tolol?”
“Pakai majas bisa kan, dek!” Azzura memelototi Elzar. Kata-kata itu sering diucapkan Azzura kalau dia merasa kata-kata Elzar keterlaluan.
“Mau personifikasi atau hiperbola?” Elzar mengedip-ngedipkan mata besarnya.
“Metafora sepertinya bisa. Asal jangan otak udang.” Azzura tertawa.
“Jadi kapan aku bisa ngapel ke rumah?”
“Kapan-kapan. Lalu Tania?”
“Dia bukan pacarku.”
“Apa iya? Buktinya dia nempel terus.”
“Makanya, segera akui aku sebagai pacar. Biar dia berhenti nempel.” Elzar menatap Azzura dengan serius.
“Beresin dulu kuliah. Biar mama dan kakakmu tenang!”
“Janji ya!” Diam-diam Elzar merekam percakapan mereka.
***
“Kamu yakin menerima adikku sebagai suamimu?” Tanya Elvira beberapa saat sebelum Azzura dan Elzar menikah. “Kalau mau kabur aku bisa bantu?” Elvira memasang wajah serius.
“Masa sama adik sendiri begitu, El?” Azzura menatap Elvira sambil menahan tawa.
“Kamu tuh sahabat terbaik aku. Elzar juga satu-satunya adikku. Aku enggak mau kehilangan salah satu dari kalian.”
“Aku yakin, El.” Azzura meremas tangan Elvira lalu berjalan mendekati meja akad nikah, di mana Elzar dan ayahnya sudah menunggu.
“Hai Mak Lampir.” Bisik Elzar sambil meraih tangan Azzura dari genggaman kakaknya lalu mengajaknya duduk. “Kamu cantik.” Bisiknya lagi saat Azzura duduk.
Awalnya Azzura dapat memaklumi pekerjaan dan hobi Elzar. Namun lama kelamaan dia merasa jenuh. Elzar semakin sibuk dengan pekerjaan dan hobinya hingga mereka jarang memiliki waktu untuk bersama. Belum lagi Tania yang tetap menempel meski sudah tahu kalau Elzar bukan lagi lelaki lajang. Azzura merasa sedih dan kesal tapi mencoba untuk menahan diri.
Namun kekesalannya tak dapat dibendung lagi hari itu. Dia baru saja kehilangan bayi yang tanpa sadar telah tumbuh di rahimnya. Selama ini haidnya kadang tidak teratur sehingga saat haidnya tidak datang bulan itu Azzura tidak cepat-cepat membeli tes pak. Namun kali ini dia merasa ada yang sedikit berbeda. Dia pun memutuskan untuk membeli alat tes. Saat garisnya lebih dari satu Azzura menangis bahagia. Dia pun pergi ke dokter untuk memastikan.
Azzura ingin memberi Elzar kejutan sehingga menunggu untuk memberi tahunya. Dia ingin memberi tahu Elzar secara langsung. Dia pun menunggu sampai Elzar selesai dengan proyek barunya. Dia sudah menyusun skenario di benaknya. Namun sayang, bayi mereka tak bisa menunggu. Tuhan kembali mengambilnya beberapa minggu kemudian.
“Zu, kamu yakin tidak akan memberi tahunya?” Tanya Elvira setelah mereka pulang dari rumah sakit.
“Sebaiknya dia tidak tahu, El. Dia pasti merasa bersalah dan sedih.”
“Baiklah kalau itu yang jadi keputusanmu.”
***
Hari itu Elzar berjanji akan menemani Azzura untuk pergi ke pernikahan saudaranya. Namun sepertinya Elzar lupa dengan janjinya. Saat Azzura menghubungi ponselnya, Tania yang menerima. Dia mengatakan kalau Elzar sedang tidur. Mendengar hal itu Azzura langsung kesal. Mengapa perempuan itu ada bersamanya. Bukankah Elzar bilang tidak bisa pulang karena harus menyelesaikan pekerjaannya.
Amarah Azzura makin memuncak saat Tania datang mengantar jaket Elzar.
“Mbak mungkin sudah jadi istrinya. Tapi hatinya tidak sepenuhnya milik, mbak. Buktinya dia masih peduli sama aku.” Tania menyimpan jaket Elzar di kursi lalu pergi.
Setelah Tania pergi Azzura mengemasi pakaiannya. Dia sudah tak bisa menahan diri lagi. Dia tak ingin terus menunggu dan diabaikan. Meski hatinya sakit dia memilih untuk berpisah. Azzura meminta semua orang terdekatnya agar menjauhkan Elzar darinya. Dia ingin melupakannya.
Ternyata tak segampang itu melupakan orang yang dicintai. Azzura menahan diri sekuat mungkin untuk tak mencari tahu tentang keberadaannya. Dia memfokuskan diri pada pekerjaan. Dia selalu menghindari pembicaraan tentang Elzar ataupun asmara. Namun jauh di lubuk hatinya nama itu tetap bergema.
Saat pertama kali bertugas di Kuningan dia berpikir untuk tidak mengajukan mutasi. Namun saat ada kesempatan dia malah memutuskan untuk kembali ke Bandung. Dia tahu tak mungkin selamanya menjauh dari Elzar. Apalagi sekarang dia sudah mulai kembali berkomunikasi dengan Elvira.
***
“Bolehkah saya duduk di sini?” Elzar bicara dengan hati-hati.
“Elzar….” Azzura memalingkan wajah dari tab-nya dan menatap Elzar.
“Jadi bolehkah aku duduk di sini?” Elzar kembali bertanya.
Sebelum menjawab Azzura menatap ke sekeliling kedai kopi. Hari itu pengunjungnya sangat ramai. Dengan berat hati dia pun mengizinkan Elzar untuk duduk.
Setelah Elzar duduk, Azzura kembali asyik dengan tab-nya. Dia berusaha mengabaikan keberadaan Elzar, meski diam-diam mencuri pandang. Azzura menunggu Elzar memulai pembicaraan. Namun Elzar malah mengeluarkan laptopnya dan mulai bekerja. Akhirnya keduanya malah sibuk dengan kegiatan masing-masing.
“Sudah mau pulang?” Tanya Elzar saat melihat Azzura mengemasi tab dan buku catatannya. Azzura tidak bersuara. Dia hanya mengangguk. “Aku antar pulang ya.” Lanjut Elzar sambil mengemasi laptopnya.
“Memangnya tidak ada yang marah kalau kamu mengantarku?” Tanya Azzura akhirnya.
“Di dunia ini yang berani marah padaku cuma kamu.” Elzar menatap Azzura sambil tersenyum.
“Oh ya aku lupa kalau hidupmu hanya di kelilingi mimi peri. Dan hanya aku satu-satunya Mak Lampir.” Azzura mendelik kesal.
“Mak Lampir yang selalu kurindukan.” Elzar tersenyum sambil berdiri lalu mengambil tas Azzura dan berjalan mendahuluinya. Mau tak mau Azzura pun mengikuti langkahnya meninggalkan kafe.

YN, 08-05-2026

Mak Lampir Juga Perempuan 2#

   Tak terasa lima tahun sudah dia meninggalkan Bandung. Bukan benar-benar meninggalkan sebenarnya. Azzura terkadang pulang di akhir bulan a...