Jumat, 17 April 2026

Mak Lampir Juga Perempuan 1#

 

Lima tahun sudah berlalu tapi kenangan tentang Azzura tetap tinggal di benak Elzar. Elzar masih sering mencari tahu tentang keberadaanya. Meski Elzar tahu Azzura tak ingin mengenalnya lagi, dia tetap berharap. Baginya hanya Azzura satu-satunya yang mampu membuat hatinya berdebar kencang selain kopi.

“Zar, kemarin aku bertemu mantan istrimu.” Zami yang baru datang menghampiri meja Elzar. Melihat Elzar tidak menunjukkan reaksi apa-apa, Zami pun kembali melanjutkan. “Kami mengobrol sebentar. Katanya dia baru kembali setelah bertugas selama 5 tahun di Kuningan.”

“Jadi selama ini dia bersembunyi di sana.” Elzar akhirnya memberikan tanggapan.

“Kamu masih mencarinya?” Zami menatap Elzar dengan penasaran. Elzar tidak menjawab. Dia hanya menanggapi rasa penasaran Zami dengan senyuman. “Sudah lima tahun berlalu.” Zami mengingatkan.

“Aku tahu. Tapi sehari pun aku tak pernah bisa melupakannya.” Elzar tersenyum tipis.

“Waktu itu kenapa sih kalian memilih berpisah?” Zami menarik kursi dan menyimpannya di dekat meja kerja Elzar. Selama ini dia benar-benar penasaran.

“Kapan-kapan aja deh ceritanya. Aku lagi sibuk?” Elzar menunjuk layar komputernya yang sedang memuat barisan kode program yang sedang dijalankan.

“Baiklah!” Zami menyerah karena dia juga harus mulai bekerja.

Setelah Zami pergi, Elzar membuka akun Instagramnya di ponsel dan mencari akun Azzura. Unggahan terakhir perempuan itu menunjukkan dia sedang duduk di kedai kopi sambil menulis. Saat tahu dia tidak mengunci akunnya, Elzar pun mulai melihat-lihat unggahannya.

Uang jajan Mak Lampir sepertinya habis, Elzar bergumam. Dia tertawa lalu kembali menggulir unggahan di akun Azzura. Dia berusaha mencari-cari foto terbarunya tapi tak satu pun dia menemukannya.

 Seperti apa dia sekarang? Elzar bertanya-tanya.

Setelah mereka selesai mengurus perceraian, Azzura menghilang. Azzura tak mau bertemu dengan Elzar. Azzura benar-benar memutuskan komunikasi dengannya.

“Kata Zami, Zu sudah kembali ke Bandung.” Elzar menelepon kakaknya, yang juga sahabat baik Azzura.

“Iya. Sudah hampir satu tahun malah.” Sahut Elvira dengan santai.

“Kok enggak ngasih tahu?” Elzar sedikit kesal.

“Dia yang melarangku. Kami baru dekat lagi setelah empat tahun, aku tak mungkin mengkhianatinya.” Elvira membela diri.

“Dan kau tidak merasa bersalah pada adikmu ini?” Elzar mengeluh.

“Kau sendiri yang buat masalah.” Elvira mengingatkan.

“Iya aku tahu. Aku terlalu asyik dengan duniaku. Aku menganggap semua baik-baik saja hingga akhirnya dia pergi.”

“Kau baru tahu betapa berartinya dia setelah kau ditinggalkan.”

“Sudahi ceramahnya bu guru!” Protes Elzar. “Apa dia sudah menikah lagi?”

“Setahuku belum.” Elvira memberi jeda pada jawabannya. “Jangan bilang kau mau mengejarnya lagi?” Elvira menebak-nebak.

“Kalau sampai saat ini dia masih sendiri, berarti dia masih cinta padaku.” Jawab Elzar dengan percaya diri.

“Kau kepedean!” Elvira menaikkan suaranya.

“Memang begitu adanya. Mak lampir itu cinta mati padaku.”

“Terserah kamu lah. Kalau kali ini dia sakit hati lagi, kucoret kau dari kartu keluarga!’ Ancam Elvira sambil menutup pembicaraan.

 Hari itu saat pulang ke apartemennya Elzar terduduk di sofa. Dia kembali teringat pada Azzura. Pikirannya membawa Elzar ke pertemuan pertama mereka. Saat itu Elzar baru duduk di kelas 7. Dia masuk ke kamar kakaknya untuk meminjam komik. Seperti biasa dia masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. Begitu masuk dia langsung menimpuk perempuan yang sedang duduk di kursi belajar kakaknya dengan bantal.

 “Siapa sih!” Perempuan itu menoleh ke belakang dan melotot pada Elzar yang tengah asyik cengengesan.

 “Eh maaf, saya kira Vira.” Elzar menggaruk kepalanya yang tiba-tiba jadi gatal.

 “Ngapain?” Elvira masuk kamar lalu mengalungkan lengan di leher Elzar dan memeluknya erat seolah hendak mencekiknya.

 “Adikmu tuh. Tiba-tiba nimpuk pakai bantal!” Perempuan itu melotot pada Elzar lalu menunjuk bantal yang ada di bawah kakinya.

 “Maaf!” Elzar tertunduk.

 Elvira tertawa melihat adiknya yang tertunduk karena ditatap dengan galak oleh Azzura. “Ayo pergi!” Elvira menarik Elzar menjauh dari kamarnya. “Makanya kalau masuk kamar orang tuh ketuk dulu!” Elvira menjitak kepala adiknya.

 “Jadi itu yang namanya Azzura?” Elzar menoleh ke kamar Elvira.

 “Cantik dan imut, kan?” Elvira mengedip-ngedipkan mata pada adiknya.

 “Apanya yang imut. Yang jelas dia galak.” Elzar merinding ketakutan. “Apa kau yakin kalau dia seumuran denganmu?” Elzar menatap kakaknya dengan penasaran.

 “Ya. Kami bahkan lahir di bulan yang sama, hanya beda lima hari.”

 Sejak hari itu Azzura jadi pengunjung setia rumah mereka. Lama kelamaan Elzar mulai akrab dengannya. Elzar mulai terbiasa dengan tatapan galak dan kejutekannya.

“Yakin mau traktir nonton?” Tanya Azzura saat Elzar menjemputnya di tempat dia magang. Elzar tidak menjawab. Dia menunjukkan tiket yang sudah dipesannya melalui aplikasi. “Didi kita sudah bisa cari uang!” Azzura mengalungkan lengan di pinggang Elzar lalu mengajaknya pergi.

“Laki-laki yang tadi bicara denganmu siapa?” Elzar menanyakan laki-laki yang tadi mengobrol dengan Azzura saat Elzar tiba.

 “Rekan kerjaku.” Sahutnya dengan cuek.

 “Apa dia masih lajang?” Lanjut ELzar ingin menuntaskan rasa penasaran.

 “Memang kenapa kalau dia lajang? Kau takut dia naksir padaku?” Azzura menatap Elzar dengan tajam.

 “Tentu saja tak boleh. Kau milikku ingat!” Elzar menunjuk gelang di tangan kanan Azzura.

 “Harusnya saat itu aku tidak menerima gelang ini!”

 “Hei, apa yang sudah diterima tak bisa dikembalikan atau ditukar!” Elzar memakaikan helm di kepala Azzura lalu mengajaknya naik ke boncengan motornya.

 Mereka resmi pacaran saat Elzar menyelesaikan ujian sidangnya. Elzar memang menyelesaikan kuliah lebih cepat dibanding teman-teman seangkatannya. Saat menyadari perasaannya pada Azzura lebih dari sekedar teman, Elzar mulai menyusun masa depannya dengan lebih rapi. Dia ingin menjadi laki-laki yang pantas untuknya.

 Meski usia mereka terpaut tiga tahun, Elzar tidak merasa hal itu menjadi masalah. Elzar justru merasa dialah yang lebih dewasa. Dibalik sikap juteknya terkadang Azzura lebih manja darinya dan juga lebih kekanak-kanakkan. Dengan postur tubuhnya yang mungil, Azzura terlihat lebih muda darinya.

 “Uang jajanmu habis?” Elzar menelepon Azzura setelah melihat unggahan status galau di akun media sosialnya. Azzura tidak menjawab. Dia hanya tertawa. “Aku sudah transfer coba dicek.”

 “Terima kasih bos. Besok kau pulang?”

 “Sepertinya tidak bisa. Aku harus menyelesaikan aplikasi untuk sebuah lembaga.” Elzar terdengar sedih. “Kau menginap di rumah Vira saja.”

 “Kita lihat besok saja!”

 Elzar melamar Azzura satu tahun setelah dia mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT. Dia segera melamarnya karena takut Azzura akan berubah pikiran. Selama ini Elzarlah yang selalu berusaha meyakinkan Azzura bahwa niatnya serius.

 Setelah menikah pekerjaan Elzar semakin sibuk. Meski begitu Azzura tidak mengeluh. Dia begitu sabar menghadapinya. Dia jarang mengomel meski terkadang Elzar meninggalkannya untuk bermain basket atau nongkrong dengan teman di sela-sela waktu senggangnya.

 Semua baik-baik saja sampai pada suatu hari. Untuk kesekian kalinya Elzar tidak menepati janjinya untuk mengantar Azzura. Saat Elzar pulang setelah bermain dengan temannya, dia mendapati Azzura sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper.

 “Mau ke mana?” Tanyanya dengan polos.

 “Kembali ke rumah mama?” Azzura menjawab tanpa menoleh padanya.

 “Kenapa sih Zu. Bukankah kita baik-baik saja?” Elzar menarik tangan Azzura dan memalingkan wajahnya agar menatap Elzar. Saat melihatnya, Elzar tertegun. Telaga bening itu berkabut dan sembab. Sepertinya dia sudah menangis cukup lama.

 “Kau mungkin baik-baik saja tapi aku tidak. Aku tak suka lelakiku masih bertemu dengan mantannya. Aku ingin lelakiku juga memiliki waktu untukku bukan hanya memberiku uang.” Azzura menantang Elzar dengan tatapannya.

 “Apa Tania menemuimu?” Elzar menanyakan mantan pacar yang dimaksud oleh Azzura.

 “Kemarin dia datang mengantarkan jaketmu yang dipinjamnya.”

 “Hubungan kami benar-benar sudah berakhir, Zu. Lagipula kami tidak pernah benar-benar pacaran. Tania saja yang berpikir terlalu jauh. Sejak dulu aku hanya menganggapnya sebagai teman.” Elzar berusaha menjelaskan.

 “Cukup!” Azzura berteriak dengan kencang. Dia mendorong Elzar agar menjauh.

 Elzar tidak terpana melihat kemarahan yang terpancar di wajah Azzura. Dia tak pernah melihatnya semarah itu.

Melihat Elzar seperti itu, Azzura menurunkan suaranya lalu bicara, "Sejak awal aku memang bukan ibu peri, Zar. Kau sendiri yang bilang kalau aku mirip Mak Lampir." Azzura menatap Elzar dengan tangis yang tertahan. "Meski begitu, aku tetaplah seorang perempuan. Kuharap kau tidak lupa tentang itu." Azzura menenteng kopernya dan pergi meninggalkan Elzar dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.

 Elzar berusaha menahan kepergiannya tapi kata-kata Azzura menahan langkahnya.

 “Stop. Kalau kau memang pernah mencintaiku kau tak akan menahan kepergianku.”

 Setelah Azzura pergi, Elzar langsung menemui kakaknya. Kakaknya langsung memasang wajah jutek saat dia datang.

 Pasti Elvira sudah tahu tentang kepergian Azzura. Dia tak mungkin bersikap seperti itu kalau tidak tahu.

 “Sebenarnya kamu cinta apa enggak sih sama dia?” Tanya Elvira dengan ketus.

 “Kalau tidak cinta tak mungkin kunikahi.” Elzar menyugar rambutnya dnegan putus asa.

 “Apa kau tahu kalau Azzura keguguran?” Tanya Elvira kemudian.

“Apa? Kapan?” Elzar benar-benar kaget. “Setahuku haidnya memang sering tidak teratur?” Elzar mulai merasa panik. Dia mencoba mengingat.

 “Ya. Dia stres karena selalu memendam semuanya sendirian. Bulan lalu dia mengalami pendarahan, aku mengantarnya ke dokter. Dokter bilang dia keguguran, janinnya baru beberapa minggu.”

 Kata-kata Elvira membuat Elzar seperti disambar petir. Saat itu dia pergi ke Surabaya untuk seminar tentang program IT terbaru. Sebelum pergi Azzura mengeluh sakit tapi dia tidak terlalu menanggapinya. Dia menganggap Azzura hanya sedang bermanja padanya.

 “Kurasa kali ini aku benar-benar tamat.” Elzar menarik napas dengan berat. Dia menatap kakaknya dengan penuh penyesalan.

 Elzar pulang ke rumah dan merenungkan semua sikapnya selama ini. Dia menganggap semua baik-baik saja. Dia menganggap Azzura benar-benar merasa bahagia dengan pernikahan mereka. Ternyata selama ini dia terlalu cuek. Dia terlalu nyaman karena Azzura tak pernah banyak menuntut.

Setelah pikirannya cukup tenang dia mencari Azzura ke rumah ibunya. Sudah beberapa kali dia datang tapi Azzura tidak mau menemuinya. Dia malah memberikannya surat gugatan perceraian. Dengan berat hati Elzar pun mengabulkan keinginannya.

Elzar berusaha untuk melupakannya. Elzar memfokuskan pada pekerjaan. Elzar berharap dengan berlalunya waktu dia dapat melupakannya. Namun sampai lima tahun berlalu perasaan Elzar padanya tak juga hilang. Setiap hari dia malah semakin merindukannya.

Elzar berusaha mencari tahu tentang Azzura. Namun orang-orang terdekatnya seolah menutupi keberadaannya. Azzura benar-benar tak ingin bertemu dengannya lagi. Meski begitu Elzar tak ingin menyerah.

Selama ini Elzar selalu membayangkan kata apa yang akan diucapkannya jika mereka bertemu lagi. Dia juga sudah menyusun berbagai skenario di kepalanya. Namun Tuhan masih belum memberinya jalan.

Suatu sore di hari Jumat Elzar mampir ke kedai kopi yang disebutkan oleh Zami. Kedai kopi tempat Zami bertemu dengan Azzura. Dia memesan americano lalu mencari tempat duduk di dekat jendela. Dan di sanalah dia. Azzura sedang duduk dengan tab di hadapannya. Dia tampak asyik mengetik hingga tak memedulikan keadaan di sekitarnya.

“Bolehkah saya duduk di sini?” Elzar bicara dengan hati-hati.

“Elzar….” Azzura memalingkan wajah dari tab-nya dan menatap Elzar.

“Jadi bolehkah aku duduk di sini?” Elzar kembali bertanya.

Sebelum menjawab Azzura menatap ke sekeliling kedai kopi. Hari itu pengunjungnya sangat ramai. Dengan berat hati dia pun mengizinkan Elzar untuk duduk.

YN, 17-04-2026


Minggu, 12 April 2026

Pencuri Hati Itu Bernama Kanaya

        

        Ezar Khalif belum pernah merasa seputus asa sekarang. Di usianya yang sudah memasuki akhir 30-an, dia baru merasakan jatuh cinta. Dia sudah berusaha untuk menyangkal perasaannya. Dia berpikir mungkin karena terlalu dekat sehingga muncul perasaan lebih. Dia tak tahu harus bagaimana. Gadis itu terlalu muda untuknya.
        “Siang pak, Ezar?” Muridnya menyapa Ezar saat dia melewati ruang kelas XII. Dia baru saja menyelesaikan kelasnya. Dia tidak ingin pergi ke ruang pembina, ruangannya. Dia tahu gadis kecil itu pasti ada di sana. Dia ingin menghindari pertemuan dengannya. Dia pun memutar tubuhnya dan berjalan menuju parkiran.
        “Lif, mau kemana?” Tanya Latief, sahabat Ezar yang juga baru keluar dari kelas.
        “Mau beli kopi.” Jawabnya asal.
        “Sekalianlah ajak Kanaya.” Saran Latief sambil menunjuk gadis yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
        “Memangnya dia mau kemana?” Ezar menghembuskan napas dengan sedikit kesal. Sia-sia saja usahanya untuk menghindari gadis itu.
        “Tadinya aku akan mengantar dia beli memesan makanan untuk rapat tapi Kepala Sekolah memanggil karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Jadi tolong ya, Zar.” Latief menatap Ezar dengan tatapan yang membuat Ezar tak bisa menolak permintaannya.
        “Baiklah!” Ezar pun berjalan menuju Kanaya yang sedang berdiri canggung di dekat parkiran. “Kata Latief kamu mau membeli kue untuk rapat?” Dengan sedikit enggan Ezar akhirnya mengajak bicara gadis itu.
    “Iya. Tapi Pak Latief malah pergi ke ruang kepala.” Gadis itu tersenyum sambil menunjuk Latief yang sedang berjalan menuju ruang Kepala Sekolah.
        “Latief memintaku mengantarmu. Mari!” Ezar memberikan helm Latief pada Kanaya dan mengajaknya naik ke boncengan motornya.
        “Abang yakin Aya boleh ikut?” Gadis itu tampak masih ragu. Sepertinya dia merasa kalau akhir-akhir ini Ezar memnag berusaha menghindarinya.
        “Kalau tak mau ya sudah.” Ezar segera menyalakan motornya.
        “Eh tunggu!” Kanaya langsung naik ke boncengan Ezar dan memeluk pinggangnya dengan erat. Ezar menghembuskan napas dengan berat. Dia berharap degup jantungnya yang kencang tidak terdengar oleh Kanaya.
        Seolah mengerti isi hatinya, sepanjang perjalanan, Kanaya hanya diam. Ezar merasa bersyukur karenanya. Perjalanan yang biasanya terasa begitu cepat kini terasa lama. Ezar sampai menghembuskan napas dengan lega begitu mereka sampai di tempat tujuan.
        “Terima kasih, bang.” Kanaya turun lalu memberikan helm pada Ezar.
        Setelah gadis itu masuk Ezar pergi meninggalkannya dan berjalan menuju kedai kopi yang tak jauh dari sana. Dia memesan satu americano dan buterscotch latte. Setelah pesanan selesai dia kembali ke toko kue untuk menemui Kanaya. Setelah larak-lirik mencari dia tak juga menemukan Kanaya. Dia pun pergi ke toko tas yang ada di sebelah toko kue. Ternyata gadis kecil itu sedang mengagumi sebuah tas warna pink yang ada di etalase.
    Sadar dirinya sedang dicari, Kanaya menoleh lalu melambaikan tangan pada Ezar. Dengan enggan Ezar menemui gadis itu lalu menyerahkan buterscotch latte yang dibelinya.
    "Terima kasih." Sahut Kanaya dengan wajah yang berseri. “Aya kira abang sudah pulang.” Kanaya menatap Ezar dengan malu-malu. “Terima kasih sudah menunggu.” Kanaya tersenyum. “Sebentar aya bayar dulu tas ini.” Gadis itu mengambil tas yang sedari tadi dilihatnya dan membawanya ke kasir. Ezar mengikutinya di belakang.
        “Langsung pulang?” Tanya Ezar setelah Kanaya selesai membayar.
        Kanaya mengangguk lalu berjalan keluar dari toko. “Bang Alif belakangan ini kenapa?” Akhirnya Kanaya mulai memberanikan diri untuk bertanya saat mereka sedang bersiap untuk kembali ke sekolah.
        “Aku baik-baik saja.” Sahut Ezar sambil membantu Kanaya memasangkan helm di kepalanya.
        “Tapi Aya merasa satu bulan ini sikap Bang Alif aneh. Aya sampai berpikir ‘salahku apa’ sampai abang seperti itu.”
        “Oh ya bagaimana rencana mutasimu?” Ezar mengalihkan pembicaraan
      “Entahlah. Dua tahun lalu Aya ingin sekali bisa mengajar di Soreang. Namun sekarang setelah Bapak meninggal Aya bingung. Menurut abang bagaimana?” Kanaya menatap Ezar dengan sedih.
    “Terserah kamu.” Sahutnya ketus. Padahal dalam hati dia sedang bingung dengan dirinya.
    “Memang abang rela kita enggak ketemu lagi?” Kanaya menatap Ezar dengan penasaran.
        “Mengapa harus tidak rela.” Ezar memakai helm lalu mulai menyalakan motornya.
        “Baiklah kalau begitu.” Kanaya menghentikan pembicaraan lalu naik ke boncengan motor Ezar. Sepertinya dia kesal karena sampai mereka tiba di sekolah, Kanaya tetap diam.
        Dalam hati Ezar menyesali kata-katanya. Mengapa dia harus menjawab seperti itu. Padahal sudah jelas-jelas gadis itu memberi jalan baginya untuk memulai percakapan.
***
        “Kamu kenapa sih, lif? Belakangan ini terlihat aneh? Kamu sudah jarang masuk ke ruang pembina?” Latief menatap Ezar yang sedang duduk menonton pertandingan basket di tab-nya.
         “Enggak kenapa-napa?” Ezar tetap asyik dengan tontonannya.
         “Apa kamu bertengkar dengan Aya?” Latief menebak-nebak.
         “Tidak.”
    “Apa kamu benar akan melepasnya begitu saja?” Latief menatap Ezar dengan penasaran. “Aku tahu kau suka pada gadis itu.”
         “Dia terlalu muda untukku. Apalagi statusku duda sedangkan dia masih gadis.”
         “Kalau dia juga suka padamu bagaimana?”
     “Mana mungkin. Dia hanya bersikap baik karena kami sama-sama pembina pramuka.”
         “Baiklah!” Latief pun pergi meninggalkan Ezar karena ada jadwal mengajar.
 Setelah Latief pergi Ezar merenung. Dia merenungkan perjalanan hidupnya selama ini. Ezar memikirkan kembali tentang pernikahannya yang pertama.
    Saat itu dia baru saja lulus menjadi PNS. Ibunya meminta dia segera menikahi perempuan yang sudah sejak lama dijodohkan dengannya. Meski Ezar tidak yakin dengan perasaannya pada perempuan itu tapi Ezar menikahinya.
        Perempuan yang dinikahi Ezar itu sudah dikenalnya sejak kecil. Perempuan itu adalah anak dari sahabat Ayahnya. Perempuan itu cukup cantik dan penurut. Perempuan itu selalu bersikap hangat meski Ezar tidak bisa memperhatikannya dengan baik. Meski sudah berusaha, Ezar merasa belum bisa membalas perasaannya.
        Ezar selalu sibuk dengan pekerjaannya di sekolah dan di toko keluarga. Dia jarang menghabiskan waktu bersama istrinya. Meski begitu istrinya tak pernah mengeluh. Istrinya masih tetap menyambutnya dengan senyuman saat Ezar pulang telat atau bahkan pulang menginap dari sekolah.
    Suatu hari istrinya jatuh sakit. Ezar merasa bersalah karena selama ini sering mengabaikannya. Semakin hari penyakit istrinya semakin parah hingga akhirnya dia meninggal.
        “Emi berdo’a semoga bang Alif bisa bertemu dengan perempuan yang bang Alif cintai.” Kata istrinya saat itu. Mendengar hal itu Ezar tertunduk malu. Dia pun menggenggam tangan istrinya dengan erat. “Emi tahu abang sayang sama Emi. Emi berterima kasih karena abang tetap menjadi suami yang setia meski Emi bukan orang yang abang inginkan.” Kata-kata Emi membuat mata Ezar berkaca-kaca.
         “Maafkan abang, mi!” Suara Ezar terdengar serak dan berat.
         “Jangan minta maaf karena abang tidak salah.”
***
        “Besok kita jadi survei tempat?” Latief menghampiri Ezar yang sedang merapikan bola voli ke lemari.
         “Iya. Salma ikut?” Ezar menanyakan istri Latief yang juga keponakan Ezar.
         “Tentu dia ikut biar Kanaya ada temannya.” Latief tersenyum. “Pakai mobilmu?”
         “Ok. Berangkat jam berapa?”
         “Jam 8.”
        Keesokan harinya selesai sarapan Ezar langsung menuju rumah Latief. Saat tiba di sana Kanaya juga sudah siap. Gadis itu memang tinggal di rumah kontrakan milik keluarga Latief.
        “Mari kita pergi!” Ajak Ezar pada Latief, Salma dan Kanaya.
    “Aya duduk di depan.” Salma mendorong Kanaya agar masuk dan duduk di kursi depan. Ezar hanya menghela napas melihat tingkah keponakannya. Salma adalah orang yang selalu berusaha mendekatkan dia dengan Kanaya.
         “Abang mau?” Kanaya menawarkan keripik talas dari tas kertas yang dibawanya.
         “Nanti saja aku sedang menyetir.” Tolaknya dengan halus.
        Kanaya tidak mengindahkan penolakan Ezar. Dia malah menyuapkan keripik talas itu ke mulut Ezar. Mau tak mau Ezar pun menelannya. Melihat itu Latief dan Salma langsung cekikikan.
            “Abang haus?” Tanya Kanaya setelah satu jam berlalu.
        Ezar tidak menjawab karena Kanaya sudah menyodorkan air mineral yang diberi sedotan. Dengan pasrah dia pun meminum air itu.
        Gadis ini kalau sudah ada maunya susah sekali untuk kudebat. Batin Ezar dengan sedikit kesal.
        “Akhirnya kita sampai juga.” Ezar menghela napas lega begitu mereka sampai disitu Cibeureum.
        Hari itu mereka berjalan-jalan di sekitar situ. Mereka bermaksud mengadakan kemah di sana.
         “Sini aku bawakan tasmu!” Ezar mengambil tas dari bahu Kanaya yang sedang asyik berpose bersama Salma. Gadis itu tersenyum ceria. Bibir mungilnya mengucap terima kasih dengan lirih dan pelan.
        Sementara mereka asyik berpose, Ezar hanya duduk memandangi mereka. Semakin dilihat gadis itu semakin cantik dan menggemaskan. Hati Ezar berdebar kencang saat tanpa sengaja tatapan mereka beradu.
***
        “Kanaya kemana?” Ezar menghampiri Salma yang sedang duduk membaca novel di halaman rumahnya.
        “Tadi ada teman kuliahnya datang. Dia mengajaknya pergi.”
        “Teman kuliah?” Ezar menatap Salma dan menanti penjelasan.
     “Laki-laki. Ganteng. Seumuran.” Jelas Salma sambil tertawa melihat Ezar tidak senang.     “Kurasa laki-laki itu bukan sekedar teman. Terlihat dari tatapannya.” Salma mengompori Ezar.
        “Memang kenapa kalau orang itu menyukainya.” Ezar duduk di samping Salma.
    “Kalau laki-laki itu berhasil meyakinkannya, kemungkinan besar Kanaya akan kembali ke Soreang. Aku akan kehilangan bestiku dan Om akan kehilangan perempuan yang om sukai.” Salma mendengus kesal.
        “Siapa bilang aku menyukainya.” Ezar menyugar rambutnya dengan kasar.
        “Sikap dan tatapan om yang bicara.” Salma tak mau mundur. Dia berniat membuat Omnya segera mengakui perasaannya pada Kanaya.
        Hari itu Ezar tetap tinggal di rumah Salma sampai Kanaya pulang. Dia penasaran dengan teman kuliah yang diceritakan Salma. Sepertinya Salma memang benar, laki-laki itu menyukai Kanaya.
    “Aku tunggu keputusanmu.” Laki-laki itu menatap Kanaya dengan penuh harap sebelum memakai helm dan menaiki motornya. Ezar yang melihat hal itu dari jendela rumah Salma merasa gelisah.
    Setelah laki-laki itu pergi, Ezar buru-buru pamit pulang pada Salma. Dia berjalan menghampiri Kanaya yang sedang berjalan menuju rumah kontrakannya.
      “Eh ada abang.” Kanaya tersenyum pada Ezar yang sedang menatapnya dengan kesal.         “Abang ada perlu?” Kananya menatapnya dengan bingung.
   “Aku ingin tahu tentang kabar mutasimu.” Akhirnya mulut Ezar berhasil mengeluarkan kata-kata. “Supaya aku bisa segera mencari pengganti untuk pembina pramuka putri.” Lanjutnya sambil duduk di kursi yang ada di teras rumah Kanaya.
        “Abang benar-benar berharap Aya pindah?” Raut wajah Kanaya langsung berubah jadi mendung.
    “Sudah kubilang semua terserah padamu. Kau yang punya keputusan untuk hidupmu.”
    “Ya, Aya tahu itu. Namun Aya ingin mendengar pendapat abang. Aya ingin tahu bagaimana perasaan abang tentang itu.” Suara Kanaya tiba-tiba serak dan matanya mulai berkaca-kaca. “Selama ini Aya berpikir, abang peduli pada Aya. Aya berpikir abang pasti merasa sedih kalau Aya pindah. Namun sepertinya Aya berpikir terlalu jauh.” Air mata gadis itu mulai mengaliri pipi mulusnya. “Sekarang Aya sudah tak punya siapa-siapa di Soreang. Aya pernah berpikir untuk tetap tinggal di Garut karena ada Salma dan abang.” Gadis itu terisak. Ezar yang merasa bersalah mengajaknya duduk dan berjongkok di hadapannya. “Kalau tidak suka bilang saja. Mengapa selama ini abang bersikap seolah Aya adalah orang yang paling penting dalam hidup abang. Mengapa abang membuat Aya merasa memiliki tempat istimewa di hati abang.” Gadis itu terus nyerocos dan tak memberi Ezar kesempatan untuk bicara.
        “Maaf kalau abang menyakiti hati Aya.” Ezar menatap Kanaya yang sudah hampir berhenti menangis. “Sebenarnya, abang tak ingin Aya pergi. Namun, abang tak yakin apa Aya mau jadi istri abang. Umur kita terpaut hampir lima belas tahun. Apalagi abang pernah menikah.”
    “Belum tanya tapi sudah mengambil kesimpulan.” Kanaya menyeka air mata di pipinya lalu menghela napas beberapa kali. Kanaya menempelkan kedua lengan di pipi Ezar dan menatapnya dengan serius. “Kanaya sayang sama abang. Bukan sebagai adik tapi sebagai perempuan.” Ezar tertegun mendengar kata-kata Kanaya. “Memang apa salahnya kalau umur kita terpaut jauh? Apa salahnya kalau abang pernah menikah?” Tanyanya kemudian. “Yang terpenting adalah apakah abang menganggap Aya sebagai seorang perempuan atau hanya sebagai adik dan rekan kerja.”
     “Aku tak mungkin memiliki pikiran untuk menikahi perempuan yang hanya kuanggap sebagai adik. Aku tak akan dibuat gelisah oleh perempuan yang hanya kuanggap sebagai rekan kerja.”
    “Jadi apakah Aya harus kembali ke Soreang?” Kanaya menatap Ezar dan menanti jawab.
        “Aku tak mau berjauhan dengan istriku jadi sebaiknya kau tetap tinggal di sini.” Ezar meraih tangan Kanaya yang masih menempel di pipinya lalu menggenggamnya dengan erat. “Bagaimana kalau besok kita temui kakakmu yang ada di Tasikmalaya. Aku ingin melamarmu.” Ezar mengatakan kata-kata itu dengan mantap. Kanaya yang mendengarnya langsung mengangguk dan tersenyum bahagia.

YN, 12-04-2026


Mak Lampir Juga Perempuan 2#

   Tak terasa lima tahun sudah dia meninggalkan Bandung. Bukan benar-benar meninggalkan sebenarnya. Azzura terkadang pulang di akhir bulan a...