Ezar Khalif belum pernah merasa seputus asa sekarang. Di usianya yang sudah memasuki akhir 30-an, dia baru merasakan jatuh cinta. Dia sudah berusaha untuk menyangkal perasaannya. Dia berpikir mungkin karena terlalu dekat sehingga muncul perasaan lebih. Dia tak tahu harus bagaimana. Gadis itu terlalu muda untuknya.
“Siang pak, Ezar?” Muridnya menyapa Ezar saat dia melewati ruang kelas XII. Dia baru saja menyelesaikan kelasnya. Dia tidak ingin pergi ke ruang pembina, ruangannya. Dia tahu gadis kecil itu pasti ada di sana. Dia ingin menghindari pertemuan dengannya. Dia pun memutar tubuhnya dan berjalan menuju parkiran.
“Lif, mau kemana?” Tanya Latief, sahabat Ezar yang juga baru keluar dari kelas.
“Mau beli kopi.” Jawabnya asal.
“Sekalianlah ajak Kanaya.” Saran Latief sambil menunjuk gadis yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
“Memangnya dia mau kemana?” Ezar menghembuskan napas dengan sedikit kesal. Sia-sia saja usahanya untuk menghindari gadis itu.
“Tadinya aku akan mengantar dia beli memesan makanan untuk rapat tapi Kepala Sekolah memanggil karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Jadi tolong ya, Zar.” Latief menatap Ezar dengan tatapan yang membuat Ezar tak bisa menolak permintaannya.
“Baiklah!” Ezar pun berjalan menuju Kanaya yang sedang berdiri canggung di dekat parkiran. “Kata Latief kamu mau membeli kue untuk rapat?” Dengan sedikit enggan Ezar akhirnya mengajak bicara gadis itu.
“Iya. Tapi Pak Latief malah pergi ke ruang kepala.” Gadis itu tersenyum sambil menunjuk Latief yang sedang berjalan menuju ruang Kepala Sekolah.
“Latief memintaku mengantarmu. Mari!” Ezar memberikan helm Latief pada Kanaya dan mengajaknya naik ke boncengan motornya.
“Abang yakin Aya boleh ikut?” Gadis itu tampak masih ragu. Sepertinya dia merasa kalau akhir-akhir ini Ezar memnag berusaha menghindarinya.
“Kalau tak mau ya sudah.” Ezar segera menyalakan motornya.
“Eh tunggu!” Kanaya langsung naik ke boncengan Ezar dan memeluk pinggangnya dengan erat. Ezar menghembuskan napas dengan berat. Dia berharap degup jantungnya yang kencang tidak terdengar oleh Kanaya.
Seolah mengerti isi hatinya, sepanjang perjalanan, Kanaya hanya diam. Ezar merasa bersyukur karenanya. Perjalanan yang biasanya terasa begitu cepat kini terasa lama. Ezar sampai menghembuskan napas dengan lega begitu mereka sampai di tempat tujuan.
“Terima kasih, bang.” Kanaya turun lalu memberikan helm pada Ezar.
Setelah gadis itu masuk Ezar pergi meninggalkannya dan berjalan menuju kedai kopi yang tak jauh dari sana. Dia memesan satu americano dan buterscotch latte. Setelah pesanan selesai dia kembali ke toko kue untuk menemui Kanaya. Setelah larak-lirik mencari dia tak juga menemukan Kanaya. Dia pun pergi ke toko tas yang ada di sebelah toko kue. Ternyata gadis kecil itu sedang mengagumi sebuah tas warna pink yang ada di etalase.
Sadar dirinya sedang dicari, Kanaya menoleh lalu melambaikan tangan pada Ezar. Dengan enggan Ezar menemui gadis itu lalu menyerahkan buterscotch latte yang dibelinya.
"Terima kasih." Sahut Kanaya dengan wajah yang berseri. “Aya kira abang sudah pulang.” Kanaya menatap Ezar dengan malu-malu. “Terima kasih sudah menunggu.” Kanaya tersenyum. “Sebentar aya bayar dulu tas ini.” Gadis itu mengambil tas yang sedari tadi dilihatnya dan membawanya ke kasir. Ezar mengikutinya di belakang.
“Langsung pulang?” Tanya Ezar setelah Kanaya selesai membayar.
Kanaya mengangguk lalu berjalan keluar dari toko. “Bang Alif belakangan ini kenapa?” Akhirnya Kanaya mulai memberanikan diri untuk bertanya saat mereka sedang bersiap untuk kembali ke sekolah.
“Aku baik-baik saja.” Sahut Ezar sambil membantu Kanaya memasangkan helm di kepalanya.
“Tapi Aya merasa satu bulan ini sikap Bang Alif aneh. Aya sampai berpikir ‘salahku apa’ sampai abang seperti itu.”
“Oh ya bagaimana rencana mutasimu?” Ezar mengalihkan pembicaraan
“Entahlah. Dua tahun lalu Aya ingin sekali bisa mengajar di Soreang. Namun sekarang setelah Bapak meninggal Aya bingung. Menurut abang bagaimana?” Kanaya menatap Ezar dengan sedih.
“Terserah kamu.” Sahutnya ketus. Padahal dalam hati dia sedang bingung dengan dirinya.
“Memang abang rela kita enggak ketemu lagi?” Kanaya menatap Ezar dengan penasaran.
“Mengapa harus tidak rela.” Ezar memakai helm lalu mulai menyalakan motornya.
“Baiklah kalau begitu.” Kanaya menghentikan pembicaraan lalu naik ke boncengan motor Ezar. Sepertinya dia kesal karena sampai mereka tiba di sekolah, Kanaya tetap diam.
Dalam hati Ezar menyesali kata-katanya. Mengapa dia harus menjawab seperti itu. Padahal sudah jelas-jelas gadis itu memberi jalan baginya untuk memulai percakapan.
***
“Kamu kenapa sih, lif? Belakangan ini terlihat aneh? Kamu sudah jarang masuk ke ruang pembina?” Latief menatap Ezar yang sedang duduk menonton pertandingan basket di tab-nya.
“Enggak kenapa-napa?” Ezar tetap asyik dengan tontonannya.
“Apa kamu bertengkar dengan Aya?” Latief menebak-nebak.
“Tidak.”
“Apa kamu benar akan melepasnya begitu saja?” Latief menatap Ezar dengan penasaran. “Aku tahu kau suka pada gadis itu.”
“Dia terlalu muda untukku. Apalagi statusku duda sedangkan dia masih gadis.”
“Kalau dia juga suka padamu bagaimana?”
“Mana mungkin. Dia hanya bersikap baik karena kami sama-sama pembina pramuka.”
“Baiklah!” Latief pun pergi meninggalkan Ezar karena ada jadwal mengajar.
Setelah Latief pergi Ezar merenung. Dia merenungkan perjalanan hidupnya selama ini. Ezar memikirkan kembali tentang pernikahannya yang pertama.
Saat itu dia baru saja lulus menjadi PNS. Ibunya meminta dia segera menikahi perempuan yang sudah sejak lama dijodohkan dengannya. Meski Ezar tidak yakin dengan perasaannya pada perempuan itu tapi Ezar menikahinya.
Perempuan yang dinikahi Ezar itu sudah dikenalnya sejak kecil. Perempuan itu adalah anak dari sahabat Ayahnya. Perempuan itu cukup cantik dan penurut. Perempuan itu selalu bersikap hangat meski Ezar tidak bisa memperhatikannya dengan baik. Meski sudah berusaha, Ezar merasa belum bisa membalas perasaannya.
Ezar selalu sibuk dengan pekerjaannya di sekolah dan di toko keluarga. Dia jarang menghabiskan waktu bersama istrinya. Meski begitu istrinya tak pernah mengeluh. Istrinya masih tetap menyambutnya dengan senyuman saat Ezar pulang telat atau bahkan pulang menginap dari sekolah.
Suatu hari istrinya jatuh sakit. Ezar merasa bersalah karena selama ini sering mengabaikannya. Semakin hari penyakit istrinya semakin parah hingga akhirnya dia meninggal.
“Emi berdo’a semoga bang Alif bisa bertemu dengan perempuan yang bang Alif cintai.” Kata istrinya saat itu. Mendengar hal itu Ezar tertunduk malu. Dia pun menggenggam tangan istrinya dengan erat. “Emi tahu abang sayang sama Emi. Emi berterima kasih karena abang tetap menjadi suami yang setia meski Emi bukan orang yang abang inginkan.” Kata-kata Emi membuat mata Ezar berkaca-kaca.
“Maafkan abang, mi!” Suara Ezar terdengar serak dan berat.
“Jangan minta maaf karena abang tidak salah.”
***
“Besok kita jadi survei tempat?” Latief menghampiri Ezar yang sedang merapikan bola voli ke lemari.
“Iya. Salma ikut?” Ezar menanyakan istri Latief yang juga keponakan Ezar.
“Tentu dia ikut biar Kanaya ada temannya.” Latief tersenyum. “Pakai mobilmu?”
“Ok. Berangkat jam berapa?”
“Jam 8.”
Keesokan harinya selesai sarapan Ezar langsung menuju rumah Latief. Saat tiba di sana Kanaya juga sudah siap. Gadis itu memang tinggal di rumah kontrakan milik keluarga Latief.
“Mari kita pergi!” Ajak Ezar pada Latief, Salma dan Kanaya.
“Aya duduk di depan.” Salma mendorong Kanaya agar masuk dan duduk di kursi depan. Ezar hanya menghela napas melihat tingkah keponakannya. Salma adalah orang yang selalu berusaha mendekatkan dia dengan Kanaya.
“Abang mau?” Kanaya menawarkan keripik talas dari tas kertas yang dibawanya.
“Nanti saja aku sedang menyetir.” Tolaknya dengan halus.
Kanaya tidak mengindahkan penolakan Ezar. Dia malah menyuapkan keripik talas itu ke mulut Ezar. Mau tak mau Ezar pun menelannya. Melihat itu Latief dan Salma langsung cekikikan.
“Abang haus?” Tanya Kanaya setelah satu jam berlalu.
Ezar tidak menjawab karena Kanaya sudah menyodorkan air mineral yang diberi sedotan. Dengan pasrah dia pun meminum air itu.
Gadis ini kalau sudah ada maunya susah sekali untuk kudebat. Batin Ezar dengan sedikit kesal.
“Akhirnya kita sampai juga.” Ezar menghela napas lega begitu mereka sampai disitu Cibeureum.
Hari itu mereka berjalan-jalan di sekitar situ. Mereka bermaksud mengadakan kemah di sana.
“Sini aku bawakan tasmu!” Ezar mengambil tas dari bahu Kanaya yang sedang asyik berpose bersama Salma. Gadis itu tersenyum ceria. Bibir mungilnya mengucap terima kasih dengan lirih dan pelan.
Sementara mereka asyik berpose, Ezar hanya duduk memandangi mereka. Semakin dilihat gadis itu semakin cantik dan menggemaskan. Hati Ezar berdebar kencang saat tanpa sengaja tatapan mereka beradu.
***
“Kanaya kemana?” Ezar menghampiri Salma yang sedang duduk membaca novel di halaman rumahnya.
“Tadi ada teman kuliahnya datang. Dia mengajaknya pergi.”
“Teman kuliah?” Ezar menatap Salma dan menanti penjelasan.
“Laki-laki. Ganteng. Seumuran.” Jelas Salma sambil tertawa melihat Ezar tidak senang. “Kurasa laki-laki itu bukan sekedar teman. Terlihat dari tatapannya.” Salma mengompori Ezar.
“Memang kenapa kalau orang itu menyukainya.” Ezar duduk di samping Salma.
“Kalau laki-laki itu berhasil meyakinkannya, kemungkinan besar Kanaya akan kembali ke Soreang. Aku akan kehilangan bestiku dan Om akan kehilangan perempuan yang om sukai.” Salma mendengus kesal.
“Siapa bilang aku menyukainya.” Ezar menyugar rambutnya dengan kasar.
“Sikap dan tatapan om yang bicara.” Salma tak mau mundur. Dia berniat membuat Omnya segera mengakui perasaannya pada Kanaya.
Hari itu Ezar tetap tinggal di rumah Salma sampai Kanaya pulang. Dia penasaran dengan teman kuliah yang diceritakan Salma. Sepertinya Salma memang benar, laki-laki itu menyukai Kanaya.
“Aku tunggu keputusanmu.” Laki-laki itu menatap Kanaya dengan penuh harap sebelum memakai helm dan menaiki motornya. Ezar yang melihat hal itu dari jendela rumah Salma merasa gelisah.
Setelah laki-laki itu pergi, Ezar buru-buru pamit pulang pada Salma. Dia berjalan menghampiri Kanaya yang sedang berjalan menuju rumah kontrakannya.
“Eh ada abang.” Kanaya tersenyum pada Ezar yang sedang menatapnya dengan kesal. “Abang ada perlu?” Kananya menatapnya dengan bingung.
“Aku ingin tahu tentang kabar mutasimu.” Akhirnya mulut Ezar berhasil mengeluarkan kata-kata. “Supaya aku bisa segera mencari pengganti untuk pembina pramuka putri.” Lanjutnya sambil duduk di kursi yang ada di teras rumah Kanaya.
“Abang benar-benar berharap Aya pindah?” Raut wajah Kanaya langsung berubah jadi mendung.
“Sudah kubilang semua terserah padamu. Kau yang punya keputusan untuk hidupmu.”
“Ya, Aya tahu itu. Namun Aya ingin mendengar pendapat abang. Aya ingin tahu bagaimana perasaan abang tentang itu.” Suara Kanaya tiba-tiba serak dan matanya mulai berkaca-kaca. “Selama ini Aya berpikir, abang peduli pada Aya. Aya berpikir abang pasti merasa sedih kalau Aya pindah. Namun sepertinya Aya berpikir terlalu jauh.” Air mata gadis itu mulai mengaliri pipi mulusnya. “Sekarang Aya sudah tak punya siapa-siapa di Soreang. Aya pernah berpikir untuk tetap tinggal di Garut karena ada Salma dan abang.” Gadis itu terisak. Ezar yang merasa bersalah mengajaknya duduk dan berjongkok di hadapannya. “Kalau tidak suka bilang saja. Mengapa selama ini abang bersikap seolah Aya adalah orang yang paling penting dalam hidup abang. Mengapa abang membuat Aya merasa memiliki tempat istimewa di hati abang.” Gadis itu terus nyerocos dan tak memberi Ezar kesempatan untuk bicara.
“Maaf kalau abang menyakiti hati Aya.” Ezar menatap Kanaya yang sudah hampir berhenti menangis. “Sebenarnya, abang tak ingin Aya pergi. Namun, abang tak yakin apa Aya mau jadi istri abang. Umur kita terpaut hampir lima belas tahun. Apalagi abang pernah menikah.”
“Belum tanya tapi sudah mengambil kesimpulan.” Kanaya menyeka air mata di pipinya lalu menghela napas beberapa kali. Kanaya menempelkan kedua lengan di pipi Ezar dan menatapnya dengan serius. “Kanaya sayang sama abang. Bukan sebagai adik tapi sebagai perempuan.” Ezar tertegun mendengar kata-kata Kanaya. “Memang apa salahnya kalau umur kita terpaut jauh? Apa salahnya kalau abang pernah menikah?” Tanyanya kemudian. “Yang terpenting adalah apakah abang menganggap Aya sebagai seorang perempuan atau hanya sebagai adik dan rekan kerja.”
“Aku tak mungkin memiliki pikiran untuk menikahi perempuan yang hanya kuanggap sebagai adik. Aku tak akan dibuat gelisah oleh perempuan yang hanya kuanggap sebagai rekan kerja.”
“Jadi apakah Aya harus kembali ke Soreang?” Kanaya menatap Ezar dan menanti jawab.
“Aku tak mau berjauhan dengan istriku jadi sebaiknya kau tetap tinggal di sini.” Ezar meraih tangan Kanaya yang masih menempel di pipinya lalu menggenggamnya dengan erat. “Bagaimana kalau besok kita temui kakakmu yang ada di Tasikmalaya. Aku ingin melamarmu.” Ezar mengatakan kata-kata itu dengan mantap. Kanaya yang mendengarnya langsung mengangguk dan tersenyum bahagia.
YN, 12-04-2026
