Selasa, 10 Februari 2026

Surat Dari Azi (Untuk Mona)

 


Surat dari Azi

          Sejak kecil Azi terbiasa untuk jadi anak manis kebanggaan papa. Jika Rian adalah pembuat onar maka Azi adalah orang yang akan membenahi keadaan. Hal itu terus tertanam sampai dia tumbuh dewasa. Azi tahu dalam hati Rian selalu merasa diabaikan oleh papa. Rian merasa papa memperlakukannya sedikit berbeda. Papa seolah-olah takut padanya. Takut membuatnya terluka hingga tak menyimpan banyak harapan untuknya. Lain halnya dengan sikap papa pada Azi.

          Suatu hari papa berkata, “Kamu harus jadi laki-laki yang tangguh. Kelak siapa yang akan menjaga mama dan Kaori kalau papa tidak ada.”

          Saat itu Azi tak mengerti maksud perkataan papa. Seiring berlalunya waktu barulah dia paham apa yang papa inginkan. Azi ingin jadi laki-laki tangguh seperti harapan papa. Sementara Rian asyik pacaran, Azi malah sibuk belajar dan dan membentuk badan. Azi ingin jadi anak yang dapat dibanggakan oleh papa. Azi akan mewujudkan semua itu meski tidak mudah.

          Azi tidak berniat jatuh hati. Baginya urusan hati hanya akan membuat repot. Apalagi saat ia sedang mempersiapkan masa depannya. Namun kehadiran gadis berparas cantik itu menggoyahkan niatnya. Kehadiran Mona membuat dia berpikir ulang tentang semuanya.

Mona yang dengan terang-terangan menunjukkan kalau dia menyukai Azi. Mona yang selalu berusaha untuk dekat dengannya. Mona yang selalu berusaha menarik perhatiannya. Mona yang tetap di sisinya meski Azi tak pernah memberinya kepastian. Mona yang memiliki banyak pacar hanya untuk membuatnya marah. Mona yang selalu memenuhi hati dan hari-harinya.

Azi pernah berpikir untuk membalas perasaannya seandainya saja dia tidak tahu kalau kakaknya, Adrian, juga menyukainya. Kakaknya yang playboy itu benar-benar jatuh cinta padanya. Baru kali ini Azi melihat Rian benar-benar tertarik pada perempuan. Sering dia melihat Rian memandangi Mona dari kejauhan. Kalau sudah begitu Azi kembali menahan perasaannya. Azi pun kembali pada niat awalnya untuk menjadi anak kebanggaan papa. Dia berjuang keras agar bisa diterima jadi bagian keluarga besar marinir. Dia berusaha sangat keras agar bisa mewujudkan mimpinya.

Saat sudah berhasil mencapai impiannya, Azi pun kembali mencari Mona. Gadis itu masih seperti dulu. Masih berusaha membuatnya marah dengan memiliki banyak pacar. Mona dan Rian tidak kunjung bersama meski Azi sudah memberinya kesempatan. Akhirnya Azi mengambil keputusan untuk mengambil langkah. Mungkin dengan begitu hati Rian tergerak.

“Kau akan melamarnya?” Tanya Rian saat Azi menunjukkan gelang yang akan diberikannya pada Mona.

“Aku sudah memberimu kesempatan, Rian. Mengapa kau tidak mengambilnya?”

“Di hatinya hanya ada kau seorang.” Adrian tersenyum pedih.

“Setahuku, Adrian bukan orang yang pantang menyerah.”

“Kalau yang menjadi sainganku orang lain mungkin aku bisa menang.”

“Jadi bolehkah aku melamarnya?”

Adrian mengangguk dan tersenyum pedih. “Bahagiakan dia!” Pesannya sambil keluar dari kamar Azi.

Setelah memastikan kalau Rian tidak keberatan dengan niatnya untuk melamar Mona, Azi pun menemui gadisnya itu.

 “Setelah selesai menjalankan tugas aku akan menikahimu!” Kata Azi tiba-tiba. Saat itu Azi akan berangkat ke Papua. Mona hanya bisa terpana. Dia tak menyangka Azi akan mengatakan hal itu. Selama ini Mona memang sangat berharap Azi bisa menerimanya tetapi kata-kata Azi benar-benar di luar dugaan. Melihat Mona diam saja Azi tersenyum lalu memakaikan  gelang di lengan Mona.

          “Apa ini?” Mona menatap gelang emas putih yang dipakaikan Azi. Di gelang itu ada ukiran dalam bahasa Jepang  Kisu mai haato” (hatiku milikmu).

          “Kau tidak suka cincin bukan?” Azi menatap Mona yang terkesima. “Ini adalah janjiku padamu.” Azi mengecup punggung tangan Mona yang memakai gelang. “Aku tahu selama ini kau sengaja memiliki banyak pacar untuk membuatku cemburu. Mulai sekarang hanya aku yang boleh ada dalam satu frame denganmu.” Azi menatap Mona lekat-lekat dan menunggu jawaban.

             Honto ni daisuki (aku sangat mencintaimu).” Mona memeluk Azi dan mulai menangis.

       “Kelak hanya aku yang boleh melihatmu serapuh ini!” Azi mengelus rambut Mona. “Monaku yang cantik adalah perempuan tangguh.” Azi mengecup puncak kepala Mona.

          Sebenarnya Azi ingin menghabiskan waktu yang lebih banyak dengan Mona. Namun tugas negara sudah memanggilnya. Dia harus segera pergi. Dengan berat hati dia pun meninggalkan kembali meninggalkan Mona. Meski harus meninggalkannya kini hati Azi jauh lebih tenang. Dia sudah menyatakan perasaannya kepada Mona. Azi pun bisa kembali bekerja dengan tenang.

          Kalau dulu dia tidak merasa begitu rindu untuk pulang, kini sebaliknya. Dia selalu menanti waktu agar bisa kembali bertemu dengan Mona. Kembali melihat senyum manis di wajahnya. Kembali melihat ekspresi di wajahnya saat memanggil namanya.

          Maka dari itu saat mendapatkan izin untuk pulang, dia segera pergi menemui Mona. Hari itu adalah ulang tahun Mona. Sudah lima tahun Azi tidak bersama dengannya saat Mona berulang tahun. Ketika SMA dulu Azi selalu jadi orang pertama yang memberikannya ucapan selamat. Azi selalu bersamanya saat Mona merayakan ulang tahun.

          Hari itu dengan membawa buket bunga dan kado dia mengunjungi Mona di rumahnya. Dia sengaja tidak memberitahu kedatangannya karena ingin memberinya kejutan. Ternyata setibanya di sana justru dialah yang mendapat kejutan.

       “Kalian sudah lama bersama?” Tanya Azi saat memergoki Mona yang sedang bermesraan dengan Adrian. Azi menatap Mona dan Adrian yang sedang langsung memisahkan diri. Melihat kecanggungan keduanya Azi pun memutuskan untuk duduk.

          “Azi ....” Mona tak bisa menjawab. Wajahnya merah padam. Dia tak menyangka Azi akan memergokinya dalam keadaan seperti itu.

          “Aku hanya mampir sebentar. Tadinya aku ingin merayakan ulang tahunmu! Tapi sepertinya kakakku sudah menemanimu merayakannya.”  Azi menatap kue ulang tahun yang ada di meja. “Tugasku diperpanjang. Aku tak akan bisa segera memenuhi janjiku padamu.” Azi menatap Mona yang tertunduk malu.

          “Aku bisa menjelaskan semuanya.” Adrian yang sudah menemukan suaranya akhirnya bicara.

          “Rian tak perlu menjelaskan apa-apa. Azi tahu kalau selama ini Rian menyukai Mona.” Azi tersenyum. “Azi pernah melihat buku sketsa Rian. Di sana banyak gambar Mona dan ungkapan perasaan Rian untuknya.” Azi menghela napas. “Sekarang Azi merasa lega karena ada yang menjaga Mona. Azi pergi. Azi mau menemui mama dan Kaori lalu kembali ke tempat tugas.” Azi beranjak dari duduknya.

          “Azi....” Mona dengan malu-malu menghampirinya.

          “Semoga kau bahagia!” Azi mengecup puncak kepala Mona lalu pergi.

          Azi memaksa kakinya segera bergerak menjauhi rumah Mona. Dia tidak ingin menangis di depan Mona. Dia tidak ingin membebaninya. Dia pergi menemui Kaori, adiknya, di tempatnya bekerja lalu menemui mama. Setelah itu dia memutuskan untuk kembali ke tempat tugasnya. Sebelum pergi dia menulis surat untuk Mona.

          Mona tersayang, jangan menangis.

          Azi memang terkejut saat melihat kalian bersama. Namun sejak awal Azi sudah menduganya. Azi sudah lama tahu kalau Rian sangat mencintai Mona. Meski sakit tapi Azi juga merasa senang karena akhirnya Rian mampu mengalahkan semua ketakutannya dan memilih untuk bersama Mona.

          Terima kasih untuk semua kasih sayang yang pernah Mona berikan untuk Azi. Terima kasih untuk menunggu Azi. Terima kasih untuk semua waktu yang Mona habiskan untuk Azi.

Azi minta maaf karena tidak bisa memenuhi janji. Azi minta maaf karena begitu lama mengabaikan perasaan Mona. Meski bukan Azi yang akhirnya Mona pilih tapi di hati Azi hanya akan ada Mona seorang. Tak ada yang pernah dan akan mengambil posisi itu di hati Azi.

Sekarang Azi dapat benar-benar merasa tenang karena ada Rian yang akan selalu menjaga dan menemani Mona. Selamat tinggal Mona. Semoga kebahagiaan selalu menyertai hidupmu dan Rian.

                                                                                  Kisu mai haato.

                                                                                  Honto ni daisuki.

 

                                                                                  AZI

          Azi melipat kertas surat itu lalu menyisipkannya pada kado yang hendak diberikannya pada Mona.

          “Tolong berikan ini pada Mona!” Pesan Azi pada Kaorinya yang mengantarnya pergi.

“Kau yakin tidak ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali?”

“Tidak perlu, Key. Azi harus segera kembali.” Azi memeluk Kaori. “Semoga kau bahagia, Key. Dengan begitu Azi bisa pergi dengan tenang.” Azi menjembel pipi adiknya dengan gemas lalu kembali memeluknya.

          “Kaori sayang Azi.”

          “Selamat tinggal.” Azi melepas pelukannya lalu pergi menuju pintu keberangkatan.

Sambil menunggu pesawat lepas landas, Azi mengeluarkan dompetnya dan memandangi foto Mona yang ada di sana. “Selamat Tinggal Mona. Semoga kau bahagia, sayangku.” Azi mengelus wajah Mona yang ada foto dengan mata berkaca-kaca.

 

 

YN, 10 Februari 2026

Surat Dari Azi (Untuk Mona)

  Surat dari Azi           Sejak kecil Azi terbiasa untuk jadi anak manis kebanggaan papa. Jika Rian adalah pembuat onar maka Azi adalah o...