Jumat, 14 Agustus 2026

Suami untuk Mama

 


        Ryutaro Baskara memandangi mamanya yang sedang asyik mengetik di tabnya. Bukan tanpa alasan dia memandanginya dengan tatapan seperti itu. Tatapan penuh kasih tetapi juga sedih. Tatapan yang selalu diberikannya saat mama berpura-pura baik-baik saja.

           Sebenarnya Ryu tak suka pergi ke acara keluarga. Saudara-saudara mama sering membicarakan status mamah sebagai ibu tunggal. Padahal apa salahnya dengan status itu. Selama ini mama menghabiskan seluruh hidup hanya untuk Ryu. Bukan salah mama kalau Tuhan memanggil papanya. Meski tak pernah bertemu tapi Ryu tahu papa sangat memuja mamanya.

            Terkadang Ryu pun ingin seperti anak lain. Memiliki mama dan papa di sisinya. Namun takdir hidupnya tidaklah seperti orang lain. Papa kembali ke pangkuan Sang Pencipta saat Ryu masih dalam kandungan mama. Sejak saat itu mama memilih untuk sendiri. Sepertinya cinta mama habis di papa.

           Awalnya Ryu merasa baik-baik saja dengan hal itu. Namun sekarang dia ingin mama kembali bahagia. Dia ingin mama kembali jatuh cinta. Dia berniat untuk menjodohkan mama.

              “Ryutaro Baskara!” Pak Rui mensejajari langkah Ryu saat dia hendak pulang. Ryu pun melambatkan langkahnya. “Bisa kita bicara sebentar!” Pak Rui mengajaknya duduk di depan parkiran. Ryu mengangguk lalu mengikuti Pak Rui untuk duduk.

             “Ada apa ya pak?” Ryu menatap wali kelasnya dengan bingung. Dia tak merasa melakukan kesalahan.

              “Kamu keluar dari ekskul futsal?” Pak Rui menatapnya dengan serius.

          "Iya pak. Sejak awal mama tidak memberi izin tapi saya memaksa. Minggu lalu tangan saya terkilir saat bermain dan mama marah besar.” Ryu tertunduk. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana tatapan mama saat melihatnya pulang sekolah dengan tangan yang dibebat. Dia tidak marah. Dia menatapnya dan menangis.

              “Jadi mamamu tidak memberi izin?” Pak Rui kembali bertanya.

              “Waktu SMP dulu. Saya pernah cedera dan tidak sekolah selama dua bulan. Sejak saat itu mama tak pernah mengizinkan saya untuk ikut futsal lagi.”

              “Apa perlu bapak bicara dengan mamamu?” Usul Pak Ryu.

              “Jangan pak. Saya tak ingin mama sedih.”

          “Tapi Ryu, tim kita membutuhkan kapten mereka.” Pak Rui menepuk bahu Ryu lembut.

            “Saya tahu pak. Tapi saya tak ingin membuat mama bersedih lagi. Permisi pak, mama sudah menunggu saya!” Ryu menunjuk mamanya yang sudah menunggunya di gerbang.

              “Itu mamamu?” Pak Rui sepertinya tidak percaya.

              “Ya pak!” Ryu menyalami Pak Rui lalu setengah berlari menghampiri mamanya.

            Mama memang masih terlihat muda di usianya yang sudah memasuki angka empat. Orang terkadang tidak percaya kalau mama sudah memiliki anak sebesar dirinya.

              “Mampir dulu ke tempat makan favoritmu?” Tanya mama sambil menyerahkan kunci motor dan helm.

              “Tentu.” Ryu tersenyum penuh semangat.

              “Tadi siapa?” Tanya mama setelah motor melaju meninggalkan sekolah.

              “Wali kelasku.”

              “Kalian bicara tentang apa?”Mama mulai mengeluarkan jurus introgasinya.

         “Tentang kelas.” Sahut Ryu, berbohong. Dia tak ingin membahas tentang futsal. Setidaknya tidak hari ini.

           Sore itu mereka mampir ke tempat makan mi favorit Ryu. Tempat itu penuh seperti biasanya. Meski begitu mereka berhasil mendapatkan tempat duduk.

         “Apakah besok kita harus pergi ke nikahan ateu Mia?” Tanya Ryu sambil mengaduk-aduk mi di piringnya.

       “Tentu saja. Itu hari penting untuk Ateu Mia-mu. Lagi pula dia sudah memintamu jadi pembawa payung, kan?”

           “Bisakah kita tidak menginap? Kita datang pagi-pagi saja.” Ryu memohon.

     “Mana bisa begitu.” Mama menjembel pipi Ryu. “Kamu tak mau mereka mengomentari mama lagi, kan?” Mama menatap Ryu yang terlihat sedih.

          “Iya. Ryu kesal saat mereka mengomentari status mama yang ibu tunggal. Padahal apa salah mama. Toh mama tak pernah meminta bantuan pada mereka.” Ryu mengutarakan isi hatinya.

         “Tidak usah mempedulikan mereka. Mereka mungkin terlalu perhatian. Mereka kasihan pada kita yang hanya hidup berdua.” Mama meremas tangan Ryu dan berusaha menenangkannya.

           “Mengapa mama tidak menikah lagi?” Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Ryu.

              “Apa Ryu ingin punya papa?” Bukannya menjawab. Mama malih balik bertanya.

           “Ryu ingin mama kembali jatuh cinta.” Ryu tersenyum malu. Mama ikut tersenyum lalu mengacak rambutnya dengan gemas.

            “Jangan-jangan kamu yang ingin jatuh cinta?” Mama menggodanya.

      “Enggaklah.” Ryu membantah. Di sekolah memang pernah ada beberapa anak perempuan yang medekatinya. Namun saat ini dia tidak tertarik dengan hal itu. Dia lebih memikirkan tentang cara membuat mama kembali jatuh cinta.

            “Perempuan seusiaku bukan saatnya untuk mengurusi cinta.”

          Keesokan harinya dengan berat hati, Ryu ikut menginap di rumah neneknya. Sebisa mungkin dia menjauh dari saudara-saudara mamanya. Dia memilih untuk menghabiskan waktu di kamar omnya.

      “Om Arik tahu enggak tentang kisah cinta mama?” Tanya Ryu pada Omnya saat mereka sedang bermain game.

          “Memangnya kenapa tiba-tiba tanya tentang itu?” Om Arik menatapnya heran.

          “Mama sudah terlalu lama menyendiri. Ryu ingin mama kembali bahagia.”

          Om Arik tersenyum lalu menghela napas beberapa kali.               “Memangnya kau tidak keberatan memiliki ayah tiri?”

           “Tidak. Kalau dia bisa membuat mama bahagia, Ryu tidak keberatan.”

         Mendengar hal itu, Om Arik menyimpan stik PS-nya lalu mulai bercerita. Katanya dulu mama pernah kembali dekat dengan seseorang. Saat itu usia Ryu baru tiga tahun. Om Arik juga mengira mama akan menikah dengan laki-laki itu. Ternyata hubungan mereka berakhir. Keluarga laki-laki itu kurang setuju dengan mama yang berstatus janda beranak satu. Sejak saat itu mama tak pernah dekat lagi dengan siapapun.

      “Kalau tidak salah ingat nama laki-laki itu mirip dengan namamu?” Om Arik berusaha mengingat-ingat. “Usianya empat tahun lebih muda darinya.” Dia melanjutkan.

          “Rui Danendra?” Ryu mengambil ponselnya dari meja lalu membuka instagram dan menunjukkan foto wali kelasnya.

         “Ah iya, benar dia.” Om Arik berdecak. “Kamu kok bisa kenal.” Om Arik menatapnya heran.

    “Saat itu Pak Rui pernah membahas tentang cinta pertama. Dia bilang cinta pertamanya tidak berakhir bahagia.”

        “Kabar terakhir yang kudengar. Dia menikah dengan perempuan pilihan ibunya.” Om Arik berusaha mengingat-ingat.

          “Kata anak-anak, dia sudah bercerai.”

    “Oh ya.” Om Arik menatap Ryu dengan penuh tanya. “Kau tak bermaksud menjodohkan mereka kembali, kan?”  Om Arik menatapnya curiga.

         “Kita lihat saja nanti.” Ryu tersenyum misterius. Dalam hati dia sangat senang. Dia akan mencari tahu lebih banyak tentang Pak Rui.

YN, 14082026

 




Suami untuk Mama

            Ryutaro Baskara memandangi mamanya yang sedang asyik mengetik di tabnya. Bukan tanpa alasan dia memandanginya dengan tatapan sep...