Ryutaro Baskara memandangi mamanya
yang sedang asyik mengetik di tabnya. Bukan tanpa alasan dia memandanginya
dengan tatapan seperti itu. Tatapan penuh kasih tetapi juga sedih. Tatapan yang
selalu diberikannya saat mama berpura-pura baik-baik saja.
Sebenarnya Ryu tak suka pergi ke
acara keluarga. Saudara-saudara mama sering membicarakan status mamah sebagai
ibu tunggal. Padahal apa salahnya dengan status itu. Selama ini mama
menghabiskan seluruh hidup hanya untuk Ryu. Bukan salah mama kalau Tuhan memanggil
papanya. Meski tak pernah bertemu tapi Ryu tahu papa sangat memuja mamanya.
Terkadang Ryu pun ingin seperti
anak lain. Memiliki mama dan papa di sisinya. Namun takdir hidupnya tidaklah
seperti orang lain. Papa kembali ke pangkuan Sang Pencipta saat Ryu masih dalam
kandungan mama. Sejak saat itu mama memilih untuk sendiri. Sepertinya cinta
mama habis di papa.
Awalnya Ryu merasa baik-baik saja
dengan hal itu. Namun sekarang dia ingin mama kembali bahagia. Dia ingin mama
kembali jatuh cinta. Dia berniat untuk menjodohkan mama.
“Ryutaro Baskara!” Pak Rui
mensejajari langkah Ryu saat dia hendak pulang. Ryu pun melambatkan langkahnya.
“Bisa kita bicara sebentar!” Pak Rui mengajaknya duduk di depan parkiran. Ryu
mengangguk lalu mengikuti Pak Rui untuk duduk.
“Ada apa ya pak?” Ryu menatap wali
kelasnya dengan bingung. Dia tak merasa melakukan kesalahan.
“Kamu keluar dari ekskul futsal?”
Pak Rui menatapnya dengan serius.
"Iya pak. Sejak awal mama tidak
memberi izin tapi saya memaksa. Minggu lalu tangan saya terkilir saat bermain
dan mama marah besar.” Ryu tertunduk. Masih jelas dalam ingatannya bagaimana
tatapan mama saat melihatnya pulang sekolah dengan tangan yang dibebat. Dia tidak
marah. Dia menatapnya dan menangis.
“Jadi mamamu tidak memberi izin?”
Pak Rui kembali bertanya.
“Waktu SMP dulu. Saya pernah
cedera dan tidak sekolah selama dua bulan. Sejak saat itu mama tak pernah
mengizinkan saya untuk ikut futsal lagi.”
“Apa perlu bapak bicara dengan
mamamu?” Usul Pak Ryu.
“Jangan pak. Saya tak ingin mama
sedih.”
“Tapi Ryu, tim kita membutuhkan
kapten mereka.” Pak Rui menepuk bahu Ryu lembut.
“Saya tahu pak. Tapi saya tak
ingin membuat mama bersedih lagi. Permisi pak, mama sudah menunggu saya!” Ryu
menunjuk mamanya yang sudah menunggunya di gerbang.
“Itu mamamu?” Pak Rui sepertinya
tidak percaya.
“Ya pak!” Ryu menyalami Pak Rui
lalu setengah berlari menghampiri mamanya.
Mama memang masih terlihat muda di
usianya yang sudah memasuki angka empat. Orang terkadang tidak percaya kalau
mama sudah memiliki anak sebesar dirinya.
“Mampir dulu ke tempat makan
favoritmu?” Tanya mama sambil menyerahkan kunci motor dan helm.
“Tentu.” Ryu tersenyum penuh
semangat.
“Tadi siapa?” Tanya mama setelah
motor melaju meninggalkan sekolah.
“Wali kelasku.”
“Kalian bicara tentang apa?”Mama
mulai mengeluarkan jurus introgasinya.
“Tentang kelas.” Sahut Ryu,
berbohong. Dia tak ingin membahas tentang futsal. Setidaknya tidak hari ini.
Sore itu mereka mampir ke tempat
makan mi favorit Ryu. Tempat itu penuh seperti biasanya. Meski begitu mereka
berhasil mendapatkan tempat duduk.
“Apakah besok kita harus pergi ke
nikahan ateu Mia?” Tanya Ryu sambil mengaduk-aduk mi di piringnya.
“Tentu saja. Itu hari penting
untuk Ateu Mia-mu. Lagi pula dia sudah memintamu jadi pembawa payung, kan?”
“Bisakah kita tidak menginap? Kita
datang pagi-pagi saja.” Ryu memohon.
“Mana bisa begitu.” Mama menjembel
pipi Ryu. “Kamu tak mau mereka mengomentari mama lagi, kan?” Mama menatap Ryu
yang terlihat sedih.
“Iya. Ryu kesal saat mereka
mengomentari status mama yang ibu tunggal. Padahal apa salah mama. Toh mama tak
pernah meminta bantuan pada mereka.” Ryu mengutarakan isi hatinya.
“Tidak usah mempedulikan mereka.
Mereka mungkin terlalu perhatian. Mereka kasihan pada kita yang hanya hidup
berdua.” Mama meremas tangan Ryu dan berusaha menenangkannya.
“Mengapa mama tidak menikah lagi?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Ryu.
“Apa Ryu ingin punya papa?” Bukannya
menjawab. Mama malih balik bertanya.
“Ryu ingin mama kembali jatuh
cinta.” Ryu tersenyum malu. Mama ikut tersenyum lalu mengacak rambutnya dengan gemas.
“Jangan-jangan kamu yang ingin
jatuh cinta?” Mama menggodanya.
“Enggaklah.” Ryu membantah. Di sekolah
memang pernah ada beberapa anak perempuan yang medekatinya. Namun saat ini dia
tidak tertarik dengan hal itu. Dia lebih memikirkan tentang cara membuat mama
kembali jatuh cinta.
“Perempuan seusiaku bukan saatnya
untuk mengurusi cinta.”
Keesokan harinya dengan berat hati,
Ryu ikut menginap di rumah neneknya. Sebisa mungkin dia menjauh dari
saudara-saudara mamanya. Dia memilih untuk menghabiskan waktu di kamar omnya.
“Om Arik tahu enggak tentang kisah
cinta mama?” Tanya Ryu pada Omnya saat mereka sedang bermain game.
“Memangnya kenapa tiba-tiba tanya
tentang itu?” Om Arik menatapnya heran.
“Mama sudah terlalu lama menyendiri.
Ryu ingin mama kembali bahagia.”
Om Arik tersenyum lalu menghela
napas beberapa kali. “Memangnya
kau tidak keberatan memiliki ayah tiri?”
“Tidak. Kalau dia bisa membuat
mama bahagia, Ryu tidak keberatan.”
Mendengar hal itu, Om Arik
menyimpan stik PS-nya lalu mulai bercerita. Katanya dulu mama pernah kembali dekat
dengan seseorang. Saat itu usia Ryu baru tiga tahun. Om Arik juga mengira mama
akan menikah dengan laki-laki itu. Ternyata hubungan mereka berakhir. Keluarga laki-laki
itu kurang setuju dengan mama yang berstatus janda beranak satu. Sejak saat itu
mama tak pernah dekat lagi dengan siapapun.
“Kalau tidak salah ingat nama
laki-laki itu mirip dengan namamu?” Om Arik berusaha mengingat-ingat. “Usianya
empat tahun lebih muda darinya.” Dia melanjutkan.
“Rui Danendra?” Ryu mengambil ponselnya
dari meja lalu membuka instagram dan menunjukkan foto wali kelasnya.
“Ah iya, benar dia.” Om Arik
berdecak. “Kamu kok bisa kenal.” Om Arik menatapnya heran.
“Saat itu Pak Rui pernah membahas
tentang cinta pertama. Dia bilang cinta pertamanya tidak berakhir bahagia.”
“Kabar terakhir yang kudengar. Dia
menikah dengan perempuan pilihan ibunya.” Om Arik berusaha mengingat-ingat.
“Kata anak-anak, dia sudah
bercerai.”
“Oh ya.” Om Arik menatap Ryu
dengan penuh tanya. “Kau tak bermaksud menjodohkan mereka kembali, kan?” Om Arik menatapnya curiga.
“Kita lihat saja nanti.” Ryu
tersenyum misterius. Dalam hati dia sangat senang. Dia akan mencari tahu lebih
banyak tentang Pak Rui.
YN, 14082026
