Rui mengira tak akan pernah melihatnya lagi. Perempuan yang pernah
dilepaskan demi bakti pada ibunya. Perempuan pertama yang Rui cinta dengan
sepenuh hati. Perempuan yang masih sangat dirindukannya.
Rui memang pernah berharap untuk kembali bertemu dengannya. Dia selalu
membayangkan pertemuan mereka. Dia juga membayangkan kata apa yang akan
disampaikannya jika mereka bertemu lagi.
Rui bukannya tak ingin mencari dia. Rui takut kembali berharap. Sudah
dua belas tahun berlalu. Mungkin kini dia sudah kembali berkeluarga. Perempuan seperti
dia pasti banyak yang suka.
“Kau masih mengingatnya?” Suara ibu membuyarkan semua lamunannya. Rui
mengalihkan pandang dari lukisan di dinding kamar tidurnya lalu menatap ibunya
yang sedang berdiri di depan kamarnya.
“Ibu mau pulang?” Rui menatap tas dan koper di samping ibunya.
“Iya. Ibu merindukan ayahmu.” Ibu tersenyum lembut lalu berjalan
menghampiri Rui. “Usiamu sudah tidak muda lagi, Rui. Mungkin sudah saatnya kau
kembali berkeluarga.” Ibu menggenggam tangan Rui. “Kali ini siapapun yang kau
pilih ibu tak akan keberatan.” Mata ibu berkaca-kaca dan dia menghela napas dengan
berat. “Seandainya saat itu aku tidak egois.” Ibu meremas tangan Rui yang
digenggamnya. “Terlepas dari statusnya saat itu, Ayesha adalah perempuan yang
sangat baik.” Ibu melepas genggaman tangannya lalu berpamitan.
Rui mengantar ibu sampai ke halaman. Di halaman sopir keluarga sudah
menunggunya. Rui masih berdiri di sana sampai mobil yang akan membawa ibu
pulang, menghilang. Setelah itu dia kembali ke rumah.
Begitu masuk ke rumah, Rui kembali ke kamarnya. Dia kembali memandangi
lukisan itu. Lukisan Seorang perempuan sedang mendekap anak lelakinya yang
masih berusia balita. Lukisan yang tadinya dia buat untuk hadiah ulang tahun
Ayesha. Sayangnya mereka berpisah sebelum hari itu tiba.
“Aku pun mungkin akan bersikap sama seperti ibumu.” Ayesha memulai pembicaraan.
“Kau masih sangat muda Rui. Jalan hidupmu masih panjang. Kau tak perlu
mengorbankan diri dan terjebak bersama janda beranak satu seperti aku....”
“Tapi Yuki. Aku mencintaimu dengan tulus.” Rui memotong kalimat Ayesha.
“Aku tahu. Tapi aku tak ingin jadi penyebab keretakan hubunganmu dengan
ibu. Aku tak mau menjadi penyebab kau durhaka pada ibumu.”
“Yuki ....” Rui menggenggam tangan Ayesha dan menatapnya dengan sedih.
“Sudahlah Rui. Sampai di sini saja. Aku sudah sangat lelah dengan
semuanya.” Ayesha melepaskan genggaman Rui dan pergi meninggalkannya.
***
“Ryu, tolong sampaikan pada mamamu kalau bapak ingin bicara!” Rui
menyejajari langkah Ryu yang baru keluar dari kelasnya.
“Apakah ini tentang futsal lagi?” Ryu menatap Rui dengan sedih. “Meski
saya sangat menyukai futsal tapi saya tak ingin membuat mama sedih.”
“Bapak mengerti Ryu. Dan bapak akan membuat mamamu juga mengerti betapa
pentingnya futsal untukmu!” Rui menepuk bahu Ryu lalu meninggalkannya untuk
pergi ke ruang guru.
Begitu sampai di ruangannya, dia langsung duduk dan mengeluarkan
ponsel. Dia membuka akun instagram dan kembali mencari akun mamanya Ryu. Dia
tersenyum saat melihat foto Ayesha. Dia pun menekan tombol untuk mengikuti
akunnya.
Keesokan harinya saat Rui baru selesai mengabsen ke kelas, seseorang sudah menunggunya di lobby. Rui tertegun saat menatap orang yang tengah
menunggunya itu. Sepertinya pesan yang dia sampaikan diterima dengan baik.
“Silahkan duduk!” Rui menunjuk kursi tamu yang ada di lobby. “Terima
kasih sudah meluangkan waktu untuk datang.”
“Saya datang untuk menegaskan pada Anda bahwa anak saya tidak akan ikut
ekskul futsal. Saya harap Anda dapat memahaminya dan tidak membahas hal ini
lagi.”
“Iya, saya mengerti kekhawatiran yang mama Ryu rasakan. Setiap hal
pasti mengandung risiko. Kalau takdir sudah menentukan, tinggal di rumah pun
bisa terjadi musibah.” Rui bicara dengan nada santai.
“Yang Anda katakan memang tidak salah. Namun saya tetap tidak akan
mengizinkan Ryu ikut ekskul futsal.”
“Sekalipun saya sebagai jaminan?” Rui sengaja memancing Ayesha dengan
kata-katanya.
“Maksud Anda?” Ayesha mengerutkan dahi.
“Saya akan selalu menemaninya saat mengikuti ekskul futsal. Saya akan
melaporkan semua kegiatannya.” Rui menatap Mama Ryu sambil tersenyum.
“Hal itu pasti membuat Anda sangat kerepotan.” Ayesha bicara dengan
tegas.
“Saya tak keberatan.” Jelasnya dengan mantap.
“Keluarga Anda mungkin keberatan.” Ayesha tetap kekeuh dengan
pendiriannya.
“D-u-d-a seperti saya punya banyak waktu luang.” Rui sengaja menekan kata
duda di dalam kalimatnya. Sepertinya Ayesha sedikit kaget mendengarnya. “Jika
sesuatu terjadi pada Ryu, saya akan bertanggung jawab.” Rui kembali
melanjutkan.
“Mengapa Anda begitu peduli pada anak saya?” Ayesha menantang Rui
dengan tatapannya.
“Karena saya pernah ada di posisinya. Saya harus mengorbankan impian demi
memenuhi keinginan orang tua. Saya memang berhasil melewatinya tapi ada
penyesalan besar yang masih tersisa sampai sekarang. Saya tak ingin Rui
menyia-nyiakan bakatnya.” Rui membalas tatapan Ayesha.
“Terima kasih atas perhatian Anda. Saya masih ada kelas.” Ayesha bangkit
dari duduknya lalu pergi.
Rui menatap kepergiannya dengan senang. Dia telah menyentuh titik
lemahnya. Tak lama lagi dia akan bisa melihat Ryu kembali menggiring bola di
lapangan.
***
“Terima kasih sudah bicara dengan mama.” Ryu yang baru selesai berlatih
menghapiri Rui yang sedari tadi menontonnya dari pinggir lapangan.
“Sama-sama. Mulai sekarang kau harus membuktikan bahwa
keputusannya tidak salah.”
“Baik.” Ryu tersenyum dengan bahagia. “Oh ya, ini nomor ponsel mama!”
Ryu memberikan secarik kertas bertuliskan nomor mamanya pada Rui.
“Terima kasih.” Rui segera menyimpan nomor itu ke ponselnya. Dia langsung
mengirim pesan padanya. Dia mengirimkan foto-foto dan kegiatan Ryu selama
latihan hari ini.
Rui menahan diri untuk tidak mengirim pesan di luar kegiatan futsal
Ryu. Dia takut Ayesha memblokirnya. Dengan menguatkan diri, Rui hanya mengirim
pesan tentang kegiatan futsal Ryu.
“Anda datang!” Rui melambaikan tangan pada Mama Ryu. Dia lalu menunjuk
bangku kosong di sampingnya. Ayesha tampak ragu untuk mendekat. Dia mencari-cari
bangku lain tapi tak ada yang sebagus posisi di samping Rui. Dia pun mendekat
dan duduk di sampingnya.
Penampilan Ryu hari itu sangat memukau. Dia berhasil membuat dua gol
dan beberapa tendangan mematikan. Kehadiran mamanya membuat dia sangat bahagia
dan bersemangat.
Sejak hari itu sikap Mama Ryu mulai melunak. Dia juga sering meluangkan
waktu untuk menonton pertandingannya. Dia juga tak keberatan saat Rui
mengajaknya makan begitu pertandingan selesai.
Rui merasa sangat senang. Dia merasa kembali mendapatkan kesempatan. Dia
berjanji tak akan membuang kesempatan berharga ini. Dia akan meminta bantuan
Ryu untuk mendapatkan hati mamanya.
***
“Mengapa hanya kita berdua yang pergi?” Ayesha larak-lirik mencari
anaknya.
“Ryu ingin pergi bersama teman-temannya. Onee-san takut padaku?” Rui
menggoda Ayesha.
“Tidak. Aku hanya merasa sedikit canggung karena biasanya kita pergi
bertiga.”
“Ke depannya kita akan lebih sering pergi berdua saja.” Rui tersenyum
sambil mengakhiri kalimatnya. “Ryu mengeluh. Dia bilang ingin menikmati waktu
bersama teman bukannya mengantar mamanya kencan.”
“Kencan? Siapa juga yang pergi kencan.” Ayesha menggerutu pelan lalu
menyeruput es kopi di hadapannya.
“Apa salahnya jika kita berkencan. Toh kita sama-sama lajang.” Rui
terus menerus mengeluarkan kata-kata yang selama ini hanya menari dibenaknya.
“Aku sudah tua, Rui. Aku tak ingin menghabiskan waktu untuk hal yang
sia-sia.”
“Aku juga. Maka dari itu bagaimana kalau kita menikah saja?” Rui
menatap Ayesha dengan serius. Untuk beberapa saat keduanya hanya saling
pandang. Sepertinya Ayesha sedang berusaha mencerna maksud perkataannya.
“Jangan bercanda Rui!” Ayesha yang sudah berhasil mencerna maksud
perkataan Rui memelototinya.
“Aku tidak bercanda. Sejak awal aku memnag berniat menikahi Yuki. Aku
menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakannya. Aku takut Yuki kabur lagi.”
Rui menggenggam tangan Ayesha dengan erat. Dia takut Ayesha pergi karena marah.
“Aku sudah tua, Rui. Aku mungkin tak bisa memberi ibumu cucu.”
“Tak masalah. Toh kita sudah punya Ryu.”
“Rui ...!” Ayesha membentaknya dan melepaskan genggaman tangan Rui. “Jangan
pernah membahas ini lagi.” Ayesha mengambil tasnya dari meja lalu pergi
meninggalkan Rui. “Jangan mengikutiku!” Ancamnya saat Rui berniat mengikutinya.
Dengan patuh Rui pun kembali duduk. Dia mengeluarkan ponselnya lalu
mengirim pesan pada Ryu. Dia menceritakan kejadiannya. Dia meminta Ryu
mengabarinya kalau mamanya sudah sampai ke rumah.
Hari itu Rui pulang ke rumah dengan sedih. Sebelum pergi dia merasa sangat
bersemangat. Dia sudah merencanakan hari ini dengan baik. Dia sudah tak ingin
menyembunyikan perasaannya lagi. Ternyata semua tak seperti apa yang dibayangkannya.
Ketika sedang asyik dalam kesedihan mantan istrinya menelepon. Dia mengundangnya
untuk datang ke acara aqiqah anak keduanya. Dua tahun setelah mereka bercerai,
mantan istrinya menikah lagi dengan pacarnya waktu SMA. Rui juga hadir di acara
pernikahannya.
Meski pernikahan berakhir keduanya masih berhubungan baik. Mereka berpisah
secara baik-baik. Saat itu istrinya yang mengajukan gugatan. Rui mengabulkannya
karena kasihan terus menerus mengikatnya dalam pernikahan tanpa cinta.
“Apa aku harus membantumu untuk meyakinkannya?” Keisha, mantan istrinya
menggoda Ryu. Di sebelahnya suaminya tertawa ngakak. Dia menelepon dengan meloud-speakerkan ponselnya.
“Tidak perlu. Sudah dulu aku masih banyak pekerjaan. Terima kasih untuk
undangannya!” Rui menutup pembicaraan lalu menyimpan ponselnya di meja kerja. Setelah
itu dia kembali menyentuh buku sketsanya. Dia memilih satu sketsa dan mencoba
memindahkannya ke kanvas. Kali ini dia akan memberikan lukisan pada orang yang
dilukisnya. Dia tidak akan menyerah meski Ayesha akan kembali menolaknya.
YN, 25-08-2026
