Setelah bicara dengan Rui, Ayesha mengurung diri di kamar. Teringat
olehnya semua kenangan belasan tahun yang lalu. Saat itu Ayesha baru bangkit
dari masa berkabung. Dia sudah mampu menekan rasa sedih atas kehilangan suami
yang sangat dicintainya. Dia mencurahkan seluruh hidupnya untuk Ryu putranya.
Dia sama sekali tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Namun kedatangan Rui
dalam hidupnya membuat dia goyah.
Rui Danendra bersikap sangat manis dan perhatian pada Ayesha dan anaknya. Meski usianya
empat tahun lebih muda dari Ayesha, dia terkadang lebih dewasa. Dia selalu
membuat hari Ayesha terasa lebih mudah untuk dilewati.
“Aku mungkin bukan orang yang pertama mengulurkan tangan padamu. Tapi
aku ingin jadi orang terakhir yang menggenggam tanganmu.” Tiba-tiba Rui menggenggam
tangan Ayesha dan menatapnya.
“Rui ....” Ayesha berusaha melepas genggaman tangan Rui tapi usahanya
gagal.
“Aku tak akan melepaskan genggaman tanganmu, Yuki. Mari kita berbagi
masa depan bersama!” Lanjutnya dengan mantap. “Aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh.
Aku akan menjaga kalian.” Rui menatap Ryu yang tertidur pulas di pangkuannya.
Ayesha tidak menjawab. Dia hanya tersenyum menatap dua orang yang
sangat disayanginya itu. Ayesha tidak ingin banyak berharap. Meski Rui
sungguh-sungguh dengan kata-katanya. Ibunya belum tentu setuju dengan hubungan
mereka. Dan ketakutannya menjadi nyata. Beberapa hari setelah Rui menyatakan perasaannya,
ibunya mendatangi Ayesha.
“Kamu pasti mengerti maksud kedatangan saya?” Ibu Rui menatap Ayesha
dengan teliti.
“Anda ingin saya menjauh dari Rui?” Ayesha menebak.
“Saat anakmu besar nanti, kamu pasti mengerti mengapa saya bersikap
seperti ini.” Ibu Rui menghela napas dengan berat. “Saya tidak membencimu
Ayesha. Kamu adalah perempuan yang sangat baik. Namun saya berharap Rui memilih
perempuan lain.”
“Saya mengerti, bu. Saya permisi! Semoga ibu sehat selalu.” Dengan mata
berkaca-kaca Ayesha berpamitan. Dia harus segera pergi. Dia tak bisa lagi
menahan air matanya.
Setelah hari itu Ayesha tak pernah lagi bertemu dengan Rui. Dia memutus
semua kontak dengan Rui. Dia juga memutuskan untuk pindah rumah. Dia ingin
menghilang dari hidup Rui untuk selamanya.
Ayesha tahu menjadi ibu tunggal bukanlah hal yang mudah. Orang
terkadang memandangnya dengan sinis. Meski dia bersikap biasa saja selalu saja
ada orang yang menganggapnya kegenitan. Jangankan orang lain, sepupunya pun
pernah ada yang melabraknya gara-gara suaminya memberi perhatian pada Ryu.
***
“Apa kali ini mama akan kabur lagi?” Tanya Ryu saat
melihat Ayesha sedang melipat pakaian.
Ayesha menghentikan aktivitasnya lalu menatap
anaknya yang terlihat murung.
“Selama ini Ryu bahagia dengan hidup yang kita Jalani.
Kasih sayang mama tak pernah membuat Ryu kekurangan. Namun ada satu bagian yang
masih terasa kosong meski sudah berusaha diisi. Kedatangan Pak Rui mengisi
kekosongan itu.” Ryu menghela napas dengan berat.
Ayesha menggenggam tangannya dan memberi
kesempatan pada putranya untuk menyampaikan isi hatinya.
“Sebelum bertemu dengan Pak Rui, Ryu tak pernah
memikirkan kemungkinan untuk memiliki papa. Seiring berjalannya waktu ternyata
memiliki orang dewasa yang bisa dianggap sebagai ayah itu menyenangkan. Ada
hal-hal yang dulu hanya bisa dipendam tapi bisa dibahas bersama.” Mata Ryu
berkaca-kaca saat menyelesaikan kalimatnya.
Ayesha mengulurkan tangan untuk menyeka air
mata yang mulai menggenang di pelupuk mata putranya. “Mengapa Ryu menyangka
mama akan kabur?” Ayesha yang sudah berhasil menenangkan badai di hatinya,
akhirnya bersuara.
“Pak Rui bercerita tentang masa lalu kalian.” Ryu
mengeluarkan lukisan dari tas kertas yang dibawanya lalu memberikan pada
mamanya. “Ryu permisi mau mengerjakan PR.” Dia bangkit dari duduknya dan
berjalan menuju kamarnya.
Setelah Ryu pergi, Ayesha membuka pembungkus
lukisan itu. Ternyata itu lukisan dirinya tengah menggendong Ryu yang masih
berusia empat tahun. Di bawah lukisan itu ada tulisan “Love of my life”. Ayesha
memandangi lukisan itu dengan berurai air mata.
Ayesha tak pernah berharap bisa kembali bertemu
dengan Rui. Baginya kisah mereka sudah berakhir. Ayesha berpikir Rui pasti
sudah hidup bahagia dengan perempuan lain. Ayesha juga berpikir bahwa dirinya
hanyalah masa lalu yang mungkin sudah Rui lupakan.
Hari itu saat mereka kembali bertemu, Ayesha merasa
sedikit tak percaya. Dia tak menyangka kalau mereka akan kembali bertemu. Dia
juga tak menyangka kalau Rui masih mengingatnya.
***
“Apa kabar Ayesha?” Ibu Rui tiba-tiba muncul di
halaman rumahnya. Saat itu Ayesha sedang duduk di teras sambil membaca.
“Ibu ….” Ayesha menutup buku yang sedang dibacanya
lalu berdiri dan menghampirinya.
“Kau masih cantik seperti dulu.” Ibu Rui
tersenyum padanya.
“Mari, bu!” Ayesha mengajaknya duduk. “Sebentar
saya buatkan minum!” Ayesha bermaksud pergi ke rumah tapi Ibu Rui menahannya.
“Duduklah, nak!” Ibu Rui menggenggam tangannya
dan mengajak Ayesha duduk. “Rumahmu sejuk dan nyaman!” Ibu Rui menatap ke
sekeliling rumahnya. “Kau pasti tahu maksud kedatanganku.” Ibu Rui menatapnya
lekat-lekat.
“Saya sudah menepati janji pada ibu. Saya sudah
menghilang dari kehidupan Rui….” Ayesha bicara dengan suara yang bergetar.
“Ya, kamu memang menepati janji.” Ibu Rui
tersenyum. “Aku terlalu egois. Aku hanya memikirkan apa yang menurutku baik. Aku
tak benar-benar memikirkan putraku.” Ibu Rui menghela napas beberapa saat sebelum
kembali berbicara. “Putraku mengorbankan perasaan demi baktinya padaku.” Ibu
Rui menggenggam tangan Ayesha dan menatapnya dengan penuh permohonan. “Kali ini
aku merestui kalian.”
“Ibu ….” Ayesha tak mampu berkata-kata.
“Aku sudah bertemu dengan putramu. Kau
membesarkannya dengan sangat baik. Dia tumbuh jadi anak yang berbudi luhur. Dia
juga pandai mengambil hati.” Ibu Rui tersenyum. “Kutunggu kabar baik dari
kalian.” Ibu Rui memberikan sebuah gelang ke genggaman tangan Ayesha lalu pamit
pulang.
***
“Boleh aku duduk di sini?” Ayesha menghampiri
Rui yang sedang asyik menonton pertandingan futsal.
“Duduklah.” Sahutnya tanpa menoleh pada Ayesha.
“Terima kasih untuk lukisannya.” Ayesha mencoba
untuk mengajak Rui mengobrol.
“Sama-sama.” Rui masih belum menoleh padanya. Dia
fokus pada pertandingan yang ada di hadapan mereka.
“Apa Ryu bermain dengan baik?” Ayesha kembali berusaha
memulai obrolan.
“Tentu saja. Lihat dia kembali memasukkan bola!”
Rui menunjuk Ryu yang sedang berusaha memasukkan bola ke gawang.
“Apakah kau marah padaku?” Kata-kata Ayesha
membuat Rui menoleh padanya.
“Untuk apa aku marah padamu?” Rui kembali memfokuskan
diri ke lapangan.
“Baiklah. Aku kembali saat kau sudah tidak
marah saja!” Ayesha berniat untuk pergi tapi Rui menahannya.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau sendiri
yang memintaku untuk menjauh.” Rui menatap Ayesha dengan tajam. “Aku sudah
menurutimu. Apa lagi yang harus kulakukan sekarang?”
“Ibumu datang dan memberiku ini.” Ayesha
menunjukkan gelang di tangan kanannya.
Rui terpana melihat gelang di tangan Ayesha.
Matanya langsung berbinar. Dia menggenggam tangan Ayesha dan kembali
mengajaknya duduk.
“Ini gelang ibuku. Katanya untuk menantunya.”
Mata Rui berkabut.
“Aku mungkin tak bisa memberinya cucu.”
“Dia sudah punya banyak dari kakakku. Dia juga
cukup bangga dengan Ryu.” Rui menggenggam tangan Ayesha dan menempelkan ke
dadanya.
***
“Mama Ryu datang?” Bu Ranti wali kelas Ryu
menyambut kedatangan Ayesha di meja penerima tamu.
“Ini hari penting untuk Ryu. Mana mungkin saya
tidak datang.” Ayesha mengisi daftar hadir lalu masuk ke lapangan. Baru saja
dia hendak melangkah masuk, Rui datang menyambutnya.
“Kaya kenal?” Goda Rui yang langsung ditanggapi
Ayesha dengan cubitan di pinggang. “Ampun yank!” Rui meringis dan langsung
menggandengnya masuk dan mencari tempat duduk yang sudah disediakan. Setelah
memastikan Ayesha menemukan tempat duduknya, Rui kembali pada kesibukannya
sebagai seksi acara.
“Eh mama Ryu juga datang.” Mama Riza yang lebih
dulu datang menyapanya.
“Iya. Akhirnya saya bisa datang.” Ayesha
menyalaminya lalu duduk di sampingnya.
“Si kembar tidak diajak?” Dia menanyakan bayi kembar
Ayesha yang kini berusia enam bulan.
“Ada mertua datang berkunjung. Mereka mengajukan diri untuk menjaga si
kembar.”
Obrolan keduanya terhenti karena acara sudah
dimulai. Ayesha memandangi putranya dengan penuh haru dan bangga saat dia maju untuk
menyampaikan pidato sebagai perwakilan siswa yang memperoleh nilai terbaik.
“Terima kasih untuk mama Ayesha dan Papa Rui
yang selalu memberi dukungan untuk Ryu.”
“Sama-sama!” Teriak Rui yang sedang berjalan
mendekat menuju Ayesha. Teriakannya membuat semua orang menatapnya. Rui tertawa
lebar lalu duduk di samping Ayesha. “Terima kasih mama.” Bisik Rui di telinga
Ayesha.
“Rui ….” Ayesha melotot padanya. Dia merasa malu karena menjadi pusat perhatian. Namun Rui malah semakin mendekat dan menggenggam tangannya.
YN, 08-09-2026
