Selasa, 08 September 2026

Suami untuk Mama #3

 

Setelah bicara dengan Rui, Ayesha mengurung diri di kamar. Teringat olehnya semua kenangan belasan tahun yang lalu. Saat itu Ayesha baru bangkit dari masa berkabung. Dia sudah mampu menekan rasa sedih atas kehilangan suami yang sangat dicintainya. Dia mencurahkan seluruh hidupnya untuk Ryu putranya. Dia sama sekali tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Namun kedatangan Rui dalam hidupnya membuat dia goyah.

Rui Danendra bersikap sangat manis dan perhatian pada Ayesha dan anaknya. Meski usianya empat tahun lebih muda dari Ayesha, dia terkadang lebih dewasa. Dia selalu membuat hari Ayesha terasa lebih mudah untuk dilewati.

“Aku mungkin bukan orang yang pertama mengulurkan tangan padamu. Tapi aku ingin jadi orang terakhir yang menggenggam tanganmu.” Tiba-tiba Rui menggenggam tangan Ayesha dan menatapnya.

“Rui ....” Ayesha berusaha melepas genggaman tangan Rui tapi usahanya gagal.

“Aku tak akan melepaskan genggaman tanganmu, Yuki. Mari kita berbagi masa depan bersama!” Lanjutnya dengan mantap. “Aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Aku akan menjaga kalian.” Rui menatap Ryu yang tertidur pulas di pangkuannya.

Ayesha tidak menjawab. Dia hanya tersenyum menatap dua orang yang sangat disayanginya itu. Ayesha tidak ingin banyak berharap. Meski Rui sungguh-sungguh dengan kata-katanya. Ibunya belum tentu setuju dengan hubungan mereka. Dan ketakutannya menjadi nyata. Beberapa hari setelah Rui menyatakan perasaannya, ibunya mendatangi Ayesha.

“Kamu pasti mengerti maksud kedatangan saya?” Ibu Rui menatap Ayesha dengan teliti.

“Anda ingin saya menjauh dari Rui?” Ayesha menebak.

“Saat anakmu besar nanti, kamu pasti mengerti mengapa saya bersikap seperti ini.” Ibu Rui menghela napas dengan berat. “Saya tidak membencimu Ayesha. Kamu adalah perempuan yang sangat baik. Namun saya berharap Rui memilih perempuan lain.”

“Saya mengerti, bu. Saya permisi! Semoga ibu sehat selalu.” Dengan mata berkaca-kaca Ayesha berpamitan. Dia harus segera pergi. Dia tak bisa lagi menahan air matanya.

Setelah hari itu Ayesha tak pernah lagi bertemu dengan Rui. Dia memutus semua kontak dengan Rui. Dia juga memutuskan untuk pindah rumah. Dia ingin menghilang dari hidup Rui untuk selamanya.

Ayesha tahu menjadi ibu tunggal bukanlah hal yang mudah. Orang terkadang memandangnya dengan sinis. Meski dia bersikap biasa saja selalu saja ada orang yang menganggapnya kegenitan. Jangankan orang lain, sepupunya pun pernah ada yang melabraknya gara-gara suaminya memberi perhatian pada  Ryu.

***

“Apa kali ini mama akan kabur lagi?” Tanya Ryu saat melihat Ayesha sedang melipat pakaian.

Ayesha menghentikan aktivitasnya lalu menatap anaknya yang terlihat murung.

“Selama ini Ryu bahagia dengan hidup yang kita Jalani. Kasih sayang mama tak pernah membuat Ryu kekurangan. Namun ada satu bagian yang masih terasa kosong meski sudah berusaha diisi. Kedatangan Pak Rui mengisi kekosongan itu.” Ryu menghela napas dengan berat.

Ayesha menggenggam tangannya dan memberi kesempatan pada putranya untuk menyampaikan isi hatinya.

“Sebelum bertemu dengan Pak Rui, Ryu tak pernah memikirkan kemungkinan untuk memiliki papa. Seiring berjalannya waktu ternyata memiliki orang dewasa yang bisa dianggap sebagai ayah itu menyenangkan. Ada hal-hal yang dulu hanya bisa dipendam tapi bisa dibahas bersama.” Mata Ryu berkaca-kaca saat menyelesaikan kalimatnya.

Ayesha mengulurkan tangan untuk menyeka air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata putranya. “Mengapa Ryu menyangka mama akan kabur?” Ayesha yang sudah berhasil menenangkan badai di hatinya, akhirnya bersuara.

“Pak Rui bercerita tentang masa lalu kalian.” Ryu mengeluarkan lukisan dari tas kertas yang dibawanya lalu memberikan pada mamanya. “Ryu permisi mau mengerjakan PR.” Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.

Setelah Ryu pergi, Ayesha membuka pembungkus lukisan itu. Ternyata itu lukisan dirinya tengah menggendong Ryu yang masih berusia empat tahun. Di bawah lukisan itu ada tulisan “Love of my life”. Ayesha memandangi lukisan itu dengan berurai air mata.

Ayesha tak pernah berharap bisa kembali bertemu dengan Rui. Baginya kisah mereka sudah berakhir. Ayesha berpikir Rui pasti sudah hidup bahagia dengan perempuan lain. Ayesha juga berpikir bahwa dirinya hanyalah masa lalu yang mungkin sudah Rui lupakan.

Hari itu saat mereka kembali bertemu, Ayesha merasa sedikit tak percaya. Dia tak menyangka kalau mereka akan kembali bertemu. Dia juga tak menyangka kalau Rui masih mengingatnya.

***

“Apa kabar Ayesha?” Ibu Rui tiba-tiba muncul di halaman rumahnya. Saat itu Ayesha sedang duduk di teras sambil membaca.

“Ibu ….” Ayesha menutup buku yang sedang dibacanya lalu berdiri dan menghampirinya.

“Kau masih cantik seperti dulu.” Ibu Rui tersenyum padanya.

“Mari, bu!” Ayesha mengajaknya duduk. “Sebentar saya buatkan minum!” Ayesha bermaksud pergi ke rumah tapi Ibu Rui menahannya.

“Duduklah, nak!” Ibu Rui menggenggam tangannya dan mengajak Ayesha duduk. “Rumahmu sejuk dan nyaman!” Ibu Rui menatap ke sekeliling rumahnya. “Kau pasti tahu maksud kedatanganku.” Ibu Rui menatapnya lekat-lekat.

“Saya sudah menepati janji pada ibu. Saya sudah menghilang dari kehidupan Rui….” Ayesha bicara dengan suara yang bergetar.

“Ya, kamu memang menepati janji.” Ibu Rui tersenyum. “Aku terlalu egois. Aku hanya memikirkan apa yang menurutku baik. Aku tak benar-benar memikirkan putraku.” Ibu Rui menghela napas beberapa saat sebelum kembali berbicara. “Putraku mengorbankan perasaan demi baktinya padaku.” Ibu Rui menggenggam tangan Ayesha dan menatapnya dengan penuh permohonan. “Kali ini aku merestui kalian.”

“Ibu ….” Ayesha tak mampu berkata-kata.

“Aku sudah bertemu dengan putramu. Kau membesarkannya dengan sangat baik. Dia tumbuh jadi anak yang berbudi luhur. Dia juga pandai mengambil hati.” Ibu Rui tersenyum. “Kutunggu kabar baik dari kalian.” Ibu Rui memberikan sebuah gelang ke genggaman tangan Ayesha lalu pamit pulang.

***

“Boleh aku duduk di sini?” Ayesha menghampiri Rui yang sedang asyik menonton pertandingan futsal.  

“Duduklah.” Sahutnya tanpa menoleh pada Ayesha.

“Terima kasih untuk lukisannya.” Ayesha mencoba untuk mengajak Rui mengobrol.

“Sama-sama.” Rui masih belum menoleh padanya. Dia fokus pada pertandingan yang ada di hadapan mereka.

“Apa Ryu bermain dengan baik?” Ayesha kembali berusaha memulai obrolan.

“Tentu saja. Lihat dia kembali memasukkan bola!” Rui menunjuk Ryu yang sedang berusaha memasukkan bola ke gawang.

“Apakah kau marah padaku?” Kata-kata Ayesha membuat Rui menoleh padanya.

“Untuk apa aku marah padamu?” Rui kembali memfokuskan diri ke lapangan.

“Baiklah. Aku kembali saat kau sudah tidak marah saja!” Ayesha berniat untuk pergi tapi Rui menahannya.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau sendiri yang memintaku untuk menjauh.” Rui menatap Ayesha dengan tajam. “Aku sudah menurutimu. Apa lagi yang harus kulakukan sekarang?”

“Ibumu datang dan memberiku ini.” Ayesha menunjukkan gelang di tangan kanannya.

Rui terpana melihat gelang di tangan Ayesha. Matanya langsung berbinar. Dia menggenggam tangan Ayesha dan kembali mengajaknya duduk.

“Ini gelang ibuku. Katanya untuk menantunya.” Mata Rui berkabut.

“Aku mungkin tak bisa memberinya cucu.”

“Dia sudah punya banyak dari kakakku. Dia juga cukup bangga dengan Ryu.” Rui menggenggam tangan Ayesha dan menempelkan ke dadanya.

***

“Mama Ryu datang?” Bu Ranti wali kelas Ryu menyambut kedatangan Ayesha di meja penerima tamu.

“Ini hari penting untuk Ryu. Mana mungkin saya tidak datang.” Ayesha mengisi daftar hadir lalu masuk ke lapangan. Baru saja dia hendak melangkah masuk, Rui datang menyambutnya.

“Kaya kenal?” Goda Rui yang langsung ditanggapi Ayesha dengan cubitan di pinggang. “Ampun yank!” Rui meringis dan langsung menggandengnya masuk dan mencari tempat duduk yang sudah disediakan. Setelah memastikan Ayesha menemukan tempat duduknya, Rui kembali pada kesibukannya sebagai seksi acara.

“Eh mama Ryu juga datang.” Mama Riza yang lebih dulu datang menyapanya.

“Iya. Akhirnya saya bisa datang.” Ayesha menyalaminya lalu duduk di sampingnya.

“Si kembar tidak diajak?” Dia menanyakan bayi kembar Ayesha yang kini berusia enam bulan.

“Ada mertua datang berkunjung.  Mereka mengajukan diri untuk menjaga si kembar.”

Obrolan keduanya terhenti karena acara sudah dimulai. Ayesha memandangi putranya dengan penuh haru dan bangga saat dia maju untuk menyampaikan pidato sebagai perwakilan siswa yang memperoleh nilai terbaik.

“Terima kasih untuk mama Ayesha dan Papa Rui yang selalu memberi dukungan untuk Ryu.”

“Sama-sama!” Teriak Rui yang sedang berjalan mendekat menuju Ayesha. Teriakannya membuat semua orang menatapnya. Rui tertawa lebar lalu duduk di samping Ayesha. “Terima kasih mama.” Bisik Rui di telinga Ayesha.

“Rui ….” Ayesha melotot padanya. Dia merasa malu karena menjadi pusat perhatian. Namun Rui malah semakin mendekat dan menggenggam tangannya.


YN, 08-09-2026

Suami untuk Mama #3

  Setelah bicara dengan Rui, Ayesha mengurung diri di kamar. Teringat olehnya semua kenangan belasan tahun yang lalu. Saat itu Ayesha baru b...