Hari ini saya mengajak muri-murid menulis surat untuk diri mereka di masa depan. Banyak hal terduga yang saya temukan dalam tulisan mereka. Ada yang berharap jadi TNI, chef, dokter dan CEO. Beberapa dari mereka juga menulis tentang menikah.
Hal yang membuat saya terharu dengan tulisan mereka adalah saat mereka menulis ingin membahagiakan orang tua. Mudah-mudahan harapan mereka dapat terwujud.
Terus terang saya sangat sedih dengan murid-murid zaman sekarang. Kecangggihan teknologi memanjakan mereka dengan semua pesonanya. Mereka tak dapat dipisahkan dengan makin maraknya media sosial dan permainan. Hal-hal yang seharusnya dinikmati sebagai hiburan justru malah mendominasi hidup mereka.
Saya juga sedih melihat murid-murid saya yang mulai tidak percaya diri tanpa make-up. Mereka seolah berlomba untuk menampilkan make-up terbaik yang mereka temukan. Tak jarang keinginan untuk tampil cantik itu malah membuat mereka jadi bahan guyonan teman.
Saya sering mengingatkan mereka tentang berdandan yang sewajarnya. Namun terkadang perhatian saya ini malah disalahartikan. Padahal saya berkomentar karena tak ingin mereka dijadikan guyonan oleh teman lelaki mereka. Tak jarang beberapa dari mereka datang dengan berurai mata karena jadi bahan guyonan. Kalau sudah begitu saya hanya bisa diam dan berbisik dalam hati "Nak, inilah yang ibu takutkan. Makanya dengarkan saran dari ibu."
Di usia ini mereka lebih percaya teman. Ocehan apapun selama teman satu circle yang mengatakan tidak jadi masalah. Lain halnya jika guru atau orang tua yang memberi komentar. Mereka menganggap komentar orang dewasa itu kejam dan tidak pengertian.
Lalu harus bagaimana, nak?
Tidak mungkin kami membiarkan kalian sekehendak hati dan menghancurkan masa depan. Tugas kami sebagai pendamping dan pembimbing di sekolah tidak mungkin kami abaikan. Meski terkadang dibenci dan dianggap kolot, kami akan selalu berusaha mengajakmu kembali pada rel yang sudah sewajarnya.
Mari kita kembali jadi diri kita sesuai dengan peran masing-masing. Mari kita usahakan masa depan yang penuh dengan kebahagiaan itu dengan menjadi murid yang rajin belajar, rajin ibadah, berbakti pada orang tua dan menghormati guru. Mari bersama-sama mewujudkan masa depan itu.
Semuanya tidak akan terwujud jika kalian tidak membantu diri sendiri. Mari kita kembalikan gerbong kereta ke rel yang sudah seharusnya. Gerbong yang akan berhenti di stasiun harapan yang sudah kita ukir dalam hati dan benak masing-masing.
YN, 06112026
