Kamis, 05 November 2026

Titik Jenuh Zulaikha

            “Selamanya itu lama. Pastikan teman seperjalananmu itu adalah orang yang sefrekuensi.”

Kata-kata itu menusuk hati Zulaikha. Seandainya lemak maka sekarang Zulaikha ada pada titik jenuh dalam hidupnya. Dia mempertanyakan kembali semuanya. Semua yang dulu dirasa begitu romantis dan fantastis kini malah diam-diam membuat sisi hatinya terkikis.

Seandainya aku adalah burung maka aku akan segera terbang. Aku ingin hidup untuk diriku sendiri. Sehari saja aku ingin menjadi Zulaikha, hanya Zulaikha tanpa embel-embel apapun. Itulah kata-kata yang sedang mondar-mandir dalam benaknya.

Zulaikha pernah merasa sangat bahagia dengan hidupnya. Dia sering berpikir betapa dirinya adalah perempuan yang beruntung. Dia dapat memilih untuk menikah dengan laki-laki yang dicintai. Dia masih bisa jadi diri sendiri meski statusnya berubah jadi istri.

Namun belakangan ini Zulaikha merasa kehilangan “spark” itu. Dia merasa lelah dan jenuh. Obrolan singkat dan komentar sederhana pun membuatnya lelah. Zulaikha ingin mengungkapkan semuanya tetapi dia takut. Dia takut semua perasaannya, semua lelah yang dirasanya justru menjadi luka untuk orang yang mendengarnya.

Zulaikha akhirnya memilih untuk diam dan menunggu. Apakah semua kelelahan ini karena kortisolnya yang menumpuk. Ataukah kesedihan karena ditinggal kedua orang tua yang tanpa disadari masih menggerogotinya dari dalam.


YN, 06112026

 

Titik Jenuh Zulaikha

              “ Selamanya itu lama. Pastikan teman seperjalananmu itu adalah orang yang sefrekuensi. ” Kata-kata itu menusuk hati Zulaikha...