“Selamanya itu lama. Pastikan teman seperjalananmu itu adalah orang yang sefrekuensi.”
Kata-kata itu menusuk hati Zulaikha. Seandainya
lemak maka sekarang Zulaikha ada pada titik jenuh dalam hidupnya. Dia
mempertanyakan kembali semuanya. Semua yang dulu dirasa begitu romantis dan
fantastis kini malah diam-diam membuat sisi hatinya terkikis.
Seandainya aku adalah burung maka aku
akan segera terbang. Aku ingin hidup untuk diriku sendiri. Sehari saja aku
ingin menjadi Zulaikha, hanya Zulaikha tanpa embel-embel apapun. Itulah kata-kata yang sedang mondar-mandir
dalam benaknya.
Zulaikha pernah merasa sangat bahagia
dengan hidupnya. Dia sering berpikir betapa dirinya adalah perempuan yang
beruntung. Dia dapat memilih untuk menikah dengan laki-laki yang dicintai. Dia masih
bisa jadi diri sendiri meski statusnya berubah jadi istri.
Namun belakangan ini Zulaikha merasa
kehilangan “spark” itu. Dia merasa lelah dan jenuh. Obrolan singkat dan
komentar sederhana pun membuatnya lelah. Zulaikha ingin mengungkapkan semuanya
tetapi dia takut. Dia takut semua perasaannya, semua lelah yang dirasanya
justru menjadi luka untuk orang yang mendengarnya.
Zulaikha akhirnya memilih untuk diam
dan menunggu. Apakah semua kelelahan ini karena kortisolnya yang menumpuk.
Ataukah kesedihan karena ditinggal kedua orang tua yang tanpa disadari masih
menggerogotinya dari dalam.
YN, 06112026