Senin, 21 April 2025
Puisi Peribahasa 1
Rabu, 26 Maret 2025
It's End With Us (Berakhir di Kita), Tapi ini bukan tentang Film
Tahun ini saya ditugaskan mendampingi besti untuk mengelola UKS. Hampir setiap hari ruangan kami didatangi siswa yang datang dengan keluhan sakit kepala dan asam lambung naik. Beberapa dari mereka beralasan tidak makan karena sedang diet dan takut gendut.😔😏
Mendengar alasan mereka, saya hanya tersenyum. Saya paling tahu bagaimana rasanya jadi si gendut. Komentar-komentar dengan niat bercanda yang dikemukakan orang tentang berat badan saya. Kata-kata sederhana yang ternyata menusuk hati sering saya dengar. Seolah-olah orang gendut itu adalah orang paling berdosa sedunia.😭
Duduk serba salah karena memakan tempat. Berdiri juga salah karena menghalangi pemandangan. Bahkan sampai bersin pun disangkutpautkan dengan berat badan. Lucu sekali bukan? 😔
Apakah semua itu hanya terjadi saat kita menjadi siswa? Jawabannya tidak Romeo. Sampai kapan pun semua komentar iu akan selalu muncul. Begitu pun yang terjadi pada saya. Maka dari itu saya selalu memberikan semangat untuk semua murid-murid saya terkhusus yang memiliki badan tidak sesuai harapan masyarakat.😑
Apa yang saya lakukan?
Dulu saya tak ambil pusing. saya terlalu nyaman dengan hidup saya. Kenyamanan itu hingga membuat berat badan saya terus bertambah. Kalau ada hal yang membuat saya kesal saya lari pada makanan. Stres membuat saya malah makin semangat makan bukannya malas makan.😲
Apakah saya pernah diet?
Pernah. Dulu saat masih kuliah saya dan sepupu pernah diet. Kami menghilangkan nasi dari menu kami. Kami juga mulai melakukan senam dan jalan-jalan untuk menunjang diet ini. Berat badan saya turun saat itu. Namun tekad saya tidak sekuat sepupu. Saya tidak melanjutkan diet itu dan berat badan saya kembali naik ke semula.😚
Suami saya sering mengingatkan saya untuk berolahraga. Dia juga mengingatkan untuk tidak terlalu banyak mengemil. Saya hanya tersenyum saat itu. Saya terlalu nyaman dengan hidup saya. Saat baju di toko tak bisa saya beli karena ukurannya kurang pas, masih ada mama yang akan membuatkan baju.😍
Namun sekarang kondisi mama sudah tidak sesehat dulu. Mama sudah tidak bisa lagi membuatkan baju untuk saya. Saya sedih dan mulai berpikir. 😫
Tahun ini usia saya 40 tahun. Saya masih belum dikarunia anak. Dan orang juga sering mengaitkan berat badan dengan hal itu. Dulu saya suka merasa sebal. Sekarang tidak terlalu.
Akhir tahun 2024 saya berada di titik terpenat dalam hidup. Yang saya pikirkan saat itu adalah saya ingin jadi ibu. Saya merasa hidup saya kosong dan sepi. Saya terlalu memikirkannya sampai vertigo saya kambuh. 😭
Saya pun berpikir dan berpikir lagi. Saya mulai menerima semuanya. Bukan berarti saya menyerah. Saya hanya tidak ingin terlalu memikirkannya. Saya ingin sehat dan bahagia. Saya ingin menua tanpa membuat banyak orang repot.
Awal tahun 2025 sepupu-sepupu mulai diet. Mereka mulai intermittent fasting (IF). Saya pun memutuskan untuk mencobanya. Saya mulai dengan pola 16: 8. Saya mulai makan pukul 9 pagi dan berhenti makan pukul 5 sore. Saya mulai mengurangi membeli camilan yang mengandung terigu dan gula. Saya juga mulai berolahraga tipis-tipis dengan senam atau jalan kaki.
Apakah ini mudah?
Awalnya terasa agak kewalahan. Apalagi suami sering menggoda dengan membeli makanan kesukaan. Namun kali ini tekad saya sangat kuat. Saya terus berusaha konsisten dengan apa yang saya mulai hingga hari ini.
Adik saya bertanya sampai kapan akan seperti ini? Dengan yakin saya jawab: selamanya.
Saya masih makan nasi dan karbo lainnya meski jumlahnya sedikit. Saya juga masih tergoda dengan cireng dan kerupuk. Saya juga kadang masih malas berolahraga. Namun satu hal yang pasti saya akan terus mencoba dan berusaha.
Apakah komentar-komentar itu berhenti?
Tentu saja tidak. Saya malah dikira langsing karena puasa. Dikiranya berat badan saya turun selama bulan Ramadan. Padahal saya bisa sampai di berat badan yang sekarang ini setelah tiga bulan. Orang lain mungkin tidak tahu seperti apa proses yang saya lalui sampai hari ini. Mereka hanya melihat hasilnya.
Saya tidak ingin pamer dengan apa yang saya jalani sekarang. Saya bukan seorang ahli. Saya hanya mencoba untuk hidup lebih sehat dan bahagia. Saya ingin lebih mencintai diri sendiri. Saya ingin bisa menikmati kembali baju-baju yang ada di toko.
Mengapa baru sekarang?
Mungkin karena sebentar lagi saya 40. Bukankah umur 40 itu it's another 25? 😂🙊
Yang jelas tekadnya lebih kuat di tahun ini. Support systemnya juga lebih kuat sekarang. Suami saya terlihat bahagia karena hampir setiap hari saya memasak. Saat ini saya lebih puas dengan makanan yang dimasak sendiri. Saya berharap tekad ini terus membara hingga saya bisa tetap konsisten dengan apa yang sudah dimulai.
Mari kita cintai diri kita. Mari kita berusaha untuk mencapai kebahagian kita. Mari kita berhenti mengomentari berat badan orang lain. Mari kita biasakan mulut kita untuk berbicara yang baik. Mari kita berikan support system yang baik untuk orang-orang yang kita sayangi. Mari kita ciptakan dunia yang lebih nyaman untuk kita semua.💪😍
Sabtu, 01 Maret 2025
Tetap Sehat dan Bugar Selama Berpuasa di Bulan Ramadan
Agar dapat menjalankan ibadah dengan baik tentunya kita harus menjaga kesehatan dan kebugaran kita. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan agar tetap sehat dan bugar selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Hal-hal tersebut adalah sebagai berikut.
1. Penuhi Kebutuhan Cairan
Selama berpuasa kita tidak makan dan minum selama hampir 14 jam. Tubuh kita akan kehilangan kebutuhan cairan hariannya. Oleh karena itu kita harus menggantinya setelah kita berbuka. Air yang bagus untuk diminum adalah air putih. Kita juga dapat menambahkan air kelapa sebagai sumber asupan cairan untuk mengganti elektrolit yang hilang. Adapun cara untuk minum yang baik untuk mencukupi kebutuhan cairan kita adalah dengan melakukan dapat pembagian 2-4-2, yaitu 2 gelas saat berbuka, 4 gelas antara buka dan sahur, dan 2 gelas lagi saat sahur.
2. Jangan lewatkan sahur
Tak dapat dipungkiri kadang kita merasa malas untuk makan sahur. Rasa kantuk yang tak tertahan, perut yang tak terbiasa membuat kita malas untuk makan sahur. Padahal makan sahur adalah kegiatan yang tidak boleh kita tinggalkan selama puasa di bulan Ramadan. Rasulullah Saw juga menganjurkan untuk melakukan sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan.
Anas bin Malik RA berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً
Artinya: "Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah." (HR Bukhari).
Makan sahur itu sama halnya dengan sarapan. Makan sahur adalah kegiatan penting untuk menambah energi harian selama berpuasa. Konsumsilah makanan bergizi seimbang agar kebutuhan energi kita tercukupi. Hindari makanan yang terlalu berlemak atau makanan pedas agar kesehatan lambung kita tetap terjaga.
3. Makan secukupnya
Kita mungkin berpikiran untuk banyak makan saat sahur atau berbuka. Namun hal ini bukanlah hal yang baik. Terlalu banyak makan saat berbuka akan membuat perut kembung dan begah. Perut kita yang tadinya kosong akan merasa kaget karena terus dijejali makanan. Akhirnya kita tak bisa melaksanakan salat tarawih karena perut yang tak nyaman. Makan terlalu banyak saat sahur juga tidak dianjurkan. Makan berlebihan saat sahur akan membuat kekenyangan tidak nyaman pada perut, hingga gangguan pencernaan.
Allah juga mengingatkan kita untuk tidak makan berlebihan seperti firmannya dalam Surat Al-Araf ayat 31, yang artinya:
"Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus di setiap masuk masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
4. Hindari makanan berminyak
Menyantap gorengan saat berbuka memang nikmat. Hal ini banyak dilakukan oleh masyarakat karena rasa gorengan yang gurih dan harganya yang terjangkau. Padahal banyaknya gorengan yang dikonsumsi akan membuat kita merasa semakin haus dan memicu panas dalam.
Makanan yang berminyak juga dapat meningkatkan risiko kenaikan kolesterol dalam tubuh Anda. Selain itu, penumpukkan lemak bisa membuat berat badan naik saat puasa. Lebih baik pilih makanan yang direbus, dikukus, atau dipepes yang biasanya lebih rendah lemak.
5. Mengurangi makanan dan minuman yang manis
Minuman manis memang penting dikonsumsi saat berbuka untuk menormalkan kadar gula darah kembali setelah berpuasa seharian. Biasanya, minuman manis dan dingin juga dikonsumsi untuk melepas dahaga setelah menahan haus seharian. Namun, kita harus tetap memperhatikan jumlah gula harian yang dikonsumsi yaitu sebanyak 50 gram per hari. Daripada mengonsumsi minuman manis dari gula pasir, sebaiknya pilih jus buah tanpa tambahan gula yang mengandung serat yang baik untuk kesehatan.
6. Olahraga teratur
Aktivitas fisik memiliki banyak manfaat bagi kesehatan fisik dan mental, bahkan selama bulan puasa. Kita tetap dapat melakukan olahraga saat puasa. Olahraga yang kita lakukan adalah olahraga dengan intensitas ringan sampai sedang setelah berbuka. Kita dapat berjalan kaki atau bersepeda menjelang berbuka. Apalagi jika kita melakukannya sambil mencari makanan untuk berbuka. Tentunya olahraga yang kita lakukan tak terasa melelahkan.
7. Tidur yang cukup
Selain memperhatikan makanan, pengaturan pola tidur merupakan hal yang penting. Mengantuk selama puasa bukanlah disebabkan tidak makan dan minum seharian, melainkan waktu tidur yang tidak cukup. Kita harus bangun lebih awal sekitar pukul 3-4 pagi untuk sahur sehingga kita harus tidur lebih awal kebutuhan tidur kita tetap tercukupi.
8. Makan buah yang mengandung air
Makan buah yang mengandung air seperti semangka, pir atau melon dapat menjadi alternatif yang lebih sehat untuk pengganti makanan dan minuman manis. Hal ini karena buah yang mengandung banyak air baik untuk menjaga hidrasi dan memenuhi kebutuhan zat gizi selama bulan puasa.
9. Konsumsi kurma saat berbuka puasa
Kurma adalah sumber energi cepat karena mengandung gula alami yang dapat mengembalikan kadar gula darah yang rendah selama berpuasa. Kurma juga mengandung air dan elektrolit sehingga dapat membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang selama puasa. Selain itu, kandungan serat dalam kurma mencegah makan berlebihan saat berbuka puasa.
Itulah beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk tetap sehat dan bugar melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadan. Mari kita jadikan momentum puasa di bulan Ramadan ini untuk banyak beribadah dan meningkatkan kesehatan.
Sumber bacaan:
https://hellosehat.com/nutrisi/tips-makan-sehat/8-cara-menjaga-tubuh-agar-tetap-fit-saat-puasa/
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20220406155129-289-781173/5-cara-berbuka-puasa-sesuai-contoh-nabi-yang-bisa-diamalkan
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6017808/4-hadits-keutamaan-sahur-waktu-mustajab-yang-penuh-berkah
Rabu, 15 Januari 2025
Neneng Merindu
Sudah masuk ke pertengahan Januari. Januari tahun lalu itu, masa-masa paling galau. Setelah hampir dua tahun menunggu keputusan tentang pulang kampung akhirnya hilal muncul.
Seandainya jarak antara Leles dan Cingambul hanya 30 menit, tentunya aku tak terlalu mempermasalahkan balik kampung. Setiap hari bisa pulang ke rumah dan ke kampung halaman sendiri itu merupakan anugrah yang tiada taranya.
Banyak yang kurindukan dari MTsN 11. Mulai dari siswa, rekan-rekan, besti-besti dan tempat semedi. MTsN 11 sudah jadi tempat wara-wiri selama 5 tahun terakhir. Banyak kenangan yang terukir di sana.
Ruang guru yang sering jadi tempat makan-makan dan menunggu waktu pulang. Ruang TU yang sering jadi tempat semedi saat ingin fokus mengerjakan sesuatu. Ruang Pa Ben yang sering jadi tempat ngobrol, mulai dari obrolan receh sampai obrolan serius tentang negara. Selasar di depan ruang guru tempat membahas kerandoman siswa sama besti. Dan tentunya masjid tempat selonjoran sehabis menunaikan salat.
Jika sedang disibukkan oleh urusan kepegawaian, aku sering kangen dengan rekan-rekan TU di MTsN 11. Di sana kalau ada hal-hal yang tidak dimengerti maka dengan segera kudatangi ruangan Pa Ben, tempat sahabat drama berada. Atau duduk manja di kursi Pa Ben sambil mengomel panjang lebar tentang hal yang belum kumengerti 🙊. Kadang juga langsung ke ruangan Mama Kaur untuk diskusi.
Kadang aku pun kangen dengan panggilan kesayangan rekan-rekan di sana, Neneng Garut 😂. Panggilan yang bukan tanpa alasan diberikan padaku. Panggilan yang diberikan karena aku yang bawel dan suka nembal saat ada yang make fun of me.🙈
Aku juga kangen pada semua obrolan receh dan bermakna bersama Eonni-Eonni dan besti sebangsa setanah air, senasib sepenanggungan. Pada semangat ulin dan olahraga Eomma-Eomma kesayangan yang ada di sana. Juga pada guyonan dan cerita Appa-Appa dan Oppa-Oppa yang ada di sana.
Semua kisahku di MTsN 11 akan terukir lekat di hati terpatri jelas dalam memori.
I miss u all.
Semoga kalian senantiasa diberi kesehatan dan kebahagiaan.
Senin, 06 Januari 2025
Antara Aku, Menulis dan Gawai
Waktu kuliah dulu teman- teman sering menggodaku peternak virus. Tahun 2005 komputer masih nebeng yang ada hanya flashdisk. Internet juga hanya ada di tempat-tempat tertentu.
Namun ajaibnya pada masa itu aku bisa menyusun tiga draf novel. Dua draf aku kirimkan ke penerbit dan salah satunya aku masukkan ke ajang lomba menulis Dewan Kesenian Jakarta. Hampir tiap bulan aku kirimkan juga naskah cerpen ke majalah. Namun tak satu pun yang diterbitkan.
Meski begitu aku bahagia dan terus mencoba. Pada masa itu duduk seharian di depan komputer adalah salah satu cara mengisi kegabutan. Pada masa itu aku sering membayangkan menulis cerita sambil duduk-duduk di kafe seperti tokoh novel.
Dulu aku tak ambil pusing saat ada masalah dengan komputer. Sobat-sobatku dari teknik mesin akan siap sedia kurecoki dengan semua permasalahan. Mereka jugalah yang menjuluki aku si peternak virus. Padahal waktu itu aku sudah berteman dengan Mcafee dan Smadav.
Begitu selesai kuliah aku pulang kampung dan memiliki komputer sendiri. Untungnya saat itu komputerku tidak banyak memiliki masalah. Dua tahun berikutnya aku memiliki notebook dan kubawa setiap hari untuk mengajar karena ukurannya yang seperti buku tulis. Yang satu ini bermasalah di chargernya. Aku sampai 2x ganti charger sebelum akhirnya notebook ini bertukar dengan tab 3.
Saat punya tab 3 aku berharap bisa memiliki keyboardnya sehingga bisa bekerja seperti laptop. Namun keinginan itu tidak kesampaian. Tab 3 keburu matot. Akhirnya beralih lagi menjinjing laptop. Laptop putih yang kutempeli stiker Hello Kitty. Laptop yang menemaniku menempuh S2 sebelum akhirnya beralih ke laptop milik mama. Kini laptop putihku ku alihkan untuk menemani saudara sepupu yang sedang kuliah.
Permasalahanku dengan kaptop mama adalah baterai. Setelah beberapa lama akhirnya aku harus merogoh saku untuk baterai baru. Laptop itu pun kembali ke pemiliknya karena aku ingin laptop dengan RAM yang lebih tinggi.
Sebenarnya yang kuinginkan adalah tab S8 tapi yang kubeli malah si cantik Asus. Laptop cantik yang sangat kusayangi. Laptop yang sekarang sedang membuatku sedih karena layarnya tak menyala.
Memang aku jarang menjinjingnya lagi ke sekolah karena sudah ada tab s9. Namun aku masih menggunakannya di rumah untuk mengedit. Mengedit dengan laptop lebih cepat dan mudah, menurutku. Dan di musim hujan aku lebih memilih untuk tidak menjinjingnya ke sekolah.
Aku memang masih bisa bekerja karena ada tab S9. Namun aku tetap galau tentang laptop cantikku. Sampai tulisan ini dipublikasikan aku masih berada dalam kegalauan.
Rabu, 01 Januari 2025
Januari Bagiku
Januari.... Lagi...
Apa yang istimewa di bulan ini? Apa yang unik di bulan ini?
Bulan ini sampai jadi judul lagunya Glenn Fredly. Armand Maulana pun punya kisah istimewa di bulan ini. Salah satu besti di YPIB juga lahir di bulan ini.
Lalu apa makna Januari bagiku?
Yang jelas di bulan ini, di awal tahun 2022, aku kehilangan cinta pertamaku. 12 Januari 2022 adalah hari terakhir aku memeluknya. Lelaki yang menghadirkanku ke dunia. Lelaki yang selalu memberiku kekuatan. Lelaki yang sangat kucintai.
Masih jelas dalam ingatan kejadian hari itu. Berada sendirian di daerah orang, sibuk mengurusi acara studi tur. Sementara pikiran mengembara teringat yang tengah berjuang dengan sisa napasnya. Dengan langkah gontai aku menempuh jalan panjang menuju RS seraya berdoa pada Sang Pencipta agar masih dipertemukan dengannya untuk terakhir kali.
Sesampainya di RS, aku disambut oleh suamiku. Diajaknya aku untuk bertemu Bapak yang tengah menunggu. Aku langsung menemuinya. Kubisikan di telinganya "Pa, teteh tos dongkap." Bapak merespon dengan gerakan pupilnya. Kupeluk bapak sambil kuajak berdzikir. Dengan penuh keikhlasan kulepas kepergiannya. Kutemani sampai sisa napasnya. Kupeluk dia untuk yang terakhir kalinya.
Hari itu aku tidak menangis. Aku harus tegar demi ibu dan adik-adikku. Semua tanggung jawab bapak berpindah padaku. Banyak hal yang harus kuselesaikan.
Selama ini aku selalu berusaha mewujudkan harapan-harapannya. Bapak ingin aku kuliah di keguruan. Bapak ingin aku bekerja di instansi yang sama dengannya. Bapak ingin aku melampaui tingkat pendidikannya.
Aku bersyukur karena mampu memenuhi harapannya. Meski satu harapan belum terpenuhi hingga hari ini, Bapak ingin cucu. Mudah-mudahan Sang Pencipta juga mewujudkan harapan Bapak yang ini.
Bagiku harapan-harapan Bapak bukanlah beban. Apa yang menjadi harapannya adalah hal yang baik untukku. Aku yang cenderung tidak terlalu berambisi jadi memiliki keinginan untuk diwujudkan.
Bapak adalah penyemangat paling hebat untuk urusan pendidikan dan pekerjaan. Bapak sering berkata, "Tuntaskan pendidikanmu sampai jenjang tertinggi yang kamu mampu. Bapak mungkin tidak bisa mewarisimu dengan harta. Namun Bapak ingin mewarisimu dengan pendidikan. Agar kau mampu berdiri di kakimu sendiri."
Bapak mungkin sudah tak menemani langkahku lagi. Namun wejangannya, ajaran dan kasih sayangnya akan senantiasa menemaniku selamanya. I love you, pak, selalu dan selamanya.
Rabu, 18 Desember 2024
Keinginan Terlarang (4)
Waktu yang diperlukan nenek untuk menyiapkan tempat tinggal baru Clarisya ternyata sangat cepat. Dalam waktu tiga minggu saja apartemennya sudah siap dengan segala isinya. Clarisya bahkan hanya tinggal masuk. Nenek telah meminta orang-orangnya untuk memindahkan semua barang dari kamar Clarisya ke kamarnya yang baru saat Clarisya pergi mengantar bapak dan ibu ke desa.
Clarisya benar-benar takjub. Nenek selalu memberikan semua keinginannya bahkan terkadang melebihi yang dia harapkan. Kuncinya hanya tinggal meminta dan nenek akan segera menyiapkannya.
Clarisya menyimpan tasnya di samping tempat tidur lalu merebahkan diri. Pikirannya berkelana ke masa lalu. Masa paling bahagia dalam hidupnya.
"Claris, pacarmu ganteng ya?" Ine, teman sekelasnya, menjajari langkah Clarisya memasuki gerbang sekolah.
"Ih dia itu kakaknya, tahu." Nora, teman sebangku Clarisya, mengoreksi.
"Wah, boleh dong titip salam." Mata Ine berbinar-binar.
"Enggak boleh!" Clarisya melotot lalu berlari ke kelasnya.
Clarisya benci kalau ada perempuan yang tanya-tanya tentang abangnya. Dia sering ngambeuk kalau ada perempuan yang mencoba mendekati abangnya. Abangnya adalah miliknya. Titik tidak ada koma.
Orang mungkin akan berpikir Clarisya aneh. Dan Clarisya pun dulu memang merasa dirinya aneh. Namun sejak tahu kalau abangnya itu adalah anak dari sahabat mamanya, Clarisya merasa sangat lega. Hal itu pula yang membuat perasaan posesifnya. makin menjadi.
"Besok enggak usah anter aku lagi!" Clarisya masuk ke kamar abangnya yang sedang bermain gitar.
"Lho, kenapa. Sekolah kita kan tetanggaan. Kasihan papa kalau harus mengantar kamu padahal kamu bisa pergi denganku."
"Nanti banyak temanku yang nitip salam." Clarisya merengut dan abangnya tertawa.
"Kau cemburu ya!" Abangnya mengacak poni Clarisya.
"Enak saja." Clarisya berusaha menyingkirkan tangan abangnya dari poninya yang acak-acakan.
"Tenang saja. Selamanya aku adalah abdimu yang setia, wahai tuan putri." Abangnya menyimpan gitar lalu mengajak Clarisya turun ke ruang makan.
Di ruang makan Bunda sudah menanti mereka untuk makan malam. Hari ini mereka makan bertiga karena Papa ada jadwal operasi.
"Claris jangan nempel-nempel terus nanti abangmu enggak bakalan punya pacar!" Bunda pura-pura melotot saat melihat Claris digendong abangnya.
"Biarin!" Clarisya malah makin bergelayut manja di punggung Abangnya. "Bilang aja kalau Bunda iri karena papa enggak pernah lagi gendong bunda!" Clarisya mencibir.
"Ya deh. Puas-puasin aja manjanya. Sebentar lagi kan abangmu berangkat kuliah." Bunda tersenyum menggoda Clarisya.
Setiap teringat hal itu Clarisya kesal. Dia tahu tak mungkin melarang abangnya untuk meraih cita-cita. Namun perasaan takut kehilangan selalu menghantuinya.
Selesai makan Clarisya dan abangnya bermain ludo sambil mengobrol.
"Memangnya kalau mau jadi arsitek harus kuliah di Jogja ya? Di Bandung juga kan ada?"
"Abang kan dapat beasiswanya di sana."
"Memangnya papa enggak sanggup buat bayar kuliah."
"Abang ingin mengurangi beban papa dan Bunda. Sebentar lagi kamu kan masuk SMA."
"Aku SMA nya di Jogja aja, bagaimana?" Clarisya mengefip-ngedipkan mata.
"Ih jangan nanti papa dan bunda sedih kalau harus berjauhan dengan anak kesayangannya." Abangnya tersenyum.
Malam itu adalah terakhir kalinya mereka bermain ludo. Abangnya mulai sibuk dengan persiapan kuliah dan tidak punya banyak waktu untuk Clarisya. Sampai hari keberangkatannya ke Jogja mereka tidak banyak bicara.
"Apapun yang terjadi Fariz tak akan meninggalkan Claris." Abangnya memeluk Clarisya lalu naik ke kereta.
Clarisya hanya bisa menatap kepergiannya dengan mata berkaca-kaca didampingi Papa dan Bunda yang juga berkaca-kaca. Clarisya merasa sangat sedih. Seolah-olah dia tak akan melihat abangnya lagi.
Dan ketakutannya menjadi nyata.
Fariz tidak pernah kembali. Bahkan saat papa dan bunda meninggal dalam kecelakaan pun dia tidak muncul. Clarisya benar-benar kecewa dan sedih.
Clarisya benar-benar sebatang kara. Kedua orang tuanya adalah anak tunggal dan mereka sudah yatim piatu. Dia tidak tahu harus bersandar pada siapa. Dia hanya terpekur memandangi jasad kedua orang tuanya. Dia membeku.
"Jangan bersedih. Mulai sekarang aku yang akan mengurusmu!" Seorang perempuan yang telah berumur menghampirinya lalu menuntunnya untuk duduk. "Namaku Caroline. Orang-orang memanggilku Nenek Carol. Fariz mengirimku untuk menjagamu."
Mendengar nama Fariz disebut mata Clarisya kembali berbinar. "Aku ingin bertemu dengannya! Di mana dia?"
"Kau boleh meminta apapun kecuali bertemu dengan dia." Nenek Carol bicara dengan tegas.
"Mengapa? Mengapa harus seperti itu?"
"Ini perjanjian yang kami buat. Aku akan memenuhi semua permintaanmu kalau dia berjanji tidak akan menemuimu."
"Mengapa? Apakah dia marah padaku?"
"Inilah yang terbaik untuk kalian berdua. Semakin lama kalian bersama akan semakin sulit bagi kalian untuk saling melupakan."
"Mengapa kami harus saling melupakan?"
"Karena kalian terlarang untuk bersama!"
"Mengapa? Jelaskan!"
"Suatu hari kau akan tahu alasannya! Sekarang mari kita pulang. Kau harus bersiap menghadiri pemakaman orang tua mu."
Nenek Carol membawa Clarisya pulang. Dia mengenalkan Claris pada pasangan suami istri yang kemudian menjadi orang tua angkatnya. Mereka memperlakukan Clarisya dengan sangat baik. Mereka tetap sabar meski awal-awal pertemuan mereka Clarisya selalu bersikap tidak bersahabat.
"Heum... Aku harus menemui nenek untuk berterima kasih tentang apartemen ini!" Clarisya menarik napas dalam-dalam dan berusaha mengenyahkan semua kenangan masa lalu yang menyedihkan.
Baru saja dia hendak pergi keluar, Bi Imah datang untuk beres-beres. Dia mengatakan kalau nenek sedang tidak ada di rumah. Dan Nenek berpesan akan menghubungi Clarisya kalau urusannya sudah selesai.
Karena sudah terlanjur berdandan Clarisya pun tetap pergi ke luar. Dia pergi ke kafe favoritnya. Dia memeriksa pos el yang masuk dan membalasnya satu persatu. Dia begitu larut dengan kegiatannya sehingga tidak sadar kalau dari tadi ada yang sedang memperhatikannya.
"Selamat sore Claris!"
"Anda lagi! Betapa tidak beruntungnya saya." Claris segera merapikan laptopnya.
"Saya hanya ikut duduk di sini untuk menikmati kopi. Silahkan kalau Claris mau melanjutkan pekerjaan!"
"Saya tidak biasa kerja jika ada penonton." Clarisya mendengus kesal.
"Berarti Claris salah pilih tempat untuk bekerja."
"Apakah Anda sudah terbiasa mengomentari orang yang tidak di kenal?" Clarisya menatap Pria yang mengaku bernama Pras itu dengan tatapan setajam silet.
"Kamu terlalu sibuk dengan diri sendiri. Sehingga lupa kalau ini bukan pertemuan kita yang pertama." Pras tertawa kemudian kembali bicara, "Saya sering melihat Anda berlari di Sabuga. Saya juga sering melihat Anda duduk sendirian di Kafe ini."
"Anda penguntit ya?" Clarisya memicingkan mata. Dia menatap Pras lekat-lekat.
"Saya hanya seorang laki-laki yang kebetulan sering berpapasan dengan Anda tetapi tidak Anda sadari."
"Kata-kata Anda persis seperti mahasiswa-mahasiswa yang sering merayu saya."
"Saya tahu itu. Dan saya iri pada mereka bisa lebih sering melihat Anda."
"Dan seperti mereka, gombalan Anda pun tidak mempan untuk saya."
"Saya tidak sedang menggombal. Saya hanya mencoba mengajak Anda mengobrol."
Clarisya menghembuskan napas dengan kesal lalu kembali fokus dengan tugas-tugas yang dikirim mahasiswanya.
Pras tidak berbicara. Dia hanya terdiam menatap Clarisya. Dia juga tidak mengomel saat Clarisya merapikan laptopnya dan pergi begitu saja.
Keinginan Terlarang (3)
Clarisya berlari sekuat tenaga. Dia tidak ingin kalah. Dia tidak peduli kalau tubuhnya merasa letih. Akal sehatnya tertutupi rasa marah.
Clarisya paling malas kalau ada pria yang mengajaknya berkenalan. Dia tidak ingin berurusan dengan pria. Dia tidak ingin terluka.
"Hai...!" Pria bernama Pras melambaikan tangan dengan gembira saat Clarisya mendekati garis finish. "Jadi siapa namamu?" Pria itu memberikan air mineral yang masih tersegel.
"Clarisya!" Sembur Clarisya dengan marah.
"Boleh bertukar nomor ponsel?" Pria itu menjajari langkahnya sambil menyerahkan ponsel pintarnya.
"Kita belum saling mengenal, untuk apa bertukar nomor." Clarisya memelototi Pras.
"Justru karena itu. Aku ingin kita saling mengenal makanya bertukar nomor."
" Saya tak pernah memberikan nomor secara sembarangan." Clarisya berjalan cepat menuju parkiran.
"Baiklah!" Pras mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. "Ini kartu namaku. Kau boleh mengecek kantor tempatku bekerja." Pras tersenyum manis.
Clarisya mengambil kartu nama, memasukkannya ke saku lalu pergi menuju motornya.
Sesampainya di rumah. Clarisya langsung mengurung diri. Dia mengambil kotak musik berbentuk bola kristal dan mulai memainkannya. Musik dari lagu "You Are My Everything" pun mulai mengalun sendu.
"Apapun yang terjadi Fariz akan selalu bersama Claris." Kata-kata itu kembali terngiang di telinga Clarisya.
" Kau bohong! Pembohong!" Clarisya berteriak sambil memukul-mukul boneka Lumba-lumba besar yang jadi boneka favoritnya. Setelah puas berteriak dan memukul Clarisya pun pergi mandi.
Clarisya tahu setiap dia mengurung diri, ibu akan berdiri di depan pintunya dan menangis memanggil-manggil Clarisya. Sudah lama Clarisya tidak seperti ini. Namun, kehadiran pria tadi membangkitkan kenangan yang lama dipendamnya.
"Hari ini kita makan apa?" Clarisya langsung menemui ibu di dapur begitu selesai mandi.
"Ayam bakar. "Sahut ibu sambil tersenyum. Matanya terlihat sembab dan dia berusaha terlihat biasa saja.
"Ada yang bisa kubantu?" Clarisya menawarkan diri.
"Tolong keluarkan pie susu dari oven." Ibu bicara sambil tersenyum.
"Ada pie susu juga. Wow benar-benar hebat." Clarisya langsung menuju oven. Dia mengeluarkan pie susu dan menyimpannya di meja lalu menungguinya sampai dingin.
Dia selalu suka pie susu. Dia tak pernah bisa menahan diri kalau melihat pie susu. Kekesalannya akan sedikit berkurang kalau dia makan pie susu.
Keinginan Terlarang (2)
Clarisya mungkin tak bisa sepenuhnya mandiri. Namun untuk saat ini semuanya lebih dari cukup.
Setelah pulang dari nenek Clarisya kembali bicara dengan bapak dan ibu. Mereka terlihat bahagia sekaligus sedih.
"Kau telah mewujudkan mimpi kami untuk jadi orang tua. Kau adalah putri terbaik yang Tuhan kirimkan pada kami." Bapak tersenyum pada Clarisya.
"Kalian juga orang tua terbaik yang bisa dimiliki seorang anak."
"Bapak sudah menghubungi saudara di desa. Kami akan pergi dalam waktu dua sampai tiga minggu." Ibu berusaha tersenyum meski hatinya sedih.
"Kita masih punya waktu untuk bersama-sama. Dan aku akan mengunjungi kalian di sela-sela waktu senggangku."
" Kami akan sangat bahagia menantinya. Dan Claris, kami akan sangat senang mendengar bila ada ... " Bapak berusaha mengosongkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa sesak karena ibu memelototinya.
" Claris, impian orang tua adalah menikahkan putrinya dengan orang yang baik saat mereka masih hidup." Ibu memperhalus kata-kata bapak.
Clarisya tertawa karena melihat bapak merengut. Clarisya selalu berharap bisa seperti ibu dan bapak yang mencintai satu sama lain. Harapan Clarisya itu sepertinya tidak akan terwujud dalam waktu dekat.
Clarisya selalu menjauh bila ada pria yang tertarik padanya. Dia akan langsung membentengi hatinya dengan banyak pemikiran. Dia hanya ingin jatuh cinta pada satu pria. Dan itu untuk selamanya.
Akankah cintanya menjadi nyata? Akankah ia bisa memiliki pernikahan bahagia seperti ibu dan bapak? Semua itu selalu berputar di kepalanya.
Sudah sepuluh tahun berlalu tapi aku masih merindukannya. Aku masih berharap dan mungkin akan terus berharap. Dia masih hidup dan aku yakin dia akan kembali padaku.
Clarisya bangkit dari duduknya. Dia minta izin untuk pergi ke luar. Dia mengganti pakaiannya dengan kostum olahraga lalu pergi ke Sabuga.
Sesampainya di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), dia langsung siap-siap untuk berlari mengitari lintasan.
" Hai, ketemu lagi!" Seorang pria bertubuh atletis berusaha menjajari langkahnya.
Clarisya tersenyum samar lalu mulai peregangan.
" Hai, aku Pras. Boleh tahu siapa namamu?" Pria itu memandangi Clarisya. Clarisya hanya menggedikkan bahu. "Baiklah, bagaimana kalau kita bertanding?" Lanjut Pria itu, tidak pantang menyerah.
"Boleh. Kalau saya menang Anda tidak akan mengganggu saya lagi." Clarisya sangat percaya diri.
"Dan kalau saya menang. Kamu akan memberitahu namamu." Pria itu tersenyum lebar.
Keinginan Terlarang (1)
Rabu, 06 November 2024
Kondusivitas Mood
Mengajar di kelas-kelas istimewa memerlukan mood yang bagus. Namun hal itu terkadang sulit diwujudkan. Terlebih lagi saat kelas istimewa itu dihuni oleh 30 remaja yang sedang asyik mencari perhatian dan jati diri.
Tiga hari dalam satu minggu saya harus menjaga mood dengan baik. Hal itu harus saya lakukan agar bisa menyelesaikan seluruh rangkaian jadwal mengajar di hari-hari itu. Hal itu bisa sering bisa dilakukan bila masih berada di jam-jam awal. Lain lagi ceritanya bila masuk di jam terakhir dan cuacanya sangat panas. Beberapa kali saat masuk di jam akhir dengan cuaca yang panas, mood saya rusak dan akhirnya mengomel panjang lebar.😔😔
Saya bukan orang yang bisa bersikap diam atas semua kegaduhan yang mereka buat. Saya tidak bisa tetap tersenyum dan melenggang begitu saja. Itu bukan gaya saya.💃
Kata celembeng dan cerewet lebih sering dilekatkan pada nama saya, dibandingkan kata pendiam. Orang-orang justru akan merasa heran jika saya hanya diam dan tidak bicara. Mereka akan mengira saya sakit padahal sehat-sehat saja. 😎
Jika menilik pada struktur alur semua kecerewetan saya itu masih berada dalam tahap komplikasi (masalah mulai bertumpuk) belum sampai pada tahap klimaks (puncak masalah). Tahap klimaks dari kekesalan dan kemarahan saya adalah diam dan tidak peduli. Saya sering menyebutnya "The Mingkem Show". 😏
Untuk menghadapi kelas istimewa saya sering menyiapkan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik). Hal ini saya lakukan agar mereka dapat beraktivitas dengan teman kelompoknya sehingga tidak terlalu berisik. Meski LKPD yang saya berikan terkadang jawabannya mirip-mirip dengan temannya di kelompok lain.
Setiap selesai mengajar di kelas istimewa rasa-rasanya beban di hati berkurang. Apalagi bila mood saya tetap baik setelah keluar dari sana. Hal ini sangat baik untuk saya. Masih ada kelas lain yang harus saya masuki. Saya tak ingin mood yang rusak membuat pembelajaran di kelas lain terkena imbas.
Di sebuah kelas istimewa pun masih ada anak yang memiliki semangat belajar. Ada satu anak yang membuat saya selalu berusaha untuk menjaga kondusivitas mood. Anak itu tak pernah berkomentar. Akan tetapi, dari wajahnya tampak kekesalan dan kekecewaan. Dia akan menghela napas berat dan hatinya mungkin berkata "heum lagi-lagi ibu marah, lagi-lagi ibu tantrum". 😆
Mengajar di kelas istimewa memang bukan pertama kalinya bagi saya. Selagi masih jadi guru honor pun saya sudah terbiasa diberikan jadwal di kelas istimewa. Namun generasi sekarang adalah generasi yang secara mental jauh lebih manja dibanding generasi sebelumnya. Generasi sekarang cenderung terlalu dalam ketika menanggapi sesuatu. Daya juang mereka jauh lebih rendah. 😢
Remaja sekarang terlalu dininabobokan dengan kecanggihan teknologi. Mereka juga lebih mudah mengakses internet sehingga bahasa-bahasa viral lebih mudah diserap dibandingkan dengan bahasa-bahasa formal. Mereka sering mengucapkan kata-kata yang sedang viral itu meski kadang tidak tahu artinya.
"Pick me", "mewing", "tobrut" kata-kata itu sering mereka ucapkan. Entah itu karena mereka ingin dianggap keren atau menuruti teman. Sebagian dari mereka kadang tidak tahu arti kata-kata itu. Tak jarang kata-kata viral itu menjadi permasalahan di antara para remaja. Belum lagi masalah panggil memanggil nama orang tua. Tak jarang saya menerima pengaduan "Bu si A nyebut-nyebut nama bapak saya, si B menghina ayah saya".
Kalau sudah seperti itu saya hanya mengelus dada dan memegang kepala. Bukan mau triping apalagi ajeb-ajeb. Hal itu saya lakukan untuk membisiki diri saya supaya bersabar. Sayalah orang dewasa di antara mereka. Masa saya harus ikut-ikutan kesal dengan kebocahan mereka.
Rekan-rekan terkadang menggoda saat melihat saya baru keluar dari kelas itu. Karena kelas istimewa itu adalah salah satu tempat menguji kesabaran. Di waktu-waktu istirahat atau senggang kami pun sering bertukar cerita dan saling menertawakan kekesalan masing-masing. Hal itu cukup untuk jadi obat bagi kami para pengajar di kelas istimewa.
Harapan saya untuk kelas istimewa tidak banyak. Saya hanya ingin tetap membersamai mereka hingga pembelajaran di tahun ajaran ini selesai dan tetap sabar. Meski untuk itu usaha saya harus lebih banyak dan tentunya stok sabar saya harus sering diisi ulang. Mudah-mudahan mereka jadi anak-anak yang soleh dan soleha. 💪
41
Apa yang dirasa saat umur sudah sampai di angka ini? Yang jelas sekarang semua tak lagi sama. Tak ada lagi mama yang ...
-
Namaku Sari, tepatnya Benang Sari. Aku seorang siswa di sebuah sekolah. Ayahku guru biologi dan ibuku pecinta bunga, karena it...
-
Rona merah itu kembali mengiringi senyuman manis yang dulu sering muncul di wajahnya. Semuanya karena Artemis. Teman SMA yang ...


