Senin, 06 Januari 2025

Antara Aku, Menulis dan Gawai

        Waktu kuliah dulu teman- teman sering menggodaku peternak virus. Tahun 2005 komputer masih nebeng yang ada hanya flashdisk. Internet juga hanya ada di tempat-tempat tertentu. 

       Namun ajaibnya pada masa itu aku bisa menyusun tiga draf novel. Dua draf aku kirimkan ke penerbit dan salah satunya aku masukkan ke ajang lomba menulis Dewan Kesenian Jakarta.  Hampir tiap bulan aku kirimkan juga naskah cerpen ke majalah. Namun tak satu pun yang diterbitkan.

        Meski begitu aku bahagia dan terus mencoba. Pada masa itu duduk seharian di depan komputer adalah salah satu cara mengisi kegabutan. Pada masa itu aku sering membayangkan menulis cerita sambil duduk-duduk di kafe seperti tokoh novel.

         Dulu aku tak ambil pusing saat ada masalah dengan komputer. Sobat-sobatku dari teknik mesin akan siap sedia kurecoki dengan semua permasalahan. Mereka jugalah yang menjuluki aku si peternak virus. Padahal waktu itu aku sudah berteman dengan Mcafee dan Smadav.

      Begitu selesai kuliah aku pulang kampung dan memiliki komputer sendiri. Untungnya saat itu komputerku tidak banyak memiliki masalah. Dua tahun berikutnya aku memiliki notebook dan kubawa setiap hari untuk mengajar karena ukurannya yang seperti buku tulis. Yang satu ini bermasalah di chargernya. Aku sampai 2x ganti charger sebelum akhirnya notebook ini bertukar dengan tab 3.

      Saat punya tab 3 aku berharap bisa memiliki keyboardnya sehingga bisa bekerja seperti laptop. Namun keinginan itu tidak kesampaian. Tab 3 keburu matot. Akhirnya beralih lagi menjinjing laptop. Laptop putih yang kutempeli stiker Hello Kitty. Laptop yang menemaniku menempuh S2 sebelum akhirnya beralih ke laptop milik mama. Kini laptop putihku ku alihkan untuk menemani saudara sepupu yang sedang kuliah.

       Permasalahanku dengan kaptop mama adalah baterai. Setelah beberapa lama akhirnya aku harus merogoh saku untuk baterai baru. Laptop itu pun kembali ke pemiliknya karena aku ingin laptop dengan RAM yang lebih tinggi.

         Sebenarnya yang kuinginkan adalah tab S8 tapi yang kubeli malah si cantik Asus. Laptop cantik yang sangat kusayangi. Laptop yang sekarang sedang membuatku sedih karena layarnya tak menyala. 
         Memang aku jarang menjinjingnya lagi ke sekolah karena sudah ada tab s9. Namun aku masih menggunakannya di rumah untuk mengedit. Mengedit dengan laptop lebih cepat dan mudah, menurutku. Dan di musim hujan aku lebih memilih untuk tidak menjinjingnya ke sekolah.

         Aku memang masih bisa bekerja karena ada tab S9. Namun aku tetap galau tentang laptop cantikku. Sampai tulisan ini dipublikasikan aku masih berada dalam kegalauan. 

Rabu, 01 Januari 2025

Januari Bagiku

       Januari.... Lagi...

       Apa yang istimewa di bulan ini? Apa yang unik di bulan ini?

       Bulan ini sampai jadi judul lagunya Glenn Fredly. Armand Maulana pun punya kisah istimewa di bulan ini. Salah satu besti di YPIB juga lahir di bulan ini. 

       Lalu apa makna Januari bagiku?

      Yang jelas di bulan ini, di awal tahun 2022, aku kehilangan cinta pertamaku. 12 Januari 2022 adalah hari terakhir aku memeluknya. Lelaki yang menghadirkanku ke dunia. Lelaki yang selalu memberiku kekuatan. Lelaki yang sangat kucintai.

      Masih jelas dalam ingatan kejadian hari itu. Berada sendirian di daerah orang, sibuk mengurusi acara studi tur. Sementara pikiran mengembara teringat yang tengah berjuang dengan sisa napasnya. Dengan langkah gontai aku menempuh jalan panjang menuju RS seraya berdoa pada Sang Pencipta agar masih dipertemukan dengannya untuk terakhir kali.

       Sesampainya di RS, aku disambut oleh suamiku. Diajaknya aku untuk bertemu Bapak yang tengah menunggu. Aku langsung menemuinya. Kubisikan di telinganya "Pa, teteh tos dongkap." Bapak merespon dengan gerakan pupilnya. Kupeluk bapak sambil kuajak berdzikir. Dengan penuh keikhlasan kulepas kepergiannya. Kutemani sampai sisa napasnya. Kupeluk dia untuk yang terakhir kalinya. 

       Hari itu aku tidak menangis. Aku harus tegar demi ibu dan adik-adikku. Semua tanggung jawab bapak berpindah padaku. Banyak hal yang harus kuselesaikan.

        Selama ini aku selalu berusaha mewujudkan harapan-harapannya. Bapak ingin aku kuliah di keguruan. Bapak ingin aku bekerja di instansi yang sama dengannya. Bapak ingin aku melampaui tingkat pendidikannya. 

        Aku bersyukur karena mampu memenuhi harapannya. Meski satu harapan belum terpenuhi hingga hari ini, Bapak ingin cucu. Mudah-mudahan Sang Pencipta juga mewujudkan harapan Bapak yang ini.

        Bagiku harapan-harapan Bapak bukanlah beban. Apa yang menjadi harapannya adalah hal yang baik untukku. Aku yang cenderung tidak terlalu berambisi jadi memiliki keinginan untuk diwujudkan. 

        Bapak adalah penyemangat paling hebat untuk urusan pendidikan dan pekerjaan. Bapak sering berkata, "Tuntaskan pendidikanmu sampai jenjang tertinggi yang kamu mampu. Bapak mungkin tidak bisa mewarisimu dengan harta. Namun Bapak ingin mewarisimu dengan pendidikan. Agar kau mampu berdiri di kakimu sendiri."

        Bapak mungkin sudah tak menemani langkahku lagi. Namun wejangannya, ajaran dan kasih sayangnya akan senantiasa menemaniku selamanya. I love you, pak, selalu dan selamanya.

Rabu, 18 Desember 2024

Keinginan Terlarang (4)

        Waktu yang diperlukan nenek untuk menyiapkan tempat tinggal baru Clarisya ternyata sangat cepat. Dalam waktu tiga minggu saja apartemennya sudah siap dengan segala isinya. Clarisya bahkan hanya tinggal masuk. Nenek telah meminta orang-orangnya untuk memindahkan semua barang dari kamar Clarisya ke kamarnya yang baru saat Clarisya pergi mengantar bapak dan ibu ke desa.

        Clarisya benar-benar takjub. Nenek selalu memberikan semua keinginannya bahkan terkadang melebihi yang dia harapkan. Kuncinya hanya tinggal meminta dan nenek akan segera menyiapkannya.

       Clarisya menyimpan tasnya di samping tempat tidur lalu merebahkan diri. Pikirannya berkelana ke masa lalu. Masa paling bahagia dalam hidupnya.

       "Claris, pacarmu ganteng ya?" Ine, teman sekelasnya, menjajari langkah Clarisya memasuki gerbang sekolah.

       "Ih dia itu kakaknya, tahu." Nora, teman sebangku Clarisya, mengoreksi.

        "Wah, boleh dong titip salam." Mata Ine berbinar-binar.

       "Enggak boleh!" Clarisya melotot lalu berlari ke kelasnya.

        Clarisya benci kalau ada perempuan yang tanya-tanya tentang abangnya. Dia sering ngambeuk kalau ada perempuan yang mencoba mendekati abangnya. Abangnya adalah miliknya. Titik tidak ada koma.

       Orang mungkin akan berpikir Clarisya aneh. Dan Clarisya pun dulu memang merasa dirinya aneh. Namun sejak tahu kalau abangnya itu adalah anak dari sahabat mamanya, Clarisya merasa sangat lega. Hal itu pula yang membuat perasaan posesifnya. makin menjadi.

       "Besok enggak usah anter aku lagi!" Clarisya masuk ke kamar abangnya yang sedang bermain gitar.

       "Lho, kenapa. Sekolah kita kan tetanggaan. Kasihan papa kalau harus mengantar kamu padahal kamu bisa pergi denganku."

      "Nanti banyak temanku yang nitip salam." Clarisya merengut dan abangnya tertawa.

       "Kau cemburu ya!" Abangnya mengacak poni Clarisya.

        "Enak saja." Clarisya berusaha menyingkirkan tangan abangnya dari poninya yang acak-acakan.

       "Tenang saja. Selamanya aku adalah abdimu yang setia, wahai tuan putri." Abangnya menyimpan gitar lalu mengajak Clarisya turun ke ruang makan.

       Di ruang makan Bunda sudah menanti mereka untuk makan malam. Hari ini mereka makan bertiga karena Papa ada jadwal operasi.

       "Claris jangan nempel-nempel terus nanti abangmu enggak bakalan punya pacar!" Bunda pura-pura melotot saat melihat Claris digendong abangnya.

       "Biarin!" Clarisya malah makin bergelayut manja di punggung Abangnya. "Bilang aja kalau Bunda iri karena papa enggak pernah lagi gendong bunda!" Clarisya mencibir.

       "Ya deh. Puas-puasin aja manjanya. Sebentar lagi kan abangmu berangkat kuliah." Bunda tersenyum menggoda Clarisya.

       Setiap teringat hal itu Clarisya kesal. Dia tahu tak mungkin melarang abangnya untuk meraih cita-cita. Namun perasaan takut kehilangan selalu menghantuinya.

        Selesai makan Clarisya dan abangnya bermain ludo sambil mengobrol.

       "Memangnya kalau mau jadi arsitek harus kuliah di Jogja ya? Di Bandung juga kan ada?"

       "Abang kan dapat beasiswanya di sana."

       "Memangnya papa enggak sanggup buat bayar kuliah."

       "Abang ingin mengurangi beban papa dan Bunda. Sebentar lagi kamu kan masuk SMA."

      "Aku SMA nya di Jogja aja, bagaimana?" Clarisya mengefip-ngedipkan mata.

      "Ih jangan nanti papa dan bunda sedih kalau harus berjauhan dengan anak kesayangannya." Abangnya tersenyum.

        Malam itu adalah terakhir kalinya mereka bermain ludo. Abangnya mulai sibuk dengan persiapan kuliah dan tidak punya banyak waktu untuk Clarisya. Sampai hari keberangkatannya ke Jogja mereka tidak banyak bicara.

       "Apapun yang terjadi Fariz tak akan meninggalkan Claris." Abangnya memeluk Clarisya lalu naik ke kereta.

        Clarisya hanya bisa menatap kepergiannya dengan mata berkaca-kaca didampingi Papa dan Bunda yang juga berkaca-kaca. Clarisya merasa sangat sedih. Seolah-olah dia tak akan melihat abangnya lagi.

       Dan ketakutannya menjadi nyata.

Fariz tidak pernah kembali. Bahkan saat papa dan bunda meninggal dalam kecelakaan pun dia tidak muncul. Clarisya benar-benar kecewa dan sedih.

       Clarisya benar-benar sebatang kara. Kedua orang tuanya adalah anak tunggal dan mereka sudah yatim piatu. Dia tidak tahu harus bersandar pada siapa. Dia hanya terpekur memandangi jasad kedua orang tuanya. Dia membeku.

       "Jangan bersedih. Mulai sekarang aku yang akan mengurusmu!" Seorang perempuan yang telah berumur menghampirinya lalu menuntunnya untuk duduk. "Namaku Caroline. Orang-orang memanggilku Nenek Carol. Fariz mengirimku untuk menjagamu."

       Mendengar nama Fariz disebut mata Clarisya kembali berbinar. "Aku ingin bertemu dengannya! Di mana dia?"

        "Kau boleh meminta apapun kecuali bertemu dengan dia." Nenek Carol bicara dengan tegas.

        "Mengapa? Mengapa harus seperti itu?"

        "Ini perjanjian yang kami buat. Aku akan memenuhi semua permintaanmu kalau dia berjanji tidak akan menemuimu."

        "Mengapa? Apakah dia marah padaku?"

        "Inilah yang terbaik untuk kalian berdua. Semakin lama kalian bersama akan semakin sulit bagi kalian untuk saling melupakan."

        "Mengapa kami harus saling melupakan?"

        "Karena kalian terlarang untuk bersama!"

        "Mengapa? Jelaskan!"

        "Suatu hari kau akan tahu alasannya! Sekarang mari kita pulang. Kau harus bersiap menghadiri pemakaman orang tua mu."

        Nenek Carol membawa Clarisya pulang. Dia mengenalkan Claris pada pasangan suami istri yang kemudian menjadi orang tua angkatnya. Mereka memperlakukan Clarisya dengan sangat baik. Mereka tetap sabar meski awal-awal pertemuan mereka Clarisya selalu bersikap tidak bersahabat.

       "Heum... Aku harus menemui nenek untuk berterima kasih tentang apartemen ini!" Clarisya menarik napas dalam-dalam dan berusaha mengenyahkan semua kenangan masa lalu yang menyedihkan.

        Baru saja dia hendak pergi keluar, Bi Imah datang untuk beres-beres. Dia mengatakan kalau nenek sedang tidak ada di rumah. Dan Nenek berpesan akan menghubungi Clarisya kalau urusannya sudah selesai.

        Karena sudah terlanjur berdandan Clarisya pun tetap pergi ke luar. Dia pergi ke kafe favoritnya. Dia memeriksa pos el yang masuk dan membalasnya satu persatu. Dia begitu larut dengan kegiatannya sehingga tidak sadar kalau dari tadi ada yang sedang memperhatikannya.

        "Selamat sore Claris!"

        "Anda lagi! Betapa tidak beruntungnya saya." Claris segera merapikan laptopnya.

        "Saya hanya ikut duduk di sini untuk menikmati kopi. Silahkan kalau Claris mau melanjutkan pekerjaan!"

        "Saya tidak biasa kerja jika ada penonton." Clarisya mendengus kesal.

        "Berarti Claris salah pilih tempat untuk bekerja."

        "Apakah Anda sudah terbiasa mengomentari orang yang tidak di kenal?" Clarisya menatap Pria yang mengaku bernama Pras itu dengan tatapan setajam silet.

        "Kamu terlalu sibuk dengan diri sendiri. Sehingga lupa kalau ini bukan pertemuan kita yang pertama." Pras tertawa kemudian kembali bicara, "Saya sering melihat Anda berlari di Sabuga. Saya juga sering melihat Anda duduk sendirian di Kafe ini."

       "Anda penguntit ya?" Clarisya memicingkan mata. Dia menatap Pras lekat-lekat.

        "Saya hanya seorang laki-laki yang kebetulan sering berpapasan dengan Anda tetapi tidak Anda sadari."

        "Kata-kata Anda persis seperti mahasiswa-mahasiswa yang sering merayu saya."

        "Saya tahu itu. Dan saya iri pada mereka bisa lebih sering melihat Anda."

       "Dan seperti mereka, gombalan Anda pun tidak mempan untuk saya."

        "Saya tidak sedang menggombal. Saya hanya mencoba mengajak Anda mengobrol."

        Clarisya menghembuskan napas dengan kesal lalu kembali fokus dengan tugas-tugas yang dikirim mahasiswanya.

        Pras tidak berbicara. Dia hanya terdiam menatap Clarisya. Dia juga tidak mengomel saat Clarisya merapikan laptopnya dan pergi begitu saja.


Keinginan Terlarang (3)

 Clarisya berlari sekuat tenaga. Dia tidak ingin kalah. Dia tidak peduli kalau tubuhnya merasa letih. Akal sehatnya tertutupi rasa marah.

        Clarisya paling malas kalau ada pria yang mengajaknya berkenalan. Dia tidak ingin berurusan dengan pria. Dia tidak ingin terluka.

        "Hai...!" Pria bernama Pras melambaikan tangan dengan gembira saat Clarisya mendekati garis finish. "Jadi siapa namamu?" Pria itu memberikan air mineral yang masih tersegel.

        "Clarisya!" Sembur Clarisya dengan marah.

        "Boleh bertukar nomor ponsel?" Pria itu menjajari langkahnya sambil menyerahkan ponsel pintarnya.

        "Kita belum saling mengenal, untuk apa bertukar nomor." Clarisya memelototi Pras.

        "Justru karena itu. Aku ingin kita saling mengenal makanya bertukar nomor."

        " Saya tak pernah memberikan nomor secara sembarangan." Clarisya berjalan cepat menuju parkiran.

       "Baiklah!" Pras mengeluarkan kartu nama dari dompetnya. "Ini kartu namaku. Kau boleh mengecek kantor tempatku bekerja." Pras tersenyum manis.

        Clarisya mengambil kartu nama, memasukkannya ke saku lalu pergi menuju motornya.

        Sesampainya di rumah. Clarisya langsung mengurung diri. Dia mengambil kotak musik berbentuk bola kristal dan mulai memainkannya. Musik dari lagu "You Are My Everything" pun mulai mengalun sendu.

        "Apapun yang terjadi Fariz akan selalu bersama Claris." Kata-kata itu kembali terngiang di telinga Clarisya.

        " Kau bohong! Pembohong!" Clarisya berteriak sambil memukul-mukul boneka Lumba-lumba besar yang jadi boneka favoritnya. Setelah puas berteriak dan memukul Clarisya pun pergi mandi.

        Clarisya tahu setiap dia mengurung diri, ibu akan berdiri di depan pintunya dan menangis memanggil-manggil Clarisya. Sudah lama Clarisya tidak seperti ini. Namun, kehadiran pria tadi membangkitkan kenangan yang lama dipendamnya.

        "Hari ini kita makan apa?" Clarisya langsung menemui ibu di dapur begitu selesai mandi.

        "Ayam bakar. "Sahut ibu sambil tersenyum. Matanya terlihat sembab dan dia berusaha terlihat biasa saja.

        "Ada yang bisa kubantu?" Clarisya menawarkan diri.

        "Tolong keluarkan pie susu dari oven." Ibu bicara sambil tersenyum.

        "Ada pie susu juga. Wow benar-benar hebat." Clarisya langsung menuju oven. Dia mengeluarkan pie susu dan menyimpannya di meja lalu menungguinya sampai dingin.

         Dia selalu suka pie susu. Dia tak pernah bisa menahan diri kalau melihat pie susu. Kekesalannya akan sedikit berkurang kalau dia makan pie susu.


Keinginan Terlarang (2)

 Clarisya mungkin tak bisa sepenuhnya mandiri. Namun untuk saat ini semuanya lebih dari cukup.

        Setelah pulang dari nenek Clarisya kembali bicara dengan bapak dan ibu. Mereka terlihat bahagia sekaligus sedih.

        "Kau telah mewujudkan mimpi kami untuk jadi orang tua. Kau adalah putri terbaik yang Tuhan kirimkan pada kami." Bapak tersenyum pada Clarisya.

       "Kalian juga orang tua terbaik yang bisa dimiliki seorang anak."

        "Bapak sudah menghubungi saudara di desa. Kami akan pergi dalam waktu dua sampai tiga minggu." Ibu berusaha tersenyum meski hatinya sedih.

        "Kita masih punya waktu untuk bersama-sama. Dan aku akan mengunjungi kalian di sela-sela waktu senggangku."

        " Kami akan sangat bahagia menantinya. Dan Claris, kami akan sangat senang mendengar bila ada ... " Bapak berusaha mengosongkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa sesak karena ibu memelototinya.

        " Claris, impian orang tua adalah menikahkan putrinya dengan orang yang baik saat mereka masih hidup." Ibu memperhalus kata-kata bapak.

        Clarisya tertawa karena melihat bapak merengut. Clarisya selalu berharap bisa seperti ibu dan bapak yang mencintai satu sama lain. Harapan Clarisya itu sepertinya tidak akan terwujud dalam waktu dekat.

        Clarisya selalu menjauh bila ada pria yang tertarik padanya. Dia akan langsung membentengi hatinya dengan banyak pemikiran. Dia hanya ingin jatuh cinta pada satu pria. Dan itu untuk selamanya.

        Akankah cintanya menjadi nyata? Akankah ia bisa memiliki pernikahan bahagia seperti ibu dan bapak? Semua itu selalu berputar di kepalanya.

       Sudah sepuluh tahun berlalu tapi aku masih merindukannya. Aku masih berharap dan mungkin akan terus berharap. Dia masih hidup dan aku yakin dia akan kembali padaku.

        Clarisya bangkit dari duduknya. Dia minta izin untuk pergi ke luar. Dia mengganti pakaiannya dengan kostum olahraga lalu pergi ke Sabuga.

        Sesampainya di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), dia langsung siap-siap untuk berlari mengitari lintasan.

        " Hai, ketemu lagi!" Seorang pria bertubuh atletis berusaha menjajari langkahnya.

       Clarisya tersenyum samar lalu mulai peregangan.

        " Hai, aku Pras. Boleh tahu siapa namamu?" Pria itu memandangi Clarisya. Clarisya hanya menggedikkan bahu. "Baiklah, bagaimana kalau kita bertanding?" Lanjut Pria itu, tidak pantang menyerah.

        "Boleh. Kalau saya menang Anda tidak akan mengganggu saya lagi." Clarisya sangat percaya diri.

        "Dan kalau saya menang. Kamu akan memberitahu namamu." Pria itu tersenyum lebar.


Keinginan Terlarang (1)

       Clarisya boleh minta apapun pada ibu dan ayah angkatnya, kecuali satu. Satu hal yang paling diinginkannya tapi tak akan pernah ia dapatkan.
       Sejak orang tuanya meninggal Clarisya tinggal bersama ibu dan bapak angkat. Keduanya adalah orang yang dipilih oleh Nenek. Bukan Nenek Clarisya tentunya. Namun, dia meminta Clarisya menganggapnya begitu.
       Secara material Clarisya hidup serba berkecukupan. Dia tidak perlu memikirkan apapun. Dia bahkan boleh meminta apa saja kecuali satu hal. Itulah perjanjian yang dibuatnya dengan nenek.
      Clarisya tak pernah menunjukkan rasa sedihnya di hadapan ibu dan bapak angkatnya. Dia selalu terlihat tegar dan ceria.
        "Aku sudah dewasa sekarang. Sudah saatnya aku meninggalkan kalian." Clarisya memandang ibu dan bapak yang sudah merawatnya selama hampir sepuluh tahun.
       "Mengapa Claris harus pergi? Apakah kami berbuat sesuatu yang salah?" Ibu menatap Clarisya dengan sedih.
        Clarisya menggenggam tangan Ibu lalu bicara padanya, "Tidak tentu saja tidak. Kalian sudah terlalu baik padaku. Aku ingin hidup mandiri, Bu, Pak!" Clarisya menatap bapak dan ibu bergantian.
        "Nenek Carol pasti tidak akan mengizinkan." Bapak menatap Clarisya dengan sendu.
       "Claris akan bicara baik-baik pada nenek." Clarisya berusaha menenangkan bapak. "Sudah saatnya ibu dan bapak menikmati masa tua kalian." Clarisya bicara sambil meremas tangan ibu. "Bukankah kalian sangat ingin tinggal di desa dan menikmati masa tua?" Clarisya mengingatkan mereka pada impian yang pernah mereka ceritakan. "Claris tidak akan melupakan kalian. Claris ingin kalian mewujudkan mimpi yang sempat tertunda. Claris akan tetap mengunjungi kalian."
       "Iya. Kami tahu itu." Bapak tersenyum lalu memegang bahu ibu. "Mungkin memang sudah saatnya kita membiarkan putri kita hidup mandiri. Kita tidak kehilangan dia. Kita hanya memberinya ruang yang lebih luas untuk berkembang." Bapak mengelus pundak ibu dengan penuh sayang.
       Mata Clarisya berkaca-kaca melihat bibir ibu bergetar menahan tangis. Namun, dia harus kuat. Dia tak boleh terlalu lama menahan mereka untuk mewujudkan mimpi. Sudah terlalu lama mereka berkorban untuknya.
       "Hari ini Claris akan bicara pada nenek. Claris akan berusaha meyakinkannya."
        Clarisya memeluk ibu dan bapak bergantian kemudian bangkit untuk pergi ke kamarnya dan berganti pakaian. Dia harus membuat nenek terkesan. Dia pun memutuskan untuk memakai gaun berwarna biru keabuan yang dibelikan nenek untuknya.
        Sebelum bicara dengan ibu dan bapak dia sudah menyiapkan pisang bolen untuk nenek. Nenek sangat suka makanan itu dan Clarisya sengaja membuatnya untuk bernegoisasi.
       Pak Ali, kepala pelayan di rumah nenek, menyambutnya dengan ramah saat dia datang. Pak Ali bilang nenek sedang minum teh di teras belakang. Clarisya pun langsung pergi menemui nenek setelah meninta Pak Ali memindahkan pisang bolen ke piring.
        "Selamat siang!" Clarisya mencium punggung tangan nenek, menyimpan pisang bolen di meja dan duduk di kursi di hadapan nenek.
        "Kau pasti menginginkan sesuatu!" Nenek menyipitkan mata dan memandangi pisang bolen di hadapannya.
        "Nenek memang mengerti aku." Clarisya berdecak kagum.
        "Bagaimana pekerjaanmu?" Nenek memandangi Clarisya dengan penuh selidik.
       "Lancar. Aku senang bisa jadi dosen." Clarisya tersenyum.
       "Baguslah. Kukira kau akan berakhir jadi tukang jahit atau tukang kue." Nenek tertawa.
       "Nenek sendiri yang bilang perempuan itu harus punya hobi yang berguna. "
       "Kau benar." Nenek meminum tehnya lalu mulai memakan pisang bolen mini yang dibawa Clarisya. "Kali ini apa yang ingin kau negosiasikan?" Nenek menatap tajam. Tatapannya membuat bulu kuduk Clarisya meremang.
        "Claris mau tinggal sendiri. Ibu dan bapak akan pulang kampung."
        "Memang sudah saatnya kau mandiri." Nenek kembali meminum tehnya. "Lalu kau mau tinggal di mana?"
        "Di dekat kampus. Mungkin juga di perumahan dosen."
        "Jangan! Aku setujui keinginanmu dengan syarat.... "
        "Apa syaratnya?" Clarisya tahu nenek tak akan setuju begitu saja.
      "Aku yang pilih tempat tinggalmu. Dan Imah akan mengunjungimu tiga kali seminggu untuk membersihkan rumah."

Rabu, 06 November 2024

Kondusivitas Mood

     Mengajar di kelas-kelas istimewa memerlukan mood yang bagus. Namun hal itu terkadang sulit diwujudkan. Terlebih lagi saat kelas istimewa itu dihuni oleh 30 remaja yang sedang asyik mencari perhatian dan jati diri.

    Tiga hari dalam satu minggu saya harus menjaga  mood dengan baik. Hal itu harus saya lakukan agar bisa menyelesaikan seluruh rangkaian jadwal mengajar di hari-hari itu. Hal itu bisa sering bisa dilakukan bila masih berada di jam-jam awal. Lain lagi ceritanya bila masuk di jam terakhir dan cuacanya sangat panas. Beberapa kali saat masuk di jam akhir dengan cuaca yang panas, mood saya rusak dan akhirnya mengomel panjang lebar.😔😔

    Saya bukan orang yang bisa bersikap diam atas semua kegaduhan yang mereka buat. Saya tidak bisa tetap tersenyum dan melenggang begitu saja. Itu bukan gaya saya.💃

    Kata celembeng dan cerewet lebih sering dilekatkan pada nama saya, dibandingkan kata pendiam. Orang-orang justru akan merasa heran jika saya hanya diam dan tidak bicara. Mereka akan mengira saya sakit padahal sehat-sehat saja. 😎

    Jika menilik pada struktur alur semua kecerewetan saya itu masih berada dalam tahap komplikasi (masalah mulai bertumpuk) belum sampai pada tahap klimaks (puncak masalah). Tahap klimaks dari kekesalan dan kemarahan saya adalah diam dan tidak peduli. Saya sering menyebutnya "The Mingkem Show". 😏

    Untuk menghadapi kelas istimewa saya sering menyiapkan LKPD (Lembar Kerja Peserta Didik). Hal ini saya lakukan agar mereka dapat beraktivitas dengan teman kelompoknya sehingga tidak terlalu berisik. Meski LKPD yang saya berikan terkadang jawabannya mirip-mirip dengan temannya di kelompok lain. 

    Setiap selesai mengajar di kelas istimewa rasa-rasanya beban di hati berkurang. Apalagi bila mood saya tetap baik setelah keluar dari sana. Hal ini sangat baik untuk saya. Masih ada kelas lain yang harus saya masuki. Saya tak ingin mood yang rusak membuat pembelajaran di kelas lain terkena imbas.

    Di sebuah kelas istimewa pun masih ada anak yang memiliki semangat belajar. Ada satu anak yang membuat saya selalu berusaha untuk menjaga kondusivitas mood. Anak itu tak pernah berkomentar. Akan tetapi, dari wajahnya tampak kekesalan dan kekecewaan. Dia akan menghela napas berat dan hatinya mungkin berkata "heum lagi-lagi ibu marah, lagi-lagi ibu tantrum". 😆

    Mengajar di kelas istimewa memang bukan pertama kalinya bagi saya. Selagi masih jadi guru honor pun saya sudah terbiasa diberikan jadwal di kelas istimewa. Namun generasi sekarang adalah generasi yang secara mental jauh lebih manja dibanding generasi sebelumnya. Generasi sekarang cenderung terlalu dalam ketika menanggapi sesuatu. Daya juang mereka jauh lebih rendah. 😢

    Remaja sekarang terlalu dininabobokan dengan kecanggihan teknologi. Mereka juga lebih mudah mengakses internet sehingga bahasa-bahasa viral lebih  mudah diserap dibandingkan dengan bahasa-bahasa formal. Mereka sering mengucapkan kata-kata yang sedang viral itu meski kadang tidak tahu artinya.

    "Pick me", "mewing", "tobrut" kata-kata itu sering mereka ucapkan. Entah itu karena mereka ingin dianggap keren atau menuruti teman. Sebagian dari mereka kadang tidak tahu arti kata-kata itu. Tak jarang kata-kata viral itu menjadi permasalahan di antara para remaja. Belum lagi masalah panggil memanggil nama orang tua. Tak jarang saya menerima pengaduan "Bu si A nyebut-nyebut nama bapak saya, si B menghina ayah saya". 

    Kalau sudah seperti itu saya hanya mengelus dada dan memegang kepala. Bukan mau triping apalagi ajeb-ajeb. Hal itu saya lakukan untuk membisiki diri saya supaya bersabar. Sayalah orang dewasa di antara mereka. Masa saya harus ikut-ikutan kesal dengan kebocahan mereka. 

    Rekan-rekan terkadang menggoda saat melihat saya baru keluar dari kelas itu. Karena kelas istimewa itu adalah salah satu tempat menguji kesabaran. Di waktu-waktu istirahat atau senggang kami pun sering bertukar cerita dan saling menertawakan kekesalan masing-masing. Hal itu cukup untuk jadi obat bagi kami para pengajar di kelas istimewa.

    Harapan saya untuk kelas istimewa tidak banyak. Saya hanya ingin tetap membersamai mereka hingga pembelajaran di tahun ajaran ini selesai dan tetap sabar. Meski untuk itu usaha saya harus lebih banyak dan tentunya stok sabar saya harus sering diisi ulang. Mudah-mudahan mereka jadi anak-anak yang soleh dan soleha. 💪

    

    

Kamis, 17 Oktober 2024

Tentang Kehilangan

         Ada yang memilih pergi untuk menutupi kesedihan. Ada yang memilih untuk tetap tinggal meski air mata bercucuran. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk mengelola kesedihan. 

    Kepergian seseorang akan meninggalkan banyak hal. Ada rasa sedih, haru, dan mungkin amarah. Kepergian seseorang akan membuat hidup orang-orang di sekitarnya berubah.

        Jika waktu yang kita habiskan dengan orang yang pergi itu cukup lama maka rasa sedihnya pun tentu tidak seringan orang lain. Apalagi jika yang pergi itu adalah anggota keluarga, misalnya ayah.

    Bagi anak perempuan yang memiliki kedekatan dengan ayah, kepergiannya tentu sangat berdampak. Sekalipun anak perempuan itu sudah berada pada masa dewasa, kepedihannya tetap sangat terasa. Apalagi jika dia adalah anak perempuan pertama di dalam keluarga.

    Layaknya sebuah pohon yang kehilangan sebagian akarnya. Begitulah kiranya saat kehilangan seorang ayah. Hidup tak tetap berlanjut tapi ada ruang kosong yang tak dapat digantikan siapapun.

    

        

Rabu, 11 September 2024

Regangan Makna

 

              “Kamu harus bahagia?”

              “Setiap orang punya masalah. Baik besar ataupun kecil. Yang paling penting adalah seperti apa cara kita menghadapi masalah itu?”

             

              Mengapa guru bahasa tidak bisa menulis? Guru bahasa seharusnya pandai menulis! Guru bahasa tentu lihai menulis? Sudah berapa karya yang guru bahasa hasilkan?

              Pertanyaan-pertanyaan yang jika dihimpun hanya akan mengecilkan hati. Padahal pesan sponsor (dari orang-orang terdekat) adalah “Kamu harus bahagia”, “Jangan stress”, “Ingat siklus bulananmu yang kacau.” Lucu memang? Ya semua orang menyenangkan sebelum tanduk mereka keluar.

              Masih ingat hukum tekanan?

              Tekanan berbanding terbalik dengan luas permukaan. Semakin luas permukaan maka semakin kecil tekanan yang dihasilkan. Berdiri dengan dua kaki jauh lebih ringan dibandingkan dengan berdiri hanya satu kaki. Mengapa demikian? Karena saat berdiri di atas satu kaki luas permukaan kita jauh lebih sempit dibandingkan dengan berdiri di atas dua kaki.

              Apa saja yang membuat seseorang tertekan? Apakah tekanan dapat membantu seseorang dalam berkarya?

              Jawabannya bisa iya dan juga bisa tidak. Tekanan bisa menjadikan seseorang terpacu untuk melakukan sesuatu. Di sisi lain tekanan juga bisa membuat seseorang justru enggan melakukan sesuatu. Selama seseorang masih bisa menyeimbangkan gaya dan luas permukaan, tekanan yang dirasakan tidak akan berdampak besar. Namun jika tak mampu menyelaraskannya maka akan berakibat buruk. Baik itu untuk kesehatan fisik maupun psikis.

              Kecanggihan teknologi tetap tak bisa mengimbangi hati. Perasaan kita tidak akan sepenuhnya digambarkan AI. Coba tonton film Korea berjudul Wonderland. Film itu menceritakan tentang manusia bisa memanfaatkan sebuah layanan untuk bisa tetap berinteraksi dengan orang-orang yang sudah meninggal. Para pengguna layanan dapat berbicara melalui ponsel dengan orang-orang terkasih mereka yang sudah meninggal dengan bantuan AI. Awalnya para pengguna merasa terbantu lama kelamaan mereka menyadari bahwa yang telah pergi memang harus pergi.

              Merelakan sesuatu adalah cara terbaik untuk menyembuhkan diri. Banyak hal yang terkadang harus kita relakan kepergiannya. Di lain situasi hal-hal tertentu terkadang lebih baik untuk dilepaskan. Menghimpun sakit hati dan menabung dendam hanya akan menyakiti diri lebih jauh dan lebih dalam.

              Apakah saya pernah sakit hati? Tentunya hal itu tak memerlukan jawaban. Karena saya memiliki hati, dan masih berfungsi, tentu rasa sakit itu kadang-kadang mampir dalam hari-hari saya. Apakah saya marah? Apakah saya kecewa? Tentu saja hal-hal itu pun saya alami. Saya manusia yang masih bisa mengeluarkan air mata saat beban di hati sudah begitu berat. Saya masih normal dan waras sehingga bisa merasakan semua emosi dalam keseharian saya.

              Seandainya tangan saya dan kemampuan mengetik saya secepat kelebat ide-ide cerita yang berputar-putar di kepala mungkin cerita-cerita itu sudah rampung. Mungkin tokoh-tokoh dalam cerita saya sudah sampai pada akhir perjuangan mereka. Sayangnya tidak begitu Romeo. Banyak hal yang membuatnya menjadi rumit.

              Saya harus membagi waktu antara pekerjaan dan hobi. Pekerjaan yang menurut beberapa orang tidak begitu melelahkan. Hanya menemani anak-anak belajar, menyampaikan ilmu pada mereka tentang sesuatu dan selesai. Kenyataannya tidak sesederhana itu Romeo. Banyak hal-hal lain yang sepertinya mudah jika hanya dibicarakan tapi agak sulit saat dilaksanakan.

              Masa sih? Di rumahmu kan tidak ada balita yang mengacaukan kerapihan rumah. Tidak ada remaja yang rewel minta dibelikan sesuatu. Komentarnya pasti mengarah ke sana. Dan saya hanya akan tersenyum. Berlalunya waktu membuat saya agak kebal dengan komentar-komentar seperti itu.

              Jika ingin berkomentar tentang pekerjaan maka komentarilah. Tak perlu rasanya mengusik hal yang sampai saat ini pun masih orang lain perjuangkan. Tidak etis rasanya jika mengomentari hal-hal lain di luar maksud yang sebenarnya ingin kita sampaikan.

              Orang moody seperti saya cenderung sedikit bermasalah dengan konsistensi. Idealnya saya bisa menulis setiap hari dengan waktu luang saya. Kenyataannya tidak demikian. Perlu lebih dari sekedar waktu luang untuk menulis. Perlu lebih dari sekedar kecanggihan teknologi untuk menulis. Apalagi jika saya yang menulis. Hati dan pikiran saya ikut berperan dalam lahirnya tulisan-tulisan yang saya hasilkan.

              Ada kalanya saya menangis saat menulis. Ada masanya saya tertawa bahagia saat merangkai kata. Semuanya berkelindan menjadi bagian yang menjiwai tulisan-tulisan saya. Sekalipun tulisan saya hanya berupa curhat semata. Sekalipun tulisan saya tidak ilmiah dan tidak menghasilkan keuntungan material.

              Saya masih menulis. Meski dengan tertatih-tatih. Meski dengan kata-kata yang tak seindah lembayung senja. Ini adalah jalan yang saya lalui untuk terapi. Ini adalah jalan yang saya lewati untuk menegarkan diri bahwa guru bahasa hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan eja dan kealfaan penggunaan tanda baca, bahwa guru bahasa tak semuanya pandai merangkai kata menjadi wacana, bahwa guru bahasa adalah manusia yang memiliki kesempatan untuk memberi satu warna dalam hidup para siswa.

 

Selasa, 10 September 2024

Masih Kekasihku

 

Jauh di lubuk hatiku
Masih terukir namamu
Jauh di dasar jiwaku
Engkau masih kekasihku

 

            Lirik lagu dari Band Naff memenuhi ruangan saat Akira mengeluarkan baju dari lemarinya. Dia mencari-cari sesuatu. Setelah beberapa lama ia menemukan sweater biru dongker yang dicarinya. Sweater itu dibelikan Ruwi untuknya. Sweater yang selalu dibawanya ke mana pun. Dengan memakainya dia merasa Ruwi Tengah memeluknya.

            Usianya mungkin tak lagi muda. Dia sudah hampir memiliki cucu. Namun hatinya masih berbunga-bunga saat melihat senyum manis di wajah Ruwi. Sahabat yang kemudian menjadi istrinya itu sudah lama dia cintai. Namun hingga saat ini Akira belum pernah benar-benar mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Dia takut untuk memulainya.

            Akira sudah terbiasa dengan kehadiran Ruwi dalam hidupnya. Meski mereka hanya bertemu setiap akhir pekan. Itu lebih dari sekedar cukup. Akira bukannya tak ingin berada dalam satu kota yang sama untuk setiap hari. Namun pekerjaannya membuat dia harus selalu berpindah-pindah.

            Akira tak ingin Ruwi hidup tak nyaman. Akira sudah membebani Ruwi untuk merawat anak-anaknya. Dia tak mungkin menambah beban hidupnya.

            “Apakah bapak merindukan ibu?” Anak buahnya tiba-tiba bertanya. Mungkin dia heran. Karena selama ini, seletih apapun dia pasti minta pulang ke Bandung jika hari Jumat sudah tiba.

            Akira tak menjawab. Dia memakai sweater yang sejak tadi dipegangnya lalu mengajak anak buahnya pergi. Rencananya pagi itu mereka akan berlari di sekitar perumahan.

            Akira sudah terbiasa olahraga. Dia memang menjaga tubuhnya dengan baik. Dia masih bugar di usianya yang sudak menginjak kepala lima. Dia juga masih terlihat tampan. Banyak Perempuan yang datang menggodanya. Namun di hatinya hanya Ruwi seorang.

            Ruwi adalah satu-satunya gadis yang menjadi sahabatnya. Sebenarnya Akira menganggapnya lebih dari sekedar sahabat. Namun Ruwi sepertinya tidak memiliki perasaan yang sama. Dia pun harus berpuas diri dengan hanya menjadi sahabat Ruwi. Saat Raisya datang, Akira pun mencoba mengalihkan perasaannya. Dia meyakinkan diri bahwa Raisya lebih baik untuknya.

            Saat sahabatnya Arya Pradipta Lazuardi meminta untuk dikenalkan pada Ruwi, Akira pun menurutinya. Meski di kemudian hari dia menyesalinya. Awalnya dia mengira Arya dapat membuat Ruwi bahagia. Yang terjadi adalah sebaliknya. Dua kali Arya meninggalkan Ruwi dalam keadaan hamil. Arya bahkan mengambil anak pertama Ruwi dari sisinya.

            Akira lalu melamar Ruwi. Ia ingin Ruwi memiliki status yang jelas. Pernikahannya dengan Arya belum sempat diresmikan secara hukum negara. Orang-orang hanya tahu kalau Ruwi adalah bibinya Novan, padahal sebenarnya Ruwi adalah ibunya Novan.

            Ibu Ruwi memang lebih menyayangi Rosi, kakaknya. Dia selalu menomorsatukan Rosi. Dia marah besar saat tahu Ruwi menikah siri dengan Arya. Dia makin marah saat tahu Ruwi hamil dan Arya pergi meninggalkannya untuk sekolah di luar negeri. Dia pernah menyarankan Ruwi untuk menggugurkan kandungannya.

            Saat bayi Rosi meninggal, dia mengambil bayi Ruwi dan menjadikannya sebagai bayi Rosi. Ruwi yang tidak bisa berbuat banyak. Dia pun memohon pada ibunya agar diizinkan untuk menjadi pengasuh putranya. Ibunya menyetujui dengan syarat dia tak boleh memberitahukan semua rahasia mereka pada keluarga suami Rosi.

            Lima tahun berlalu. Anak Ruwi telah tumbuh menjadi balita yang tampan dan pintar. Anak itu sangat dekat dengan Ruwi karena Rosi depresi. Suami Rosi tetap tak mau bersamanya meski mereka memiliki anak laki-laki. Suami Rosi meninggalkannya dan pergi dengan pacarnya. Rosi yang depresi akhirnya meninggal dunia.

            Saat Rosi meninggal Ruwi baru tahu kalau Arya adalah kakak tiri suami Rosi. Arya datang untuk melihat keadaan Novan, putra adiknya yang ditelantarkan. Saat itu ibu Ruwi memberi tahunya kalau Novan sebenarnya adalah anak Ruwi. Hal itu membuat Arya marah besar. Dia yang baru memulai kembali hubungannya dengan Ruwi, kembali meninggalkannya.

            Kali ini Arya pergi untuk selamanya. Dia mengatakan tak ingin lagi melihat Ruwi. Baginya Ruwi sudah mati. Dia tak peduli meski Ruwi memohon dan memberinya penjelasan. Arya sakit hati karena Ruwi membohonginya. Selama ini Arya hanya tahu bayi mereka meninggal.

            “Kali ini biarkan aku bersandarlah padaku!” Akira bicara dengan tulus. “Menikahlah denganku. Dan biarkan aku menjadikanmu ratu di rumahku!” Akira menatap Ruwi lekat-lekat. “Kau terlalu lelah untuk berjuang sendirian.” Arya meraih Ruwi ke pelukannya. Dan Ruwi pun menangis tersedu-sedu.

            Ruwi menerima lamaran Akira. Beberapa bulan kemudian Ruwi melahirkan anak lelaki yang tampan. Ibunya mengira bayi itu adalah anak Akira, begitu pun semua orang. Akira menamai anak itu dengan Ryuzaki Adriansyah. Dia memberikan nama keluarganya untuk anak Ruwi.

            Saat Adrian berusia satu tahun, Raisya kembali datang dalam kehidupan Akira. Dia menggodanya dan meminta untuk dinikahi. Akira tidak ingin melakukannya tetapi Ruwi meminta Akira untuk melakukannya. Dia tak keberatan Akira memiliki dua istri.

            Pernikahan Akira dan Raisya hanya bertahan satu tahun. Raisya tak ingin memiliki anak karena akan menghancurkan karirnya sebagai artis. Setelah melahirkan bayi kembar mereka, Raisya menggugat cerai dan menyerahkan hak asuh pada Akira. Raisya pergi menghilang dan tak pernah kembali.

            Akira merasa malu karena dengan tangan terbuka Ruwi menerima bayi kembar itu untuk dirawat. Ruwi tak sedikit pun merasa kesal atau marah saat harus merawat bayi dari istrinya yang lain. Akira jadi makin sayang padanya. Akira berjanji tak akan lagi menghadirkan orang lain dalam pernikahan mereka. Akira sudah merasa cukup dengan hanya menjadi sahabatnya.

            Hidup mereka tenang dan damai hingga peristiwa itu terjadi. Kaori putri kesayangannya menjalin hubungan dengan Novan dan mereka berselisih paham. Kaori kabur dengan cinta SMA-nya. Karena hal itulah hubungannya dengan Ruwi merenggang. Mereka membela anak masing-masing.

            Akira memutuskan meninggalkan Ruwi dan merawat putrinya yang depresi karena kehilangan bayi dan orang yang dicintainya. Sekarang putrinya telah sembuh dan kembali memulai hidup. Akira kembali merindukan Ruwi.

            “Jangan biarkan aku menjadi penghalang bagi papa!” Kaori tersenyum penuh arti sambil menatapnya saat mereka makan siang bersama. “Aku tahu papa merindukan mama.” Kaori menggenggam tangan Akira. “Pergilah. Mama pasti sudah lama menantimu. Dan kali ini ungkapkan perasaanmu yang sebenarnya. Sudah terlalu lama papa memendamnya.”

            “Kaori ….” Akira menatap putrinya. Putrinya telah benar- benar sembuh. Binar-binar di matanya telah kembali. Senyum di pipinya juga telah kembali.

            “Aku sudah lebih kuat papa. Aku tak akan terjebak lagi dalam kesedihan. Aku sudah dapat menerima semuanya dengan Ikhlas. Aku ingin melihat papa bahagia.” Kaori meremas tangan papanya. “Selama ini papa selalu mendukungku. Apapun yang aku lakukan papa pasti mendukungku. Kurasa sekarang giliranku yang melakukannya untukmu.” Kaori menyeka mata Akira yang berkaca-kaca dengan tisu. “Rian bilang mama menunggu papa. Dia tidak kembali pada Om Arya. Sekarang Om Arya sudah kembali ke Jerman. Dan mama tetap di Bandung. Menunggu papa.”

            “Terima kasih, nak!” Akira mengecup punggung tangan putrinya lalu meminta anak buahnya untuk menyiapkan mobil.

           

           

             

           

Senin, 09 September 2024

Empati Ironi

 

    Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. (KBBI)

Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan makna sesungguhnya, misalnya dengan mengemukakan makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya dan ketidaksesuaian antara suasana yang diketengahkan dan kenyataan yang mendasarinya. (KBBI)

 

Masih banyak siswa SMP yang belum bisa membaca.

              Berita ini memang mengejutkan tetapi bukan hal yang luar biasa bagi saya. Sependek ingatan saya dulu pun pernah ada siswa yang juga belum bisa membaca padahal sudah di tingkat MTs dan MA.

              Siapa yang salah? Di manakah letak permasalahannya?

              Rasa-rasanya pertan yaan-pertanyaan tersebut tidak akan menyelesaikan permasalahan. Banyak hal yang berkaitan dengan bisa atau tidaknya seorang anak dalam membaca. Dan harap diingat tak ada satu pihak pun yang merasa berhak untuk dipersalahkan.

              Dalam jurnal yang pernah saya baca, tiga guru SD diwawancara mengapa beberapa siswa mereka masih belum bisa membaca. Jawaban ketiganya hampir sama.  Di sekolah guru sudah melakukan berbagai cara untuk mengajarkan siswa untuk membaca tetapi di rumahnya siswa banyak yang tidak melakukan latihan ulang sehingga ketika kembali ke sekolah mereka tetap lupa dengan yang telah diajarkan.

              Kalau dipikir ulang siswa lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dibandingkan di sekolah. Bantuan orang tua sangatlah diperlukan untuk para siswa agar bisa mengulang kembali pelajaran yang telah diberikan di sekolah. Jika hal ini dapat dilakukan dengan baik maka kemampuan siswa dalam belajar akan jauh lebih baik, termasuk kemampuan membaca.

              Bukankah sangat lucu saat siswa yang kesulitan membaca ternyata bisa bermain game online. Jika bermain game yang memerlukan keterampilan lebih saja mereka bisa dan sanggup melakukannya lalu bagaimana dengan membaca?

              Membaca merupakan kemampuan reseptif tahap kedua. Siswa bisa saja menemukan informasi dari kemampuan reseptif tahap kesatu yaitu menyimak meski belum bisa membaca. Namun ada banyak hal yang tidak cukup diperoleh hanya dengan menyimak. Ada hal-hal tertentu yang cenderung lebih sulit diperoleh dari menyimak.  Hal-hal sulit tersebut dapat diperoleh dari kegiatan membaca.

              Jika siswa sudah lancar membaca maka kegiatan berbahasa yang lainnya yaitu menulis akan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Secara tidak sadar saat kita menulis, kita mengeja dan mengucapkan kata-kata yang ingin kita tulis di dalam benak kita. Kalau dipikir saat menulis sebenarnya kita hanya tinggal memindahkan lambang huruf yang ada di buku paket atau papan tulis ke buku catatan. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Pada siswa yang belum lancar membaca, kata-kata yang ditulisnya sering mengalami kehilangan huruf ataupun salah tulis.

              Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi fenomena ini?

              Langkah pertama yang harus ditempuh adalah mengetahui sejauh mana kesulitan siswa. Kita bisa meminta siswa untuk membaca sebuah teks. Selama proses membaca kita amati kesulitan apa yang dialami siswa saat membaca. Sebagai panduan, kita bisa menggunakan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.

1.    1Apakah siswa sudah kenal semua huruf abjad?

2.   2. Huruf apa yang sering tertukar?

3.   3. Huruf apa saja yang sulit dilafalkan oleh siswa?

4.   4. Apakah siswa sudah bisa merangkai huruf dan membacanya menjadi kata?

5.   5. Apakah siswa kesulitan dalam melafalkan diftong (gabungan vokal: au, ai, oi)?

6.   6. Apakah siswa kesulitan dalam melafalkan kluster (gabungan konsonan: kh, str, st, dll)?

7.   7. Apakah siswa sering melewatkan membaca akhiran ( nya, mu, ku)?

8.   8. Dst.

Langkah kedua adalah menemukan solusi yang tepat untuk kesulitan yang di alami oleh siswa. Jika siswa belum kenal huruf maka kita perkenalkan terlebih dahulu huruf-huruf tersebut. Untuk huruf-huruf yang tampak mirip kita bisa memberikan penegasan yang lebih agar siswa tidak lagi tertukar. Kita bisa menggunakan flashcard sebagai media, buku bacalah (yang biasanya digunakan untuk anak TK atau SD) atau aplikasi membaca yang dapat kita unduh di playstore. Sedangkan untuk metode kita bisa menggunakan metode simak dan ulangi, montesorri dan bermain sambil belajar dan masih banyak yang lainnya.

Langkah ketiga adalah bersabar dan terus berlatih. Membaca adalah kemmapuan yang harus terus diasah. Semakin sering membaca maka akan semakin lancar. Selain itu perbendaharaan kosa kata akan semakin bertambah. Dengan bertambahnya kosa kata maka akan makin mudah untuk memahami isi bacaan.

Hal-hal yang saya bahas ini hanyalah sebagian kecil mengenai masalah  yang berkaitan dengan membaca. Banyak hal lain yang tentunya dapat membantu pengetahuan dan wawasan kita untuk membantu anak ataupun siswa dan siswi kita dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam membaca. Sampai saat ini saya juga masih berusaha mencari cara yang tepat untuk membantu siswa-siswa saya yang mengalami kesulitan dalam membaca sesuai dengan karakteristik gaya belajar mereka.

Bacaan lebih lanjut:

Analisis Faktor Penyebab Kesulitan Membaca Permulaan Pada Siswa Kelas I SDN Argopeni Tahun Ajaran 2019/2020 (researchgate.net).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Siswa (Studi Kasus Di SDN 105 Pekanbaru) (researchgate.net)

Membaca Ala Montessori: Cara Membaca TK yang Efektif dan Menyenangkan (chebira.com)

41

                Apa yang dirasa saat umur sudah sampai di angka ini?        Yang jelas sekarang semua tak lagi sama. Tak ada lagi mama yang ...