Rabu, 11 September 2024

Regangan Makna

 

              “Kamu harus bahagia?”

              “Setiap orang punya masalah. Baik besar ataupun kecil. Yang paling penting adalah seperti apa cara kita menghadapi masalah itu?”

             

              Mengapa guru bahasa tidak bisa menulis? Guru bahasa seharusnya pandai menulis! Guru bahasa tentu lihai menulis? Sudah berapa karya yang guru bahasa hasilkan?

              Pertanyaan-pertanyaan yang jika dihimpun hanya akan mengecilkan hati. Padahal pesan sponsor (dari orang-orang terdekat) adalah “Kamu harus bahagia”, “Jangan stress”, “Ingat siklus bulananmu yang kacau.” Lucu memang? Ya semua orang menyenangkan sebelum tanduk mereka keluar.

              Masih ingat hukum tekanan?

              Tekanan berbanding terbalik dengan luas permukaan. Semakin luas permukaan maka semakin kecil tekanan yang dihasilkan. Berdiri dengan dua kaki jauh lebih ringan dibandingkan dengan berdiri hanya satu kaki. Mengapa demikian? Karena saat berdiri di atas satu kaki luas permukaan kita jauh lebih sempit dibandingkan dengan berdiri di atas dua kaki.

              Apa saja yang membuat seseorang tertekan? Apakah tekanan dapat membantu seseorang dalam berkarya?

              Jawabannya bisa iya dan juga bisa tidak. Tekanan bisa menjadikan seseorang terpacu untuk melakukan sesuatu. Di sisi lain tekanan juga bisa membuat seseorang justru enggan melakukan sesuatu. Selama seseorang masih bisa menyeimbangkan gaya dan luas permukaan, tekanan yang dirasakan tidak akan berdampak besar. Namun jika tak mampu menyelaraskannya maka akan berakibat buruk. Baik itu untuk kesehatan fisik maupun psikis.

              Kecanggihan teknologi tetap tak bisa mengimbangi hati. Perasaan kita tidak akan sepenuhnya digambarkan AI. Coba tonton film Korea berjudul Wonderland. Film itu menceritakan tentang manusia bisa memanfaatkan sebuah layanan untuk bisa tetap berinteraksi dengan orang-orang yang sudah meninggal. Para pengguna layanan dapat berbicara melalui ponsel dengan orang-orang terkasih mereka yang sudah meninggal dengan bantuan AI. Awalnya para pengguna merasa terbantu lama kelamaan mereka menyadari bahwa yang telah pergi memang harus pergi.

              Merelakan sesuatu adalah cara terbaik untuk menyembuhkan diri. Banyak hal yang terkadang harus kita relakan kepergiannya. Di lain situasi hal-hal tertentu terkadang lebih baik untuk dilepaskan. Menghimpun sakit hati dan menabung dendam hanya akan menyakiti diri lebih jauh dan lebih dalam.

              Apakah saya pernah sakit hati? Tentunya hal itu tak memerlukan jawaban. Karena saya memiliki hati, dan masih berfungsi, tentu rasa sakit itu kadang-kadang mampir dalam hari-hari saya. Apakah saya marah? Apakah saya kecewa? Tentu saja hal-hal itu pun saya alami. Saya manusia yang masih bisa mengeluarkan air mata saat beban di hati sudah begitu berat. Saya masih normal dan waras sehingga bisa merasakan semua emosi dalam keseharian saya.

              Seandainya tangan saya dan kemampuan mengetik saya secepat kelebat ide-ide cerita yang berputar-putar di kepala mungkin cerita-cerita itu sudah rampung. Mungkin tokoh-tokoh dalam cerita saya sudah sampai pada akhir perjuangan mereka. Sayangnya tidak begitu Romeo. Banyak hal yang membuatnya menjadi rumit.

              Saya harus membagi waktu antara pekerjaan dan hobi. Pekerjaan yang menurut beberapa orang tidak begitu melelahkan. Hanya menemani anak-anak belajar, menyampaikan ilmu pada mereka tentang sesuatu dan selesai. Kenyataannya tidak sesederhana itu Romeo. Banyak hal-hal lain yang sepertinya mudah jika hanya dibicarakan tapi agak sulit saat dilaksanakan.

              Masa sih? Di rumahmu kan tidak ada balita yang mengacaukan kerapihan rumah. Tidak ada remaja yang rewel minta dibelikan sesuatu. Komentarnya pasti mengarah ke sana. Dan saya hanya akan tersenyum. Berlalunya waktu membuat saya agak kebal dengan komentar-komentar seperti itu.

              Jika ingin berkomentar tentang pekerjaan maka komentarilah. Tak perlu rasanya mengusik hal yang sampai saat ini pun masih orang lain perjuangkan. Tidak etis rasanya jika mengomentari hal-hal lain di luar maksud yang sebenarnya ingin kita sampaikan.

              Orang moody seperti saya cenderung sedikit bermasalah dengan konsistensi. Idealnya saya bisa menulis setiap hari dengan waktu luang saya. Kenyataannya tidak demikian. Perlu lebih dari sekedar waktu luang untuk menulis. Perlu lebih dari sekedar kecanggihan teknologi untuk menulis. Apalagi jika saya yang menulis. Hati dan pikiran saya ikut berperan dalam lahirnya tulisan-tulisan yang saya hasilkan.

              Ada kalanya saya menangis saat menulis. Ada masanya saya tertawa bahagia saat merangkai kata. Semuanya berkelindan menjadi bagian yang menjiwai tulisan-tulisan saya. Sekalipun tulisan saya hanya berupa curhat semata. Sekalipun tulisan saya tidak ilmiah dan tidak menghasilkan keuntungan material.

              Saya masih menulis. Meski dengan tertatih-tatih. Meski dengan kata-kata yang tak seindah lembayung senja. Ini adalah jalan yang saya lalui untuk terapi. Ini adalah jalan yang saya lewati untuk menegarkan diri bahwa guru bahasa hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan eja dan kealfaan penggunaan tanda baca, bahwa guru bahasa tak semuanya pandai merangkai kata menjadi wacana, bahwa guru bahasa adalah manusia yang memiliki kesempatan untuk memberi satu warna dalam hidup para siswa.

 

Selasa, 10 September 2024

Masih Kekasihku

 

Jauh di lubuk hatiku
Masih terukir namamu
Jauh di dasar jiwaku
Engkau masih kekasihku

 

            Lirik lagu dari Band Naff memenuhi ruangan saat Akira mengeluarkan baju dari lemarinya. Dia mencari-cari sesuatu. Setelah beberapa lama ia menemukan sweater biru dongker yang dicarinya. Sweater itu dibelikan Ruwi untuknya. Sweater yang selalu dibawanya ke mana pun. Dengan memakainya dia merasa Ruwi Tengah memeluknya.

            Usianya mungkin tak lagi muda. Dia sudah hampir memiliki cucu. Namun hatinya masih berbunga-bunga saat melihat senyum manis di wajah Ruwi. Sahabat yang kemudian menjadi istrinya itu sudah lama dia cintai. Namun hingga saat ini Akira belum pernah benar-benar mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Dia takut untuk memulainya.

            Akira sudah terbiasa dengan kehadiran Ruwi dalam hidupnya. Meski mereka hanya bertemu setiap akhir pekan. Itu lebih dari sekedar cukup. Akira bukannya tak ingin berada dalam satu kota yang sama untuk setiap hari. Namun pekerjaannya membuat dia harus selalu berpindah-pindah.

            Akira tak ingin Ruwi hidup tak nyaman. Akira sudah membebani Ruwi untuk merawat anak-anaknya. Dia tak mungkin menambah beban hidupnya.

            “Apakah bapak merindukan ibu?” Anak buahnya tiba-tiba bertanya. Mungkin dia heran. Karena selama ini, seletih apapun dia pasti minta pulang ke Bandung jika hari Jumat sudah tiba.

            Akira tak menjawab. Dia memakai sweater yang sejak tadi dipegangnya lalu mengajak anak buahnya pergi. Rencananya pagi itu mereka akan berlari di sekitar perumahan.

            Akira sudah terbiasa olahraga. Dia memang menjaga tubuhnya dengan baik. Dia masih bugar di usianya yang sudak menginjak kepala lima. Dia juga masih terlihat tampan. Banyak Perempuan yang datang menggodanya. Namun di hatinya hanya Ruwi seorang.

            Ruwi adalah satu-satunya gadis yang menjadi sahabatnya. Sebenarnya Akira menganggapnya lebih dari sekedar sahabat. Namun Ruwi sepertinya tidak memiliki perasaan yang sama. Dia pun harus berpuas diri dengan hanya menjadi sahabat Ruwi. Saat Raisya datang, Akira pun mencoba mengalihkan perasaannya. Dia meyakinkan diri bahwa Raisya lebih baik untuknya.

            Saat sahabatnya Arya Pradipta Lazuardi meminta untuk dikenalkan pada Ruwi, Akira pun menurutinya. Meski di kemudian hari dia menyesalinya. Awalnya dia mengira Arya dapat membuat Ruwi bahagia. Yang terjadi adalah sebaliknya. Dua kali Arya meninggalkan Ruwi dalam keadaan hamil. Arya bahkan mengambil anak pertama Ruwi dari sisinya.

            Akira lalu melamar Ruwi. Ia ingin Ruwi memiliki status yang jelas. Pernikahannya dengan Arya belum sempat diresmikan secara hukum negara. Orang-orang hanya tahu kalau Ruwi adalah bibinya Novan, padahal sebenarnya Ruwi adalah ibunya Novan.

            Ibu Ruwi memang lebih menyayangi Rosi, kakaknya. Dia selalu menomorsatukan Rosi. Dia marah besar saat tahu Ruwi menikah siri dengan Arya. Dia makin marah saat tahu Ruwi hamil dan Arya pergi meninggalkannya untuk sekolah di luar negeri. Dia pernah menyarankan Ruwi untuk menggugurkan kandungannya.

            Saat bayi Rosi meninggal, dia mengambil bayi Ruwi dan menjadikannya sebagai bayi Rosi. Ruwi yang tidak bisa berbuat banyak. Dia pun memohon pada ibunya agar diizinkan untuk menjadi pengasuh putranya. Ibunya menyetujui dengan syarat dia tak boleh memberitahukan semua rahasia mereka pada keluarga suami Rosi.

            Lima tahun berlalu. Anak Ruwi telah tumbuh menjadi balita yang tampan dan pintar. Anak itu sangat dekat dengan Ruwi karena Rosi depresi. Suami Rosi tetap tak mau bersamanya meski mereka memiliki anak laki-laki. Suami Rosi meninggalkannya dan pergi dengan pacarnya. Rosi yang depresi akhirnya meninggal dunia.

            Saat Rosi meninggal Ruwi baru tahu kalau Arya adalah kakak tiri suami Rosi. Arya datang untuk melihat keadaan Novan, putra adiknya yang ditelantarkan. Saat itu ibu Ruwi memberi tahunya kalau Novan sebenarnya adalah anak Ruwi. Hal itu membuat Arya marah besar. Dia yang baru memulai kembali hubungannya dengan Ruwi, kembali meninggalkannya.

            Kali ini Arya pergi untuk selamanya. Dia mengatakan tak ingin lagi melihat Ruwi. Baginya Ruwi sudah mati. Dia tak peduli meski Ruwi memohon dan memberinya penjelasan. Arya sakit hati karena Ruwi membohonginya. Selama ini Arya hanya tahu bayi mereka meninggal.

            “Kali ini biarkan aku bersandarlah padaku!” Akira bicara dengan tulus. “Menikahlah denganku. Dan biarkan aku menjadikanmu ratu di rumahku!” Akira menatap Ruwi lekat-lekat. “Kau terlalu lelah untuk berjuang sendirian.” Arya meraih Ruwi ke pelukannya. Dan Ruwi pun menangis tersedu-sedu.

            Ruwi menerima lamaran Akira. Beberapa bulan kemudian Ruwi melahirkan anak lelaki yang tampan. Ibunya mengira bayi itu adalah anak Akira, begitu pun semua orang. Akira menamai anak itu dengan Ryuzaki Adriansyah. Dia memberikan nama keluarganya untuk anak Ruwi.

            Saat Adrian berusia satu tahun, Raisya kembali datang dalam kehidupan Akira. Dia menggodanya dan meminta untuk dinikahi. Akira tidak ingin melakukannya tetapi Ruwi meminta Akira untuk melakukannya. Dia tak keberatan Akira memiliki dua istri.

            Pernikahan Akira dan Raisya hanya bertahan satu tahun. Raisya tak ingin memiliki anak karena akan menghancurkan karirnya sebagai artis. Setelah melahirkan bayi kembar mereka, Raisya menggugat cerai dan menyerahkan hak asuh pada Akira. Raisya pergi menghilang dan tak pernah kembali.

            Akira merasa malu karena dengan tangan terbuka Ruwi menerima bayi kembar itu untuk dirawat. Ruwi tak sedikit pun merasa kesal atau marah saat harus merawat bayi dari istrinya yang lain. Akira jadi makin sayang padanya. Akira berjanji tak akan lagi menghadirkan orang lain dalam pernikahan mereka. Akira sudah merasa cukup dengan hanya menjadi sahabatnya.

            Hidup mereka tenang dan damai hingga peristiwa itu terjadi. Kaori putri kesayangannya menjalin hubungan dengan Novan dan mereka berselisih paham. Kaori kabur dengan cinta SMA-nya. Karena hal itulah hubungannya dengan Ruwi merenggang. Mereka membela anak masing-masing.

            Akira memutuskan meninggalkan Ruwi dan merawat putrinya yang depresi karena kehilangan bayi dan orang yang dicintainya. Sekarang putrinya telah sembuh dan kembali memulai hidup. Akira kembali merindukan Ruwi.

            “Jangan biarkan aku menjadi penghalang bagi papa!” Kaori tersenyum penuh arti sambil menatapnya saat mereka makan siang bersama. “Aku tahu papa merindukan mama.” Kaori menggenggam tangan Akira. “Pergilah. Mama pasti sudah lama menantimu. Dan kali ini ungkapkan perasaanmu yang sebenarnya. Sudah terlalu lama papa memendamnya.”

            “Kaori ….” Akira menatap putrinya. Putrinya telah benar- benar sembuh. Binar-binar di matanya telah kembali. Senyum di pipinya juga telah kembali.

            “Aku sudah lebih kuat papa. Aku tak akan terjebak lagi dalam kesedihan. Aku sudah dapat menerima semuanya dengan Ikhlas. Aku ingin melihat papa bahagia.” Kaori meremas tangan papanya. “Selama ini papa selalu mendukungku. Apapun yang aku lakukan papa pasti mendukungku. Kurasa sekarang giliranku yang melakukannya untukmu.” Kaori menyeka mata Akira yang berkaca-kaca dengan tisu. “Rian bilang mama menunggu papa. Dia tidak kembali pada Om Arya. Sekarang Om Arya sudah kembali ke Jerman. Dan mama tetap di Bandung. Menunggu papa.”

            “Terima kasih, nak!” Akira mengecup punggung tangan putrinya lalu meminta anak buahnya untuk menyiapkan mobil.

           

           

             

           

Senin, 09 September 2024

Empati Ironi

 

    Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. (KBBI)

Ironi adalah majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan makna sesungguhnya, misalnya dengan mengemukakan makna yang berlawanan dengan makna yang sebenarnya dan ketidaksesuaian antara suasana yang diketengahkan dan kenyataan yang mendasarinya. (KBBI)

 

Masih banyak siswa SMP yang belum bisa membaca.

              Berita ini memang mengejutkan tetapi bukan hal yang luar biasa bagi saya. Sependek ingatan saya dulu pun pernah ada siswa yang juga belum bisa membaca padahal sudah di tingkat MTs dan MA.

              Siapa yang salah? Di manakah letak permasalahannya?

              Rasa-rasanya pertan yaan-pertanyaan tersebut tidak akan menyelesaikan permasalahan. Banyak hal yang berkaitan dengan bisa atau tidaknya seorang anak dalam membaca. Dan harap diingat tak ada satu pihak pun yang merasa berhak untuk dipersalahkan.

              Dalam jurnal yang pernah saya baca, tiga guru SD diwawancara mengapa beberapa siswa mereka masih belum bisa membaca. Jawaban ketiganya hampir sama.  Di sekolah guru sudah melakukan berbagai cara untuk mengajarkan siswa untuk membaca tetapi di rumahnya siswa banyak yang tidak melakukan latihan ulang sehingga ketika kembali ke sekolah mereka tetap lupa dengan yang telah diajarkan.

              Kalau dipikir ulang siswa lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah dibandingkan di sekolah. Bantuan orang tua sangatlah diperlukan untuk para siswa agar bisa mengulang kembali pelajaran yang telah diberikan di sekolah. Jika hal ini dapat dilakukan dengan baik maka kemampuan siswa dalam belajar akan jauh lebih baik, termasuk kemampuan membaca.

              Bukankah sangat lucu saat siswa yang kesulitan membaca ternyata bisa bermain game online. Jika bermain game yang memerlukan keterampilan lebih saja mereka bisa dan sanggup melakukannya lalu bagaimana dengan membaca?

              Membaca merupakan kemampuan reseptif tahap kedua. Siswa bisa saja menemukan informasi dari kemampuan reseptif tahap kesatu yaitu menyimak meski belum bisa membaca. Namun ada banyak hal yang tidak cukup diperoleh hanya dengan menyimak. Ada hal-hal tertentu yang cenderung lebih sulit diperoleh dari menyimak.  Hal-hal sulit tersebut dapat diperoleh dari kegiatan membaca.

              Jika siswa sudah lancar membaca maka kegiatan berbahasa yang lainnya yaitu menulis akan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Secara tidak sadar saat kita menulis, kita mengeja dan mengucapkan kata-kata yang ingin kita tulis di dalam benak kita. Kalau dipikir saat menulis sebenarnya kita hanya tinggal memindahkan lambang huruf yang ada di buku paket atau papan tulis ke buku catatan. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Pada siswa yang belum lancar membaca, kata-kata yang ditulisnya sering mengalami kehilangan huruf ataupun salah tulis.

              Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi fenomena ini?

              Langkah pertama yang harus ditempuh adalah mengetahui sejauh mana kesulitan siswa. Kita bisa meminta siswa untuk membaca sebuah teks. Selama proses membaca kita amati kesulitan apa yang dialami siswa saat membaca. Sebagai panduan, kita bisa menggunakan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.

1.    1Apakah siswa sudah kenal semua huruf abjad?

2.   2. Huruf apa yang sering tertukar?

3.   3. Huruf apa saja yang sulit dilafalkan oleh siswa?

4.   4. Apakah siswa sudah bisa merangkai huruf dan membacanya menjadi kata?

5.   5. Apakah siswa kesulitan dalam melafalkan diftong (gabungan vokal: au, ai, oi)?

6.   6. Apakah siswa kesulitan dalam melafalkan kluster (gabungan konsonan: kh, str, st, dll)?

7.   7. Apakah siswa sering melewatkan membaca akhiran ( nya, mu, ku)?

8.   8. Dst.

Langkah kedua adalah menemukan solusi yang tepat untuk kesulitan yang di alami oleh siswa. Jika siswa belum kenal huruf maka kita perkenalkan terlebih dahulu huruf-huruf tersebut. Untuk huruf-huruf yang tampak mirip kita bisa memberikan penegasan yang lebih agar siswa tidak lagi tertukar. Kita bisa menggunakan flashcard sebagai media, buku bacalah (yang biasanya digunakan untuk anak TK atau SD) atau aplikasi membaca yang dapat kita unduh di playstore. Sedangkan untuk metode kita bisa menggunakan metode simak dan ulangi, montesorri dan bermain sambil belajar dan masih banyak yang lainnya.

Langkah ketiga adalah bersabar dan terus berlatih. Membaca adalah kemmapuan yang harus terus diasah. Semakin sering membaca maka akan semakin lancar. Selain itu perbendaharaan kosa kata akan semakin bertambah. Dengan bertambahnya kosa kata maka akan makin mudah untuk memahami isi bacaan.

Hal-hal yang saya bahas ini hanyalah sebagian kecil mengenai masalah  yang berkaitan dengan membaca. Banyak hal lain yang tentunya dapat membantu pengetahuan dan wawasan kita untuk membantu anak ataupun siswa dan siswi kita dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam membaca. Sampai saat ini saya juga masih berusaha mencari cara yang tepat untuk membantu siswa-siswa saya yang mengalami kesulitan dalam membaca sesuai dengan karakteristik gaya belajar mereka.

Bacaan lebih lanjut:

Analisis Faktor Penyebab Kesulitan Membaca Permulaan Pada Siswa Kelas I SDN Argopeni Tahun Ajaran 2019/2020 (researchgate.net).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Siswa (Studi Kasus Di SDN 105 Pekanbaru) (researchgate.net)

Membaca Ala Montessori: Cara Membaca TK yang Efektif dan Menyenangkan (chebira.com)

Selasa, 06 Agustus 2024

Repetisi Membosankan

 

Repetisi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata kunci yang terdapat di awal kalimat untuk mencapai efek tertentu dalam penyampaian makna ulangan (sandiwara dan sebagainya). (KBBI)

 

Aku ingin bebas

Aku ingin terbang ke Angkasa

Aku ingin menari bersama burung

 

Sepenggal repetisi dalam puisi di atas terkesan indah. Namun tatkala repetisi itu dilakukan terus menerus justru memudarkan keindahannya. 

Dalam hidup terkadang kita harus melakukan pengulangan demi pengulangan. Hal tersebut dilakukan dengan berbagai tujuan. Seperti halnya saat seorang ibu yang terus menerus mengingatkan anaknya untuk melakukan ini dan itu. 

"Salat dulu nak!", "Makan dulu nak!", "PR nya dikerjakan."

Kata-kata tersebut sering kali terdengar diucapkan oleh seorang ibu pada anaknya. Hal itu dilakukan karena rasa kasihnya pada sang anak. Namun di sisi lain si anak tak jarang malah merasa bentuk perhatian dari ibunya adalah repetisi yang menjengkelkan dan membosankan. 

Pengulangan-pengulangan seperti itu tentunya tidak akan hanya terjadi di lingkungan rumah, di sekolah atau di dunia kerja pun tak dapat dielakkan. Banyak repetisi membosankan yang mengiringi keseharian kita. Saking bosannya terkadang membuat kita jadi malas dan tak lagi peduli.

Jika kita ingat kembali secara umum manusia adalah makhluk yang terbiasa dengan rutinitas. Meskipun pendekatan pembelajaran humanisme lebih digaungkan dibandingkan behaviorisme, kita tak bisa sepenuhnya melepaskan behaviorisme. Dalam pendekatan behaviorisme ada istilah drill (pengulangan) yang dilakukan untuk mengajarkan sesuatu. Hal ini masih bisa digunakan sampai sekarang apalagi untuk anak-anak.

Ketika mengajarkan sesuatu pada anak tentunya kita akan banyak memberikan pengulangan-pengulangan. Salah satu contohnya saat mengajarkan huruf dan membaca. Kita harus terus menerus untuk mengingatkan mereka “ini a, ini b, ini c” dan seterusnya. Cara ini cukup efektif bila mengingat usia dan pola pikir mereka yang masih dalam proses pembentukan.

Lain halnya jika pada anak yang sudah menuju remaja. Repetisi justru akan dianggap membosankan karena pada tahap ini anak sudah memiliki pemikiran spekulasi tentang kualitas ideal yang diinginkan dalam diri sendiri dan orang lain. Pada tahap ini anak merasa tidak perlu lagi diingatkan tentang hal-hal yang sudah mereka tahu. Mereka cenderung merasa jengah jika kita terus menerus mengingatkannya tentang sesuatu.

Lalu apakah yang harus dilakukan? Supaya semuanya tak lagi menjadi repetisi yang membosankan.

Yang harus kita lakukan adalah mengganti kata-kata atau susunan kata yang digunakan sehingga repetisi tak lagi terasa membosankan. Kita juga bisa menggunakan bicara atau cara penyampaian lain yang lebih berterima. Kepiawaian dalam memilih kata dan menggunakan cara penyampaian yang berbeda akan lebih membantu. Selain itu kita juga harus melihat terlebih dulu pada siapa repetisi ini kita berikan. Bagaimana kondisi orang tersebut juga perlu menjadi pertimbangan.

Mari kita sama-sama belajar agar bisa menerima segala hal dengan lebih bijaksana. Mari kita belajar lebih memahami agar repetisi bertujuan baik yang kita terima tak lagi membosankan.

Selasa, 30 Juli 2024

Kacamata Cinta

        Dengan  berat hati Chandra berjalan memasuki kafe Ki Abah. Dari pintu masuk dia terus berjalan hingga ke meja di ujung teras kafe itu. Dengan senyum yang dipaksakan dia menyalami Elena lalu duduk.

       "Pesan apa?" Tanya Elena seraya menyodorkan daftar menu.

      "Kopi hitam tanpa gula." Sahutnya sambil menerima daftar menu lalu menyimpannya di meja.

        "Bagaimana kabarmu?" Elena kembali bertanya.

      "Baik." Jawabnya singkat. "Langsung saja Lena. Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Chandra sambil mengeluarkan sebatang rokok.

          Elena tidak bicara. Dia malah menunjukkan sebuah foto dari ponselnya.

      "Tentang setia, sejak awal sudah kukatakan padamu. Saat aku memilihmu." Chandra tersenyum getir, rokok ditangannya ia nyalakan lalu dihisapnya kuat-kuat.

       Mendengar hal itu Elena hanya terpaku memandangi ujung sepatunya yang mulai dihinggapi debu. Tak satu pun kata yang sanggup diucapkannya. Bibirnya bergetar dan airmatanya mulai menetes.

          "Apa arti hadirku bagimu?" Chandra kembali bersuara. "Itu yang selalu bergema dalam telingaku." Chandra kembali menghisap rokok di jarinya.

          Elena bergeming. Hanya air mata yang menjawab pertanyaan Chandra.

      "Sejak awal sudah kukatakan bukan? Apapun akan kuberikan selama aku mampu." Chandra tersenyum getir. "Namun tetap saja kau merasa kurang." Chandra menatap Elena tajam. "Sekarang semua keputusan ada di tanganmu. Apapun yang kau putuskan aku akan menerima." Chandra berusaha tersenyum meski hatinya sakit. "Apapun yang kau putuskan kuharap kau tidak menyesalinya."

        "Mengapa aku merasa seolah kau sedang mengucapkan perpisahan?" Elena akhirnya bersuara di sela-sela isak tangisnya.

         "Mungkin secara tidak sadar kau sudah memutuskan untuk tidak memilihku." Chandra mematikan rokoknya kemudian bangkit dari kursi.

          "Masih bolehkah aku menghubungimu?" Elena memegang lengan Chandra.

       "Kau tentu tahu mana yang lebih baik bila mengingat pada apa yang kau putuskan." Chandra melepaskan pegangan tangan Elena.

          "Kita masih bisa berteman?" Elena kembali memohon.

          "Kalau itu tak jadi masalah untukmu, mengapa tidak?" Chandra menggedikkan bahu.

          "Kata-katamu terkesan menyudutkan." Elena menyeka air matanya lalu menatap tajam pada Chandra yang kembali duduk.

      "Lena, kau ingin aku bersikap bagaimana?" Nada suara Chandra terdengar mulai menunjukkan kekesalan.

          "Kau dulu tidak seperti ini?" Elena menggigit bibirnya. Dia mulai ketakutan.

     "Kau juga dulu tidak seperti ini." Chandra tersenyum kecut. "Manusia harus tetap melanjutkan hidup sepahit apapun penderitaan mereka." Chandra menyesap kopi yang sudah mulai dingin. "Kalau tak ada lagi yang ingin kau bicarakan aku permisi pulang." Chandra mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan lalu menyimpannya di meja.

          "Kau sudah mau pulang?" Elena menatap kecewa.

          "Aku sudah janjian dengan adikku untuk bertemu dengan temannya."

          "Perempuan di facebook itu?"

      "Ya. Selamat siang Elena, semoga harimu menyenangkan." Chandra bangkit. Dia lalu berjalan meninggalkan Elena seorang diri.

          Sesampainya di parkiran Chandra lalu menelepon adiknya.

          "Rey, apa besok kau sibuk?"

          "Tidak bang, memangnya kenapa?" Suara Reyna terdengar heran. Belakangan ini dia dan Chandra memang jarang bertemu.

          "Antar aku ketemu Namia."

          "Namia temanku?" Reyna balik bertanya.

     "Iya, tadi pagi aku sudah menghubunginya. Kukatakan kau ingin bertemu dengannya."

          "Abang serius? Kok tiba-tiba." Reyna masih keheranan.

          "Kau sendiri yang bilang kalau aku layak bahagia."

        "Heuheu... Iya bang. Tapi aku ajak Zaki ya.  Supaya aku tidak jadi obat nyamuk." Reyna merajuk.

          "Ya kau bawa saja dia. Lagipula sudah lama aku tidak bertemu dengannya. "

         "Baiklah. Sampai besok!" Chandra mematikan ponsel lalu memasukkannya ke dalam saku jaket. Setelah itu dia memakai helm dan mulai melajukan motor sportnya meninggalkan kafe.

 

Cerita ini ditulis di Leles, 14 Januari 2019

Jumat, 26 Juli 2024

Paradoks Persfektif

    Paradoks adalah pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran. (KBBI)
    Persfektif adalah sudut pandang; pandangan. (KBBI)

      Pernah dengar kata-kata "dasar orang aneh", "alien", "beda server"? Kalau saya sih sering mendengarnya. Kata-kata tersebut pernah beberapa kali ditujukan rekan pada dairi saya. Kadang saya pun berpikir apakah ada yang salah dengan diri ini? Sementara orang-orang berada di saluran fm saya malah ada di am (cek istilah saluran radio, karena saya pendengar radio).
      Orang-orang sering mengira saya menari-nari karena bahagia. Di lain waktu mereka pun sering mengira saya bernyanyi nyaring karena saya kasmaran. Padahal kenyataannya adalah saya sedang merasa bosan, kesal atau tidak bahagia. Saya suka dengan komentar teman saya diunggahan saya pada status FB. Dia menulis "daripada ngabatin mending ngabaso" (daripada membatin mending makan bakso). Kata-kata itu sangat menghibur dan menginspirasi. 
       Saat berada di posisi tak bisa melawan arus, harus manut dan patuh padahal dalam hati kadang tidak sejalan, disitulah saya mulai berulah.😌 
       Saya bisa menggelar konser di meja kerja saya. Istilah konser ini saya gunakan saat saya nyanyi-nyanyi di meja kerja dan membuat kegaduhan untuk teman sebangku saya. Atau mungkin di lain waktu saya akan bergerak-gerak kurang kerjaan yang dikira orang sedang joged-joged.
      Meski saya menyelesaikan kedua gelar di bidang bahasa tapi pola pikir saya kadang lebih suka seperti pola pikir eksak. Saat mengajar saya lebih suka membuat tabel untuk menjelaskan perbedaan dua bahasan atau menggunakan simbol-simbol untuk mencatat. Saya kurang suka ketika berbelit-belit dalam menulis ataupun berbicara.
       Saya adalah orang yang lebih suka to the point. Mungkin hal itu juga yang membuat saya harus melengkapi kembali ujian mata kuliah PKN saya waktu S1.😀  
       Saat itu saya ditelepon dosen agar melengkapi jawaban esai soal UAS. Kata beliau jawaban untuk soal PG sangat bagus karena banyak jawaban yang dijawab dengan benar, hanya saja saya terlalu singkat saat menjawab esai. Kebiasaan to the point ini sering membuat saya kesulitan saat harus berpanjang-panjang dalam berargumen. Hal ini juga sering membuat orang menilai saya teugeug (ketus).
        Mungkin pembelajaran tentang kalimat efektif dan pragmatik cukup melekat dalam benak saya sehingga saya sering bersikap demikian. Bisa jadi saya malas beradu argumen atau mempermasalahkan hal yang kurang penting.
      Memang ada orang yang berpandangan bahwa guru bahasa adalah orang yang suka bicara berbelit-belit, berpanjang-panjang. Orang juga ada yang berpandangan kalau guru bahasa adalah guru yang wajib pintar menulis apapun karena di dalam mata kuliah dan mata pelajaran bahasa ada pembelajaran menulis. Padahal sejatinya tidak demikian.
       Writing is healing. 
       Ya menulis bisa menjadi cara untuk menyembuhkan. Apa yang dapat disembuhkan? 
      Ada hal-hal yang lebih menenangkan setelah diceritakan dan dibagikan kepada orang lain. Namun di saat kita tak bisa bicara karena bibir kadang berubah menjadi kelu saat akan memulai cerita, menulis bisa menjadi jalan keluar. 
       Apakah saya menulis? Tentu.
       Saya tak mungkin dapat menyelesaikan kedua jenjang pendidikan jika tidak menulis. Lalu apakah saya juga menulis saat saya meminta siswa untuk menulis. Jawabnya ya. Saya menulis untuk menunjukkan pada murid-murid saya bahwa saya juga melakukannya. Meski tidak berarti saya mahir atau mumpuni dalam melakukannya. Hal yang saya inginkan adalah mereka mencoba karena segala sesuatu mungkin terasa menakutkan saat belum dimulai dan dilaksanakan.
       Lalu apakah saya aktif menulis? Inilah yang menjadi pertanyaan besar?
      Salah satu kekurangan orang moody seperti saya adalah susahnya untuk konsisten. Saya merasa tertekan hingga kadang tak bisa menyelesaikan apa yang sudah mulai ditulis ketika mood sedang tidak baik. Blog ini pun bukan yang pertama yang saya miliki. Pernah ada satu atau dua blog lain yang pernah saya buat tapi sudah lama tak dikunjungi karena lupa kata sandi. 😇 
        Jadi bila ada yang beranggapan saya pasti rajin dan suka menulis karena guru bahasa itu tidaklah tepat. Menulis itu proses yang melibatkan banyak hal. Menulis juga banyak jenisnya.
       Setiap orang bisa menulis. Apalagi jika menulis itu adalah panggilan jiwanya. Bukan hanya guru bahasa, siapapun bisa melakukannya. Sependek pengetahuan saya, menulis karena hasrat jauh lebih mudah dilakukan daripada menulis karena tuntutan atau kewajiban. Jadi lakukanlah! Tulislah apa yang menjadi minatmu, apa yang menjadi panggilan jiwamu.
          Dan ini adalah tulisan terpanjang yang pernah saya tulis di sini. Entah ada angin apa yang menggerakkan jari-jari saya dan menggelitik skemata yang beberapa waktu ini terasa kaku. Mudah-mudahan saya bisa menulis dengan lebih konsisten. Dan tentunya dengan pikiran yang sebening mata air. 


YN, 26/07/2024
Disponsori lagu-lagu Jepang yang saya pun tak mengerti artinya.😆

Sabtu, 06 Juli 2024

39

      Ini bukan tentang nomor sepatu. Ini tentang usiaku yang sebentar lagi akan melepaskan angka 3 didepannya.
      Tak terasa 39 tahun sudah kulalui. Tahun depan usiaku sudah masuk ke angka empat. Do'a yang kupanjatkan masih sama. Harapan itu masih tumbuh dalam hati meski tidak semenggebu tahun-tahun yang lalu.
      Apa pentingnya ultah? Bagiku lebih ke momen untuk mengingatkan diri bahwa usia semakin berkurang dan masa untuk introspeksi. 
       Jika dulu banyak hal yang ingin kuraih, sekarang tidak. Sekarang aku hanya ingin menikmati sisa hidup dengan tenang. Menemani ibuku di masa tuanya. Menemani adik bungsuku sampai dia bertemu dengan jodohnya. Menemani suamiku.
       Apa yang kulakukan di hari ultah ke-39 ini? 
       Mencicipi kuliner di Festival Baso Aci Garut 2024, di Festival Makanan Pedas dan mencoba menu kopi di kedai kopi yang ada di mal. Berburu seragam sekolah untuk anak SMA. Inilah caraku menikmati hari ini.
       

Selasa, 11 Juni 2024

Sinekdok Yang Menyenangkan

        Pernah dengar sinekdok pars pro toto atau totem pro parte? 

       Kedua hal tersebut adalah gaya bahasa. Sinekdok pars pro toto adalah majas yang digunakan untuk menyebutkan sebagian tetapi dimaksud adalah keseluruhan. Misalnya, Ibu membeli lima ekor ayam. Dalam kalimat tersebut yang ibu beli adalah ayam secara keseluruhan bukan hanya ekornya. Sementara itu, sinekdok totem pro parte adalah kebalikannya, menyebutkan keselurihan tapi yang dimaksudkan hanya sebagian. Contohnya, Indonesia memenangkan pertandingan bulu tangkis. Yang dimaksud dalam kalimat tersebut sebenarnya bukan seluruh warga Indonesia tetapi hanya pemain bulu tangkis.

       Dalam kebaikan sinekdok pars pro toto tentunya menyenangkan. Namun akan tidak menyenangkan rasanya jika dalam keburukan. Hanya sebagian yang melakukan kesalahan tapi yang kena getahnya semua yang terkait. Seperti halnya saat sakit gigi. Satu atau dua gigi yang bermasalah tapi yang terasa sakit hampir semuanya.

       Terkadang kita memberi label yang sama pada siswa kita. Satu atau dua orang yang mambuat kesal tapi rasanya malas untuk mengajar di kelas tersebut. Sebenarnya hal ini tidak boleh dibiarkan. Masih ada siswa lain yang ingin belajar dan menantikan kehadiran kita. Jadi semangatlah! Singkirkan semua duri-duri kecil yang mengganjal itu agar kita bisa mengamalkan tugas dengan baik.

       Kita harus berpikir. Mungkin kita pun diberi label seperti itu oleh orang lain. Bisa itu oleh teman, kolega atau pimpinan. Lalu apa yang harus kita lakukan? Tetap jadi diri sendiri. Tampilkan versi terbaik dari diri kita. Bukan demi menjilat atau mencari muka tetapi agar kita bangga pada diri sendiri.

       Hal yang paling menakutkan bukan dihakimi orang. Penghakiman orang masih dapat dikatakan biasa. Yang paling menakutkan adalah penghakiman dari diri sendiri. Saat hati nurani kita menghakimi. Hati kita tahu jika kita berbuat salah sekalipun tak seorang pun tahu tentang itu.

       Menjadi orang yang baik mungkin melelahkan jika yang kita inginkan adalah validasi dari orang lain. Sangatlah tidak mungkin untuk kita membuat semua orang ikut senang dengan apa yang kita lakukan. Hal itu bukan masalah besar. Hal yang perlu kita lakukan adalah berbuat baik. Masalah respon itu kembali pada hati mereka yang mencoba menerima atau menolaknya.

       Jika setiap hal baik yang kita kerjakan selalu menanti validasi orang, lama kelamaan energi kita terkuras dan lelah. Jadi berbuat baiklah, demi diri sendiri. Berkaryalah demi dirimu sendiri. Capailah semua cita dan mimpi yang mungkin hanya menghuni sudut-sudut hati atau membuat warna di catatan harianmu.

       

Senin, 10 Juni 2024

Teks Tanggapan Isi Buku

Teks tanggapan adalah teks yang berisi respon terhadap sebuah masalah atau karya. 
Pada pembelajaran bahasa Indonesia yang menggunakan kurikulum merdeka, Teks Tanggapan diperkenalkan di kelas 7. Adapun jenis teks tanggapan yang diperkenalkan adalah teks tanggapan terhadap isi buku.
Pada umumnya struktur teks tanggapan dimulai dengan resume tentang masalah atau hal yang akan ditanggapi (resume), dilanjutkan dengan tanggapan kelebihan dan kekurangan dari masalah yang dibahas (kritik dan pujian) dan diakhiri dengan simpulan mengenai lebih banyak kekurangan ataukah lebih banyak kelebihan (simpulan).
Untuk struktur Teks Tanggapan Isi Buku ada dua bentuk struktur yang dapat dirumuskan, di antaranya:
1. Teks Tanggapan Isi Buku Fiksi
a. Identitas Buku
Judul 
Nama penulis:
Penerbit:
Tahun Terbit:
Editor:
Tebal buku:
b. Sinopsis
c. Kekurangan dan Kelebihan
d. Simpulan
Contoh:
Teks Tanggapan Isi Buku Fiksi
a. Identitas Buku
Judul : Toto Chan, Gadis Cilik di Jendela
Nama penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Alih Bahasa: Widya Kirana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010
Tebal buku: 271 halaman
b. Sinopsis

Ibu Guru menganggap Totto-chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar. Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung. Karena para guru sudah tak tahan lagi, akhirnya Totto-chan dikeluarkan dari sekolah.

Mama pun mendaftarkan Totto-chan ke Tomoe Gakuen. Totto-chan girang sekali, di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas. la bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan. Mengasyikkan sekali, kan?

Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka. Ada yang memulai hari dengan belajar fisika, ada yang mendahulukan menggambar, ada yang ingin belajar bahasa dulu, pokoknya sesuka mereka. Karena sekolah itu begitu unik, Totto-chan pun merasa kerasan.

Walaupun belum menyadarinya, Totto-chan tidak hanya belajar fisika, berhitung, musik, bahasa, dan lain-lain di sana. la juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat dan menghargai orang lain, serta kebebasan menjadi diri sendiri.

c. Kekurangan dan Kelebihan

Novel Toto chan Gadis Cilik di jendela ini sangat menarik untuk dibaca. Isinya bercerita tentang kehidupan sehari-hari seorang anak kecil dengan segala tingkahnya yang menggemaskan. Novel ini mengajarkan kita tentang cara menghormati dan menghargai perbedaan serta cara menjadi diri sendiri.
Sistem pendidikan yang unik dalam novel ini dapat memberikan inspirasi bagi para guru untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. 
Novel ini juga menceritakan betapa beruntungnya Toto-chan memiliki ibu seperti ibunya. Ibu Toto-chan tidak mengatakan bahwa Toto-chan dikeluarkan dari sekolah. Namun dia memilih untuk berkata, "Bagaimana kalau kita pindah ke sekolah yang baru?" Dia memilih menggunakan kata-kata itu supaya anaknya tidak merasa tertekan karena baru seminggu sekolah sudah dikeluarkan.
meski demikian bagi pembaca yang tidak terbiasa dengan tata cara penyebutan nama dalam bahasa Jepang mungkin akan sedikit kesulitan. 
d. Simpulan
Secara umum Novel Toto Chan Gadis Cilik di Jendela merupakan novel yang menarik untuk dibaca. Melalui novel ini pembaca akan diajak mengenang masa kecil sekaligus belajar banyak hal tentang menjadi ibu, menjadi guru dan menjadi kepala sekolah.

2. Teks Tanggapan Isi Buku Non-Fiksi
a. Identitas Buku
Judul : 
Nama penulis: 
Penerbit: 
Tahun Terbit:
Editor:
Tebal buku:
Jumlah Bab
b. Ringkasan
c. Kekurangan dan Kelebihan
d. Simpulan

Contoh: 
a. Identitas Buku
Judul: Mahir Berbahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi)
Nama penulis: Tim Edukatif (Wahono, M.Pd., Drs. Makhrufi, M.Pd., Sawali, M.Pd.)
Penerbit: Erlangga
Tahun Terbit: 2013
Editor: Muhammad Baihaqi, S.S.
Tebal buku: 283 halaman
Jumlah Bab : 8 Bab

b. Ringkasan
Buku ini berisi materi pembelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas VII, mulai dari Teks Deskripsi sampai Teks Fabel. Buku ini dilengkapi dengan teori tentang struktur dan kaidah kebahasaan setiap teks yang harus dipelajari oleh kelas 7. Selain itu isi buku juga memuat latihan soal dan uji kompetensi untuk setiap bab dan juga untuk akhir semester.

c. Kekurangan dan Kelebihan
Buku ini sangat bermanfaat bagi guru Bahasa Indonesia yang mengajar di kelas 7. Tampilan buku ini cukup menarik dan bahasanya mudah untuk dipahami baik oleh guru maupun oleh siswa. Teks-teks yang ditampilkan sesuai dengan kebutuhan siswa.

d. Simpulan
Buku Marbi merupakan buku paket yang cocok digunakan untuk siswa dan juga guru bahasa Indonesia di kelas 7.






Jumat, 07 Juni 2024

Berkaca sebelum Berkomentar

      Apakah dengan bertambahnya umur kita, body shaming berhenti? 
      Jawabannya adalah tidak. "Masa sih badan gede gitu kalau dipukul sakit? Enak yang badannya gede mah enggak akan kedinginan."
      Mungkin kalimat-kalimat itu terdengar biasa saja bagi yang mengatakan. Mungkin juga lucu bagi yang mendengar. Namun tentunya tak menyenangkan untuk orang yang dimaksud.
      Jika selama ini kita mengira body shaming hanya terjadi pada kalangan anak atau remaja, itu sangatlah kurang tepat. Orang dewasa pun sering mengalaminya.
       Semua orang tentu ingin memiliki badan indah layaknya model, kulit seputih salju, bibir semerah darah, rambut sehitam malam. Namun kita manusia yang memiliki gen dan gaya hidup yang berbeda. Ada orang yang memiliki badan kurus tapi makannya banyak. Di sisi lain ada orang yang memiliki badan gemuk tapi makannya sedikit.
       Selama ini tubuh gemuk sering diidentikkan dengan orang yang suka makan coklat, junk food dan makanan tak sehat lainnya. Padahal bisa saja diakibatkan oleh kurangnya olahraga dan bahkan genetika.
        Jadi mari kita berhenti mengomentari kekurangan fisik orang lain. Lihatlah diri sendiri sebelum berkomentar. Kita tak akan pernah tahu sejauh mana dampak yang ditimbulkan dari kata-kata yang kita ucapkan terhadap kehidupan seseorang.

Rabu, 05 Juni 2024

PENYELAMAT HIDUPKU

 A wise boy kisses but doesn't love, listens but doesn’t believe, and leaves before he is left’…

              Kata-kata itu benar-benar aku terapkan dalam keseharianku. Aku selalu pergi lebih dulu. Aku tak pernah ditinggalkan atau diputuskan karena akulah yang selalu pergi dan selalu memutuskan. Aku tak peduli orang menganggapku pengecut. Aku hanya tak ingin sakit dan terluka.

              “Pacar baru lagi?” Juni berteriak di seberang sana. Saat ini dia pasti sedang mengomel panjang lebar. Sudah jadi kebiasaannya untuk bicara tanpa henti kalau sedang kesal. “Awas kau, aku akan membuat perhitungan denganmu!” ancamnya saat aku tak memedulikan petuahnya. “Aku akan benar-benar datang untuk menyiksamu, tunggu saja.” Juni tampak sangat marah hingga memutuskan pembicaraan.

              Aku menyimpan Hp lalu merebahkan diri di kasur. Juni sering mengancam akan membuat perhitungan denganku setiap aku bercerita tentang pacar baru. Namun sampai sekarang dia belum melakukannya. Juni terlalu sibuk dengan suaminya. Dia tak akan datang kemari dan meninggalkan suaminya. Juni sangat mencintai suaminya hingga rela mengikutinya ke Korea. Dia bahkan membuang semua mimpinya supaya bisa menikah dengan pria itu.

              Juni sudah terjerat dalam perangkap cinta yang menyesatkan. Aku pernah berharap bisa membebaskannya tapi sayangnya aku tak bisa. Pria itu punya mantra yang sangat kuat sehingga membuat Juni-ku bertekuk lutut. Aha, Juni-ku, di hadapannya aku tak pernah berani berkata seperi itu. Dia pasti akan mengomel panjang lebar.

               Ah Juni, aku benar-benar merindukanmu. Sudah lama tak ada yang membangunkanku dari kemalasan di hari minggu. Tak ada yang berani mengganggu dan memerintahku selain Juni. Semua orang rumah takut membuatku marah. Namun Juni tak pernah peduli dengan hal itu. Dia selalu melakukan apa yang menurutnya baik untukku. Dan anehnya, aku tidak merasa keberatan diperlakukan seperti apapun olehnya.

              “Hoammm…,” aku menguap lalu tertidur. Dalam mimpiku aku bertemu dengan Juni. Dia terlihat lebih kurus dan sedih. Aku bingung karena ia tak mau cerita padaku.

              “Banguuuun…,” seseorang berteriak di telingaku. Aku membuka mata dan termenung. Juni ada di hadapanku. “Aku sudah bilang kan tadi malam.” Aku mengucek-ngucek mata dan buru-buru duduk. “Cuci muka sana!” Dengan langkah terhunyung aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Saat aku kembali, Juni sedang merapikan tempat tidur. “Kau pasti kaget melihatku ada di sini?” Aku mengangguk lalu duduk di sampingnya. “Kita jalan-jalan ke Gasibu, yuk!” Juni berdiri dan berjalan menuju pintu.

              “Tunggu sebentar, aku masih bingung.” Aku mengajaknya duduk lagi. “Bagaimana bisa kau berada di kamarku sepagi ini? Bukankah seharusnya kau ada di Korea?”

              “Sebenarnya sudah satu minggu aku kembali dari Korea.”

              “Kau pulang? Lalu suamimu?” Aku menatapnya heran.

              “Kami berpisah.” Sahutnya dengan suara yang tiba-tiba jadi serak.

              “Ber-pi-sah?” Aku menatapnya bingung. Selama ini aku mengira hubungan mereka baik-baik saja. Setiap bicara di telepon Juni tidak pernah terdengar sedih atau sedang punya masalah.

              “Pernikahan kami sudah berakhir. Dia tidak sebaik yang kupikirkan. Dia lebih mencintai laptopnya daripada aku.” Juni tersenyum tipis. “Aku lapar, kita makan lomie, yuk!” Juni mengajakku berdiri. Dia belum mau bercerita banyak. Kalau sudah begitu aku tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti keinginannya.

              Aku menyambar jaket dan kunci motor lalu mengikutinya keluar dari kamar. Setelah berpamitan pada bunda kami pun pergi. Aku menuruti keinginannya untuk pergi ke Gasibu. Setibanya di sana kami langsung menuju tenda lomie langganan kami. Sejak Juni menikah dan pergi ke Korea, aku tak pernah makan di sana lagi. Aku menghindari semua tempat yang bisa mengingatkanku padanya.

              “Eh neng Juni, sudah lama tidak makan di sini?” Abang penjual lomie tampak senang bertemu dengan kami.

              “Iya bang, saya baru kembali dari liburan panjang.” Sahut Juni sambil duduk. “Lomienya dua ya, bang!” Si abang mengangguk lalu segera membuatkannya.

              “Kamu pergi cukup lama sampai orang-orang merasa kehilangan.”

              “Orang-orang, termasuk kamu?” tanya Juni seraya menatapku. Aku tak menjawab dan Juni pun tersenyum seperti biasa kalau aku tak menjawab pertanyaannya. “Kata bunda, kamu sudah jadi dosen tetap?”

              “Iya, aku jadi asisten Pak Marpaung. Sekarang aku tak bisa seenaknya datang dan pergi ke kampus.”

              “Syukurlah kau sudah jadi orang. Ryuzaky, dosen manajemen Informatika.” Juni tersenyum, bangga. “Sekarang kau tinggal memilih calon istri. Bunda terus-menerus membicarakan hal itu padaku. Dia ingin segera menimang cucu.”

              “Mbak Zahra dan Mas Zamzam kan sudah memberinya cucu.”

              “Bunda ingin cucu darimu. Mungkin bunda ingin cucu perempuan.”

              “Ah, laki-laki dan perempuan sama saja.”

            “Tentu saja berbeda. Anak perempuan itu jauh lebih menyenangkan, baju-baju mereka lebih lucu dan beragam.” Mata Juni selalu bersinar terang kalau sudah berbicara tentang anak-anak. “Seandainya saja bayiku tidak meninggal.” Juni bergumam. Bayi? Selama ini dia tidak pernah bercerita kalau mereka punya anak.

         “Kamu tak pernah bercerita tentang bayi kalian.” Juni tidak mengacuhkan aku. Dia membayar lomie lalu berjalan menuju taman lansia. Aku buru-buru mensejajari langkahnya. Apakah aku salah bicara? Kenapa Juni tiba-tiba menjadi aneh?

       “Kalau saja dia hidup, sekarang ini pasti dia sudah bisa jalan.” Juni kembali bersuara. Juni mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Ternyata itu foto hasil USG. “Aku membayangkan matanya yang coklat seperti matamu, rambutnya juga ikal seperti rambutmu.” Juni terus berbicara. Kata-katanya membuatku bingung. Bagaimana mungkin anaknya mirip denganku.

        “Bagaimana bisa dia mirip denganku?” Aku bertanya dengan penuh kehati-hatian. Aku tak ingin membuatnya marah. Juni tidak menjawab ia malah mencari kursi kosong lalu duduk.

           “Kau ingat acara kemping di Pangandaran tiga tahun yang lalu?” Juni menatapku tajam. Ah dia pasti bercanda, bagaimana mungkin aku melupakan acara itu. Malam itu aku dan Juni terbuai godaan setan hingga berbuat yang tidak seharusnya. Meski begitu aku tak pernah menyesalinya. Aku sangat menyayangi Juni dan pasti bersedia bertanggung jawab dengan apa yang telah kuperbuat padanya.

            “Aku tak pernah melupakannya karena setelah kejadian itu tiba-tiba saja kau menikah dan pergi ke Korea. Aku benar-benar tak mengerti. Sebelumnya kau sudah berjanji akan memutuskan Jody dan menerimaku selamanya di hatimu.”

       “Saat itu aku baru saja pergi sebentar dan kau sudah bersama perempuan lain.” Juni menatapku marah.

              “Perempuan lain siapa? Saat itu aku tak mengajak siapapun. Aku hanya mengajakmu.”

          “Aku melihat Zaskia di tendamu. Dia memelukmu erat dan pakaiannya berantakan.” Juni menarik nafas beberapa saat. “Coba kau bayangkan apa yang muncul di benakku saat itu?” Aku mengingat-ingat kejadian itu. Oh iya, aku sempat memergoki Zaskia sedang menatapku saat aku bangun dan dia langsung pergi. Setelah itu aku mencari Juni dan teman-temanku mengatakan dia sudah pulang. Aku berusaha menghubungi dan menemuinya tapi Juni terus-terusan menghindar. Tiba-tiba saja dia mengirim kartu undangan ke rumah. Satu tahun aku kehilangan kabar darinya dan baru tahun lalu dia kembali menghubungiku.

            “Kau salah paham, Jun. Aku dan Zaskia tidak melakukan apa-apa. Kau tahu sendiri kalau aku tidur karena begitu mengantuk.”

            “Iya, aku tahu itu. Tiga bulan yang lalu aku bertemu dengannya di sebuah seminar di Korea. Dia minta maaf karena sudah membuatku salah paham padamu. Dia putus asa karena kamu tak juga meliriknya.”

             “Kembali ke masalah bayi. Bisa kau ceritakan lagi?” aku menatapnya penuh harap.  

            “Saat itu aku begitu kesal hingga akhirnya aku menerima lamaran Mas Jody. Aku baru tahu kalau aku mengandung bayimu setelah kami tiba di Korea. Awalnya Mas Jody marah tapi akhirnya dia menyerah. Sejak awal dia tahu kalau aku hanya mencintaimu. Mas Jody bilang, dia sendiri yang mengundang dirinya ke dalam kedekatan kita. Dia terlalu mencintaiku hingga rela mendapat perlakuan apapun. Sayangnya bayiku tak bertahan lama di rahimku. Saat usia kandunganku menginjak bulan kelima, aku terjatuh di kamar mandi dan keguguran. Peristiwa itu membuatku sangat terpukul, begitu juga Mas Jody. Dia merasa sudah menyiksaku dengan memaksaku untuk tetap menjalani pernikahan dengannya. Dan beberapa bulan kemudian dia menceraikanku.”

            “Kalian sudah bercerai satu tahun lamanya dan kau baru bercerita padaku? Apa yang kau lakukan selama satu tahun terakhir? Apa kalian masih tinggal bersama?” Aku benar-benar penasaran dengan kisah Juni.

          “Tentu saja tidak. Aku mendapat kepercayaan untuk mengajar bahasa Indonesia di kedutaan. Aku tinggal di apartemen sederhana, sendirian. Sesekali kami masih bertemu dan makan siang bersama. Seandainya saja rasa rinduku padamu bisa kutahan, mungkin aku masih di Korea dan tak akan pernah kembali.”

    “Kau benar-benar jahat, Jun. Begitu banyak peristiwa yang kau lalui tapi kau tak menceritakannya padaku.” Aku menatapnya kesal tapi dalam hati aku senang. Juni bilang dia mencintaiku, hanya mencintaiku.

              “Habisnya kau terlalu sibuk berganti pacar.” Juni tertawa pelan.

          “Aku hanya bermain-main dengan mereka. Aku sengaja ingin membuatmu kesal agar kau memutuskan untuk kembali dan menjadi penyelamat hidupku.”

       “Dasar egois, tukang merayu dan perampok hati!” Juni mengejekku lalu tertawa. Aku menggendongnya lalu membawanya ke parkiran motor. “Aku mau dibawa kemana?” tanyanya sambil berusaha melepaskan diri.

            “Aku akan menghukummu karena sudah meninggalkan aku dan membuatku jadi playboy bulanan,” sahutku sambil menurunkannya. “Menikahlah denganku dan kembalilah jadi penyelamat hidupku yang tak karuan!” ujarku mantap sambil berlutut dan memasukkan gantungan kunci motor ke jari manisnya. Aku tak peduli dengan orang-orang di sekitar lapangan parkir yang memandang ke arah kami dengan tatapan heran.

           “Aku sudah menunggu kalimat ini selama enam tahun, Zak.” Juni menarikku berdiri lalu memelukku erat.

              “Terima kasih Juni karena sudah menyelamatkan hidupku.” Juni tersenyum lalu mengecup pipiku.

 

Created by: Yuli Nurhati, 14 Oktober 2010 

41

                Apa yang dirasa saat umur sudah sampai di angka ini?        Yang jelas sekarang semua tak lagi sama. Tak ada lagi mama yang ...